Kiriman dibuat oleh Nayla Andara

AKM A2025 -> Diskusi

oleh Nayla Andara -
Nama: Nayla Andara
NPM : 2413031018

Metode LIFO menghasilkan laba bersih yang lebih rendah dibanding FIFO pada periode harga naik (inflasi) karena LIFO memakai harga barang terakhir yang lebih mahal sebagai biaya pokok penjualan, sehingga mengurangi laba. Sebaliknya, saat harga turun, LIFO menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi karena memakai harga terbaru yang lebih murah. Jadi, secara singkat:
harga naik: Laba FIFO > Laba LIFO
harga turun: Laba LIFO > Laba FIFO
Ini karena metode pencatatan biaya persediaan yang berbeda memengaruhi biaya pokok penjualan dan laba jadi berbeda.

AKM A2025 -> Diskusi

oleh Nayla Andara -
Nama : Nayla Andara
NPM: 2413031018

1. Instrumen Keuangan (Financial Instrumen) didefinisikan sebagai kontrak yang menimbulkan aset keuangan pada suatu entitas dan liabilitas keuangan atau kepentingan ekuitas pada entitas lain. jenis-jenis instrumen keuangan yang umum meliputi antara lain:
-Instrumen Kas: Uang tunai atau setara kas yang mudah dipergunakan dan biasanya diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan.
-Saham: Surat berharga yang menunjukkan kepemilikan atas suatu perusahaan.
-Obligasi: Surat utang yang diterbitkan oleh peminjam kepada investor dengan janji pembayaran bunga dan pelunasan pokok.
-Pinjaman: Kontrak utang yang dibuat oleh bank atau lembaga keuangan kepada perusahaan atau individu.
-Obligasi Konversi: Obligasi yang dapat dikonversi menjadi saham pada waktu tertentu.
-Konversi Utang: Pinjaman yang dapat dikonversi menjadi ekuitas dalam perusahaan.
-Instrumen Derivatif: Instrumen yang nilainya berasal dari aset lain, seperti opsi, futures, dan swap.
Instrumen keuangan juga dapat diklasifikasikan berdasarkan sifatnya menjadi instrumen berbasis utang (debt-based) dan instrumen berbasis ekuitas (equity-based).


2. kas merupakan aset yg paling likuid, adalah media standar pertukaran dan dasar untuk mengukur dan mencatat item-item lain. perusahaan umumnya mengklasifikasikan kas sebagai aset lancar. Pengendalian internal terhadap kas adalah berbagai metode, prosedur, kebijakan, serta mekanisme yang dirancang untuk melindungi kas dari pemborosan, penyelewengan, dan ketidakefisienan. Tujuan pengendalian internal kas adalah untuk menjamin ketelitian pencatatan kas, keamanan fisik kas, efisiensi operasional, serta kepatuhan terhadap kebijakan manajemen yang berlaku.

3. singkatnya:
Kas disajikan sebagai aset lancar di neraca.
-Laporan arus kas memperlihatkan masuk dan keluarnya kas dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.
-Pengungkapan mencakup saldo kas akhir dan kas yang dibatasi penggunaannya.
hal ini bertujuan memberikan gambaran yang jelas tentang posisi kas perusahaan kepada pengguna laporan keuangan

4. Piutang adalah hak suatu entitas untuk menagih sejumlah uang dari pihak lain sebagai akibat penjualan barang atau jasa secara kredit atau transaksi lainnya.

5. perusahaan menilai dan melaporkan piutang jangka pendek pada nilai realisasi kas (cash realizable value) jumlah neto yang diharapkan akan diterima dalam bentuk kas. menentukan nilai realisasi kas membutuhkan estimasi piutang tidak tertagihnya dan retur atau potongan yang diberikan
Piutang dinilai sebesar nilai yang diharapkan dapat diterima, yaitu nilai pokok piutang dikurangi estimasi kerugian piutang tak tertagih.
-Perhitungan penurunan nilai (kerugian piutang)
Terdapat dua metode utama:
Metode penghapusan langsung untuk piutang tidak tertagih (direct write-off method): Beban kerugian dicatat saat piutang dinyatakan tidak tertagih secara nyata.
Metode penyisihan (allowance method): Estimasi kerugian dihitung berdasarkan persentase penjualan kredit atau analisis umur piutang (umur piutang semakin lama, risiko tidak tertagih semakin tinggi).
-Penyajian piutang dalam laporan keuangan: Piutang disajikan pada neraca sebagai aset lancar dengan nilai bersih setelah dikurangi cadangan kerugian piutang.
-Pengungkapan dalam laporan keuangan:Harus mengungkapkan metode penilaian dan estimasi kerugian piutang yang digunakan, serta jumlah piutang bruto, cadangan kerugian piutang, dan nilai piutang bersih.

6. Analisis kas dan piutang dilakukan untuk menilai likuiditas dan efektivitas pengelolaan aset lancar perusahaan:
-Analisis Kas: Mengukur ketersediaan kas untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. Dilakukan dengan menghitung rasio kas (kas terhadap hutang lancar) dan memantau arus kas masuk dan keluar agar perusahaan dapat mengelola likuiditasnya dengan baik.
-Analisis Piutang: Fokus pada perputaran piutang dan periode penagihan piutang. Perputaran piutang dihitung dengan membagi penjualan kredit dengan rata-rata piutang, menunjukkan berapa kali piutang berhasil dikonversi menjadi kas dalam periode tertentu. Periode pengumpulan piutang dihitung untuk mengukur efektivitas penagihan dan meminimalkan risiko piutang tak tertagih.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Nayla Andara -
Nama: Nayla Andara
NPM: 2413031018

Jurnal ini membahas dua konsep utama pengukuran dalam akuntansi keuangan, yaitu biaya historis (historical costs) dan nilai wajar (fair value). Pengukuran menjadi isu sentral dalam pelaporan keuangan dan standar akuntansi internasional seperti IFRS dan US GAAP saat ini tengah mengupayakan konvergensi dalam penggunaan nilai wajar.

Biaya historis mengukur aset dan kewajiban berdasarkan harga perolehan pada saat pembelian, yang hanya disesuaikan jika terjadi penurunan nilai (impairment). Sebaliknya, pengukuran nilai wajar merefleksikan kondisi ekonomi saat ini dengan penilaian kembali aset dan kewajiban pada tanggal neraca menggunakan harga pasar yang relevan, atau teknik pendekatan pasar lainnya jika harga pasar tidak tersedia.

IFRS cenderung mengutamakan penggunaan nilai wajar terutama pada tanggal neraca, meskipun pada pengakuan awal masih banyak aset dan kewajiban yang diukur dengan biaya historis. Standar seperti IAS 41 tentang pertanian dan IAS 39 tentang instrumen keuangan mengharuskan penggunaan nilai wajar sejak pengakuan awal.

jurnal ini juga membahas kriteria pemilihan basis pengukuran yang tepat, yaitu reliabilitas dan relevansi. Nilai wajar dianggap lebih relevan karena mencerminkan harga pasar dan ekspektasi pasar, namun dalam praktik, terutama untuk aset non-keuangan yang tidak memiliki pasar aktif, pengukuran nilai wajar dapat mengandung unsur estimasi subjektif yang mengurangi reliabilitasnya.

Jurnal juga menyoroti dampak krisis keuangan global terhadap penerapan pengukuran nilai wajar. Pada masa krisis, sulit untuk menentukan nilai wajar yang andal karena pasar yang tidak likuid atau tidak aktif, sehingga ada kecenderungan untuk kembali menggunakan pengukuran berdasarkan entitas (entity-specific measurement) atau biaya historis. Regulasi di Amerika Serikat bahkan mengizinkan metode alternatif untuk penilaian aset yang tidak memiliki pasar aktif.

jadi dapat disimpulkan bahwa pengukuran nilai wajar memberikan informasi yang lebih relevan bagi pengguna laporan keuangan tetapi membawa risiko terutama jika laba unrealized hasil revaluasi langsung diakui. Oleh karena itu, penggunaan kedua konsep pengukuran, nilai wajar dan biaya historis, secara simultan dapat memberikan informasi yang lebih lengkap dan mengurangi risiko distorsi informasi. Nilai wajar lebih sesuai untuk instrumen keuangan, sementara biaya historis sering lebih dapat diandalkan untuk aset non-keuangan tertentu.