Nama: Niabi Rahma Wati
NPM: 2413031078
1.
Analisis instrument investasi
Dari ketiga pilihan, saham dividen
menawarkan keuntungan potensial tertinggi yaitu rata-rata sebesar 11% per tahun
dan mudah dijual kapan saja. Namun, harganya naik-turun sangat fluktuatif,
sehingga memiliki risiko yang tinggi jika pasar sedang dalam kondisi yang
tidak baik-baik saja. Saham dividen cocok untuk mengejar pertumbuhan dana dalam
jangka Panjang, tetapi kurang stabil untuk kebutuhan pensiun yang pasti.
Sementara itu, obligasi pemerintah memberikan
keuntungan yang stabil dan hampir pasti sebesar 6,5% per tahun, dengan risiko sangat
rendah karena dijamin negara. Kelemahan obligasi pemerintah terletak pada,
ketika dijual sebelum jatuh tempo harganya bisa saja berubah, dan keuntungannya
mungkin tidak sepenuhnya mengimbangi kenaikan harga (inflasi). Instrument investasi
ini cocok sebagai sadar portofolio dana pensiun yang mengutamakan keamanan.
Deposito berjangka dianggap paling aman
dengan keuntungan tetap yaitu sebesar 4,25% per tahun. Namun, keuntungannya
yang relative rendah dan dananya tidak bisa ditarik sebelum jatuh tempo tanpa
dikenai denda. Instrument ini cocok untuk menyimpan dana yang akan dipakai dalam
waktu dekat untuk membayar manfaat pensiun, tetapi kurang baik untuk
pertumbuhan jangka Panjang.
2.
Penentuan alokasi portofolio
Dengan dana Rp. 10 miliar dan profil risiko
konservatif-moderat, alokasi yang seimbang adalah:
a.
60% (Rp. 6 miliar) dari dana tersebut di
alokasikah ke Obligasi Pemerintah. Ini merupakan porsi terbesar karena
memberikan pendapatan tetap dan stabil yang dapat di andalkan untuk membayar
manfaat pensiun setiap tahun dengan risiko yang minim.
b.
30% (Rp. 3 miliar) di alokasikan ke Saham
Dividen, dengan porsi ini dapat memberikan peluang pertumbuhan yang tinggi
untuk melawan inflasi dalam 20 tahun ke depan. Saham perusahaan besar yang rutin
bagi dividen dipilih untuk menambah arus kas dan relative lebih tahan banting.
c.
10% (Rp. 1 miliar) di alokasikan ke deposito
berjangka, ini berfungsi sebagai dana cadangan likuid untuk memenuhi pembayaran
manfaat tahun-tahun awal tanpa harus mengganggu investasi lain dengan
keamanannya yang sangat terjamin.
Dengan alokasi ini menyeimbangkan antara keamanan melalui obligasi
dan deposito dan potensi pertumbuhan melalui saham.
3.
Simulasi dampak krisis ekonomi (inflasi tinggi
dan IHSG turun 20%)
a.
Dampak: dalam krisis tingginya inflasi dan pasar
saham turun 20%, portfolio akan berdampak: nilai saham akan turun secara signifikan.
nilai obligasi di pasar juga bisa turun sementara jika suku bunga naik, tetapi
jika ditahan hingga jatuh tempo akan kembali pulih. Deposito nilainya aman,
namun daya belinya tergerus oleh inflasi. Intinya, portofolio akan mengalami
penurunan nilai sementara, terutama dari sisi saham.
b.
Langkah mitigasi, dalam menghadapi masalah
krisis ekonomi ini manajer investasi dapat melakukan beberapa hal, yaitu:
1)
Tetap tenang dan tidak panik menjual aset ketika
harganya jatuh.
2)
Melakukan rebalancing, yaitu membeli banyak
saham berkualitas saat harganya mudah dengan dana dari obligasi atau deposito,
untuk menjaga proporsi alokasi awal.
3)
Memastikan arus kas dari dividen dan kupon
obligasi tetap terkumpul untuk pembayaran manfaat.
4)
Mengalihkan sebagian obligasi ke tenor yang
lebih pendek agar kurang terpengaruh gejolak suku bunga.
5)
Berkomunikasi jujur kepada anggota dana pensiun
bahwa strategi ini berjangka panjang dan fluktuasi jangka pendek adalah hal
yang wajar.
4.
Aspek akuntansi dan pelaporan
Dalam laporan keuangan dana pensiun, saham
akan dicatat sebesar harga pasarnya (nilai wajar) setiap akhir periode. Kenaikan
atau penurunan harganya dilaporkan dalam laporan ekuitas bukan laporan laba
rugi, sedangkan dividen yang diterima akan dicatat sebagai pendapatan.
Obligasi pemerintah umumnya dicatat sebesar
harga beli yang disesuaikan dengan biaya amortisasi atau penyusutan. Cara ini
membuat nilainya di laporan keuangan stabil dan tidak terpengaruh fluktuasi
harian pasar. Bunga yang diterima dicatat sebagai pendapatan rutin. Sementara itu,
deposito dicatat sebesar jumlah uang yang didepositokan. Bunganya diakui sebagai
pendapatan secara bertahap hingga jatuh tempo.
Prinsip akuntansi ini mengacu pada PSAK 71,
yang membantu menyajikan kondisi portofolio dengan nilai wajar. Saham ditunjukkan
nilainya yang aktual di pasar, sementara obligasi dan deposito dicatat dengan
cara yang lebih stabil.