Nama : Nashita Shafiyah
NPM : 2413031009
1. Kritikan terhadap Keputusan PT Garuda Sejahtera
Keputusan PT Garuda Sejahtera untuk menggunakan nilai wajar (fair value) dalam menilai pesawatnya dapat dikritisi, terutama dalam konteks pasar Indonesia. Meskipun penggunaan nilai wajar sejalan dengan prinsip "substance over form" yang ada dalam IFRS dan bertujuan untuk menyediakan informasi yang relevan, validitasnya sangat bergantung pada keberadaan pasar aktif. Auditor perusahaan memberikan catatan penting bahwa pasar aktif untuk pesawat di Indonesia sangat terbatas. Hal ini membuat penentuan nilai wajar menjadi sangat subjektif dan berpotensi tidak andal, yang pada akhirnya dapat menyesatkan pengguna laporan keuangan. Dalam kasus ini, keputusan tersebut kurang dapat dibenarkan secara konseptual karena melanggar prinsip keterverifikasian (verifiability) dalam kerangka konseptual akuntansi, yang menyatakan bahwa informasi akuntansi harus dapat diverifikasi untuk memastikan ketepatan representasinya.
2. Perbandingan Kerangka Konseptual PSAK dan IFRS
Secara umum, kerangka konseptual PSAK di Indonesia sudah banyak mengadopsi prinsip-prinsip dalam IFRS, namun terdapat perbedaan dalam penekanan dan implementasi. Tujuan laporan keuangan keduanya sama, yaitu menyediakan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan ekonomi bagi investor dan pihak lain. Karakteristik kualitatif informasi yang ditekankan juga serupa, yaitu relevansi dan representasi tepat, ditambah dengan karakteristik penambah seperti keterbandingan dan keterverifikasian. Namun, dalam hal basis pengukuran, IFRS cenderung lebih fleksibel dan mendorong penggunaan nilai wajar untuk meningkatkan relevansi, sementara PSAK, meskipun mengadopsi prinsip ini, masih cenderung konservatif dan sering mengutamakan biaya historis karena kekhawatiran akan objektivitas di pasar yang kurang matang. Untuk asumsi entitas dan kelangsungan usaha, kedua kerangka ini memiliki pemahaman yang identik.
3. Argumentasi Adopsi IFRS Penuh di Indonesia
Saya tidak setuju bahwa Indonesia sebaiknya mengikuti sepenuhnya kerangka konseptual IFRS tanpa penyesuaian lokal. Meskipun adopsi penuh dapat meningkatkan keterbandingan laporan keuangan secara global dan menarik investasi asing, terdapat berbagai tantangan yang relevan dengan kondisi ekonomi, sosial, dan tingkat kematangan pasar di Indonesia. Penerapan nilai wajar secara menyeluruh tanpa adanya pasar aktif yang memadai dapat menghasilkan data yang tidak andal. Secara sosial, standar yang sangat kompleks mungkin membebani Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang tidak memiliki sumber daya yang cukup. Selain itu, tanpa infrastruktur pendukung yang matang seperti penilai aset independen yang andal, penerapan IFRS secara buta bisa menjadi "teori di atas kertas" yang sulit diimplementasikan. Oleh karena itu, pendekatan terbaik adalah mengadopsi IFRS dengan tetap melakukan penyesuaian lokal melalui PSAK, yang memungkinkan Indonesia untuk mendapatkan manfaat dari harmonisasi global sambil menjaga relevansi dan keandalan informasi akuntansi dalam konteks domestik.