Nama : Eka Saryuni
Npm : 2413031030
1. Dalam kasus PT Surya Terang, terdapat dua basis pengukuran yang paling relevan, yaitu biaya historis dan nilai wajar. Biaya historis merupakan dasar pengukuran awal yang digunakan ketika mesin dibeli pada tahun 2020. Basis ini mencatat aset sebesar harga perolehan dan kemudian dialokasikan sebagai beban melalui penyusutan. Kelebihan biaya historis adalah objektivitas dan keandalannya karena didasarkan pada transaksi nyata sehingga kecil kemungkinan menimbulkan subjektivitas penilaian. Namun, kelemahannya adalah kurang relevan ketika kondisi ekonomi atau teknologi berubah secara signifikan, sehingga nilai buku tidak lagi mencerminkan manfaat ekonomi masa depan dari aset tersebut. Nilai wajar, di sisi lain, menggambarkan harga pasar saat ini berdasarkan informasi terkini sebagai dasar estimasi manfaat ekonomi masa depan. Nilai wajar lebih relevan untuk pengambilan keputusan karena menunjukkan kondisi ekonomi yang sesungguhnya. Meski demikian, nilai wajar mengandung unsur subjektivitas dan ketidakpastian, terutama ketika pasar tidak aktif atau memerlukan asumsi penilaian yang signifikan, sehingga dapat menurunkan tingkat keandalan.
2. Apabila PT Surya Terang memutuskan untuk menggunakan model revaluasi sesuai PSAK 16, terdapat beberapa implikasi terhadap laporan keuangan. Pada laporan posisi keuangan, nilai tercatat mesin akan disesuaikan menjadi Rp400.000.000. Selisih penurunan dari nilai tercatat sebelumnya, yaitu Rp600.000.000, akan diakui sebagai rugi revaluasi dan dibebankan ke laba rugi, kecuali jika terdapat saldo surplus revaluasi sebelumnya yang dapat digunakan untuk mengompensasi penurunan tersebut. Dengan demikian, ekuitas akan terpengaruh: jika penurunan diakui sebagai rugi, maka laba ditahan menurun. Selain itu, setelah revaluasi, beban penyusutan pada periode selanjutnya akan dihitung berdasarkan nilai revaluasian yang baru serta sisa umur manfaat dan nilai residu yang telah direvisi, sehingga dapat mengubah besaran laba di masa mendatang.
3. Dalam konteks perubahan teknologi yang menyebabkan penurunan signifikan nilai pasar mesin, penggunaan nilai wajar dapat dikatakan lebih memenuhi karakteristik kualitatif relevansi menurut Kerangka Konseptual PSAK dan IFRS. Nilai wajar memberikan informasi yang lebih mencerminkan kondisi ekonomi aktual dan potensi manfaat ekonomi masa depan sehingga lebih berguna bagi pengguna laporan keuangan untuk menilai risiko, posisi keuangan, maupun kinerja perusahaan. Namun, dari sisi keandalan (faithful representation), biaya historis masih memiliki keunggulan karena lebih objektif dan dapat diverifikasi. Walaupun demikian, dalam situasi di mana nilai pasar berbeda jauh dari nilai buku seperti kasus ini, biaya historis justru dapat mengurangi representasi setia karena tidak lagi mencerminkan nilai ekonomi mesin. Oleh karena itu, secara kritis dapat dinyatakan bahwa dalam kondisi penurunan nilai yang signifikan dan adanya bukti penilaian independen, nilai wajar lebih seimbang memenuhi relevansi sekaligus tetap dapat diandalkan, selama penilaian dilakukan dengan teknik yang tepat dan sumber data yang dapat diverifikasi.
Npm : 2413031030
1. Dalam kasus PT Surya Terang, terdapat dua basis pengukuran yang paling relevan, yaitu biaya historis dan nilai wajar. Biaya historis merupakan dasar pengukuran awal yang digunakan ketika mesin dibeli pada tahun 2020. Basis ini mencatat aset sebesar harga perolehan dan kemudian dialokasikan sebagai beban melalui penyusutan. Kelebihan biaya historis adalah objektivitas dan keandalannya karena didasarkan pada transaksi nyata sehingga kecil kemungkinan menimbulkan subjektivitas penilaian. Namun, kelemahannya adalah kurang relevan ketika kondisi ekonomi atau teknologi berubah secara signifikan, sehingga nilai buku tidak lagi mencerminkan manfaat ekonomi masa depan dari aset tersebut. Nilai wajar, di sisi lain, menggambarkan harga pasar saat ini berdasarkan informasi terkini sebagai dasar estimasi manfaat ekonomi masa depan. Nilai wajar lebih relevan untuk pengambilan keputusan karena menunjukkan kondisi ekonomi yang sesungguhnya. Meski demikian, nilai wajar mengandung unsur subjektivitas dan ketidakpastian, terutama ketika pasar tidak aktif atau memerlukan asumsi penilaian yang signifikan, sehingga dapat menurunkan tingkat keandalan.
2. Apabila PT Surya Terang memutuskan untuk menggunakan model revaluasi sesuai PSAK 16, terdapat beberapa implikasi terhadap laporan keuangan. Pada laporan posisi keuangan, nilai tercatat mesin akan disesuaikan menjadi Rp400.000.000. Selisih penurunan dari nilai tercatat sebelumnya, yaitu Rp600.000.000, akan diakui sebagai rugi revaluasi dan dibebankan ke laba rugi, kecuali jika terdapat saldo surplus revaluasi sebelumnya yang dapat digunakan untuk mengompensasi penurunan tersebut. Dengan demikian, ekuitas akan terpengaruh: jika penurunan diakui sebagai rugi, maka laba ditahan menurun. Selain itu, setelah revaluasi, beban penyusutan pada periode selanjutnya akan dihitung berdasarkan nilai revaluasian yang baru serta sisa umur manfaat dan nilai residu yang telah direvisi, sehingga dapat mengubah besaran laba di masa mendatang.
3. Dalam konteks perubahan teknologi yang menyebabkan penurunan signifikan nilai pasar mesin, penggunaan nilai wajar dapat dikatakan lebih memenuhi karakteristik kualitatif relevansi menurut Kerangka Konseptual PSAK dan IFRS. Nilai wajar memberikan informasi yang lebih mencerminkan kondisi ekonomi aktual dan potensi manfaat ekonomi masa depan sehingga lebih berguna bagi pengguna laporan keuangan untuk menilai risiko, posisi keuangan, maupun kinerja perusahaan. Namun, dari sisi keandalan (faithful representation), biaya historis masih memiliki keunggulan karena lebih objektif dan dapat diverifikasi. Walaupun demikian, dalam situasi di mana nilai pasar berbeda jauh dari nilai buku seperti kasus ini, biaya historis justru dapat mengurangi representasi setia karena tidak lagi mencerminkan nilai ekonomi mesin. Oleh karena itu, secara kritis dapat dinyatakan bahwa dalam kondisi penurunan nilai yang signifikan dan adanya bukti penilaian independen, nilai wajar lebih seimbang memenuhi relevansi sekaligus tetap dapat diandalkan, selama penilaian dilakukan dengan teknik yang tepat dan sumber data yang dapat diverifikasi.