Kiriman dibuat oleh Alya Khoirun Nisa

TA2025 -> CASE STUDY

oleh Alya Khoirun Nisa -
Nama : Alya Khoirun Nisa
NPM : 2413031019

1) Perilaku manajemen dan motivasinya

Manajemen PT Lestari Mineral memilih kebijakan akuntansi konservatif untuk menunjukkan kehati-hatian dan tanggung jawab lingkungan. Motivasinya antara lain: menjaga reputasi, mematuhi peraturan, dan mengantisipasi biaya reklamasi di masa depan. Dampaknya, laba jangka pendek menjadi lebih kecil, tetapi citra perusahaan di mata regulator dan masyarakat meningkat. Investor jangka pendek mungkin kurang puas, tetapi bagi pemerintah dan masyarakat, kebijakan ini mencerminkan tanggung jawab sosial dan keberlanjutan.

2) Sikap akuntan terhadap tekanan investor dan etika profesi

Sebagai akuntan, sebaiknya tetap berpegang pada standar akuntansi yang berlaku (PSAK/IFRS) dan prinsip etika profesi seperti integritas dan objektivitas. Tekanan investor untuk menaikkan laba tidak boleh mengubah kebijakan secara tidak wajar. Mengikuti permintaan investor boleh dilakukan hanya jika sesuai standar dan didukung bukti yang valid. Jika permintaan itu menyesatkan atau melanggar prinsip kehati-hatian, maka menolaknya adalah bentuk profesionalisme dan etika akuntan.

3) Pengaruh ekonomi politik dalam penetapan standar akuntansi

Proses penetapan standar akuntansi sering dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi dan politik, baik nasional maupun global. Industri besar dapat melakukan lobbying agar aturan lebih menguntungkan, sementara pemerintah menimbang aspek ekonomi dan sosial. Dalam kasus ini, asosiasi tambang dan investor asing berusaha mempengaruhi standar agar sesuai kepentingannya. Contoh lain, tekanan internasional agar negara-negara mengadopsi IFRS menunjukkan bagaimana kekuatan ekonomi global membentuk arah standar akuntansi nasional.

4) Perbandingan pendekatan berbasis prinsip (IFRS) dan berbasis aturan (GAAP)

Pendekatan berbasis prinsip (IFRS) menekankan pada pemahaman konsep dan pertimbangan profesional, sehingga lebih fleksibel menghadapi transaksi baru. Sementara berbasis aturan (GAAP) bersifat rinci dan ketat, cocok untuk sistem hukum yang kuat namun kurang fleksibel. Dalam konteks Indonesia, pendekatan berbasis prinsip lebih relevan, karena ekonomi Indonesia dinamis dan membutuhkan ruang interpretasi, meski tetap perlu pengawasan agar tidak disalahgunakan.


5) Relevansi pendekatan bagi Indonesia

Indonesia sebaiknya mengadopsi prinsip IFRS tetapi disertai pedoman tambahan lokal (guidance) agar penerapannya lebih jelas. Pendekatan ini mendukung transparansi, keberlanjutan, dan daya saing global, namun perlu diimbangi dengan peningkatan kapasitas akuntan, auditor, dan regulator agar fleksibilitas prinsip tidak menjadi celah manipulasi laporan keuangan.

TA2025 -> DISKUSI

oleh Alya Khoirun Nisa -
Nama : Alya Khoirun Nisa
NPM: 2413031019

Berdasarkan jurnal “Exploring the Impact of Behavioral Factors on Accounting Systems and Financial Decision-Making” karya Muhammad Daham Sabbar dkk., aspek perilaku dalam akuntansi berperan penting karena menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan keuangan tidak sepenuhnya rasional. Faktor seperti bias kognitif (overconfidence, anchoring, confirmation bias), emosi, kepercayaan, serta budaya organisasi memengaruhi bagaimana akuntan dan manajer menafsirkan serta menggunakan informasi akuntansi. Dengan kata lain, akuntansi tidak hanya bersifat teknis tetapi juga sosial–psikologis, di mana perilaku individu dapat menentukan akurasi, relevansi, dan efektivitas laporan keuangan. Urgensinya terletak pada kebutuhan untuk merancang sistem akuntansi yang tidak hanya menyajikan data yang benar, tetapi juga meminimalkan distorsi perilaku dan mendukung pengambilan keputusan yang adaptif dan etis.

Dalam konteks proses standard-setting, jurnal ini menegaskan bahwa penyusunan standar akuntansi juga tidak terlepas dari dimensi perilaku dan ekonomi politik. Standar tidak dibuat secara netral; ia dipengaruhi oleh berbagai kepentingan ekonomi, politik, dan institusional dari pihak-pihak seperti regulator, auditor, investor, dan entitas bisnis. Dalam kerangka ekonomi politik akuntansi, standar dipandang sebagai hasil negosiasi antara kelompok dengan kepentingan berbeda, di mana kekuasaan dan legitimasi memainkan peran sentral. Oleh karena itu, pemahaman perilaku para aktor dan dinamika institusional menjadi penting untuk memastikan bahwa standar akuntansi tidak hanya berorientasi pada kepentingan korporasi, tetapi juga pada kepentingan publik dan transparansi ekonomi.

Dengan demikian, aspek perilaku dalam akuntansi menjadi landasan untuk memahami bahwa efektivitas akuntansi tidak hanya bergantung pada aturan formal, tetapi juga pada keselarasan antara perilaku manusia, sistem informasi, dan struktur kelembagaan. Pendekatan ini membantu menciptakan praktik akuntansi yang lebih realistis, berkeadilan, dan relevan terhadap dinamika sosial ekonomi modern.