Kiriman dibuat oleh Shafa Djiana Wardani

TA C2025 -> CASE STUDY

oleh Shafa Djiana Wardani -
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

1. Analisis Kritis
a. Tantangan penerapan teori akuntansi tradisional
Teori akuntansi tradisional dibangun atas asumsi pencatatan manual, kontrol internal berbasis manusia, serta proses judgement yang jelas sumbernya. Ketika PT Delta Finansial menggunakan AI dan blockchain, muncul tantangan dalam penentuan akuntabilitas dan verifiabilitas. Sistem otomatis sulit dijelaskan secara sederhana, terutama ketika algoritma bersifat black box. Prinsip pengakuan, pengukuran, dan matching biaya juga menjadi lebih kompleks karena transaksi diproses real time lintas negara dan mata uang. Akibatnya, konsep tradisional seperti kehati-hatian dan bukti audit konvensional perlu ditafsirkan ulang agar tetap relevan.

b. Peluang dan risiko manipulasi akibat digitalisasi
Digitalisasi membuka peluang besar berupa efisiensi, akurasi, dan ketertelusuran data, khususnya melalui blockchain yang bersifat immutable (tidak bisa diubah). Namun, risiko manipulasi justru bergeser ke tahap desain sistem dan pemrograman algoritma. Estimasi akuntansi berbasis AI dapat disesuaikan melalui asumsi input, parameter model, atau waktu eksekusi, sehingga laba tetap terlihat stabil. Risiko ini sering kali sulit dideteksi karena tidak muncul sebagai kesalahan pencatatan, melainkan sebagai bias sistemik yang terprogram.

2. Etika dan Transparasi
a. Risiko etika dalam penggunaan AI
Ketika judgement akuntansi digantikan oleh algoritma, risiko etika utama adalah hilangnya tanggung jawab profesional. Akuntan dapat terdorong berlindung di balik keputusan sistem tanpa memahami atau mempertanyakan logika perhitungannya. Selain itu, jika algoritma dirancang untuk memenuhi target tertentu, maka integritas laporan keuangan dapat terkompromi. Akuntan tetap memiliki kewajiban etis untuk memastikan bahwa hasil yang dihasilkan AI mencerminkan substansi ekonomi, bukan sekadar output teknis.

b. Sikap profesional terhadap tekanan investor
Akuntan profesional harus menjaga independensi dan integritas dengan menolak praktik penyesuaian laporan yang tidak berlandaskan realitas ekonomi. Tekanan investor seharusnya dijawab melalui pengungkapan yang lebih transparan, bukan dengan manipulasi estimasi. Peran akuntan bukan mempercantik laporan, melainkan menjaga kredibilitas informasi agar kepercayaan pasar tetap berkelanjutan.

3. Respon Strategis
a. Rekomendasi strategis bagi audit dan pengawasan
Perusahaan dan auditor perlu mengembangkan pendekatan audit berbasis teknologi, termasuk audit algoritma, pengujian data secara berkelanjutan, dan pemahaman lintas disiplin antara akuntansi dan teknologi informasi. Pengawasan tidak cukup hanya pada output laporan, tetapi juga pada desain sistem, tata kelola data, dan pengendalian algoritma.

b. Adaptivitas standar pelaporan keuangan
Standar pelaporan keuangan saat ini relatif adaptif secara prinsip, tetapi belum sepenuhnya siap menghadapi kompleksitas keuangan digital dan global. Kerangka berbasis prinsip memberi ruang interpretasi, namun dibutuhkan panduan teknis tambahan terkait AI, blockchain, dan transaksi lintas batas. Tanpa penguatan ini, risiko kesenjangan antara inovasi teknologi dan akuntabilitas pelaporan akan semakin besar.

TA C2025 -> CASE STUDY

oleh Shafa Djiana Wardani -
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

1. Analisis praktik manajemen laba pada PT Karya Sentosa
Dalam kasus PT Karya Sentosa, terdapat indikasi kuat terjadinya earnings management berbasis akrual. Kenaikan signifikan pada piutang usaha mengindikasikan adanya percepatan pengakuan pendapatan, khususnya melalui penjualan kredit yang agresif. Penurunan cadangan kerugian piutang menunjukkan penggunaan estimasi yang terlalu optimistis untuk menekan beban dan meningkatkan laba. Selain itu, pertumbuhan pendapatan yang tidak sejalan dengan arus kas operasi memperkuat dugaan bahwa laba bersih lebih banyak didorong oleh kebijakan akrual daripada kinerja kas riil (operasional). Pola ini merupakan karakteristik umum accrual based earnings management, di mana laba meningkat secara akuntansi tetapi tidak didukung oleh likuiditas yang memadai.

2. Perbandingan dua jurnal ilmiah terkini (5 tahun terakhir) tentang earnings management
Jurnal pertama berjudul "Earnings Management, Board of Directors, and Earnings Persistence: Indonesian Evidence" yang diterbitkan dalam Jurnal Akuntansi dan Auditing Indonesia meneliti praktik earnings management di perusahaan manufaktur BEI dengan menggunakan model Modified Jones dan indikator real earnings management. Studi ini menemukan bahwa praktik manajemen laba, baik berbasis akrual maupun aktivitas riil, berpengaruh terhadap persistensi laba, serta dipengaruhi oleh karakteristik dewan direksi sebagai mekanisme tata kelola.
Sementara itu, jurnal kedua berjudul "Earnings Management Practices in Indonesia: Before and During COVID-19" yang diterbitkan dalam JASa (Jurnal Akuntansi, Audit, dan Sistem Informasi Akuntansi) berfokus pada perubahan perilaku earnings management sebelum dan selama pandemi. Penelitian ini menunjukkan peningkatan discretionary accruals pada masa krisis, yang menandakan bahwa tekanan ekonomi eksternal mendorong perusahaan melakukan manajemen laba untuk mempertahankan kinerja yang terlihat stabil.
Perbedaan utama kedua jurnal terletak pada fokus penelitian, di mana jurnal pertama menekankan aspek tata kelola dan kualitas laba jangka panjang, sedangkan jurnal kedua menyoroti peran kondisi krisis sebagai pemicu earnings management.

3. Evaluasi kritis terhadap earnings management
Earnings management tidak selalu bersifat negatif. Dari perspektif signaling theory, manajemen dapat menggunakan fleksibilitas akuntansi untuk menyampaikan informasi mengenai prospek perusahaan secara lebih stabil kepada investor. Namun, berdasarkan agency theory, praktik ini sering kali bersifat oportunistik dan dilakukan untuk kepentingan pribadi manajemen, sehingga menurunkan kualitas laba dan menyesatkan pengguna laporan keuangan. Bukti empiris di Indonesia menunjukkan bahwa earnings management yang rasional masih dapat bersifat informatif, tetapi praktik yang agresif cenderung berdampak negatif terhadap kepercayaan pasar dan keberlanjutan kinerja perusahaan.

4. Kesimpulan dan rekomendasi bagi stakeholder
Kesimpulannya, PT Karya Sentosa menunjukkan indikasi earnings management berbasis akrual yang perlu dicermati secara serius oleh stakeholder. Investor dan analis disarankan tidak hanya berfokus pada pertumbuhan laba, tetapi juga mengevaluasi kualitas laba melalui analisis arus kas, kebijakan estimasi akuntansi, dan konsistensi kinerja jangka panjang. Bagi manajemen, penguatan tata kelola perusahaan, transparansi kebijakan akuntansi, dan peran auditor independen menjadi langkah penting untuk menjaga kredibilitas laporan keuangan. Pendekatan ini akan membantu memastikan bahwa laba yang dilaporkan benar-benar mencerminkan kondisi ekonomi perusahaan yang berkelanjutan.

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Shafa Djiana Wardani -
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

Video dan artikel membahas earnings management sebagai praktik manajemen dalam memengaruhi laba melalui pilihan kebijakan akuntansi yang masih berada dalam standar. Dalam video dijelaskan bahwa earnings management sering dilakukan dengan memanfaatkan fleksibilitas akuntansi, misalnya mengatur waktu pengakuan pendapatan atau menjual aset untuk menjaga stabilitas laba. Praktik ini tidak selalu melanggar aturan, tetapi berpotensi memengaruhi persepsi pengguna laporan keuangan.

Artikel Earnings Management: A Literature Review menjelaskan dua sudut pandang utama. Perspektif oportunistik melihat earnings management sebagai tindakan manajemen yang didorong oleh kepentingan pribadi, seperti bonus, kontrak utang, dan tekanan politik, sehingga berpotensi menyesatkan investor. Sementara itu, perspektif signaling memandang earnings management sebagai alat komunikasi manajemen untuk menyampaikan informasi tentang prospek perusahaan di tengah ketidakjelasan informasi. Artikel ini juga menyoroti bahwa manipulasi tidak hanya terjadi melalui pengakuan pendapatan, tetapi juga melalui aktivitas operasional yang lebih sulit dideteksi dan berdampak langsung pada kinerja ekonomi perusahaan.

Opini saya, earnings management tidak selalu identik dengan kecurangan, tetapi praktik ini tetap perlu dibatasi secara etis. Jika dilakukan secara wajar dan transparan, earnings management dapat membantu menyampaikan kondisi perusahaan yang lebih stabil. Namun, jika dilakukan secara agresif, praktik ini justru merusak keandalan laporan keuangan dan kepercayaan publik. Oleh karena itu, peran tata kelola perusahaan, auditor, dan pengawasan regulasi menjadi sangat penting untuk menjaga keseimbangan antara fleksibilitas akuntansi dan kualitas informasi keuangan.

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Shafa Djiana Wardani -
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

Artikel 1
Judul: Does XBRL Adoption Increase Financial Information Transparency in Digital Disclosure Environment? Insights from Emerging Markets
Artikel ini membahas peran adopsi XBRL dalam meningkatkan transparansi informasi keuangan, khususnya di negara berkembang seperti Yordania. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan XBRL mampu membuat laporan keuangan lebih relevan, andal, dan mudah dibandingkan. XBRL membantu mengurangi ketidakjelasan informasi antara manajemen dan pengguna laporan keuangan karena data disajikan secara terstandar dan dapat diproses secara digital. Selain itu, XBRL juga mendukung efisiensi pelaporan serta pengambilan keputusan oleh investor dan regulator. Penelitian ini menegaskan bahwa XBRL bukan hanya alat teknis, tetapi juga sarana untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas pelaporan keuangan di era digital.

Artikel 2
Judul: Digitalization of Financial Reporting Through XBRL and the Cost of Equity
Jurnal ini mengkaji dampak adopsi XBRL terhadap biaya ekuitas perusahaan di Indonesia. Dengan membandingkan periode sebelum dan sesudah penerapan XBRL, hasil penelitian menunjukkan bahwa XBRL secara signifikan dapat menurunkan cost of equity (biaya ekuitas), terutama pada perusahaan berukuran besar. Hal ini terjadi karena transparansi dan kualitas informasi meningkat, sehingga risiko informasi bagi investor menjadi lebih rendah. Namun, penelitian juga menyoroti bahwa pada tahap awal adopsi, XBRL dapat menimbulkan tantangan seperti kesalahan teknis dan kebutuhan adaptasi.

Opini
Menurut saya, kedua jurnal ini saling melengkapi dan menegaskan bahwa XBRL memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas pelaporan keuangan. Meski pada awal penerapan masih menghadapi kendala teknis, manfaat jangka panjangnya jelas, terutama dalam meningkatkan transparansi dan menurunkan risiko bagi investor. Dalam konteks Indonesia, penguatan regulasi dan peningkatan kesiapan SDM menjadi kunci agar manfaat XBRL dapat dirasakan secara optimal.

TA C2025 -> CASE STUDY

oleh Shafa Djiana Wardani -
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

1. Tantangan terbesar PT Sumber Hijau terletak pada konflik antara tujuan ekonomi jangka pendek dan dampak lingkungan serta sosial jangka panjang. Ekspansi ke Kalimantan Timur berisiko menimbulkan penebangan hutan, kerusakan keanekaragaman hayati, dan konflik dengan masyarakat adat, yang berkaitan langsung dengan SDG 13 dan SDG 15. Di sisi lain, perusahaan juga dituntut untuk menunjukkan kontribusi terhadap SDG 8 melalui penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi. Tantangan lainnya adalah tekanan dari investor global yang menuntut transparansi ESG, sementara kerangka akuntansi keuangan nasional belum sepenuhnya mengatur pelaporan keberlanjutan. Kondisi ini menempatkan perusahaan pada posisi dilematis antara kepatuhan regulasi, legitimasi sosial, dan ekspektasi pasar internasional.

2. Teori akuntansi positif membantu menjelaskan perilaku perusahaan dalam pelaporan keberlanjutan sebagai respons terhadap tekanan eksternal, seperti tuntutan investor ESG dan risiko reputasi. Dari sudut pandang ini, pelaporan keberlanjutan dipandang sebagai alat untuk mengelola persepsi dan meminimalkan biaya politik. Sementara itu, teori akuntansi normatif melihat pelaporan keberlanjutan sebagai sesuatu yang seharusnya dilakukan berdasarkan nilai etika, tanggung jawab sosial, dan prinsip keberlanjutan. Dalam kasus PT Sumber Hijau, pendekatan normatif menekankan kewajiban moral perusahaan untuk melindungi lingkungan dan menghormati hak masyarakat adat, terlepas dari tekanan ekonomi.

3. Meskipun PSAK belum mengatur ESG secara komprehensif, PT Sumber Hijau tetap dapat mengintegrasikan pelaporan SDGs melalui pendekatan pelaporan terpisah namun saling terhubung. Perusahaan dapat menggunakan standar GRI untuk menyusun laporan keberlanjutan yang selaras dengan SDGs, serta mengadopsi kerangka Integrated Reporting untuk menghubungkan informasi keuangan dan nonkeuangan. Selain itu, pengungkapan dalam Catatan atas Laporan Keuangan dapat diperluas untuk menjelaskan provisi lingkungan, risiko keberlanjutan, dan komitmen jangka panjang perusahaan. Dengan pendekatan ini, informasi keberlanjutan tetap relevan tanpa melanggar ketentuan PSAK.

4. Sebagai akuntan, saya akan menyarankan perusahaan menyusun narasi laporan yang jujur, seimbang, dan berbasis bukti. Narasi tidak hanya menonjolkan dampak positif seperti penciptaan lapangan kerja, tetapi juga secara terbuka mengakui risiko lingkungan dan sosial serta strategi mitigasinya. Untuk stakeholder lokal, laporan perlu menekankan dialog dengan masyarakat adat, perlindungan lingkungan, dan manfaat langsung bagi komunitas. Sementara bagi investor global, narasi harus menunjukkan keselarasan dengan prinsip ESG, SDGs, dan praktik internasional. Pendekatan transparan ini penting untuk membangun kepercayaan dan legitimasi jangka panjang.