Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C
1. Analisis Kritis
a. Tantangan penerapan teori akuntansi tradisional
Teori akuntansi tradisional dibangun atas asumsi pencatatan manual, kontrol internal berbasis manusia, serta proses judgement yang jelas sumbernya. Ketika PT Delta Finansial menggunakan AI dan blockchain, muncul tantangan dalam penentuan akuntabilitas dan verifiabilitas. Sistem otomatis sulit dijelaskan secara sederhana, terutama ketika algoritma bersifat black box. Prinsip pengakuan, pengukuran, dan matching biaya juga menjadi lebih kompleks karena transaksi diproses real time lintas negara dan mata uang. Akibatnya, konsep tradisional seperti kehati-hatian dan bukti audit konvensional perlu ditafsirkan ulang agar tetap relevan.
b. Peluang dan risiko manipulasi akibat digitalisasi
Digitalisasi membuka peluang besar berupa efisiensi, akurasi, dan ketertelusuran data, khususnya melalui blockchain yang bersifat immutable (tidak bisa diubah). Namun, risiko manipulasi justru bergeser ke tahap desain sistem dan pemrograman algoritma. Estimasi akuntansi berbasis AI dapat disesuaikan melalui asumsi input, parameter model, atau waktu eksekusi, sehingga laba tetap terlihat stabil. Risiko ini sering kali sulit dideteksi karena tidak muncul sebagai kesalahan pencatatan, melainkan sebagai bias sistemik yang terprogram.
2. Etika dan Transparasi
a. Risiko etika dalam penggunaan AI
Ketika judgement akuntansi digantikan oleh algoritma, risiko etika utama adalah hilangnya tanggung jawab profesional. Akuntan dapat terdorong berlindung di balik keputusan sistem tanpa memahami atau mempertanyakan logika perhitungannya. Selain itu, jika algoritma dirancang untuk memenuhi target tertentu, maka integritas laporan keuangan dapat terkompromi. Akuntan tetap memiliki kewajiban etis untuk memastikan bahwa hasil yang dihasilkan AI mencerminkan substansi ekonomi, bukan sekadar output teknis.
b. Sikap profesional terhadap tekanan investor
Akuntan profesional harus menjaga independensi dan integritas dengan menolak praktik penyesuaian laporan yang tidak berlandaskan realitas ekonomi. Tekanan investor seharusnya dijawab melalui pengungkapan yang lebih transparan, bukan dengan manipulasi estimasi. Peran akuntan bukan mempercantik laporan, melainkan menjaga kredibilitas informasi agar kepercayaan pasar tetap berkelanjutan.
3. Respon Strategis
a. Rekomendasi strategis bagi audit dan pengawasan
Perusahaan dan auditor perlu mengembangkan pendekatan audit berbasis teknologi, termasuk audit algoritma, pengujian data secara berkelanjutan, dan pemahaman lintas disiplin antara akuntansi dan teknologi informasi. Pengawasan tidak cukup hanya pada output laporan, tetapi juga pada desain sistem, tata kelola data, dan pengendalian algoritma.
b. Adaptivitas standar pelaporan keuangan
Standar pelaporan keuangan saat ini relatif adaptif secara prinsip, tetapi belum sepenuhnya siap menghadapi kompleksitas keuangan digital dan global. Kerangka berbasis prinsip memberi ruang interpretasi, namun dibutuhkan panduan teknis tambahan terkait AI, blockchain, dan transaksi lintas batas. Tanpa penguatan ini, risiko kesenjangan antara inovasi teknologi dan akuntabilitas pelaporan akan semakin besar.
NPM: 2413031080
Kelas: 24C
1. Analisis Kritis
a. Tantangan penerapan teori akuntansi tradisional
Teori akuntansi tradisional dibangun atas asumsi pencatatan manual, kontrol internal berbasis manusia, serta proses judgement yang jelas sumbernya. Ketika PT Delta Finansial menggunakan AI dan blockchain, muncul tantangan dalam penentuan akuntabilitas dan verifiabilitas. Sistem otomatis sulit dijelaskan secara sederhana, terutama ketika algoritma bersifat black box. Prinsip pengakuan, pengukuran, dan matching biaya juga menjadi lebih kompleks karena transaksi diproses real time lintas negara dan mata uang. Akibatnya, konsep tradisional seperti kehati-hatian dan bukti audit konvensional perlu ditafsirkan ulang agar tetap relevan.
b. Peluang dan risiko manipulasi akibat digitalisasi
Digitalisasi membuka peluang besar berupa efisiensi, akurasi, dan ketertelusuran data, khususnya melalui blockchain yang bersifat immutable (tidak bisa diubah). Namun, risiko manipulasi justru bergeser ke tahap desain sistem dan pemrograman algoritma. Estimasi akuntansi berbasis AI dapat disesuaikan melalui asumsi input, parameter model, atau waktu eksekusi, sehingga laba tetap terlihat stabil. Risiko ini sering kali sulit dideteksi karena tidak muncul sebagai kesalahan pencatatan, melainkan sebagai bias sistemik yang terprogram.
2. Etika dan Transparasi
a. Risiko etika dalam penggunaan AI
Ketika judgement akuntansi digantikan oleh algoritma, risiko etika utama adalah hilangnya tanggung jawab profesional. Akuntan dapat terdorong berlindung di balik keputusan sistem tanpa memahami atau mempertanyakan logika perhitungannya. Selain itu, jika algoritma dirancang untuk memenuhi target tertentu, maka integritas laporan keuangan dapat terkompromi. Akuntan tetap memiliki kewajiban etis untuk memastikan bahwa hasil yang dihasilkan AI mencerminkan substansi ekonomi, bukan sekadar output teknis.
b. Sikap profesional terhadap tekanan investor
Akuntan profesional harus menjaga independensi dan integritas dengan menolak praktik penyesuaian laporan yang tidak berlandaskan realitas ekonomi. Tekanan investor seharusnya dijawab melalui pengungkapan yang lebih transparan, bukan dengan manipulasi estimasi. Peran akuntan bukan mempercantik laporan, melainkan menjaga kredibilitas informasi agar kepercayaan pasar tetap berkelanjutan.
3. Respon Strategis
a. Rekomendasi strategis bagi audit dan pengawasan
Perusahaan dan auditor perlu mengembangkan pendekatan audit berbasis teknologi, termasuk audit algoritma, pengujian data secara berkelanjutan, dan pemahaman lintas disiplin antara akuntansi dan teknologi informasi. Pengawasan tidak cukup hanya pada output laporan, tetapi juga pada desain sistem, tata kelola data, dan pengendalian algoritma.
b. Adaptivitas standar pelaporan keuangan
Standar pelaporan keuangan saat ini relatif adaptif secara prinsip, tetapi belum sepenuhnya siap menghadapi kompleksitas keuangan digital dan global. Kerangka berbasis prinsip memberi ruang interpretasi, namun dibutuhkan panduan teknis tambahan terkait AI, blockchain, dan transaksi lintas batas. Tanpa penguatan ini, risiko kesenjangan antara inovasi teknologi dan akuntabilitas pelaporan akan semakin besar.