Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C
1. Analisis Instrumen Investasi
Menurut saya, ketiga instrumen tersebut memiliki karakter yang saling melengkapi.
- Saham dividen menawarkan return paling tinggi, rata rata 11% per tahun, sehingga cocok untuk mengejar pertumbuhan nilai dana dalam jangka panjang. Namun risikonya juga paling besar karena nilainya sangat dipengaruhi kondisi pasar dan ekonomi makro, sehingga fluktuasinya cukup tinggi. Likuiditas saham relatif tinggi karena mudah diperjualbelikan, tetapi volatilitas ini membuat saham kurang cocok jika digunakan sebagai satu satunya instrumen dana pensiun.
- Obligasi pemerintah berada di posisi tengah, dengan kupon tetap 6,5% dan risiko sangat rendah karena dijamin pemerintah. Instrumen ini memberikan pendapatan yang stabil dan lebih dapat diprediksi, sehingga sangat sesuai dengan tujuan dana pensiun yang membutuhkan kepastian arus kas. Likuiditasnya sedang, karena meskipun dapat diperdagangkan, harga pasar bisa berubah.
- Deposito berjangka memiliki risiko paling rendah dan return paling kecil, yaitu 4,25% net pajak. Instrumen ini sangat aman, tetapi kurang optimal untuk pertumbuhan dana karena tingkat bunganya relatif rendah dan likuiditasnya terbatas akibat penalti pencairan sebelum jatuh tempo. Dari sisi tujuan dana pensiun, deposito cocok sebagai penyangga likuiditas dan stabilitas.
2. Penentuan Alokasi Portofolio
Dengan mempertimbangkan profil risiko dana pensiun yang bersifat konservatif menuju moderat, menurut saya alokasi yang seimbang antara keamanan dan pertumbuhan adalah pilihan terbaik.
- Dari total Rp10 miliar, alokasi yang wajar adalah sekitar 50% atau Rp5 miliar ditempatkan pada obligasi pemerintah, karena instrumen ini memberikan pendapatan stabil dan risiko rendah.
- Kemudian sekitar 30% atau Rp3 miliar dialokasikan ke saham dividen untuk menjaga pertumbuhan nilai dana dalam jangka panjang dan mengimbangi risiko inflasi.
- Sisanya, sekitar 20% atau Rp2 miliar, ditempatkan pada deposito berjangka sebagai cadangan likuiditas dan penopang stabilitas portofolio.
Alokasi ini menurut saya mencerminkan prinsip kehati-hatian, namun tetap memberikan ruang bagi peningkatan nilai dana pensiun.
3. Simulasi Dampak Ekonomi
A. Dalam kondisi krisis ekonomi, seperti inflasi tinggi dan IHSG turun 20% :
- Dampak terbesar tentu akan dirasakan pada porsi saham dividen, di mana nilai pasar saham berpotensi turun signifikan sehingga menurunkan nilai wajar portofolio.
- Namun, obligasi pemerintah relatif lebih stabil karena kupon tetap dapat diterima, meskipun harga pasar bisa sedikit tertekan.
- Deposito hampir tidak terdampak secara langsung, sehingga berfungsi sebagai penahan gejolak portofolio.
B. Untuk mitigasi risiko, manajer investasi dapat melakukan rebalancing portofolio, meningkatkan porsi instrumen berisiko rendah, serta menahan saham yang masih memiliki fundamental kuat agar tidak direalisasi saat harga turun. Selain itu, diversifikasi sektor saham dan pengelolaan jatuh tempo obligasi juga penting untuk menjaga kestabilan arus kas.
4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan
Dari sisi akuntansi, saham dividen dan obligasi pemerintah dicatat sebagai aset keuangan sesuai PSAK 71. Jika instrumen tersebut diklasifikasikan pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain, maka perubahan nilai wajarnya diakui pada penghasilan komprehensif lain, sedangkan dividen saham dan pendapatan bunga obligasi diakui dalam laba rugi. Obligasi juga dicatat menggunakan metode suku bunga efektif untuk pengakuan pendapatan bunganya.
Sementara itu, deposito berjangka dicatat sebagai kas dan setara kas atau investasi jangka pendek sebesar nilai nominalnya, dan pendapatan bunga diakui secara akrual. Dalam laporan keuangan Dana Pensiun, seluruh instrumen ini disajikan secara transparan agar mencerminkan kondisi keuangan dan kemampuan dana dalam memenuhi kewajiban pembayaran manfaat pensiun di masa depan.