Posts made by Alya Khoirun Nisa

AKM A2025 -> Diskusi

by Alya Khoirun Nisa -
Nama : Alya Khoirun Nisa
NPM : 2413031019

Dalam diskusi ini, saya berpendapat bahwa metode LIFO (Last In, First Out) cenderung menghasilkan laba bersih yang lebih rendah dibandingkan metode FIFO (First In, First Out) ketika harga barang sedang naik. Hal ini terjadi karena metode LIFO memperhitungkan barang yang dibeli terakhir—yang biasanya harganya lebih mahal akibat inflasi—sebagai barang yang terjual lebih dulu. Akibatnya, biaya barang yang terjual (HPP) menjadi lebih besar, sehingga laba bersih berkurang. Sementara itu, metode FIFO menggunakan harga pembelian yang lebih lama (yang biasanya lebih murah), sehingga HPP lebih kecil dan laba bersih terlihat lebih besar.

Namun, saat harga barang sedang turun, situasinya berubah.
Metode LIFO justru memberikan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan FIFO. Hal ini karena harga pembelian terakhir dalam LIFO lebih rendah dari harga sebelumnya, sehingga biaya barang yang terjual (HPP) lebih rendah. Sebaliknya, metode FIFO menyebabkan HPP meningkat karena barang yang terjual berasal dari pembelian lama yang harganya lebih mahal, sehingga laba bersih berkurang. Dengan demikian, pemilihan metode persediaan dapat memengaruhi besarnya laba bersih perusahaan, terutama dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil.

TA2025 -> CASE STUDY

by Alya Khoirun Nisa -
Nama : Alya Khoirun Nisa
NPM : 2413031019

1. Penjelasan Teori Positif Akuntansi terhadap Perilaku PT IndoEnergi

Menurut Teori Positif Akuntansi (PAT), keputusan PT IndoEnergi untuk mengubah metode depresiasi dari garis lurus menjadi saldo menurun ganda dapat dijelaskan melalui motivasi ekonomi manajemen. PAT menilai bahwa manajer memilih kebijakan akuntansi untuk memaksimalkan kepentingan pribadi, seperti bonus, posisi, atau citra perusahaan di mata publik. Melalui bonus plan hypothesis dan political cost hypothesis, perubahan metode ini dapat dilihat sebagai upaya menurunkan laba agar beban pajak dan tekanan politik berkurang, serta mengelola ekspektasi investor terhadap dividen. Dengan demikian, tindakan PT IndoEnergi mencerminkan perilaku rasional yang sesuai dengan pandangan PAT bahwa kebijakan akuntansi sering dipilih berdasarkan kepentingan ekonomi, bukan semata-mata karena alasan teknis.

2. Perbandingan dengan Praktik di Negara Lain (AS/IFRS)

Dalam praktik internasional, baik IFRS (IAS 8) maupun US GAAP memperbolehkan perubahan metode depresiasi selama dianggap mencerminkan pola pemanfaatan aset yang lebih realistis dan diungkapkan secara transparan. Oleh karena itu, keputusan PT IndoEnergi masih sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku. Di Amerika Serikat, perubahan metode depresiasi tergolong umum, tetapi tidak berdampak langsung pada pajak karena sistem perpajakan dan pelaporan keuangan dipisahkan. Sebaliknya, di beberapa negara yang masih mengaitkan laporan keuangan dengan pajak, perubahan seperti ini dapat mengurangi beban pajak secara langsung. Maka, tindakan PT IndoEnergi bisa dianggap wajar secara teknis, tetapi tetap perlu dicermati motivasinya agar tidak dianggap sebagai bentuk manipulasi laba.

3. Penilaian Kritis terhadap Kekuatan dan Keterbatasan PAT

Teori Positif Akuntansi memiliki kekuatan dalam menjelaskan motivasi ekonomi di balik keputusan manajemen, seperti yang dilakukan PT IndoEnergi. Namun, teori ini juga memiliki keterbatasan karena terlalu berfokus pada aspek ekonomi dan mengabaikan faktor etika, reputasi, dan pengawasan regulasi yang memengaruhi praktik akuntansi di berbagai negara. Dalam konteks global, pengaruh budaya, sistem hukum, dan peran auditor juga berperan penting dalam membatasi tindakan oportunistik manajemen. Karena itu, meskipun PAT efektif menjelaskan alasan perubahan kebijakan akuntansi dari sisi perilaku ekonomis, teori ini perlu dilengkapi dengan teori lain seperti stakeholder theory agar penilaian terhadap keputusan perusahaan menjadi lebih menyeluruh dan berimbang.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Alya Khoirun Nisa -
Nama : Alya Khoirun Nisa
NPM : 2413031019

Jurnal pertama berjudul “Perbandingan Pendekatan Teori Normatif dan Positif dalam Kebijakan Akuntansi pada PT Astra International Tbk dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk di Indonesia” karya Amalya Ahmad membahas perbedaan dua pendekatan utama dalam kebijakan akuntansi: teori normatif dan teori positif. Teori normatif menekankan bagaimana akuntansi seharusnya dilakukan berdasarkan prinsip dan standar ideal, sedangkan teori positif menjelaskan mengapa dan bagaimana praktik akuntansi terjadi berdasarkan perilaku manajemen dan kondisi ekonomi nyata. Penelitian ini menemukan bahwa PT Astra International lebih cenderung menerapkan pendekatan normatif karena berfokus pada stabilitas dan kepatuhan terhadap standar, sedangkan PT Telkom lebih banyak menggunakan pendekatan positif karena menyesuaikan kebijakan akuntansi dengan kondisi pasar dan kebutuhan manajerial. Secara keseluruhan, keduanya menunjukkan bahwa kombinasi kedua pendekatan dapat meningkatkan kualitas laporan keuangan dan relevansi informasi bagi pengambil keputusan.

Sementara itu, jurnal kedua berjudul “Positive Accounting Theory: Theoretical Perspectives on Accounting Policy Choice” oleh Shabrina Tri Asti Nasution dkk., menelaah teori akuntansi positif yang dikembangkan oleh Watts dan Zimmerman. Teori ini menjelaskan bahwa kebijakan akuntansi perusahaan sering dipengaruhi oleh kepentingan manajemen dalam memaksimalkan utilitas, dengan tiga hipotesis utama: bonus plan hypothesis, debt covenant hypothesis, dan political cost hypothesis. Artikel ini menyoroti bahwa teori akuntansi positif memiliki kontribusi besar dalam memahami motivasi manajerial di balik pemilihan metode akuntansi, meskipun tetap mendapat kritik karena dianggap terlalu pragmatis dan kurang mempertimbangkan aspek etis. Dalam pandangan saya, kedua jurnal ini saling melengkapi: jurnal Amalya Ahmad menunjukkan penerapan teori dalam konteks perusahaan Indonesia, sedangkan jurnal Nasution memberikan dasar teoritis dan empiris yang memperkuat pemahaman tentang perilaku manajemen dalam kebijakan akuntansi. Kombinasi keduanya memperkaya wacana akuntansi modern dengan menyeimbangkan antara idealisme normatif dan realitas positif dalam praktik keuangan.

AKM A2025 -> Diskusi

by Alya Khoirun Nisa -
Nama : Alya Khoirun Nisa
NPM : 2413031019

1. Pengertian dan Jenis Instrumen Keuangan
Instrumen keuangan adalah setiap kontrak yang menimbulkan aset keuangan bagi satu pihak dan kewajiban keuangan atau instrumen ekuitas bagi pihak lainnya. Dengan kata lain, instrumen keuangan mencerminkan hubungan keuangan antara dua entitas. Jenis instrumen keuangan terbagi menjadi dua, yaitu instrumen keuangan primer seperti kas, piutang, dan utang dagang yang muncul dari transaksi langsung, serta instrumen keuangan derivatif seperti opsi, futures, dan swap yang nilainya bergantung pada instrumen lain.

2. Kas dan Pengendalian Internal terhadap Kas
Kas adalah aset paling likuid yang dimiliki perusahaan, berupa uang tunai dan saldo di bank yang dapat digunakan untuk membiayai kegiatan operasional sehari-hari. Karena kas sangat mudah disalahgunakan, diperlukan sistem pengendalian internal yang baik, seperti pemisahan tugas antara penerimaan dan pengeluaran kas, penggunaan sistem otorisasi untuk setiap transaksi, serta rekonsiliasi bank secara berkala agar saldo kas sesuai dengan catatan akuntansi.

3. Penyajian dan Pengungkapan Kas dalam Laporan Keuangan
Dalam laporan keuangan, kas disajikan pada bagian aset lancar di neraca dengan rincian yang jelas, misalnya kas kecil, kas di bank, atau setara kas. Pengungkapan kas juga mencakup kebijakan perusahaan tentang pengelolaan kas, batasan penggunaannya, serta saldo kas yang tidak dapat digunakan. Selain itu, arus kas disajikan dalam laporan arus kas yang mengelompokkan aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.

4. Pengertian dan Pengakuan Piutang
Piutang adalah hak perusahaan untuk menagih uang dari pihak lain akibat penjualan barang atau jasa secara kredit. Piutang diakui sebagai aset ketika perusahaan telah memberikan barang atau jasa kepada pelanggan dan memiliki hak hukum untuk menagih pembayaran. Pengakuan piutang biasanya dicatat sebesar nilai yang dapat ditagih, setelah mempertimbangkan potensi kerugian penagihan.

5. Penilaian, Penurunan Nilai, Penyajian, dan Pengungkapan Piutang
Penilaian piutang dilakukan berdasarkan nilai bersih yang dapat direalisasikan, yaitu jumlah piutang dikurangi cadangan kerugian piutang tak tertagih. Jika terdapat indikasi piutang tidak dapat ditagih, maka dilakukan perhitungan penurunan nilai melalui estimasi cadangan kerugian. Dalam laporan keuangan, piutang disajikan pada bagian aset lancar, dan pengungkapannya mencakup kebijakan penagihan, estimasi cadangan kerugian, serta rincian umur piutang.
6. Analisis Kas dan Piutang
Analisis kas dan piutang bertujuan untuk menilai likuiditas dan efisiensi pengelolaan aset lancar perusahaan. Analisis kas dapat dilakukan dengan meninjau rasio likuiditas seperti current ratio dan quick ratio, serta arus kas dari aktivitas operasi. Sementara itu, analisis piutang dilakukan dengan menghitung perputaran piutang (receivable turnover) dan rata-rata hari penagihan (days sales outstanding) untuk menilai efektivitas kebijakan kredit dan kemampuan perusahaan menagih piutang tepat waktu.