གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Nashita Shafiyah

TA2025 -> CASE STUDY

Nashita Shafiyah གིས-
Nama : Nashita Shafiyah
NPM : 2413031009


1. Dari perspektif teori positif akuntansi (Positive Accounting Theory/PAT), perubahan metode depresiasi PT IndoEnergi dari garis lurus ke saldo menurun ganda bisa dipahami sebagai bentuk perilaku manajemen dalam merespons kepentingan ekonomi mereka. PAT, menurut Watts dan Zimmerman, melihat bahwa kebijakan akuntansi tidak selalu dipilih karena alasan teknis atau “paling benar secara teori”, melainkan sering kali didorong oleh motivasi manajerial. Dalam kasus IndoEnergi, manajemen mungkin saja menggunakan alasan “pola konsumsi aset” untuk mendukung argumen formal, tetapi secara praktis, langkah ini bisa berkaitan dengan hipotesis perjanjian utang (untuk menjaga rasio keuangan), hipotesis bonus plan (memengaruhi laba yang dilaporkan agar sesuai target), atau hipotesis biaya politik (mengurangi laba agar beban pajak lebih kecil dan ekspektasi dividen investor tidak terlalu tinggi). Dengan demikian, PAT menjelaskan perilaku ini sebagai strategi rasional yang berakar pada kepentingan manajerial.

2. Jika dibandingkan dengan praktik di negara lain, baik di bawah US GAAP maupun IFRS, perubahan metode depresiasi diperbolehkan asalkan dianggap lebih mencerminkan pola manfaat ekonomi aset dan disertai dengan pengungkapan (disclosure) yang jelas dalam catatan laporan keuangan. Di AS, perubahan metode biasanya diawasi ketat oleh auditor dan SEC agar tidak digunakan semata-mata untuk “earnings management”. Sementara di IFRS, khususnya IAS 16, perubahan metode depresiasi diizinkan bila ada bukti kuat bahwa metode baru lebih relevan. Jadi, secara praktik global, apa yang dilakukan IndoEnergi bukanlah hal asing, tetapi selalu ada sorotan apakah perubahan itu murni alasan teknis atau ada kepentingan tersembunyi.

3. Menurut saya pribadi, teori positif akuntansi cukup kuat untuk menjelaskan motivasi manajemen dalam kasus ini, karena memang menyingkap sisi pragmatis perusahaan dalam memilih kebijakan akuntansi. Namun, PAT juga punya keterbatasan, terutama jika diterapkan di konteks global. Teori ini terlalu fokus pada kepentingan manajer dan sering mengabaikan faktor lain seperti budaya perusahaan, tekanan regulasi internasional, dan ekspektasi pasar modal global yang bisa berbeda-beda. Dalam dunia nyata, kebijakan akuntansi tidak hanya hasil “kalkulasi kepentingan”, tetapi juga dipengaruhi standar etika, reputasi, dan tanggung jawab sosial. Jadi, PAT memberi lensa yang tajam untuk melihat kepentingan ekonomi manajer, tapi belum cukup untuk menangkap kompleksitas praktik akuntansi lintas negara.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

Nashita Shafiyah གིས-
Nama : Nashita Shafiyah
NPM : 2413031009

JURNAL 1

Penelitian ini mengkaji bagaimana dua perusahaan besar di Indonesia, PT Astra International Tbk dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, menerapkan teori akuntansi normatif dan positif dalam kebijakan pelaporan keuangan mereka. Astra yang bergerak di sektor manufaktur cenderung menggunakan pendekatan normatif dengan fokus pada kepatuhan terhadap standar akuntansi, regulasi OJK, serta tuntutan transparansi demi menjaga legitimasi sosial dan kepercayaan publik. Sebaliknya, Telkom sebagai perusahaan teknologi lebih condong ke pendekatan positif, dengan kebijakan akuntansi yang fleksibel dan adaptif terhadap dinamika bisnis serta kebutuhan pasar modal. Perbedaan orientasi ini tidak lepas dari karakteristik masing-masing industri: manufaktur yang padat modal dan berisiko sosial tinggi, serta teknologi yang penuh dengan aset tak berwujud, inovasi cepat, dan persaingan ketat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan akuntansi bukanlah sesuatu yang kaku, melainkan konstruksi yang dinegosiasikan antara tuntutan normatif dan kebutuhan praktis. Astra menekankan kepatuhan untuk menjaga reputasi dan keberlanjutan, sementara Telkom lebih pragmatis dengan menyesuaikan kebijakan demi efisiensi, pertumbuhan, dan citra di mata investor. Dengan demikian, studi ini menegaskan bahwa tidak ada satu pendekatan yang benar-benar dominan untuk semua konteks, melainkan pentingnya keseimbangan. Perusahaan perlu mampu menggabungkan prinsip normatif demi akuntabilitas dengan fleksibilitas positif untuk mendukung strategi bisnis, sehingga laporan keuangan tidak hanya memenuhi regulasi, tetapi juga bermanfaat bagi pengambilan keputusan dan keberlanjutan usaha.

JURNAL 2

Jurnal ini membahas teori akuntansi positif (Positive Accounting Theory/PAT) dan bagaimana teori tersebut memengaruhi pilihan kebijakan akuntansi perusahaan. PAT berusaha menjelaskan serta memprediksi praktik akuntansi berdasarkan perilaku manajemen dalam menghadapi kondisi tertentu. Teori ini berangkat dari kritik terhadap teori normatif yang dianggap terlalu sederhana dan kurang memiliki dasar empiris. Watts dan Zimmerman kemudian mengembangkan PAT dengan pendekatan lebih deskriptif dan empiris, yang menekankan bahwa pilihan kebijakan akuntansi sering kali didasari kepentingan manajer untuk memaksimalkan keuntungan, baik melalui rencana bonus, perjanjian utang, maupun tekanan biaya politik. Dengan kata lain, PAT melihat akuntansi sebagai cerminan dari keputusan strategis manajemen yang berorientasi pada kepentingan ekonomi mereka.

Meskipun banyak kritik yang menilai PAT terlalu pragmatis dan sarat kepentingan, teori ini tetap dianggap penting karena mampu memberi kerangka berpikir untuk memahami pola kebijakan akuntansi perusahaan. Melalui PAT, kita bisa melihat bagaimana faktor lingkungan, regulasi, kontrak, dan tekanan pasar memengaruhi laporan keuangan. Jurnal ini menegaskan bahwa meskipun PAT tidak memberi jawaban tunggal atas praktik akuntansi yang ideal, teori ini berkontribusi besar dalam penelitian akuntansi dengan menyediakan dasar untuk menguji perilaku manajerial dan memprediksi konsekuensi ekonomi dari suatu kebijakan akuntansi. Dengan demikian, PAT tidak hanya relevan dalam konteks penelitian akademik, tetapi juga membantu praktisi memahami alasan di balik kebijakan akuntansi yang diambil perusahaan.


TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

Nashita Shafiyah གིས-
Nama : Nashita Shafiyah
NPM : 2413031009


Jurnal “The Role of Measurement Theory in Supporting the Objectives of the Financial Statements” yang ditulis oleh Saratiel Weszerai Musvoto membahas tentang peran teori pengukuran dalam mendukung tujuan laporan keuangan. Musvoto menjelaskan bahwa walaupun akuntansi sering disebut sebagai ilmu pengukuran, pada kenyataannya akuntansi belum memiliki teori pengukuran yang jelas dan terstruktur. Hal ini membuat muncul pertanyaan apakah angka-angka di laporan keuangan benar-benar hasil pengukuran yang ilmiah, atau hanya sekadar penyajian angka yang mewakili nilai tanpa dasar teori yang kuat.

Dalam praktik akuntansi, pengukuran biasanya hanya dipahami sebagai pemberian nilai uang pada aset atau kewajiban. Padahal, tidak dijelaskan secara mendalam apa yang sebenarnya diukur dan skala apa yang digunakan. Akibatnya, konsep biaya dan nilai dalam akuntansi sering membingungkan serta sulit dipastikan secara objektif. Musvoto menegaskan bahwa tujuan utama laporan keuangan adalah membantu pengguna dalam membuat keputusan, menilai kinerja, dan memahami posisi keuangan suatu entitas. Namun, tujuan ini masih sulit dicapai karena pengukuran dalam akuntansi banyak bergantung pada asumsi, estimasi, dan kondisi ekonomi yang berubah-ubah.

Selain itu, teori pengukuran representasional menekankan pentingnya hasil yang bisa diuji secara empiris. Sayangnya, dalam akuntansi hal ini sering diabaikan, sehingga terjadi jarak antara teori dan praktik. Musvoto kemudian menekankan perlunya pengembangan teori pengukuran yang lebih kuat agar laporan keuangan tidak hanya menjadi formalitas, tetapi juga instrumen ilmiah yang akurat, transparan, dan relevan dalam menggambarkan kondisi ekonomi yang nyata.

TA2025 -> DISKUSI

Nashita Shafiyah གིས-
Nama : Nashita Shafiyah
NPM : 2413031009


Setelah menonton video dari OpenTuition, saya merasa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang berbagai metode pengukuran aset dan kewajiban dalam laporan keuangan. Video ini membahas konsep biaya historis, biaya kini, nilai wajar, hingga nilai dalam penggunaan, yang ternyata bukan sekadar angka teknis, melainkan dasar penting untuk menciptakan laporan keuangan yang andal dan relevan. Penjelasan yang runtut membuat saya menyadari bagaimana angka-angka yang biasa kita lihat di laporan keuangan sebenarnya mencerminkan nilai ekonomi yang sesungguhnya dari aset maupun kewajiban sebuah perusahaan.

Bagian yang paling berkesan bagi saya adalah ketika dibahas perbedaan nilai wajar sebagai exit price dan biaya kini sebagai entry price. Penjelasan tersebut membuat saya melihat bahwa setiap metode pengukuran punya sudut pandang berbeda, tergantung dari tujuan laporan yang ingin dicapai. Selain itu, contoh penghitungan nilai kini dengan faktor anuitas disampaikan dengan sederhana sehingga terasa lebih dekat dengan praktik akuntansi nyata, bukan hanya teori di atas kertas. Hal ini membuka wawasan saya bahwa pemilihan metode pengukuran tidak bisa asal, tetapi harus dipahami dalam konteks pengguna laporan keuangan.

Video ini juga menekankan pentingnya keseimbangan antara keandalan dan relevansi informasi. Dengan mengacu pada kerangka konseptual serta standar IFRS, khususnya IFRS 13 tentang nilai wajar, laporan keuangan bisa menjadi lebih transparan dan bermanfaat bagi pengambil keputusan. Penjelasan yang dilengkapi contoh konkret, seperti cara menghitung penyusutan atau menentukan nilai kini, membuat materi yang awalnya rumit terasa lebih mudah dipahami. Bagi saya, video ini bukan hanya memberikan pengetahuan teoretis, tetapi juga melatih cara berpikir kritis dan analitis dalam melihat laporan keuangan, sehingga sangat bermanfaat baik untuk mahasiswa, dosen, maupun praktisi akuntansi.

TA2025 -> CASE STUDY

Nashita Shafiyah གིས-
Nama : Nashita Shafiyah
NPM : 2413031009

1. Pada kasus PT Nusantara Properti, penggunaan fair value dalam mengukur aset tetap memang membawa kelebihan yang besar. Dengan metode ini, laporan keuangan menjadi lebih relevan karena nilai properti yang ditampilkan sesuai dengan harga pasar terkini. Investor tentu lebih mudah menilai posisi dan prospek perusahaan, apalagi dalam industri properti yang nilai asetnya sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar. Namun, di sisi lain, penggunaan fair value tidak lepas dari kelemahan. Nilai yang dihasilkan sering kali bergantung pada asumsi penilai independen, yang bisa saja bersifat subyektif. Hal ini membuat keandalan informasi kadang dipertanyakan, apalagi jika pasar properti sedang tidak stabil atau kurang transparan. Selain itu, penggunaan fair value juga bisa membuat laporan keuangan terlihat lebih fluktuatif dari tahun ke tahun, sehingga tidak selalu nyaman bagi pemangku kepentingan yang mencari kestabilan.

2. Dalam konteks Indonesia yang sudah mengadopsi PSAK 16 selaras dengan IFRS, pilihan menggunakan nilai wajar sebenarnya dapat meningkatkan kualitas laporan keuangan. Informasi yang disajikan jadi lebih segar dan mencerminkan kondisi ekonomi saat ini, sehingga relevansinya meningkat. Akan tetapi, tantangan terbesarnya adalah menjaga keandalan. Pasar properti di Indonesia tidak selalu efisien, sehingga angka yang muncul dalam laporan bisa berbeda jauh dari kondisi riil di lapangan. Untuk menyeimbangkan relevansi dan keandalan, maka pengungkapan yang transparan mengenai metode, asumsi, dan bahkan keterbatasan penilaian menjadi sangat penting agar pembaca laporan tidak salah menafsirkan angka yang disajikan.

3. Jika saya menjadi bagian dari DSAK IAI, saya akan mendorong agar penggunaan fair value di sektor properti tetap dibuka sebagai opsi, tetapi dengan syarat pengungkapan yang ketat dan standar penilaian yang jelas. Saya juga akan merekomendasikan agar kenaikan nilai akibat revaluasi tidak langsung dimasukkan ke laba, melainkan ke ekuitas, supaya tidak menyesatkan pemegang saham dengan “keuntungan semu”. Dengan cara ini, laporan keuangan bisa tetap relevan dan informatif bagi investor, namun tetap menjaga prinsip kehati-hatian dan keandalan informasi. Pada akhirnya, baik historical cost maupun fair value sama-sama memiliki peran, dan tugas kita adalah mencari titik seimbang agar laporan keuangan tidak hanya indah di atas kertas, tetapi juga bermanfaat nyata bagi pengambil keputusan.