Posts made by Eka Saryuni

TA2025 -> CASE STUDY

by Eka Saryuni -
Nama : Eka Saryuni
Npm : 2413031030

1. Dalam kasus PT Surya Terang, terdapat dua basis pengukuran yang paling relevan, yaitu biaya historis dan nilai wajar. Biaya historis merupakan dasar pengukuran awal yang digunakan ketika mesin dibeli pada tahun 2020. Basis ini mencatat aset sebesar harga perolehan dan kemudian dialokasikan sebagai beban melalui penyusutan. Kelebihan biaya historis adalah objektivitas dan keandalannya karena didasarkan pada transaksi nyata sehingga kecil kemungkinan menimbulkan subjektivitas penilaian. Namun, kelemahannya adalah kurang relevan ketika kondisi ekonomi atau teknologi berubah secara signifikan, sehingga nilai buku tidak lagi mencerminkan manfaat ekonomi masa depan dari aset tersebut. Nilai wajar, di sisi lain, menggambarkan harga pasar saat ini berdasarkan informasi terkini sebagai dasar estimasi manfaat ekonomi masa depan. Nilai wajar lebih relevan untuk pengambilan keputusan karena menunjukkan kondisi ekonomi yang sesungguhnya. Meski demikian, nilai wajar mengandung unsur subjektivitas dan ketidakpastian, terutama ketika pasar tidak aktif atau memerlukan asumsi penilaian yang signifikan, sehingga dapat menurunkan tingkat keandalan.

2. Apabila PT Surya Terang memutuskan untuk menggunakan model revaluasi sesuai PSAK 16, terdapat beberapa implikasi terhadap laporan keuangan. Pada laporan posisi keuangan, nilai tercatat mesin akan disesuaikan menjadi Rp400.000.000. Selisih penurunan dari nilai tercatat sebelumnya, yaitu Rp600.000.000, akan diakui sebagai rugi revaluasi dan dibebankan ke laba rugi, kecuali jika terdapat saldo surplus revaluasi sebelumnya yang dapat digunakan untuk mengompensasi penurunan tersebut. Dengan demikian, ekuitas akan terpengaruh: jika penurunan diakui sebagai rugi, maka laba ditahan menurun. Selain itu, setelah revaluasi, beban penyusutan pada periode selanjutnya akan dihitung berdasarkan nilai revaluasian yang baru serta sisa umur manfaat dan nilai residu yang telah direvisi, sehingga dapat mengubah besaran laba di masa mendatang.

3. Dalam konteks perubahan teknologi yang menyebabkan penurunan signifikan nilai pasar mesin, penggunaan nilai wajar dapat dikatakan lebih memenuhi karakteristik kualitatif relevansi menurut Kerangka Konseptual PSAK dan IFRS. Nilai wajar memberikan informasi yang lebih mencerminkan kondisi ekonomi aktual dan potensi manfaat ekonomi masa depan sehingga lebih berguna bagi pengguna laporan keuangan untuk menilai risiko, posisi keuangan, maupun kinerja perusahaan. Namun, dari sisi keandalan (faithful representation), biaya historis masih memiliki keunggulan karena lebih objektif dan dapat diverifikasi. Walaupun demikian, dalam situasi di mana nilai pasar berbeda jauh dari nilai buku seperti kasus ini, biaya historis justru dapat mengurangi representasi setia karena tidak lagi mencerminkan nilai ekonomi mesin. Oleh karena itu, secara kritis dapat dinyatakan bahwa dalam kondisi penurunan nilai yang signifikan dan adanya bukti penilaian independen, nilai wajar lebih seimbang memenuhi relevansi sekaligus tetap dapat diandalkan, selama penilaian dilakukan dengan teknik yang tepat dan sumber data yang dapat diverifikasi.

TA2025 -> DISKUSI

by Eka Saryuni -
Nama : Eka Saryuni
Npm : 2413031030

JURNAL 1
Jurnal ini menjelaskan bahwa akuntansi keperilakuan merupakan cabang ilmu akuntansi yang mempelajari hubungan antara perilaku manusia dan sistem akuntansi. Penulis menekankan bahwa akuntansi tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor psikologis dan sosial yang menentukan bagaimana individu berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan.
Aspek perilaku dalam jurnal ini dilihat dari berbagai sudut psikologi seperti motivasi, persepsi, kepribadian, nilai, dan sikap. Faktor-faktor tersebut memengaruhi bagaimana individu, baik akuntan maupun manajer, merespons informasi akuntansi dan mengambil keputusan ekonomi. Misalnya, perbedaan persepsi dan motivasi antar individu dapat menyebabkan perbedaan dalam penilaian dan pelaporan keuangan.
Selain itu, jurnal ini juga menyoroti pentingnya etika dan nilai moral dalam perilaku akuntansi. Kasus Enron disebut sebagai contoh nyata di mana kegagalan dalam menerapkan prinsip akuntansi keperilakuan—terutama terkait integritas dan perilaku etis—mengakibatkan skandal besar. Dengan demikian, penulis menekankan bahwa aspek perilaku perlu dipahami agar akuntansi tidak hanya berfokus pada angka, tetapi juga memperhatikan dimensi manusia yang terlibat dalam penyusunan laporan keuangan dan pengambilan keputusan.

JURNAL 2
Jurnal ini membahas bagaimana faktor perilaku memengaruhi sistem akuntansi dan proses pengambilan keputusan keuangan dalam organisasi. Penulis berpendapat bahwa keputusan keuangan tidak sepenuhnya rasional seperti yang diasumsikan dalam teori akuntansi klasik, tetapi banyak dipengaruhi oleh bias kognitif, emosi, dan dinamika organisasi.
Aspek perilaku yang ditekankan meliputi bias kognitif (seperti overconfidence, confirmation bias, dan framing), kepercayaan (trust), budaya organisasi, serta kapasitas kognitif individu (cognitive load). Faktor-faktor tersebut dapat mendistorsi interpretasi terhadap informasi akuntansi dan menurunkan kualitas keputusan. Misalnya, manajer yang terlalu percaya diri cenderung membuat estimasi laba yang terlalu optimistis, sedangkan bias konfirmasi menyebabkan pengabaian terhadap informasi yang bertentangan dengan keyakinan awal.
Jurnal ini juga menyoroti pentingnya keselarasan antara sistem akuntansi dan kognisi manajerial. Sistem akuntansi yang dirancang tanpa mempertimbangkan cara berpikir pengguna akan sulit diterapkan secara efektif. Karena itu, pendekatan perilaku diperlukan dalam desain dan implementasi sistem agar mampu meminimalkan bias dan meningkatkan kualitas keputusan.

TA2025 -> CASE STUDY

by Eka Saryuni -
Nama : Eka Saryuni
Npm : 2413031030

1. Perilaku manajemen PT Lestari Mineral dalam memilih kebijakan akuntansi konservatif dapat dianalisis sebagai bentuk kehati-hatian dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi dan fluktuasi harga komoditas. Kebijakan konservatif biasanya dipilih untuk menunda pengakuan pendapatan dan mempercepat pengakuan beban, sehingga laba yang dilaporkan menjadi lebih rendah. Motivasi perilaku tersebut dapat berasal dari keinginan manajemen untuk menjaga stabilitas keuangan perusahaan, menghindari ekspektasi laba yang terlalu tinggi dari investor, serta meminimalkan risiko litigasi dan tekanan dari regulator. Dampaknya terhadap stakeholders bisa bersifat ganda, di mana bagi investor kebijakan ini bisa dianggap sebagai sinyal kehati-hatian dan kredibilitas, namun di sisi lain dapat menimbulkan persepsi bahwa perusahaan kurang menghasilkan kinerja yang optimal. Bagi kreditor, kebijakan konservatif biasanya dipandang positif karena menunjukkan manajemen risiko yang baik dan perlindungan terhadap kemungkinan gagal bayar.

2. ⁠Jika saya sebagai akuntan perusahaan menghadapi tekanan dari investor luar negeri untuk mengubah kebijakan akuntansi, langkah pertama adalah memastikan bahwa perubahan yang diminta tidak melanggar standar akuntansi yang berlaku di Indonesia dan tidak mengorbankan prinsip keandalan serta relevansi laporan keuangan. Menuruti keinginan investor semata tanpa dasar profesional dapat bertentangan dengan prinsip etika profesi akuntan, khususnya prinsip integritas, objektivitas, dan independensi. Akuntan harus berpegang pada kode etik profesi dan tanggung jawab publiknya, bukan hanya pada kepentingan pihak tertentu. Oleh karena itu, setiap perubahan kebijakan akuntansi harus melalui pertimbangan profesional dan disetujui sesuai prosedur tata kelola perusahaan, bukan semata karena tekanan eksternal.

3. ⁠Proses penetapan standar akuntansi sangat dipengaruhi oleh kekuatan ekonomi dan politik, baik di tingkat nasional maupun global. Di tingkat nasional, kelompok industri besar, asosiasi profesi, dan pemerintah dapat memengaruhi arah standar agar sesuai dengan kepentingan ekonomi domestik. Di tingkat global, lembaga seperti IASB dan pengaruh negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa memainkan peran penting dalam menentukan arah harmonisasi standar. Dalam konteks kasus PT Lestari Mineral, tekanan dari investor luar negeri mencerminkan bagaimana kekuatan ekonomi global dapat mendorong penerapan kebijakan akuntansi yang lebih sesuai dengan praktik internasional. Contoh lain yang nyata adalah adopsi IFRS di Indonesia, yang sebagian besar didorong oleh kebutuhan menarik investasi asing dan meningkatkan daya saing global, bukan semata karena pertimbangan teknis akuntansi.

4. ⁠Pendekatan standard-setting berbasis prinsip seperti IFRS menekankan pada penerapan konsep dan penilaian profesional, sedangkan pendekatan berbasis aturan seperti GAAP memberikan panduan yang lebih rinci dan spesifik dalam penerapan. IFRS memberikan fleksibilitas dan ruang interpretasi yang lebih luas bagi akuntan dalam menggambarkan substansi ekonomi suatu transaksi, sementara GAAP menekankan kepatuhan terhadap aturan tertulis yang ketat. Dalam konteks Indonesia, pendekatan berbasis prinsip lebih relevan karena memberikan ruang bagi perusahaan untuk menyesuaikan pelaporan dengan karakteristik ekonomi yang beragam dan masih berkembang. Selain itu, adopsi IFRS oleh Indonesia melalui PSAK konvergensi IFRS juga memperkuat upaya integrasi dengan pasar global serta meningkatkan transparansi dan daya banding laporan keuangan antarnegara.