གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Nurida Elsa

TA2025 -> CASE STUDY

Nurida Elsa གིས-
1. Manajemen PT Lestari Mineral memilih kebijakan akuntansi konservatif karena ingin menunjukkan kehati-hatian terhadap risiko lingkungan dan regulasi yang tinggi di sektor pertambangan. Dengan mengakui biaya reklamasi lebih awal, perusahaan berusaha menjaga reputasi, mengurangi risiko hukum, serta memberikan sinyal tanggung jawab kepada regulator dan masyarakat. Namun, kebijakan ini dapat menurunkan laba sehingga sebagian investor merasa dirugikan, meskipun pihak seperti regulator, kreditor, dan komunitas lokal justru diuntungkan karena laporan menjadi lebih transparan dan hati-hati.

2. Sebagai akuntan, tekanan investor asing harus direspons dengan tetap memegang integritas dan objektivitas. Perubahan kebijakan tidak boleh dilakukan semata-mata untuk meningkatkan laba jika tidak mencerminkan substansi ekonomi yang sebenarnya. Melakukan perubahan karena tekanan investor dapat melanggar etika profesi. Namun, jika kebijakan baru sesuai dengan IFRS dan memberikan pelaporan yang lebih tepat, maka perubahan dapat dipertimbangkan secara profesional. Keputusan harus selalu didasarkan pada standar yang berlaku, bukan kepentingan pihak tertentu.

3. Penetapan standar akuntansi sangat dipengaruhi oleh dinamika ekonomi politik. Di Indonesia, upaya pemerintah merumuskan standar yang lebih berorientasi keberlanjutan juga menghadapi lobi dari industri pertambangan yang ingin menghindari aturan ketat terkait biaya lingkungan. Di tingkat global, IFRS sendiri dipengaruhi kelompok investor internasional, regulator besar, dan negara-negara kuat yang memiliki kepentingan ekonomi tertentu. Contohnya, perdebatan standar sustainability IFRS atau penolakan AS mengadopsi IFRS menunjukkan bahwa standar akuntansi tidak sepenuhnya netral, tetapi hasil tarik-menarik kepentingan.

4. Pendekatan principles-based seperti IFRS lebih fleksibel dan menekankan substansi ekonomi, sementara pendekatan rules-based seperti GAAP lebih kaku dan detail. Untuk Indonesia, principles-based lebih relevan karena mendukung harmonisasi dengan pasar global dan memberikan ruang judgment profesional. Meski begitu, keberhasilannya tetap bergantung pada kualitas sumber daya akuntan dan pengawasan regulator. Oleh sebab itu, pendekatan principles-based paling sesuai, asalkan ditopang kompetensi dan kontrol yang memadai.

AKM A2025 -> Diskusi

Nurida Elsa གིས-
Nama: Nurida Elsa
NPM: 2413031012

Aset tak berwujud merupakan aset nonfisik yang memiliki nilai dan memberikan manfaat ekonomi di masa depan, seperti hak paten, lisensi, merek dagang, atau goodwill. Pencatatan aset tak berwujud dilakukan ketika aset tersebut dapat diidentifikasi secara jelas, memberikan manfaat ekonomi di masa depan, serta memiliki nilai yang dapat diukur dengan andal. Jika diperoleh melalui pembelian, aset dicatat sebesar harga perolehannya, sedangkan yang dihasilkan secara internal hanya tahap pengembangannya yang dapat diakui sebagai aset. Dalam penilaian, aset tak berwujud diukur pertama kali sebesar biaya perolehan, dan selanjutnya menggunakan model biaya (cost model) atau model revaluasi jika terdapat pasar aktif. Dalam laporan keuangan, aset tak berwujud disajikan pada kelompok aset tidak lancar, disertai penjelasan mengenai jenis aset, masa manfaat, serta metode amortisasinya. Aset dengan masa manfaat terbatas diamortisasi sesuai jangka waktunya, sedangkan aset dengan masa manfaat tidak terbatas seperti goodwill tidak diamortisasi tetapi diuji penurunan nilainya secara berkala untuk memastikan nilai wajarnya tetap terjaga.

AKM A2025 -> Diskusi

Nurida Elsa གིས-
Nama: Nurida Elsa
NPM: 2413031012

Aset tetap dan properti investasi memiliki perbedaan mendasar berdasarkan tujuan penggunaannya. Aset tetap adalah aset berwujud yang digunakan secara langsung dalam kegiatan produksi, penyediaan barang atau jasa, atau untuk tujuan administratif perusahaan dengan harapan dapat digunakan selama lebih dari satu periode akuntansi. Contohnya meliputi mesin produksi, kendaraan operasional, dan bangunan kantor yang menunjang operasi bisnis sehari-hari. Sedangkan properti investasi adalah properti berupa tanah atau bangunan yang dimiliki untuk menghasilkan pendapatan dari sewa atau kenaikan nilai pasar, bukan untuk digunakan secara langsung dalam operasional perusahaan. Properti investasi biasanya disewakan atau dibiarkan sebagai investasi jangka panjang tanpa digunakan oleh perusahaan secara langsung dalam produksi atau administrasi.

Jika diminta memilih antara membeli aset tetap atau properti investasi, pilihan tergantung pada tujuan dan strategi perusahaan atau individu. Jika fokus utama adalah mendukung kegiatan operasional dan produksi bisnis, maka aset tetap merupakan pilihan yang lebih tepat karena aset ini menjadi modal kerja utama untuk menjalankan usaha secara efisien. Namun, jika tujuan utamanya adalah investasi jangka panjang dengan fokus pada pendapatan pasif melalui sewa atau kenaikan nilai properti, maka properti investasi lebih sesuai. Properti investasi menawarkan potensi keuntungan dari pendapatan sewa dan apresiasi nilai aset, tetapi kurang memberikan manfaat langsung untuk operasional bisnis. Dengan demikian, keputusan pembelian harus disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan keuangan yang ingin dicapai.