གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Nurida Elsa

TA2025 -> CASE STUDY 1

Nurida Elsa གིས-

Nama: Nurida Elsa

NPM: 2413031012


1. Pengaruh Blockchain terhadap Reliabilitas dan Transparansi Akuntansi

Blockchain dapat memperkuat dua prinsip penting dalam akuntansi, yaitu reliabilitas dan transparansi. Karena data di blockchain tidak bisa diubah dan selalu memiliki jejak audit, informasi seperti emisi karbon atau asal bahan baku menjadi lebih akurat dan mudah diverifikasi. Ini mendukung prinsip bahwa laporan harus mencerminkan kondisi sebenarnya. Namun, akuntansi tetap bergantung pada kualitas data awal—jika data yang dimasukkan sudah salah, blockchain justru mengunci kesalahan itu selamanya. Jadi, meskipun blockchain meningkatkan keamanan dan keterbukaan data, perusahaan tetap harus memastikan proses pencatatan awal dilakukan dengan benar.

2. Tantangan dalam Regulasi Indonesia dan Global.

Di Indonesia, belum ada aturan khusus yang mengatur penggunaan blockchain untuk laporan keberlanjutan. Standar seperti GRI atau POJK 51 memang mewajibkan transparansi, tetapi belum menyediakan panduan teknis penggunaan teknologi seperti blockchain. Akibatnya, perusahaan dapat menghadapi ketidakpastian hukum terkait bukti digital, cara auditor memeriksa sistem, serta kesiapan regulator yang masih berhati-hati. Di tingkat global, tantangannya mencakup standar data yang berbeda-beda, perlindungan informasi, dan isu konsumsi energi blockchain. Selain itu, auditor bukan hanya harus menilai datanya, tetapi juga menilai sistem blockchain itu sendiri, yang membutuhkan keahlian khusus.

3. Rekomendasi Strategis bagi PT Hijau Lestari

Agar penerapan blockchain berhasil, perusahaan perlu memastikan bahwa data yang masuk sudah benar melalui pengendalian internal yang kuat. Perusahaan juga sebaiknya memilih jenis blockchain yang hemat energi dan memiliki akses terbatas (permissioned) agar sesuai dengan kebutuhan privasi dan tata kelola. Selain itu, penting untuk melatih akuntan dan bekerja sama dengan auditor supaya proses pemeriksaan data dapat menyesuaikan dengan teknologi baru. Terakhir, perusahaan harus memastikan sistem blockchain yang dibangun tetap selaras dengan standar GRI dan ketentuan OJK agar mudah diterima oleh regulator dan stakeholder. Dengan langkah-langkah ini, teknologi dapat dimanfaatkan dengan optimal tanpa mengabaikan etika, aturan, dan prinsip akuntansi.

TA2025 -> CASE STUDY

Nurida Elsa གིས-

Nama: Nurida Elsa

NPM: 241303012


Analisis Kritis: Dalam konteks otomatisasi dan penggunaan blockchain, teori akuntansi tradisional menghadapi hambatan besar karena tidak sepenuhnya selaras dengan sistem akrual modern. Proses verifikasi audit menjadi lebih rumit, apalagi ketika kondisi geopolitik yang tidak stabil menyebabkan fluktuasi data keuangan. Akibatnya, laporan keuangan dapat menjadi kurang akurat dan semakin sulit diverifikasi oleh auditor.

Digitalisasi memang membawa manfaat seperti efisiensi yang lebih tinggi dan transparansi data melalui AI dan blockchain. Namun, teknologi ini juga membuka peluang manipulasi, misalnya melalui bias pada algoritma, celah keamanan, dan berkurangnya pengawasan manusia. Risiko ini dapat menyesatkan investor, seperti yang dicurigai terjadi pada PT Delta.

Etika dan Transparansi: Secara etis, akuntan menghadapi tantangan seperti hilangnya akuntabilitas karena keputusan banyak dilakukan oleh AI, munculnya bias dalam algoritma, dan potensi terjadinya konflik kepentingan. Masalah ini terjadi karena keputusan berbasis sistem otomatis sering kali tidak disertai pengawasan etis yang memadai.

Dalam situasi seperti itu, akuntan profesional wajib mempertahankan integritas. Mereka harus menolak tekanan untuk mengubah hasil laporan, memeriksa kembali akurasi output AI, melaporkan setiap dugaan manipulasi, dan memastikan informasi disampaikan secara transparan agar kepercayaan investor tetap terjaga.

Respons Strategis: Untuk menghadapi tantangan teknologi tinggi, perusahaan dan auditor perlu memperbarui metode audit mereka. Salah satunya dengan memanfaatkan AI untuk memantau transaksi secara real-time, membentuk komite audit yang khusus menangani aspek digital, serta memastikan bahwa algoritma yang digunakan telah divalidasi dan tidak berpotensi disalahgunakan.

Saat ini, standar pelaporan keuangan belum sepenuhnya mampu mengikuti perkembangan teknologi digital dan tuntutan globalisasi. Karena itu, diperlukan pembaruan yang lebih spesifik, termasuk pedoman baru yang meningkatkan transparansi dan membantu menghadapi kompleksitas pelaporan seperti kasus yang dialami PT Delta.