CASE STUDY

CASE STUDY

CASE STUDY

Number of replies: 30

Dana Pensiun Dosen Nusantara (DPDN) mengelola dana pensiun sebesar Rp10 miliar yang dikumpulkan dari para dosen tetap Universitas selama lebih dari 15 tahun. Dana ini akan digunakan untuk membayar manfaat pensiun selama 20 tahun ke depan.

Manajer investasi internal DPDN ingin menyusun portofolio investasi baru untuk mengoptimalkan keuntungan investasi jangka panjang tanpa mengorbankan stabilitas dan keamanan dana, karena menyangkut masa depan para pensiunan.

Terdapat tiga pilihan instrumen investasi utama:

  1. Saham Dividen (perusahaan sektor konsumer dan perbankan):
  • Rata-rata return: 11% per tahun
  • Risiko: fluktuatif, tergantung kondisi pasar dan ekonomi makro
  • Dividen dibagikan 1–2 kali setahun
  • Likuiditas: tinggi
Obligasi Pemerintah (ORI dan SBN):
  • Kupon tetap: 6.5% per tahun
  • Risiko: sangat rendah (jaminan pemerintah)
  • Jangka waktu: 3–10 tahun
  • Likuiditas: sedang (bisa diperdagangkan, tapi harga pasar bisa naik/turun)
Deposito Berjangka:
  • Bunga: 4.25% per tahun (net pajak)
  • Risiko: sangat rendah
  • Tenor: 1 tahun, bisa diperpanjang otomatis
  • Likuiditas: rendah (penalti jika dicairkan sebelum jatuh tempo)

 

Pertanyaan:

1. Analisis Instrumen Investasi

Bandingkan ketiga instrumen dari sisi return, risiko, likuiditas, dan kesesuaian dengan tujuan dana pensiun. Apa kelebihan dan kelemahan masing-masing?

 

2. Penentuan Alokasi Portofolio

Berdasarkan profil risiko dana pensiun (konservatif-moderat), susunlah alokasi investasi dari Rp10 miliar ke dalam ketiga instrumen tersebut. Jelaskan alasan alokasinya!

 

3. Simulasi Dampak Ekonomi

Dalam skenario krisis ekonomi (misalnya inflasi tinggi dan IHSG turun 20%):

a. Bagaimana dampaknya terhadap portofolio Anda?

b. Apa langkah mitigasi risiko yang bisa dilakukan oleh manajer investasi?

 

4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan

Jelaskan bagaimana ketiga instrumen investasi tersebut dicatat dan dilaporkan dalam laporan keuangan Dana Pensiun berdasarkan prinsip akuntansi keuangan. (Gunakan pendekatan PSAK yang relevan.)


In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Natasya Natasya -
Nama: Natasya
NPM: 2413031081
Kelas: 2024 C

1. Analisis Instrumen Investasi
Terdapat tiga poin penting yaitu dari sisi return, risiko, dan likuiditas serta keseuaian denga tujuan dana pensiun serta kelebihan dan kellemahannya.
- Saham Dividen, memiliki rata ratta return 11%, dan itu termasuk rata rata return paling tinggi, kemudian risikonya fluktuatif bisa jadi rendah bisa jadi tinggi tergantung risiko pasar, likuiditasnya mudah atau lebih tepatnya akan mudah diual di bursa, sedanngkan tujuan pennsiunnya adalah potensi pertumbuhan modal dalam jangka panang. Kelebihan sahan dividen adalah return potensial tertinggi kemudian pertumbuhan modal dan pendapatan dividen regular. Kelemahannya adalah rissiko volatilitas pasar tinggi dan harga bisa turun signifikan serta membutuhkan analisis mendalam.
- Obligasi pemerintah, memiliki rata rata return sekitar 6,5% disebut kupon tetap, risikonya sangat rendah karna mendapat jaminan dari pemerintah, likuiditasnya sedang, Karenna bisa diperdagangkan tetapi ada resiko pada harga, tujuan pensiun yaitu stabilitas pendapatan rutin dan keamanan modal. Kelebihannya adalah keamanan modal tinggi sehinngga risiko rendah, pendapatan kupon tetap stabil serta cocok untuk menjamin pembayaran manfaat.
- Deposito berjangka, return rata rata paling rendah adalah 4,25%, resikonya sangat rendah, karna hampir tidak ada resiko gagal bayar.likuiditas rendah, tujuan pensiun adalah cadangan kas dan keamanan modal jangka pendek. Kelebihan dari deposito adalah sangat aman dan dapat diprediksi serta berfungsi sebagai cash management atau dana darurat. Kelemahanny adalah return paling rendah, rentan tergerus inflasi, likuiditas rendah karena terikat tenor.

2. Penentuan Alokasi portofolio
Dengan dana pensiun konservatif moderat yaitu fokusnya pada stabilitas dan keamanan, disini alokasi harus di dominasi oleh instrument berisiko rendah dan menghasilkan pendapatan rutin, alokasi dana Rp 10 Miliar untuk 3 instrumen yaitu obligasi pemerintah, saham dividen, deposito berjangka. Menurut saya obligasi pemerintah memiliki presentase yang paling tinggi sekitar 50% jadi dengan nilai Rp 5.000.000.000, alasannya adalah karena pondasi keamanan, obligasi pemerintah menyediakan pendapatan kupon yang stabil dan terjamin 6,5%, ini fundamental untuk memenuhi kewajiban pensiun resiko rendah. Kemudian saham deviden sekitar 35% dengan nilai Rp 3,500.000.000, alasannya adalahh pertumbuhan jangka Panjang, dimana saham deviden ini menawarkan return tertinggi 11% untuk mengoptimalkan keuntungan dan melawan inflasi fokus pada saham, consumer atau perbankan yang relative lebih stabil dan menghasillkan deviden rutin. Deposito berjangka sekitar 15% dengan nilai 1.500.000.000, dengan alasan manajemen dan likuiditas dan cadangan dimana menjaga likuiditas untuk pembayaran manfaat jangka pendek dan sangat aman sebelum di investasikan ke instrument lain.


3. Simulasi dampak ekonomi
a. Bagaimana dampaknya terhadap portofolio jika inflasi tinggi dan IHSG turun 20%
- Pada saham dividen dengan alokasi 35%, harga akan terkena dampak langsung dan penurunan IHSG 20% akan mengurangi nilai saham secara signifikan sekitar Rp 700 juta, kemudian perusahhaan kemungkinan aan mengurangi atau bahkan menunda pembayaran dividen karena laba menurun, dan hal ini berdampak pada penurunan tterbesar pada total nilai portofolio.
- Obligasi Pemerintah dengan alokasi 50%, pembayaran kupon tetap aman 6,5% karena dijamin oleh pemerintah, dan ini merupakan jangkar kestabilan pendapatan, inflasi tinggi mennyebabkan kennaikan suku bunga bank senntral dan kenaikan suku bunga akan menekan harga pasar obligasi yang sudah ada. Tetapi nilai pasar obligasii kemungkinan akan turun tetapi pendapatan kupon tetap terjamin dan jika obligasi di pegang sampai atuh tempo modal pokok tetap aman.
- Deposito berjangka dengan alokasii 5%, bunga dan pokok disini tidak akan terpengaruh oleh pergerakan pasar atau IHSG pokok dan bunga tetap sesuai perjanian. menjaga nilai 15% dari portofolio tetap stabil.

b. Langkah Mitigasi Resiko, dengan melakukan rebalancing defensive yaitu dengan tidak menjual sahan saat harga anlok, yang bisa dilakukan adalah rebalancing dengan mengalihkan Sebagian cash untuk membeli saham berkualitas tinggi dengan harga diskon. Strategi hold to maturity untuk obligasi, dana pensiun memiliki nilai investasi angka Panjang dan obligasi sebaiknya di pegang hingga jatuh tempo untuk mengeliminasi risiko harga pasar dan menjamin penerimaan modal pokok. Dan yang terakhir addalah analisis kewaijiban dengan cara mencocokan jatuh tempo obligasi dengan jadwaal pembayaran manfaat pensiun dimana kewajiban jangka panang untuk memastikan ketersediaan dana saat dibutuhkan.

4. Aspek Akutansi dan Pelaporan

- Saham Deviden, Klasifikaasinya pada PSAK 71 dimana asset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui penghasilan komperhensif lain (FVOCI) atau nilai wajar melalui laba rugi (FVTPL), metode pengukurannya menggunakan nilai wajar atau fair value pada setiap tanggal pelaporan. Dividen di catat sebagai pendapatan investasi dan perubahan nilai wajar di catat di laba rugi atau penghasilan komperhensif lain.
- Obligasi Pemerintah, Klasifikasinya pada PSAK 71 menunjukan asset keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasii jika tujuannya maturity, metode pengukurannya adalah diukur padaa biaya perolehan diamortisasi menggunakan metode suku bunga efektif, perolehan keuangan dalam hal ini kupon di catat sebagai pendapatan investasi berdasarkan akrual dan premia tau diskon diamortisasi ke laba rugi selama umur obligasi.
- Deposito Berjangka, klasifikasinya pada PSAK 71 aset keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi sebagai investasi jangka pendek, metode pengukurannya di catat sebesar nilai pokok ditambah dengan bunga yang telah diakui, pelaporan keuangan diakui sebagai pendapatan bunga secara akrual.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Melinda Dwi Safitri -

Nama: Melinda Dwi Safitri

Npm: 2413031092

Kelas: 2024 C

1. Analisis Instrumen Investasi

Saham dividen menawarkan tingkat return tertinggi yaitu rata-rata 11% per tahun, namun memiliki risiko fluktuasi harga yang cukup tinggi karena dipengaruhi kondisi pasar dan ekonomi makro. Likuiditasnya tinggi sehingga mudah diperdagangkan. Kelebihannya adalah potensi pertumbuhan nilai dan dividen yang dapat menjadi sumber pendapatan tambahan. Kelemahannya adalah volatilitas yang dapat menurunkan nilai portofolio dalam jangka pendek.

Obligasi pemerintah memberikan kupon tetap 6,5% per tahun dengan risiko sangat rendah karena dijamin negara. Instrumen ini sesuai untuk tujuan stabilitas jangka panjang. Likuiditasnya sedang karena dapat diperdagangkan, tetapi harga dapat naik atau turun sebelum jatuh tempo. Kelebihannya adalah kestabilan pendapatan kupon dan risiko minimal. Kelemahannya adalah sensitivitas terhadap perubahan suku bunga.

Deposito berjangka menghasilkan bunga 4,25% per tahun (net pajak) dengan risiko sangat rendah dan tingkat kepastian yang tinggi. Namun likuiditasnya rendah karena ada penalti jika dicairkan sebelum jatuh tempo. Kelebihannya adalah keamanan nilai pokok. Kelemahannya adalah return rendah sehingga rentan kalah oleh inflasi jangka panjang.

2. Penentuan Alokasi Portofolio

Dengan mempertimbangkan profil risiko dana pensiun yang bersifat konservatif–moderat serta kebutuhan stabilitas arus kas jangka panjang, alokasi yang sesuai adalah:

Obligasi Pemerintah: 55% (Rp5,5 miliar)
Dipilih sebagai instrumen utama karena memberikan pendapatan kupon stabil, risiko rendah, dan sesuai untuk mendukung pembayaran manfaat pensiun secara berkelanjutan.

Saham Dividen: 30% (Rp3 miliar)
Dialokasikan untuk memberikan pertumbuhan nilai aset jangka panjang dan perlindungan terhadap inflasi. Persentasenya tidak terlalu tinggi agar volatilitas tidak mengganggu kewajiban pembayaran.

Deposito Berjangka: 15% (Rp1,5 miliar)
Berfungsi sebagai cadangan likuiditas dan dana penyangga untuk kebutuhan pembayaran jangka pendek.

3. Simulasi Dampak Ekonomi

a. Dampak Krisis Ekonomi
Penurunan IHSG sebesar 20% akan menurunkan nilai porsi saham dalam portofolio. Dengan porsi 30%, kerugian nilai sekitar 6% dari total aset. Obligasi pemerintah dapat mengalami penurunan nilai pasar jika suku bunga naik akibat inflasi, namun kupon tetap dibayarkan. Deposito tidak terdampak secara nominal, namun bunga riil menjadi lebih rendah karena inflasi tinggi. Secara keseluruhan, nilai portofolio menurun dan daya beli manfaat pensiun tertekan.

b. Mitigasi Risiko
Mitigasi yang dapat dilakukan antara lain menjaga likuiditas melalui deposito, melakukan rebalancing portofolio secara berkala, mengoptimalkan durasi obligasi agar tidak terlalu panjang ketika suku bunga naik, serta mempertahankan portofolio saham pada perusahaan defensif berdividen tinggi. Selain itu, manajer investasi dapat menunda penjualan aset saat pasar sedang turun untuk menghindari realisasi kerugian.

4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan

Saham dividen dicatat sebagai aset keuangan dan diukur menggunakan nilai wajar sesuai PSAK 71. Perubahan nilai wajar diakui pada laba rugi atau penghasilan komprehensif lain tergantung klasifikasi. Pendapatan dividen diakui ketika hak atas dividen tersebut telah diperoleh.

Obligasi pemerintah dapat diklasifikasikan sebagai aset keuangan biaya perolehan diamortisasi atau FVOCI. Pendapatan bunga diakui menggunakan metode suku bunga efektif. Jika diukur pada nilai wajar, selisih perubahan nilai dicatat sesuai kategori pengukuran.Deposito berjangka diakui pada biaya perolehan diamortisasi karena bersifat kontraktual dan tidak diperjualbelikan. Pendapatan bunga diakui secara akrual selama masa deposito.

Dalam laporan keuangan dana pensiun, ketiganya disajikan pada pos Aset Investasi beserta pengungkapannya sesuai PSAK 60 mengenai risiko kredit, risiko likuiditas, dan risiko pasar.


In reply to First post

Re: CASE STUDY

by IREN AGISTA PUTRI 2413031071 -
NAMA : IREN AGISTA PUTRI
NPM : 2413031071

1. Analisis Instrumen Investasi
- Saham Dividen menawarkan return tertinggi 11% per tahun dengan likuiditas tinggi, namun risikonya fluktuatif karena ketergantungan pada kondisi pasar dan ekonomi makro, sehingga kurang ideal sebagai porsi dominan dana pensiun yang prioritas stabilitas
- Obligasi pemerintah memberikan kupon tetap 6,5% dengan risiko sangat rendah dijamin negara dan likuiditas sedang, menjadikannya pilihan utama untuk pembayaran pensiun rutin 20 tahun ke depan meski returnnya lebih rendah dari inflasi potensial.
- Deposito berjangka yield 4,25% net pajak dengan risiko minimal, cocok untuk dana likuiditas darurat walau penalti pencairan dini dan erosi nilai oleh inflasi menjadi kelemahannya.

2. Penentuan Alokasi Portofolio
Karena profil risiko dana pensiun bersifat konservatif-moderat dan memiliki horizon waktu panjang 20 tahun, alokasi investasi yang seimbang diperlukan antara keamanan dan pertumbuhan. Proporsi yang direkomendasikan adalah:
- Obligasi pemerintah sebesar 60% atau Rp 6 miliar, sebagai sumber pendapatan stabil dan perlindungan modal.
- Saham dividen sebesar 25% atau Rp 2,5 miliar, untuk menjaga pertumbuhan nilai investasi dan melawan inflasi.
- Deposito berjangka sebesar 15% atau Rp 1,5 miliar, untuk menyediakan dana likuid yang siap digunakan untuk pembayaran pensiun periodik.
Alokasi tersebut memberikan keseimbangan antara keuntungan jangka panjang dan keamanan dana

3. Simulasi Dampak Ekonomi
a). Dalam krisis ekonomi dengan inflasi tinggi dan IHSG turun 20%, saham dividen rugi Rp500 juta (20% dari Rp2,5 miliar), obligasi stabil dengan fluktuasi harga maksimal 2%, dan deposito tak terpengaruh, sehingga total portofolio hanya turun sekitar 5% (Rp500 juta) berkat dominasi obligasi.
b). Mitigasi risiko meliputi rebalancing alokasi, diversifikasi sektor saham konsumer-perbankan, penerapan Value at Risk (VaR) untuk batasi kerugian maksimal, serta lindung nilai derivatif jika diizinkan regulasi.

4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan
Saham dividen dicatat pada biaya perolehan awal, dinilai ulang fair value akhir tahun dengan unrealized gain/loss ke Other Comprehensive Income (OCI) sesuai PSAK 55/IFRS 9, sementara dividen diterima diakui sebagai pendapatan di laba rugi. Obligasi pemerintah sebagai debt securities FVOCI menggunakan metode effective interest rate untuk amortisasi, dengan perubahan fair value ke OCI dan bunga ke laba rugi berdasarkan PSAK 71/IFRS 9. Deposito dicatat sebagai financial assets at amortised cost dengan bunga efektif ke laba rugi tanpa fair value adjustment per PSAK 50/IFRS 9, dilaporkan terpisah per kelas aset dalam laporan posisi keuangan dana pensiun
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Adinda Putri Zahra -
Nama : Adinda Putri Zahra
NPM: 2413031083

1. Analisis Instrumen Investasi
DPDN dihadapkan pada tiga instrumen utama yang memiliki karakteristik berbeda. Obligasi Pemerintah memberikan risiko yang sangat kecil dan imbal hasil tetap sebesar 6. 5%, sehingga sangat pas sebagai fondasi portofolio untuk memastikan stabilitas dan keamanan dana, meskipun likuiditasnya sedang. Di sisi lain, Saham Dividen menawarkan potensi imbal hasil tertinggi (11%) serta likuiditas yang tinggi, tetapi mempunyai risiko fluktuasi yang lebih besar, sehingga cocok untuk investasi yang lebih agresif dalam pertumbuhan modal jangka panjang. Terakhir, Deposito Berjangka memberikan tingkat keamanan yang paling tinggi dengan risiko yang sangat rendah dan imbal hasil terendah (4. 25%), meskipun likuiditasnya rendah (kena penalti), instrumen ini sangat ideal untuk menambah dana cadangan likuiditas yang dibutuhkan dalam jangka pendek.

2. Penentuan Alokasi Portofolio
Berdasarkan profil risiko yang konservatif hingga moderat dengan fokus pada keamanan dana pensiun, disarankan alokasi investasi sebesar Rp10 miliar dengan penekanan pada aset yang memiliki risiko rendah. Porsi terbesar dialokasikan untuk Obligasi Pemerintah sebesar 55% atau Rp5,5 miliar, untuk memastikan aliran pendapatan yang stabil dan menjaga keamanan modal. Untuk memaksimalkan keuntungan sekaligus melawan inflasi, 30% atau Rp3 miliar dialokasikan untuk Saham Dividen dari sektor defensif. Sisa anggaran sebesar 15% atau Rp1,5 miliar ditempatkan pada Deposito Berjangka agar ada dana cair yang tidak berisiko. Pembagian 70:30 ini memberikan keseimbangan antara kebutuhan akan keamanan total dengan peluang pertumbuhan yang lebih moderat.

3. Simulasi Dampak Ekonomi
a. Bagaimana dampaknya terhadap portofolio Anda?
Dalam situasi krisis ekonomi yang dicirikan oleh lonjakan inflasi dan penurunan IHSG mencapai 20%, portofolio DPDN diprediksi akan mengalami penurunan besar pada bagian saham (mencapai 6% dari keseluruhan aset). Meskipun Obligasi Pemerintah menawarkan kupon tetap yang lebih aman, kemungkinan besar nilai pasar mereka akan menurun karena peningkatan suku bunga yang diterapkan untuk mengendalikan inflasi.
b. Apa langkah mitigasi risiko yang bisa dilakukan oleh manajer investasi?
Untuk mengurangi risiko,manajer investasi perlu menerapkan pendekatan rebalancing, yaitu dengan menjual sebagian Obligasi atau Deposito untuk membeli saham yang harganya sedang rendah (strategi beli saat murah) guna memaksimalkan imbal hasil ketika pasar mulai pulih. Selain itu, pengelolaan durasi obligasi dan peningkatan diversifikasi sektor juga sangat penting.

4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan
Dalam laporan keuangan Dana Pensiun yang ditentukan oleh PSAK 18, ketiga instrumen tersebut dicatat sebagai Aset Program Pensiun. Saham yang memberikan dividen dicatat pada Harga Wajar, dengan keuntungan atau kerugian yang belum direalisasikan diakui dalam laporan surplus atau defisit investasi, dan dividen tersebut dicatat sebagai pendapatan. Obligasi Pemerintah dapat dinilai dengan Biaya Perolehan yang Diamortisasi atau Harga Wajar Melalui Pendapatan Komprehensif Lain (NVL), di mana bunga diakui secara akrual. Di sisi lain, Deposito Berjangka dinilai dengan Biaya Perolehan yang Diamortisasi dan dilaporkan sebagai Kas dan Setara Kas atau Investasi Jangka Pendek, dengan bunga diakui sebagai pendapatan akrual.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -

Nama : Grescie Odelia Situkkir

NPM : 2413031088

‎Kelas : 2024C

‎1. Analisis Instrumen Investasi

‎Bandingkan instrumen ketiga dari sisi return , risiko , likuiditas , dan kesesuaian dengan tujuan dana pensiun . Apa kelebihan dan kelemahan masing-masing?

Jawab :

‎Kalau kita membandingkan pilihan ketiga tersebut dari sisi imbal hasil, risiko, kemudahan yang dicairkan, dan cocok tidaknya untuk dana pensiun dosen, hasilnya kurang lebih seperti :Dividen saham (sektor konsumen + perbankan) memang paling menggiurkan karena rata-rata bisa kasih return 11% setahun, bahkan bisa lebih kalau ada capital gain. Tapi akan, naik-turunnya luar biasa. Kalau pasar lagi jelek atau ekonomi lagi lesu, menyebabkan nilai portofolio amblas dalam waktu singkat, apalagi dividennya juga bisa dipotong perusahaan kalau labanya lagi tipis. Namun likuiditasnya , dapat dijual kapan saja bisa langsung cair. Tapi buat dana pensiun yang butuh kepastian bayar tiap bulan, ini agak berisiko kalau porsinya terlalu besar. Kewajiban pemerintah (ORI/SBN) jauh lebih tenang. Kuponnya tetap 6,5% setahun, dijamin negara, hampir nol risiko gagal bayar. Cocok untuk membuat dana pensiun karena arus kasnya dapat diprediksi bertahun-tahun ke depan. Kekurangannya cuma dua: return-nya kalah jauh sama saham, dan kalau tiba-tiba suku bunga BI naik tinggi, harga obligasi di pasar bisa turun (tapi kalau kita tahan sampai jatuh tempo tidak akan rugi). Likuiditasnya sedang, bisa dijual kalau mendesak, tapi kadang harganya tidak berkurang. Deposito berjangka paling aman. Bunga bersih cuma 4,25% setahun, pasti dibayar, tapi kalau inflasi lagi tinggi, nilai riilnya bisa habis dimakan inflasi. Likuiditasnya paling jelek karena kalau dicairkan sebelum jatuh tempo kena penalti lumayan. Tapi kelebihannya, dana kita aman.

‎2.Penentuan Alokasi Portofolio

‎ Usulan Alokasi Portofolio Rp10 miliar .Berdasarkan profil risiko dana pensiun (konservatif-moderat), susunlah alokasi investasi dari Rp10 miliar ke dalam instrumen ketiga tersebut. jelaskan alasan alokasinya!

‎Jawab :

‎Menurut saya, dengan profil risiko yang konservatif-moderat (tidak mau rugi besar, tapi tetap ingin dana berkembang), alokasi yang paling masuk akal adalah:

‎- 30% ke saham dividen (Rp3 miliar)

‎- 50% ke ORI/SBN (Rp5 miliar)

‎- 20% ke deposito berjangka (Rp2 miliar)

‎Karena 70% dana kita taruh di instrumen yang hampir tidak mungkin rugi (kewajiban negara + deposito), jadi pembayaran pensiun 20 tahun ke depan tetap aman. Sisanya 30% kita masukkan ke saham biar dananya bisa tumbuh lebih kencang dan bisa mengimbangi inflasi jangka panjang. Kalau 100% aman semua, 10-15 tahun lagi nilai riil dananya bisa tergerus parah sama dengan inflasi. Return rata-rata portofolio ini kira-kira sekitar 7,8% – 8% per tahun (cukup untuk mengalakan inflasi rata-rata Indonesia yang sekitar 4-5%).

‎3.Simulasi Dampak Ekonomi

‎Dalam skenario krisis ekonomi (misalnya inflasi tinggi dan IHSG turun 20%):

A. Bagaimana dampak portofolionya terhadap Anda?

B. Apa langkah mitigasi risiko yang bisa dilakukan oleh manajer investasi?

Jawab:

‎A. Dampaknya:

‎- Saham langsung kena paling parah, Rp3 miliar bisa susut jadi Rp2,4 miliar dalam waktu singkat. Kewajiban negara kuponnya tetap dibayar, tapi kalau suku bunga naik tinggi buat menahan inflasi, harga pasarnya bisa turun (tapi kalau kita hold sampai jatuh tempo pasti balik lagi ke 100%). Deposito aman, cuma nilai riilnya makin kecil karena inflasi tinggi. Secara keseluruhan, nilai portofolio bisa turun sekitar 6-8% pada awal krisis, namun arus kas bulanan tetap jalan karena mayoritas dari obligasi dan bunga deposito.

B. Yang dapat dilakukan manajer investasi:

‎- Jangan panik jual saham di harga bawah, malah kalau ada dana idle bisa beli tambahan saham bagus yang lagi diskon.

‎- Pindahin sebagian deposito yang jatuh tempo ke obligasi negara yang baru terbit (biasanya kuponnya lebih tinggi saat inflasi naik).

‎- Rebalancing: kalau saham sudah turun jauh, dikurangi dulu jadi 20-25%, tambah ke obligasi.

‎- Pastikan selalu ada likuiditas 1-2 tahun ke depan di deposito/cash agar tidak terpaksa menjual saham atau obligasi di harga jelek.

‎ 4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan

‎Menjelaskan bagaimana ketiga instrumen investasi tersebut dicatat dan dilaporkan dalam laporan keuangan Dana Pensiun berdasarkan prinsip akuntansi keuangan. (Gunakan pendekatan PSAK yang relevan.)

Jawab :

‎Di Indonesia, dana pensiun wajib pakai PSAK (Standar Akuntansi Keuangan). Khusus dana pensiun diatur di PSAK 18, sedangkan instrumen investasinya pakai PSAK 71 (Instrumen Keuangan).

‎Praktiknya yaitu:

‎- Dividen saham: dicatat di nilai wajar (nilai wajar). Setiap akhir tahun diukur ulang pakai harga pasar BEI. Jika naik/turun, selisihnya masuk ke laba rugi periode berjalan atau ke pendapatan komprehensif lainnya (tergantung kebijakan dana pensiun). Dividen yang diterima dicatat sebagai pendapatan investasi.

‎- ORI/SBN: biasanya diklasifikasikan sebagai diukur pada biaya perolehan diamortisasi (biaya diamortisasi) karena tujuan dipegang sampai jatuh tempo untuk mengambil kupon. Jadi tidak perlu tiap tahun naik-turun ikut harga pasar (kecuali kalau memang dijual sebelum musim gugur). Kupon dicatat sebagai pendapatan bunga.

‎- Deposito: juga biaya perolehan diamortisasi. Pokok + bunga yang masih harus diterima dicatat di neraca, bunga diakui setiap periode penggunaan metode bunga efektif.

‎Di posisi laporan keuangan (neraca) akan tampak pos:

‎- Investasi saham

‎- Investasi obligasi

‎- Deposito berjangka

‎Tiap tahun juga wajib ada laporan aktuaria yang membandingkan aset investasi dengan kewajiban pensiun (liabilitas) supaya jelas apakah dananya cukup atau kurang.



In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Rizky Abelia Putri -
Nama: Rizky Abelia P
Npm: 2413031098
Kelas 24 c

1. Analisis kelebihan dan kekurangan
Saham Dividen: Kelebihan: Return tertinggi dan likuid; Kelemahan: Risiko tinggi bisa erodasi nilai saat pensiunan butuh dana stabil.
Obligasi Pemerintah: Kelebihan: Risiko minimal dengan pendapatan tetap; Kelemahan: Likuiditas sedang dan return kalah dari saham saat pasar bullish.
Deposito: Kelebihan: Risiko nol dan mudah direncanakan; Kelemahan: Return rendah rentan kalah inflasi, likuiditas buruk untuk kebutuhan mendadak.

2. Penentuan Alokasi Portofolio
Untuk profil konservatif-moderat dana pensiun Rp10 miliar (prioritas stabilitas > return), alokasi optimal: Obligasi Pemerintah 60% (Rp6 miliar), Saham Dividen 20% (Rp2 miliar), Deposito 20% (Rp2 miliar).
Alasan: Obligasi dominan memastikan keamanan dan arus kas tetap untuk pembayaran pensiun 20 tahun, sesuai mandat jangka panjang tanpa korban stabilitas. Saham 20% tambah potensi growth moderat dari dividen stabil sektor konsumer/perbankan. Deposito 20% lindungi likuiditas jangka pendek dan diversifikasi ultra-rendah risiko, hindari over-exposure ke pasar saham yang fluktuatif.

3. Simulasi Dampak Ekonomi
a. Dampak Skenario Krisis (Inflasi Tinggi + IHSG Turun 20%):
Portofolio turun ~4-6% nilai (saham -20% = Rp400 juta rugi; obligasi stabil/turun harga sedikit akibat inflasi; deposito tak terganggu). Total aset ~Rp9,4-9,6 miliar, tapi kupon obligasi dan bunga deposito jaga cash flow pensiun. Inflasi erodasi daya beli return tetap ~10-15% lebih buruk jangka panjang.
b. Langkah Mitigasi:

4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan
Berdasarkan PSAK 74 (Instrumen Keuangan) dan PSAK 71 (Pengakuan Pendapatan), instrumen dicatat sebagai aset keuangan.

Saham Dividen: Diklasifikasikan FVOCI (fair value through other comprehensive income); diukur fair value laporan posisi keuangan, gain/loss unrealized ke OCI, dividen ke laba rugi [PSAK 74]. Deposito: Amortised cost; bunga akrual bulanan ke pendapatan, dilaporkan aset lancar/jangka panjang sesuai tenor. Laporan dana pensiun (PSAK 24) ungkap nilai wajar, sensitivitas risiko, dan rekonsiliasi perubahan aset.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Ratih Apriyani -
RATIH APRIYANI
2413031073
1. Analisis Instrumen Investasi
A. Saham Dividen (Perusahaan Sektor Konsumer dan Perbankan)
Return: Rata-rata 11% per tahun, berpotensi lebih tinggi dalam kondisi ekonomi baik, dengan dividen 1–2 kali setahun.
Risiko: Tinggi dan fluktuatif, tergantung kondisi pasar, ekonomi makro, dan kinerja perusahaan (misalnya, resesi bisa menyebabkan penurunan harga saham). Likuiditas: Tinggi, mudah dijual di pasar modal kapan saja. Kesesuaian dengan Tujuan Dana Pensiun: Moderat; bisa memberikan pertumbuhan jangka panjang, tapi kurang cocok untuk dana konservatif karena risiko volatilitas yang tinggi, yang bisa mengancam keamanan dana pensiun. Kelebihan: Potensi return tinggi untuk inflasi dan pertumbuhan modal; dividen sebagai pendapatan tambahan; likuiditas tinggi memungkinkan penyesuaian cepat. Kelemahan: Risiko kerugian modal signifikan; tidak cocok untuk investor konservatif; dividen tidak dijamin dan bisa berfluktuasi.
B. Obligasi Pemerintah (ORI dan SBN)
Return: Kupon tetap 6.5% per tahun, lebih stabil dibanding saham. Risiko: Sangat rendah, dengan jaminan pemerintah (default risk minimal). Likuiditas: Sedang; bisa diperdagangkan, tapi harga pasar bisa naik/turun tergantung suku bunga.
Kesesuaian dengan Tujuan Dana Pensiun: Tinggi; cocok untuk stabilitas dan keamanan, dengan return moderat untuk melawan inflasi jangka panjang. Kelebihan: Risiko rendah dan aman; pendapatan kupon tetap; jaminan pemerintah; cocok untuk alokasi konservatif. Kelemahan: Return lebih rendah dibanding saham; likuiditas sedang bisa menyebabkan kerugian jika dijual di harga pasar rendah; sensitif terhadap perubahan suku bunga.
C. Deposito Berjangka
Return: Bunga 4.25% per tahun (net pajak), tetap dan rendah. Risiko: Sangat rendah, hampir tanpa risiko default (dijamin LPS hingga batas tertentu). Likuiditas: Rendah; penalti jika dicairkan sebelum jatuh tempo (1 tahun), meski bisa diperpanjang otomatis.
Kesesuaian dengan Tujuan Dana Pensiun: Tinggi untuk bagian konservatif; memberikan keamanan, tapi return rendah mungkin tidak cukup untuk mengimbangi inflasi jangka panjang. Kelebihan: Risiko sangat rendah dan aman; bunga tetap; cocok untuk dana darurat atau alokasi konservatif. Kelemahan: Return rendah, rentan terhadap inflasi; likuiditas rendah membatasi fleksibilitas; tidak ada potensi pertumbuhan modal.

2. Penentuan Alokasi Portofolio
Berdasarkan profil risiko dana pensiun yang konservatif-moderat (fokus pada stabilitas dan keamanan, dengan sedikit toleransi risiko untuk pertumbuhan jangka panjang), alokasi portofolio dari Rp10 miliar disusun sebagai berikut:
Obligasi Pemerintah: 50% (Rp5 miliar) – Sebagai instrumen utama untuk stabilitas, dengan risiko rendah dan return moderat (6.5%) yang cocok melawan inflasi tanpa volatilitas tinggi.
Deposito Berjangka: 30% (Rp3 miliar) – Untuk keamanan maksimal, sebagai buffer risiko, meski return rendah (4.25%).
Saham Dividen: 20% (Rp2 miliar) – Alokasi moderat untuk potensi pertumbuhan (11%), tapi dibatasi agar tidak mendominasi risiko portofolio.

3. Simulasi Dampak Ekonomi
a. Dampak terhadap Portofolio. Dalam skenario krisis ekonomi (inflasi tinggi dan IHSG turun 20%):
Saham Dividen: Dampak negatif terbesar; harga saham bisa turun 20% atau lebih, menyebabkan kerugian modal Rp400 juta (20% dari Rp2 miliar). Dividen mungkin berkurang atau ditunda. Obligasi Pemerintah: Dampak moderat; harga obligasi bisa naik (sebagai safe haven), tapi kupon tetap 6.5% mungkin tidak mengimbangi inflasi tinggi, sehingga nilai riil turun. Tidak ada kerugian besar, tapi return riil negatif. Deposito Berjangka: Dampak minimal; bunga tetap 4.25%, tapi inflasi tinggi membuat return riil negatif (misalnya, jika inflasi 10%, return riil -5.75%). Tidak ada fluktuasi harga. Dampak Keseluruhan Portofolio: Kerugian utama dari saham (Rp400 juta), dengan obligasi dan deposito stabil tapi tergerus inflasi. Total portofolio bisa turun sekitar 4% (Rp400 juta dari Rp10 miliar), tapi keamanan terjaga.
b. Langkah Mitigasi Risiko
Diversifikasi Lebih Lanjut: Tingkatkan alokasi obligasi/deposito (misalnya, ke 60% obligasi) dan kurangi saham; tambahkan instrumen lain seperti reksa dana campuran atau emas sebagai hedge inflasi. Hedging: Gunakan derivatif seperti opsi atau futures untuk melindungi saham dari penurunan IHSG; atau investasi dalam obligasi indeks yang terproteksi inflasi. Monitoring dan Rebalancing: Lakukan review berkala (misalnya, triwulanan) dan rebalance portofolio; cairkan deposito jika diperlukan untuk likuiditas. Strategi Jangka Panjang: Fokus pada tenor obligasi panjang (7–10 tahun) untuk kupon stabil; hindari penjualan saham di puncak krisis; gunakan data makroekonomi untuk timing investasi. Asuransi Risiko: Pertimbangkan asuransi portofolio atau kerja sama dengan manajer risiko eksternal untuk mitigasi sistemik.

4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan
Berdasarkan prinsip PSAK (Standar Akuntansi Keuangan Indonesia), khususnya PSAK 55 (Investasi), PSAK 71 (Keuangan), dan PSAK 68 (Laporan Keuangan Entitas Nirlaba), ketiga instrumen dicatat dan dilaporkan sebagai berikut (dengan asumsi DPDN sebagai entitas nirlaba dana pensiun):
A. Saham Dividen. Pencatatan: Diklasifikasikan sebagai investasi tersedia untuk dijual (AFS) atau fair value through profit or loss (FVPL) jika volatil. Dicatat pada biaya perolehan awal, lalu disesuaikan ke fair value (harga pasar) setiap akhir periode. Dividen dicatat sebagai pendapatan saat diterima. Relevansi PSAK: PSAK 55 untuk klasifikasi; PSAK 71 untuk pengukuran fair value.
B. Obligasi Pemerintah Pencatatan: Diklasifikasikan sebagai AFS atau held-to-maturity (HTM) jika dimaksudkan hingga jatuh tempo. Dicatat pada biaya perolehan, disesuaikan ke fair value (amortisasi diskonto/premium). Kupon dicatat sebagai pendapatan bunga efektif (menggunakan metode bunga efektif). Relevansi PSAK: PSAK 55 untuk klasifikasi; PSAK 71 untuk amortisasi dan fair value.
C. Deposito Berjangka. Pencatatan: Diklasifikasikan sebagai HTM atau AFS. Dicatat pada biaya perolehan; bunga diakumulasikan sebagai pendapatan bunga efektif (meski sederhana, karena bunga tetap). Pelaporan: Dalam laporan posisi keuangan, sebagai aset finansial HTM (amortisasi biaya) atau AFS (fair value, jika signifikan). Dalam laporan laba rugi, bunga sebagai pendapatan investasi. Relevansi PSAK: PSAK 55 untuk klasifikasi; PSAK 71 untuk pengakuan pendapatan bunga.

In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Siti haryanti 2413031094 -
Nama : Siti Haryanti
Npm : 2413031094
Kelas : 2024

1. Analisis Instrumen Investasi

Dalam mengelola dana pensiun sebesar Rp10 miliar, DPDN harus mempertimbangkan karakter setiap instrumen investasi yang tersedia. Saham dividen menjadi pilihan dengan potensi keuntungan paling besar, karena dalam kondisi normal mampu mencatat return sekitar 11% setahun dan disertai pembagian dividen satu hingga dua kali setahun. Saham juga mudah dicairkan karena likuiditasnya tinggi. Namun, kekuatan utamanya itu sekaligus kelemahannya: harga saham sangat sensitif terhadap situasi ekonomi, sehingga nilainya bisa naik-turun secara ekstrem. Kondisi ini membuat instrumen saham tetap menarik, tetapi tidak bisa dijadikan tempat menyimpan porsi investasi yang terlalu besar untuk dana pensiun.

Instrumen kedua, yakni obligasi pemerintah, menawarkan stabilitas yang lebih tinggi. Kupon yang dibayarkan secara tetap—sekitar 6,5% per tahun—membuat pendapatan dari obligasi lebih terprediksi. Selain itu, jaminan pemerintah membuat risiko gagal bayar sangat kecil. Obligasi masih bisa diperdagangkan, meski perubahan suku bunga dapat memengaruhi harga pasar. Dengan sifatnya yang cenderung stabil, obligasi adalah instrumen yang sangat cocok untuk dana pensiun yang fokus pada keamanan jangka panjang.

Berbeda dari keduanya, deposito berjangka memberi imbal hasil paling rendah, sekitar 4,25% setelah pajak. Meski begitu, tingkat keamanannya sangat tinggi, namun likuiditasnya terbatas karena pencairan sebelum jatuh tempo biasanya dikenai penalti. Dengan sifat seperti itu, deposito lebih tepat difungsikan sebagai cadangan dana atau penyangga likuiditas, bukan sebagai instrumen utama untuk pertumbuhan aset.

2. Penentuan Alokasi Portofolio

Karena dana pensiun DPDN memiliki karakter risiko konservatif menuju moderat, alokasi portofolio harus menjaga keseimbangan antara keamanan dan kebutuhan pertumbuhan. Porsi terbesar layak diberikan kepada obligasi pemerintah—sekitar 55% dari total dana atau setara Rp5,5 miliar—karena instrumen ini paling stabil dan memberikan arus pendapatan yang konsisten.

Sekitar 25% dana dapat ditempatkan pada saham dividen, yaitu sekitar Rp2,5 miliar. Porsi ini cukup untuk memberi ruang bagi pertumbuhan nilai investasi dalam jangka panjang, tetapi tidak terlalu besar sehingga fluktuasi pasar tetap dapat dikendalikan. Sisanya, sekitar 20% atau Rp2 miliar, dapat dialokasikan ke deposito sebagai cadangan likuiditas sehingga lembaga punya ruang manuver ketika perlu memenuhi kewajiban jangka pendek tanpa harus menjual aset lain pada waktu yang kurang tepat.

3. Simulasi Dampak Ekonomi

Jika terjadi goncangan ekonomi, misalnya inflasi meningkat dan IHSG turun hingga 20%, maka dampaknya terhadap portofolio akan berbeda-beda tergantung instrumennya. Bagian investasi yang ditempatkan pada saham tentu akan merasakan penurunan paling besar karena nilai saham langsung mengikuti kondisi pasar. Pada obligasi, dampaknya tidak sebesar saham, meski kenaikan suku bunga bisa membuat harga obligasi turun. Namun, kupon tetap tetap dibayarkan sehingga ada pendapatan yang masih bisa diandalkan. Deposito tidak terpengaruh secara nominal, tetapi nilai riil bunga bisa tergerus inflasi.

Untuk meredam dampak tersebut, manajer investasi dapat mengambil beberapa langkah. Rebalancing, misalnya, dapat dilakukan dengan mengurangi eksposur saham ketika pasar sedang tertekan. Diversifikasi sektor saham juga dapat membantu mengurangi risiko. Pada obligasi, penyebaran pada tenor yang berbeda (laddering) bisa mengurangi risiko perubahan suku bunga. Selain itu, memperkuat cadangan likuiditas melalui instrumen aman seperti deposito bisa membantu memastikan dana pensiun tetap stabil walaupun pasar sedang tidak bersahabat.

4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan

Dalam laporan keuangan dana pensiun, pencatatan ketiga instrumen mengikuti ketentuan PSAK mengenai aset keuangan. Saham umumnya dicatat dengan model nilai wajar, sehingga perubahan harga saham akan tampak sebagai laba atau rugi dalam laporan hasil usaha. Dividen yang diterima dicatat sebagai pendapatan investasi.

Untuk obligasi, pencatatannya dapat menggunakan dua pendekatan: jika obligasi dimaksudkan untuk disimpan hingga jatuh tempo, digunakan metode biaya perolehan yang diamortisasi; namun jika sewaktu-waktu dapat dijual kembali, obligasi dicatat berdasarkan nilai wajarnya. Kupon yang diterima selalu diakui sebagai pendapatan bunga. Sementara itu, deposito dicatat berdasarkan nilai penempatannya, dengan bunga yang diakui secara berkala. Jika deposito dicairkan sebelum waktunya dan terkena penalti, selisihnya dicatat sebagai beban.

Secara keseluruhan, pengelolaan dana pensiun harus mengutamakan keseimbangan antara pertumbuhan dan keamanan karena dana tersebut akan menopang pembayaran manfaat jangka panjang. Dengan komposisi investasi yang tepat dan pengelolaan risiko yang hati-hati, dana pensiun dapat menjaga nilai dan stabilitasnya dalam berbagai kondisi ekonomi.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Melinda Dwi Safitri -

Nama: Melinda Dwi Safitri

Npm: 2413031092

Kelas: 2024 C

1. Analisis Instrumen Investasi

Ketiga instrumen yang tersedia menawarkan karakteristik yang berbeda dari sisi return, risiko, dan likuiditas. Saham dividen memberikan tingkat return tertinggi dengan rata rata sebelas persen per tahun. Instrumen ini sangat menarik untuk pertumbuhan jangka panjang karena perusahaan konsumer dan perbankan cenderung stabil serta rutin membagikan dividen. Namun, risiko fluktuasinya cukup tinggi karena harga saham dapat berubah mengikuti kondisi ekonomi makro, sentimen pasar, dan kinerja sektor usaha. Dari sisi likuiditas, saham termasuk sangat mudah dijual sehingga membantu jika dana pensiun perlu melakukan rebalancing. Kekurangannya adalah volatilitas yang dapat mempengaruhi nilai portofolio, terutama ketika pasar sedang turun.

Obligasi pemerintah memberikan kupon tetap sekitar enam koma lima persen per tahun dengan tingkat risiko yang sangat rendah karena dijamin oleh negara. Instrumen ini sangat cocok untuk kebutuhan dana pensiun yang memerlukan stabilitas arus kas jangka panjang. Likuiditasnya berada pada tingkat sedang karena dapat diperdagangkan, walaupun harga pasarnya masih dapat naik dan turun mengikuti pergerakan suku bunga. Kelebihannya adalah stabilitas yang tinggi dan arus kas kupon yang dapat diprediksi, sedangkan kelemahannya terletak pada potensi capital loss jika obligasi dijual sebelum jatuh tempo ketika suku bunga naik.

Deposito berjangka memberikan bunga sekitar empat koma dua lima persen setelah pajak dengan risiko sangat rendah. Deposito mudah dikelola dan tidak terpengaruh fluktuasi pasar, namun likuiditasnya rendah karena ada penalti apabila dicairkan sebelum jatuh tempo. Instrumen ini cocok sebagai komponen keamanan dalam portofolio, meskipun return rendah membuat daya tumbuh dana menjadi lebih terbatas.

2. Penentuan Alokasi Portofolio

Dengan profil risiko dana pensiun yang cenderung konservatif menuju moderat, alokasi investasi harus mampu menjaga stabilitas jangka panjang namun tetap memberi ruang pertumbuhan. Salah satu alokasi yang dapat dipertanggungjawabkan adalah pembagian yang menempatkan porsi terbesar pada obligasi pemerintah karena stabilitasnya penting bagi dana pensiun. Misalnya empat miliar lima ratus juta ditempatkan pada obligasi pemerintah untuk menjamin arus kas kupon yang tetap dan risiko yang minim. Kemudian tiga miliar dapat dialokasikan ke saham dividen agar portofolio tetap memiliki potensi pertumbuhan nilai dan peningkatan return dari distribusi dividen. Sisanya dua miliar lima ratus juta ditempatkan pada deposito sebagai dana cadangan berisiko sangat rendah yang dapat digunakan sebagai penyeimbang jika pasar sedang tidak stabil.Alokasi tersebut mempertimbangkan bahwa dana pensiun memerlukan keseimbangan antara keamanan dana dan peluang pertumbuhan. Porsi besar pada obligasi menjamin stabilitas pembayaran masa depan, sementara porsi saham memberi peluang kenaikan nilai jangka panjang. Deposito berfungsi sebagai bantalan risiko sehingga struktur portofolio tetap aman.

3. Simulasi Dampak Ekonomi

Jika terjadi krisis ekonomi yang ditandai inflasi tinggi dan penurunan indeks saham sebesar dua puluh persen, dampak yang paling terasa adalah pada komponen saham dividen. Nilai portofolio saham akan turun mengikuti pelemahan pasar. Dividen juga mungkin berkurang jika laba perusahaan menurun. Komponen obligasi pemerintah menghadapi risiko penurunan harga pasar apabila suku bunga naik akibat tekanan inflasi, meskipun kupon tetap masih dibayarkan. Komponen deposito tidak terkena dampak nilai pasar, tetapi bunga riil menjadi lebih rendah karena tergerus inflasi.

Untuk mitigasi risiko, manajer investasi perlu melakukan beberapa langkah. Pertama, meningkatkan proporsi instrumen berpendapatan tetap agar lebih banyak arus kas pasti yang dapat mengurangi ketidakpastian. Kedua, melakukan rebalancing secara berkala sehingga portofolio tetap seimbang dan tidak terlalu berat pada instrumen yang sedang mengalami penurunan nilai. Ketiga, memilih saham dari sektor yang lebih tahan terhadap krisis seperti sektor konsumer primer. Keempat, meningkatkan cadangan likuiditas agar dana tetap aman ketika terjadi gejolak pasar. Pendekatan ini menjaga nilai portofolio sekaligus memberi ruang pemulihan jangka panjang.

4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan

Menurut prinsip akuntansi yang berlaku dalam PSAK, ketiga instrumen investasi dicatat berdasarkan karakteristik dan tujuan pengelolaannya. Saham dividen umumnya dicatat sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi apabila dana pensiun menggunakannya untuk tujuan investasi aktif. Perubahan nilai pasar saham diakui dalam laporan laba rugi. Dividen yang diterima diakui sebagai pendapatan pada periode ketika hak untuk menerima dividen timbul.Obligasi pemerintah dapat diakui sebagai aset keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi apabila tujuan kepemilikan bersifat ditahan hingga jatuh tempo. Dalam kondisi ini, nilai tercatat akan berubah berdasarkan metode suku bunga efektif. Jika obligasi diklasifikasikan sebagai aset yang diukur pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain, maka perubahan nilai wajar dicatat dalam bagian penghasilan komprehensif lain tanpa memengaruhi laba rugi. Kupon obligasi tetap dicatat sebagai pendapatan bunga secara berkala.

Deposito berjangka dicatat sebagai aset keuangan pada biaya perolehan diamortisasi karena memiliki arus kas tetap hingga jatuh tempo. Pendapatan bunga diakui secara akrual setiap periode. Nilainya tidak berubah mengikuti pasar sehingga pelaporannya stabil dari periode ke periode.


In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Gifrika Tutut Pradiyana -
Nama: Gifrika Tutut Pradiyana
NPM: 2453031008

1. Analisis Instrumen Investasi
Saham dividen memiliki potensi imbal hasil yang paling tinggi yaitu sekitar 11% per tahun, sehingga dapat menjadi sumber pertumbuhan dana dalam jangka panjang. Keuntungan tambahan berupa dividen juga dapat menambah arus kas, namun perlu diingat bahwa harga saham sangat dipengaruhi kondisi ekonomi dan pasar sehingga risikonya cukup tinggi. Berbeda dengan saham, obligasi pemerintah memberikan kupon tetap sekitar 6,5% dan risikonya sangat rendah karena dijamin pemerintah, menjadikannya instrumen yang stabil untuk tujuan dana pensiun. Meski demikian, nilai obligasi tetap bisa naik turun jika suku bunga bergerak. Sementara itu, deposito berjangka menawarkan bunga 4,25% per tahun yang cenderung kecil, tetapi sangat aman dan cocok sebagai penyangga dana. Kekurangannya ada pada likuiditas yang tidak fleksibel karena ada penalti jika ditarik sebelum jatuh tempo. Ketiganya dapat melengkapi satu sama lain sesuai fungsi, yaitu saham untuk pertumbuhan, obligasi untuk kestabilan, dan deposito sebagai dana cadangan.

2. Penentuan Alokasi Portofolio
Dengan mempertimbangkan profil risiko dana pensiun yang cenderung konservatif moderat dan penggunaan dana yang masih cukup panjang, alokasi yang paling masuk akal adalah menempatkan sebagian besar dana pada instrumen yang stabil. Dari total dana Rp10 miliar, sekitar Rp5 miliar (50%) dapat diarahkan ke obligasi pemerintah agar terdapat kepastian pendapatan kupon setiap tahun dan nilai pokok tetap aman. Selanjutnya, dana sebesar Rp3 miliar (30%) dapat dialokasikan ke saham dividen untuk memperoleh potensi pertumbuhan dana serta arus kas tambahan dari pembagian dividen. Sisa Rp2 miliar (20%) dapat ditempatkan ke deposito berjangka sebagai cadangan likuiditas, sehingga dana pensiun tidak terpaksa menjual investasi pada kondisi buruk jika terjadi kebutuhan mendadak. Komposisi ini menjaga keamanan dana tetapi tetap memberi ruang pertumbuhan yang sejalan dengan horizon investasi 20 tahun ke depan.

3. Simulasi Dampak Ekonomi
Apabila terjadi krisis ekonomi seperti inflasi tinggi dan IHSG anjlok 20%, bagian portofolio yang paling terdampak tentu adalah saham. Nilainya kemungkinan turun mengikuti kondisi pasar sehingga dana pensiun berpotensi mengalami penurunan nilai investasi. Obligasi mungkin tidak terkena dampak separah saham, tetapi jika suku bunga meningkat, harga obligasi juga bisa melemah. Berbeda dengan dua instrumen tersebut, deposito relatif aman dan tidak terganggu fluktuasi pasar, hanya saja return riil menurun karena inflasi. Untuk mengurangi risiko kerugian, manajer investasi dapat mengambil langkah seperti rebalancing portofolio dengan memperbesar porsi obligasi atau deposito sementara kondisi pasar belum pulih. Selain itu, pemilihan saham defensif dan perbankan besar dapat membantu menjaga nilai investasi agar tidak jatuh terlalu dalam. Menyiapkan cadangan dana dalam bentuk deposito atau instrumen pasar uang juga penting agar pembayaran manfaat pensiun tetap lancar.

4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan
Dalam pelaporan keuangan dana pensiun, investasi saham dicatat pada nilai wajar sehingga setiap perubahan harga pasar akan mempengaruhi laporan laba rugi atau penghasilan komprehensif lain sesuai klasifikasi aset keuangan, sementara dividen yang diterima dicatat sebagai pendapatan investasi. Obligasi pemerintah dapat dicatat pada biaya perolehan diamortisasi atau nilai wajar, dan kupon yang diterima diakui sebagai pendapatan bunga secara berkala. Deposito berjangka lebih sederhana karena dicatat sebesar biaya perolehan ditambah bunga berjalan tanpa perubahan nilai pasar. Penyajian ketiga instrumen tersebut diperlukan agar laporan keuangan DPDN transparan, dapat dinilai kinerjanya, dan menjadi dasar pengambilan keputusan investasi di periode berikutnya.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Rulla Alifah -
Nama : Rulla Alifah
NPM : 2413031093

1. Ketiga instrumen investasi memiliki karakteristik berbeda terkait imbal hasil, risiko, dan kesesuaian bagi dana pensiun. Saham dividen menawarkan return sekitar 11% per tahun namun risikonya cukup tinggi karena fluktuasi pasar. Obligasi pemerintah memberikan kupon tetap 6,5% dengan risiko sangat rendah, sehingga cocok sebagai penopang stabilitas keuangan dana pensiun. Likuiditasnya cukup baik meski harga bisa berubah jika dijual sebelum jatuh tempo. Deposito berjangka menjadi instrumen paling aman namun menawarkan return paling rendah, serta kurang fleksibel untuk penarikan mendadak. Dengan demikian, saham berfungsi untuk pertumbuhan nilai, obligasi untuk stabilitas, dan deposito sebagai penyangga likuiditas.

2. Dengan profil risiko konservatif–moderate, dana Rp10 miliar dapat dialokasikan mayoritas ke instrumen yang stabil namun tetap memberikan ruang pertumbuhan. Porsi 55% ditempatkan pada obligasi pemerintah karena aman dan memberikan arus kupon rutin. Sebesar 30% dialokasikan ke saham dividen untuk memperoleh potensi pertumbuhan jangka panjang. Sisanya 15% ditempatkan pada deposito sebagai cadangan likuiditas yang bisa digunakan untuk kebutuhan rutin atau situasi darurat. Komposisi ini menjaga keseimbangan antara keamanan dana, imbal hasil, dan fleksibilitas.

3. Dalam kondisi krisis, seperti IHSG turun 20% dan inflasi naik, portofolio akan terdampak cukup signifikan. Penurunan saham dapat mengurangi nilai portofolio sekitar 6%, sementara obligasi bisa turun 3–4% akibat kenaikan suku bunga, meskipun kupon tetap diterima. Deposito tidak terpengaruh oleh kondisi pasar. Untuk mengurangi dampak, manajer investasi dapat melakukan rebalancing, memperkuat diversifikasi, menahan obligasi hingga jatuh tempo, serta menambah instrumen likuid sebagai penyangga saat pasar sedang tidak stabil.

4. Pencatatan instrumen investasi mengikuti PSAK terkait instrumen keuangan. Saham dividen umumnya diakui sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi (FVTPL), sehingga perubahan harganya memengaruhi laba rugi. Obligasi pemerintah dapat dicatat pada biaya diamortisasi atau FVOCI, tergantung tujuan kepemilikan, dengan kupon diakui sebagai pendapatan bunga. Deposito dicatat pada biaya diamortisasi karena nilainya stabil dan hanya bunga yang menjadi pendapatan. Pendekatan ini memastikan laporan keuangan dana pensiun mencerminkan nilai aset sesuai karakteristik masing-masing instrumen.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Salwa Trisia Anjani -
2413031090
Salwa Trisi Anjani

Jawab:
1. Analisis Instrumen Investasi (Singkat)
Saham dividen memberi return tertinggi (11%) dan likuid, tetapi paling berisiko karena fluktuasi pasar. Cocok untuk pertumbuhan jangka panjang, tetapi perlu porsi terbatas. Obligasi pemerintah menawarkan kupon stabil 6,5% dengan risiko sangat rendah dan cocok sebagai penopang utama dana pensiun. Sementara itu, deposito berjangka paling aman tetapi return paling rendah dan kurang likuid. Kombinasi ketiganya diperlukan untuk menyeimbangkan keamanan dan pertumbuhan aset.


2. Alokasi Portofolio (Singkat)
Dengan profil risiko konservatif-moderat, alokasi ideal Rp10 miliar adalah:
• Obligasi 55% (Rp5,5 miliar) sebagai sumber pendapatan stabil dan risiko rendah.
• Saham 30% (Rp3 miliar) untuk pertumbuhan jangka panjang melalui dividen dan capital gain.
• Deposito 15% (Rp1,5 miliar) sebagai cadangan likuid dan penyangga jika pasar turun.
Alokasi ini menjaga keamanan dana sekaligus tetap memberi potensi pertumbuhan.


3. Simulasi Dampak Ekonomi (Singkat)
Jika IHSG turun 20% dan inflasi tinggi, nilai saham akan turun paling besar sehingga portofolio melemah. Obligasi mungkin turun sedikit akibat kenaikan suku bunga, sementara deposito tetap stabil.
Mitigasi yang dapat dilakukan: rebalancing, menambah instrumen pendapatan tetap, menjaga likuiditas melalui deposito, dan tetap fokus pada saham defensif. Dengan langkah ini, dana pensiun tetap aman membayar manfaat.


4. Aspek Akuntansi (Singkat)
Saham dicatat pada nilai wajar melalui laba rugi (FVPL); perubahan harga masuk ke laba rugi, dan dividen sebagai pendapatan. Obligasi dapat dicatat pada amortized cost atau FVOCI bergantung tujuan; kupon masuk sebagai pendapatan bunga. Deposito dicatat pada amortized cost, dengan bunga diakui sebagai pendapatan periodik. Ketiganya disajikan sebagai aset investasi dalam laporan keuangan dana pensiun sesuai PSAK 71.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Rency Husna Adinda -
Nama: Rency Husna Adinda
Npm: 2413031082

1. Analisis Instrumen Investasi
Ketiga pilihan investasi memiliki karakteristik unik yang memengaruhi kesesuaiannya sebagai aset dana pensiun. Saham Dividen menawarkan potensi imbal hasil tertinggi, sekitar 11% per tahun, namun mengandung risiko yang cukup besar akibat volatilitas pasar. Sebaliknya, Obligasi Pemerintah memberikan kupon tetap 6.5% dengan tingkat risiko terendah. Hal ini menjadikannya pilihan ideal untuk menjaga stabilitas keuangan Dana Pensiun. Sementara itu, Deposito Berjangka adalah instrumen paling aman, namun return-nya yang paling rendah menjadikannya kurang optimal untuk tujuan keuntungan jangka panjang, meskipun sangat cocok sebagai penyangga likuiditas. Dengan demikian, Saham berfokus pada pertumbuhan, Obligasi pada stabilitas, dan Deposito berfungsi sebagai cadangan likuiditas.
2. Penentuan Alokasi Portofolio
Mengacu pada profil risiko konservatif-moderatif, alokasi dana awal Rp10 miliar harus mengutamakan keamanan sambil tetap memungkinkan peningkatan nilai. Untuk mencapai stabilitas dan kepastian pendapatan rutin, alokasi terbesar yaitu 55% (Rp5.5 Miliar) disarankan pada Obligasi Pemerintah. Kemudian, 30% (Rp3 Miliar) dialokasikan untuk Saham Dividen guna memanfaatkan potensi pertumbuhan jangka panjang. Sisa 15% (Rp1.5 Miliar) ditempatkan pada Deposito sebagai cadangan yang sangat aman untuk kebutuhan tak terduga. Komposisi ini menjamin keseimbangan antara keamanan modal, potensi hasil investasi, dan fleksibilitas dana.
3. Simulasi Dampak Krisis Ekonomi
Dalam skenario krisis ekonomi, ditandai dengan kenaikan inflasi dan penurunan IHSG sebesar 20%, portofolio akan mengalami guncangan. Investasi saham dapat menyebabkan penurunan nilai portofolio sekitar 6%. Obligasi berpotensi mengalami penurunan nilai pasar 3-4% karena kenaikan suku bunga, meskipun kupon tetap dibayarkan. Deposito, walau tidak terpengaruh pasar, tidak mampu melawan tingginya inflasi. Untuk memitigasi dampak ini, manajer investasi perlu melakukan rebalancing portofolio, menahan Obligasi hingga jatuh tempo, meningkatkan diversifikasi, dan memastikan ketersediaan aset likuid sebagai penyangga saat pasar tidak stabil.
4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan
Pencatatan investasi dana pensiun harus mengikuti Standar Akuntansi Keuangan (SAK) terkait instrumen keuangan, khususnya SAK 18. Saham Dividen umumnya diukur menggunakan Nilai Wajar melalui Laba Rugi (FVIPL), sehingga perubahan harganya langsung memengaruhi laba rugi program. Obligasi Pemerintah dapat dicatat berdasarkan biaya diamortisasi atau FVOCI, tergantung maksud kepemilikan, sementara kuponnya dicatat sebagai pendapatan bunga. Terakhir, Deposito dicatat pada biaya diamortisasi karena sifatnya stabil dan bunganya menjadi komponen pendapatan. Pendekatan akuntansi ini menjamin bahwa laporan DPDN mencerminkan nilai wajar aset sesuai sifat instrumennya.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Ni Made Dwi Agustini -
Nama : Ni Made Dwi Agustini
Npm : 2413031086

1. Analisis Instrumen Investasi
Dalam menilai tiga instrumen investasi untuk dana pensiun, saya melihat bahwa masing-masing menawarkan karakter berbeda yang perlu disesuaikan dengan kebutuhan stabilitas jangka panjang. Saham dividen memberikan return tertinggi sekitar 11% per tahun dengan likuiditas sangat baik, tetapi sifatnya yang fluktuatif membuat instrumen ini kurang ideal sebagai bagian terbesar portofolio dana pensiun yang membutuhkan kepastian pembayaran manfaat. Obligasi pemerintah justru menjadi pilihan utama karena kupon tetap 6,5% per tahun, risikonya sangat rendah, dan memberikan arus kas stabil meski likuiditasnya hanya sedang dan harganya masih sensitif terhadap perubahan suku bunga. Sementara itu, deposito berjangka dengan bunga 4,25% net pajak memberikan keamanan maksimal dan cocok untuk dana cadangan, namun return rendah dan adanya penalti pencairan dini menjadikannya kurang menarik untuk pertumbuhan jangka panjang. Ketiga instrumen ini pada dasarnya saling melengkapi: saham untuk pertumbuhan, obligasi untuk stabilitas, dan deposito untuk likuiditas.

2. Penentuan Alokasi Portofolio
Karena dana pensiun memiliki profil konservatif-moderat dan kewajiban jangka panjang hingga 20 tahun, menurut saya alokasi investasi harus mampu menjaga keseimbangan antara keamanan modal dan pertumbuhan nilai. Komposisi ideal adalah menempatkan porsi terbesar pada obligasi pemerintah, sekitar 55–60% dari total dana, karena instrumen ini paling aman dan memberikan kupon pasti yang bisa digunakan untuk membayar manfaat pensiun secara berkelanjutan. Saham dividen kemudian dapat dialokasikan sebesar 25–30% sebagai sumber pertumbuhan jangka panjang serta perlindungan terhadap inflasi. Sisanya, sekitar 10–15%, ditempatkan pada deposito untuk menjaga likuiditas sehingga dana tersedia kapan saja tanpa harus menjual aset ketika pasar sedang turun. Dengan pola ini, portofolio menjadi lebih seimbang: aman, tetap tumbuh, dan tetap likuid.

3. Simulasi Dampak Ekonomi
Jika terjadi krisis ekonomi seperti inflasi tinggi dan IHSG turun 20%, saya memperkirakan saham dividen akan mengalami penurunan nilai signifikan sesuai porsi yang dimiliki, sedangkan obligasi pemerintah mungkin sedikit tertekan akibat kenaikan suku bunga, tetapi kupon tetap dibayarkan sehingga arus kas tidak terganggu. Deposito pada sisi lain hampir tidak terdampak karena return-nya tetap dan tidak terpengaruh pasar. Secara keseluruhan, portofolio dengan mayoritas obligasi dan sebagian deposito akan tetap stabil, sehingga kerugian total tidak sedalam penurunan pasar saham. Untuk mengendalikan risiko, manajer investasi bisa melakukan beberapa langkah mitigasi seperti rebalancing agar porsi saham tidak terlalu besar saat pasar jatuh, memilih sektor saham defensif, memperpendek durasi obligasi saat suku bunga naik, serta menerapkan strategi pengukuran risiko seperti VaR atau diversifikasi tambahan jika regulasi memungkinkan.

4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan
Dari sisi akuntansi, ketiga instrumen investasi ini mengikuti ketentuan PSAK 71 tentang Instrumen Keuangan. Saham dividen umumnya dicatat pada nilai wajar, baik melalui laba rugi (FVTPL) maupun melalui penghasilan komprehensif lain (FVOCI), dengan dividen diakui sebagai pendapatan ketika hak timbul. Obligasi pemerintah dapat diukur pada biaya diamortisasi jika tujuannya untuk memegang hingga jatuh tempo, atau pada FVOCI jika selain menerima kupon, entitas juga mempertimbangkan potensi perubahan nilai wajar; kuponnya diakui menggunakan metode suku bunga efektif. Sementara itu, deposito dicatat pada biaya perolehan diamortisasi karena arus kasnya kontraktual dan tetap. Dalam laporan keuangan dana pensiun, aset-aset ini disajikan sesuai kategorinya, perubahan nilai wajar dan pendapatan dari masing-masing instrumen dicatat secara transparan, dan kebijakan pengukuran maupun risikonya diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Lola Egidiya -
Nama : Lola Egidiya
NPM : 2413031087
Kelas :24

1. Analisis Instrumen Investasi
Ketiga instrumen investasi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dari sisi return, risiko, dan likuiditas. Saham dividen menawarkan potensi return tertinggi, yaitu rata-rata 11% per tahun, namun risikonya cukup besar karena harga saham sensitif terhadap kondisi ekonomi dan pasar. Saham juga sangat likuid, sehingga dapat dijual kapan saja, dan dividen dapat menjadi tambahan pendapatan rutin. Di sisi lain, obligasi pemerintah menawarkan kupon tetap 6,5% dengan risiko sangat rendah karena dijamin oleh pemerintah. Instrumen ini memberikan arus kas yang stabil dan aman, meskipun likuiditasnya tidak setinggi saham dan harga obligasi bisa naik-turun akibat perubahan suku bunga.
Deposito berjangka menjadi instrumen paling aman dengan bunga 4,25% per tahun setelah pajak, namun return-nya paling rendah. Likuiditas deposito juga terbatas karena pencairan sebelum jatuh tempo dikenakan penalti, sehingga lebih cocok untuk dana cadangan. Jika dilihat dari kebutuhan dana pensiun yang mengutamakan stabilitas, pendapatan yang pasti, dan horizon jangka panjang, kombinasi ketiga instrumen ini sebenarnya saling melengkapi. Saham memberikan pertumbuhan, obligasi memberikan kestabilan pendapatan, dan deposito menjaga keamanan dana sekaligus menyediakan likuiditas dasar.

2. Penentuan Alokasi Portofolio
Untuk dana pensiun yang profil risikonya konservatif–moderat, komposisi portofolio harus lebih condong kepada instrumen yang stabil namun tetap memiliki sebagian aset yang mampu tumbuh dalam jangka panjang. Alokasi yang dapat digunakan adalah 50% ke obligasi pemerintah, 30% ke saham dividen, dan 20% ke deposito berjangka. Porsi terbesar pada obligasi bertujuan memberikan kepastian arus kas melalui kupon tetap dan menjaga nilai portofolio tetap stabil. Sementara itu, saham tetap diperlukan untuk mengimbangi inflasi dan memberikan potensi pertumbuhan aset dalam jangka panjang.
Deposito mendapat alokasi 20% karena fungsinya sebagai dana likuid dan penyangga risiko ketika pasar tidak stabil. Dengan struktur seperti ini, portofolio masih memiliki peluang untuk bertumbuh, tetapi tetap aman apabila terjadi tekanan ekonomi. Alokasi tersebut juga sejalan dengan tujuan dana pensiun yang memiliki kewajiban membayar manfaat secara rutin sehingga perlu keseimbangan antara keamanan dan pertumbuhan jangka panjang. Komposisi ini memberikan fleksibilitas sekaligus perlindungan pada nilai dana kelolaan.

3. Simulasi Dampak Ekonomi
Jika terjadi krisis ekonomi, seperti inflasi tinggi dan IHSG turun 20%, dampak paling besar akan dialami oleh portofolio saham. Nilai saham bisa tergerus cukup tajam sehingga menurunkan total nilai investasi. Walaupun saham dividen cenderung lebih defensif, penurunan pasar tetap memengaruhi valuasinya. Obligasi pemerintah mungkin juga terdampak apabila suku bunga naik, karena kenaikan suku bunga biasanya menyebabkan harga obligasi di pasar turun. Namun, kupon tetap masih dibayarkan, sehingga arus kas tidak terganggu. Deposito relatif tidak terdampak secara nilai, meskipun bunga riil bisa menurun akibat inflasi.
Untuk mengurangi dampak tersebut, manajer investasi dapat melakukan beberapa tindakan mitigasi. Salah satunya dengan melakukan rebalancing portofolio, yaitu memindahkan sebagian dana dari saham ke instrumen yang lebih aman ketika pasar melemah. Selain itu, memperkuat porsi likuiditas pada deposito atau obligasi jangka pendek dapat membantu menghindari penjualan aset dalam kondisi rugi. Pemilihan saham defensif yang tetap membagikan dividen stabil juga dapat membantu menjaga pendapatan portofolio. Langkah-langkah ini membantu menjaga kestabilan nilai dana pensiun di tengah tekanan ekonomi.

4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan
Dalam laporan keuangan dana pensiun, saham dividen biasanya dicatat sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi (FVPL). Perubahan nilai pasar saham diakui sebagai keuntungan atau kerugian investasi pada periode berjalan. Dividen yang diterima dicatat sebagai pendapatan ketika hak atas dividen tersebut sudah jatuh tempo. Obligasipemerintah umumnya dicatat pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain (FVOCI), terutama jika tujuannya untuk menghasilkan arus kas namun tidak selalu ditahan hingga jatuh tempo. Kupon obligasi diakui secara akrual menggunakan metode suku bunga efektif.
Deposito dicatat sebagai aset keuangan pada biaya perolehan diamortisasi karena tujuan investasinya adalah untuk disimpan hingga jatuh tempo. Bunga deposito diakui sebagai pendapatan secara berkala sesuai periode perhitungannya. Pada saat pelaporan, nilai tercatat deposito tidak berubah kecuali terdapat amortisasi atau penambahan bunga yang sudah diakui tetapi belum diterima. Ketiga perlakuan akuntansi tersebut mengikuti prinsip PSAK dan bertujuan memastikan laporan keuangan mencerminkan nilai investasi dan pendapatannya secara wajar serta dapat diandalkan.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Silviana Febriani -
NAMA: SILVIANA FEBRIANI
NPM: 2413031075

1. Instrumen investasi ini punya karakter yang berbeda sehingga perlu dibandingkan dari empat sisi. Saham dividen memberi return tertinggi, sekitar 11% per tahun. Risiko paling besar karena harga mudah berubah mengikuti kondisi ekonomi. Likuiditas tinggi karena bisa dijual kapan saja. Instrumen ini cocok untuk pertumbuhan jangka panjang. Obligasi pemerintah memberi kupon tetap 6.5% dengan risiko sangat rendah. Instrumen ini stabil dan cocok untuk memenuhi kewajiban pembayaran pensiun. Likuiditas sedang karena harga pasar bisa naik turun. Deposito memberi bunga 4.25% dengan risiko sangat kecil tetapi likuiditas rendah karena ada penalti jika dicairkan lebih awal. Instrumen ini menjaga keamanan dana jangka pendek. Ketiganya bisa saling melengkapi untuk dana pensiun.

2. Dana pensiun cenderung memakai portofolio konservatif sampai moderat. Alokasi realistis untuk Rp10 miliar yaitu obligasi 55% atau Rp5.5 miliar. Ini menjadi inti portofolio karena stabil dan cocok untuk matching kewajiban pensiun. Saham dividen 35% atau Rp3.5 miliar untuk menambah pertumbuhan jangka panjang dan menjaga nilai riil terhadap inflasi. Deposito 10% atau Rp1 miliar untuk kebutuhan likuiditas jangka pendek dan cadangan keamanan. Alokasi ini menjaga stabilitas tetapi tetap memberi ruang pertumbuhan yang wajar.

3. Krisis ekonomi memberi dampak berbeda pada tiap instrumen. Penurunan IHSG sekitar 20% menekan nilai saham sehingga portofolio saham mengalami kerugian yang belum direalisasi sekitar Rp700 juta. Obligasi pemerintah ikut tertekan jika suku bunga naik. Harga bisa turun 5% sampai 8% dengan potensi penurunan Rp275 juta sampai Rp440 juta. Kupon tetap berjalan sehingga arus kas tidak hilang. Deposito tidak terdampak fluktuasi pasar sehingga tetap aman. Dampak total sekitar Rp975 juta sampai Rp1.14 miliar. Manajer investasi bisa melakukan rebalancing, memilih saham defensif, memperpendek durasi obligasi, menambah instrumen likuid seperti reksadana pasar uang, dan memperkuat strategi yang menyesuaikan aset dengan kewajiban.

4. Ketiga instrumen ini dicatat mengikuti PSAK yang berlaku. Saham dividen diklasifikasi sebagai aset keuangan FVOCI. Perubahan nilai wajar dicatat di OCI. Dividen diakui sebagai pendapatan ketika hak muncul. Obligasi pemerintah dicatat sebagai amortized cost karena biasanya ditahan sampai jatuh tempo. Kupon diakui dengan metode suku bunga efektif. Perubahan nilai wajar tidak diakui jika tidak diperdagangkan. Deposito dicatat sebagai aset keuangan dengan biaya diamortisasi. Bunga diakui secara periodik sesuai tenor. Di laporan keuangan dana pensiun, seluruh instrumen dilaporkan di neraca sesuai klasifikasinya, dan perubahan nilai atau pendapatan dicatat di laporan perubahan dana. Pengungkapan mencakup kebijakan investasi, risiko, dan rincian portofolio sesuai PSAK yang relevan.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Niabi Rahma Wati -

Nama: Niabi Rahma Wati

NPM: 2413031078

 

1.      Analisis instrument investasi

Dari ketiga pilihan, saham dividen menawarkan keuntungan potensial tertinggi yaitu rata-rata sebesar 11% per tahun dan mudah dijual kapan saja. Namun, harganya naik-turun sangat fluktuatif, sehingga memiliki risiko yang tinggi jika pasar sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Saham dividen cocok untuk mengejar pertumbuhan dana dalam jangka Panjang, tetapi kurang stabil untuk kebutuhan pensiun yang pasti.

Sementara itu, obligasi pemerintah memberikan keuntungan yang stabil dan hampir pasti sebesar 6,5% per tahun, dengan risiko sangat rendah karena dijamin negara. Kelemahan obligasi pemerintah terletak pada, ketika dijual sebelum jatuh tempo harganya bisa saja berubah, dan keuntungannya mungkin tidak sepenuhnya mengimbangi kenaikan harga (inflasi). Instrument investasi ini cocok sebagai sadar portofolio dana pensiun yang mengutamakan keamanan.

Deposito berjangka dianggap paling aman dengan keuntungan tetap yaitu sebesar 4,25% per tahun. Namun, keuntungannya yang relative rendah dan dananya tidak bisa ditarik sebelum jatuh tempo tanpa dikenai denda. Instrument ini cocok untuk menyimpan dana yang akan dipakai dalam waktu dekat untuk membayar manfaat pensiun, tetapi kurang baik untuk pertumbuhan jangka Panjang.

 

2.      Penentuan alokasi portofolio

Dengan dana Rp. 10 miliar dan profil risiko konservatif-moderat, alokasi yang seimbang adalah:

a.      60% (Rp. 6 miliar) dari dana tersebut di alokasikah ke Obligasi Pemerintah. Ini merupakan porsi terbesar karena memberikan pendapatan tetap dan stabil yang dapat di andalkan untuk membayar manfaat pensiun setiap tahun dengan risiko yang minim.

b.      30% (Rp. 3 miliar) di alokasikan ke Saham Dividen, dengan porsi ini dapat memberikan peluang pertumbuhan yang tinggi untuk melawan inflasi dalam 20 tahun ke depan. Saham perusahaan besar yang rutin bagi dividen dipilih untuk menambah arus kas dan relative lebih tahan banting.

c.      10% (Rp. 1 miliar) di alokasikan ke deposito berjangka, ini berfungsi sebagai dana cadangan likuid untuk memenuhi pembayaran manfaat tahun-tahun awal tanpa harus mengganggu investasi lain dengan keamanannya yang sangat terjamin.

Dengan alokasi ini menyeimbangkan antara keamanan melalui obligasi dan deposito dan potensi pertumbuhan melalui saham.

 

3.      Simulasi dampak krisis ekonomi (inflasi tinggi dan IHSG turun 20%)

a.      Dampak: dalam krisis tingginya inflasi dan pasar saham turun 20%, portfolio akan berdampak: nilai saham akan turun secara signifikan. nilai obligasi di pasar juga bisa turun sementara jika suku bunga naik, tetapi jika ditahan hingga jatuh tempo akan kembali pulih. Deposito nilainya aman, namun daya belinya tergerus oleh inflasi. Intinya, portofolio akan mengalami penurunan nilai sementara, terutama dari sisi saham.

 

b.      Langkah mitigasi, dalam menghadapi masalah krisis ekonomi ini manajer investasi dapat melakukan beberapa hal, yaitu:

 

1)      Tetap tenang dan tidak panik menjual aset ketika harganya jatuh.

2)      Melakukan rebalancing, yaitu membeli banyak saham berkualitas saat harganya mudah dengan dana dari obligasi atau deposito, untuk menjaga proporsi alokasi awal.

3)      Memastikan arus kas dari dividen dan kupon obligasi tetap terkumpul untuk pembayaran manfaat.

4)      Mengalihkan sebagian obligasi ke tenor yang lebih pendek agar kurang terpengaruh gejolak suku bunga.

5)      Berkomunikasi jujur kepada anggota dana pensiun bahwa strategi ini berjangka panjang dan fluktuasi jangka pendek adalah hal yang wajar.

 

4.      Aspek akuntansi dan pelaporan

Dalam laporan keuangan dana pensiun, saham akan dicatat sebesar harga pasarnya (nilai wajar) setiap akhir periode. Kenaikan atau penurunan harganya dilaporkan dalam laporan ekuitas bukan laporan laba rugi, sedangkan dividen yang diterima akan dicatat sebagai pendapatan.

Obligasi pemerintah umumnya dicatat sebesar harga beli yang disesuaikan dengan biaya amortisasi atau penyusutan. Cara ini membuat nilainya di laporan keuangan stabil dan tidak terpengaruh fluktuasi harian pasar. Bunga yang diterima dicatat sebagai pendapatan rutin. Sementara itu, deposito dicatat sebesar jumlah uang yang didepositokan. Bunganya diakui sebagai pendapatan secara bertahap hingga jatuh tempo.

Prinsip akuntansi ini mengacu pada PSAK 71, yang membantu menyajikan kondisi portofolio dengan nilai wajar. Saham ditunjukkan nilainya yang aktual di pasar, sementara obligasi dan deposito dicatat dengan cara yang lebih stabil.

 


In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Nadiya Adila -
Nama : Nadiya Adila
Npm : 2413031079
Kelas : 24 C

1. Analisis Instrumen Investasi

a. Saham Dividen
menawarkan potensi return tertinggi untuk mengalahkan inflasi, dengan likuiditas tinggi yang memudahkan penyesuaian portofolio. Namun, fluktuasi harga saham dapat mengancam stabilitas dana pensiun, terutama saat resesi ekonomi.

b. Obligasi Pemerintah
memberikan kestabilan melalui kupon bulanan tetap dan jaminan negara, ideal untuk matching durasi liabilitas 20 tahun meski tenor tipikal 3-10 tahun bisa dirolling. Kelemahannya adalah return lebih rendah dan potensi capital loss jika dijual prematur saat suku bunga naik.

c. Deposito Berjangka
paling aman dengan risiko minimal, cocok untuk porsi konservatif dana. Kelemahan utamanya adalah return rendah yang berisiko kalah dari inflasi serta likuiditas buruk, membatasi fleksibilitas untuk pembayaran pensiun rutin.

2. Penentuan Alokasi Portofolio

a. Saham Dividen : 20% atau Rp2 miliar
Target return 11% dari sektor konsumer dan perbankan, dengan dividen rutin 1-2 kali setahun untuk potensi pertumbuhan moderat tanpa dominasi fluktuasi pasar.

b. Obligasi Pemerintah : 50% atau Rp5 miliar
Menyediakan kupon tetap 6.5% per tahun dengan risiko sangat rendah karena jaminan pemerintah, cocok untuk stabilitas jangka panjang dana pensiun.

c. Deposito Berjangka : 30% atau Rp3 miliar
Memberikan bunga 4.25% net pajak dengan risiko minimal dan tenor fleksibel, mendukung likuiditas terbatas tapi aman untuk pembayaran rutin pensiun.

3. Simulasi Dampak Ekonomi

a. Dampak Portofolio
Saham dividen: Nilai pasar turun ≥20%, dividen kas berpotensi dipangkas akibat laba emiten menurun.

Obligasi pemerintah: Kupon 6,5% tetap, tapi nilai pasar turun jika suku bunga naik; aman jika ditahan hingga jatuh tempo.

Deposito: Pokok aman, bunga 4,25% stabil tapi kalah inflasi; penalti jika dicairkan dini.​

b. Langkah Mitigasi
Asset-liability matching: Alokasikan obligasi/deposito untuk kebutuhan kas 5–10 tahun pertama.

Diversifikasi: Kurangi saham siklikal, tambah obligasi laddering dan saham defensif.

Manajemen risiko: Rebalancing, buffer kas 3–6 bulan, stress testing berkala.

4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan
Instrumen investasi dana pensiun dicatat berdasarkan PSAK 18 (Akuntansi Dana Pensiun) dan PSAK 71 (Instrumen Keuangan), disajikan sebagai aset program pada nilai wajar di laporan posisi keuangan.​

a. Saham Dividen
Dicatat pada nilai wajar (FVPL); dividen dan keuntungan/kerugian wajar diakui sebagai pendapatan investasi di laporan perubahan aset neto.​

b. Obligasi Pemerintah
Diukur nilai wajar; kupon sebagai pendapatan bunga, selisih wajar sebagai gain/loss investasi.​

c. Deposito Berjangka
Dicatat biaya amortisasi atau nilai wajar; bunga diakui secara akrual sebagai pendapatan investasi.​

Penyajian Umum
Dalam laporan perubahan aset neto, seluruh pendapatan dari dividen saham, kupon/bunga obligasi dan deposito, serta keuntungan/kerugian nilai wajar digabung sebagai “pendapatan investasi”, lalu dikurangi beban dan pembayaran manfaat pensiun untuk menghasilkan kenaikan atau penurunan aset neto yang tersedia bagi peserta.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Erlita Pakpahan -
Nama : Erlita pakpahan
Npm : 2413031077
Kelas : c

1) .Analisis Instrumen Investasi:
- Saham Dividen: Return tinggi (±11%), risiko besar karena fluktuasi pasar, likuiditas tinggi. Cocok untuk pertumbuhan jangka panjang tetapi harus dibatasi karena volatilitas.
- Obligasi Pemerintah: Return menengah (6.5%), risiko sangat rendah, likuiditas sedang. Cocok sebagai instrumen utama untuk stabilitas dan arus kas tetap.
- Deposito: Return rendah (4.25%), risiko minimal, likuiditas rendah. Cocok untuk dana cadangan jangka pendek.

2). Alokasi Portofolio (Konservatif–Moderat)
- 55% Obligasi (Rp5.5 miliar): Stabil, aman, kupon tetap untuk pembayaran pensiun.
- 20% Deposito (Rp2 miliar): Cadangan likuid untuk kebutuhan mendadak.
- 25% Saham Dividen (Rp2.5 miliar): Pertumbuhan nilai jangka panjang, tetapi porsi dijaga agar volatilitas rendah.
Alokasi ini menyeimbangkan keamanan dan pertumbuhan sesuai karakter dana pensiun.

3). Dampak Krisis Ekonomi
a) Dampak ke Portofolio
-Saham bisa turun ±20%.
-Obligasi turun 5–8% jika suku bunga naik.
-Deposito tetap stabil.Total portofolio diperkirakan turun sekitar 8–9%.
b) . Mitigasi Risiko
-Diversifikasi dan rebalancing rutin.
-Memilih obligasi durasi pendek-menengah.
-Menjaga dana likuid (deposito).
-Melakukan stress test.
-Hanya bila perlu: hedging sederhana.


4) . Aspek Akuntansi (PSAK)
-Saham Dividen: Dicatat sebagai FVOCI; nilai wajar masuk OCI; dividen diakui sebagai pendapatan.
-Obligasi: Bisa FVOCI atau biaya diamortisasi; bunga diakui secara suku bunga efektif.
-Deposito: Dicatat pada biaya perolehan diamortisasi; bunga diakui secara akrual.
Instrumen dicatat sebagai aset keuangan sesuai PSAK 71 dan disajikan di laporan keuangan dana pensiun.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Nuraini Naibaho 2413031076 -

Nama : Nuraini Naibaho

Npm   : 2413031076

Kelas  : 24 C

1. Analisis Instrumen

Saham dividen ngasih potensi untung paling besar (sekitar 11% per tahun), tapi risikonya juga paling tinggi karena gampang terpengaruh kondisi pasar. Likuiditasnya bagus, jadi cocok buat nambah pertumbuhan dana, cuma porsinya tetap harus dibatasi. Obligasi pemerintah jauh lebih stabil. Kupon 6,5%-nya tetap dan risikonya rendah karena dijamin negara. Ini instrumen yang paling pas untuk dana pensiun yang butuh kestabilan jangka panjang. Deposito itu yang paling aman, tapi imbal hasilnya paling kecil. Biasanya dipakai buat simpanan jangka pendek atau dana cadangan karena kalau dicairkan sebelum waktunya ada penalti.

2. Alokasi Portofolio

Dengan karakter dana pensiun yang cenderung hati-hati, komposisi yang bisa dipakai misalnya: 55% obligasi, 30% saham, 15% deposito. Obligasi jadi pegangan utama karena stabil, saham tetap dipakai untuk pertumbuhan, dan deposito jadi cadangan kalau sewaktu-waktu butuh dana cepat.

3. Dampak Krisis Ekonomi

Kalau pasar saham jatuh 20%, bagian portofolio yang ada di saham bakal kena paling besar. Obligasi mungkin ikut turun sedikit kalau suku bunga naik. Deposito tetap aman tapi nilainya kalah dari inflasi. Untuk ngurangin dampaknya, manajer investasi bisa rebalancing, mengalihkan sebagian portofolio ke aset yang lebih tahan inflasi, atau memperkuat cadangan likuiditas.

4. Akuntansi dalam Pelaporan

Saham dicatat berdasarkan nilai wajarnya, perubahan harganya masuk ke penghasilan komprehensif lain, dan dividennya masuk laba rugi.
Obligasi bisa dicatat berdasarkan biaya perolehan diamortisasi atau FVOCI, tergantung niat pengelolaan.
Deposito dicatat dengan metode biaya diamortisasi karena transaksinya sederhana: nilai pokok plus bunga.

In reply to First post

Re: CASE STUDY

by zara nur rohimah -
Nama : Zara Nur Rohimah
Npm: 2413031070
Kelas : 2024C

1. - Saham Dividen menawarkan rata-rata return sekitar 11% per tahun, yang merupakan return tertinggi dibanding instrumen lainnya. Namun risikonya juga paling tinggi karena harga saham sangat dipengaruhi kondisi pasar, ekonomi makro, dan sentimen investor. Keunggulannya adalah likuiditas yang sangat tinggi sehingga mudah diperjualbelikan, dan perusahaan konsumer serta perbankan cenderung membagikan dividen rutin. Kelemahannya adalah volatilitas yang besar, sehingga nilainya dapat turun tajam dalam masa krisis. Untuk dana pensiun, saham cocok sebagai pendorong pertumbuhan jangka panjang, tetapi tidak boleh menjadi instrumen utama.

- Obligasi Pemerintah (ORI/SBN) memberikan kupon tetap sekitar 6,5% per tahun. Instrumen ini memiliki risiko sangat rendah karena dijamin pemerintah dan memberikan arus kas stabil. Likuiditasnya cukup baik, meskipun harga dapat naik atau turun mengikuti perubahan suku bunga pasar. Instrumen ini sangat cocok untuk dana pensiun karena stabil, aman, dan memberikan cash flow jangka panjang. Kelemahannya adalah potensi kerugian nilai pasar jika suku bunga naik, dan return tidak setinggi saham.

- Deposito Berjangka memberikan bunga sekitar 4,25% per tahun setelah pajak. Risiko sangat kecil karena dijamin oleh lembaga penjamin simpanan hingga batas tertentu. Likuiditasnya rendah karena ada penalti jika dicairkan sebelum jatuh tempo, sehingga kurang fleksibel. Instrumen ini cocok digunakan sebagai dana cadangan atau penyangga likuiditas, tetapi return-nya paling rendah sehingga tidak cocok menjadi bagian utama portofolio.

2. Karena dana pensiun memiliki profil risiko konservatif–moderat, tujuannya adalah menjaga stabilitas sambil tetap mendapatkan pertumbuhan nilai jangka panjang. Oleh karena itu, alokasi portofolio perlu menyeimbangkan instrumen aman dan instrumen bertumbuh.

Alokasi yang direkomendasikan:

- Obligasi Pemerintah (55% atau Rp5,5 miliar)
Instrumen ini diprioritaskan karena paling aman, memberikan kupon tetap, dan cocok untuk kebutuhan pembayaran manfaat dalam jangka 20 tahun. Arus kas dari kupon sangat membantu pendanaan jangka panjang.

- Saham Dividen (30% atau Rp3 miliar)
Proporsi ini cukup untuk memberikan potensi pertumbuhan yang mampu mengimbangi inflasi tanpa membuat portofolio terlalu berisiko. Saham dividen biasanya lebih stabil dibanding saham non-dividen.

- Deposito Berjangka (15% atau Rp1,5 miliar)
Digunakan sebagai cadangan likuiditas untuk kebutuhan manfaat pensiun jangka pendek sehingga tidak perlu menjual saham atau obligasi pada kondisi pasar yang buruk.

3. a. Dampak terhadap portofolio

Jika terjadi krisis ekonomi, misalnya inflasi tinggi dan IHSG turun 20%, maka nilai saham dividen dalam portofolio akan turun cukup signifikan. Dengan porsi 30%, penurunan 20% menghasilkan kerugian sekitar Rp600 juta dari aset saham.

Obligasi pemerintah juga akan terpengaruh jika suku bunga naik. Ketika suku bunga naik, harga obligasi turun. Penurunan nilai pasar obligasi bisa berkisar 3–7% tergantung durasinya. Dengan asumsi penurunan 5%, nilai portofolio obligasi dapat berkurang sekitar Rp275 juta.

Deposito tidak akan terkena dampak langsung dari krisis, sehingga bagian ini tetap aman dan memberikan bunga.

Secara keseluruhan, portofolio dapat mengalami penurunan nilai sekitar Rp875 juta atau sekitar 8–9% dari total dana.

b. Langkah mitigasi risiko

Beberapa strategi mitigasi yang dapat dilakukan manajer investasi antara lain:

1). Melakukan rebalancing ketika saham turun agar alokasi kembali pada proporsi yang direncanakan, sekaligus memanfaatkan harga saham yang lebih murah.
2). Menambah porsi instrumen aman, seperti obligasi atau deposito, hingga kondisi pasar stabil kembali.
3). Diversifikasi lebih luas, misalnya menambah saham sektor defensif seperti telekomunikasi atau kesehatan.
4). Mengatur cash flow sehingga pembayaran manfaat pensiun dapat dipenuhi dari kupon obligasi dan bunga deposito, sehingga tidak perlu menjual saham di saat pasar jatuh.
5). Memperpendek durasi obligasi pada kondisi kenaikan bunga untuk mengurangi risiko penurunan harga.

4. Menurut PSAK 71 dan standar terkait instrumen keuangan:

- Saham Dividen dicatat sebesar nilai wajar saat perolehan. Untuk dana pensiun yang berorientasi jangka panjang, saham biasanya diklasifikasikan sebagai “nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain” (FVOCI). Perubahan nilai wajar dicatat pada komponen ekuitas (OCI), bukan laba rugi. Dividen yang diterima diakui sebagai pendapatan pada laporan laba rugi.

- Obligasi Pemerintah dapat diakui sebagai aset keuangan pada biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) jika dimaksudkan untuk ditahan hingga jatuh tempo. Jika obligasi bisa dijual sebelum jatuh tempo, maka diklasifikasikan sebagai FVOCI. Pendapatan kupon diakui sebagai pendapatan bunga menggunakan metode suku bunga efektif. Jika FVOCI, perubahan nilai wajar dicatat pada OCI.

- Deposito Berjangka dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. Pendapatan bunga diakui secara akrual menggunakan suku bunga efektif. Tidak ada penyesuaian nilai wajar karena deposito ditahan hingga jatuh tempo.

Dalam pelaporan, dana pensiun harus mengungkapkan komposisi portofolio, risiko pasar, risiko kredit, metode pengukuran nilai wajar, dan kebijakan manajemen risiko berdasarkan PSAK 1 dan PSAK 24.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Della Puspita -
Nama :Della Puspita
NPM :2453031007

1. Analisis Instrumen Investasi
Analisis instrumen investasi mencakup tiga aspek utama: pengembalian (return), risiko, likuiditas, serta kesesuaian dengan tujuan dana pensiun, keunggulan, dan kekurangan.

Saham Dividen
Menawarkan rata-rata return 11%, tertinggi di antara instrumen lain. Risiko fluktuatif tergantung pasar; likuiditas tinggi karena mudah diperdagangkan di bursa. Cocok untuk pertumbuhan modal jangka panjang. Keunggulan: return maksimal, pertumbuhan modal, dan dividen rutin. Kekurangan: volatilitas tinggi, penurunan harga signifikan, serta butuh analisis mendalam.

Obligasi Pemerintah
Return rata-rata 6,5% via kupon tetap. Risiko sangat rendah (dijamin pemerintah); likuiditas sedang dengan risiko harga. Sesuai untuk pendapatan rutin dan keamanan modal. Keunggulan: keamanan tinggi, kupon stabil, cocok jaminan manfaat. Kekurangan: return lebih rendah dari saham.

Deposito Berjangka
Return terendah (4,25%). Risiko sangat rendah (hampir nol gagal bayar); likuiditas rendah. Cocok sebagai cadangan kas jangka pendek. Keunggulan: aman, dapat diprediksi, fungsi dana darurat. Kekurangan: return rendah, rentan inflasi, likuiditas terbatas oleh tenor.

2. Penentuan Alokasi Portofolio
Untuk dana pensiun konservatif moderat yang prioritas stabilitas dan keamanan, alokasikan Rp 10 miliar ke instrumen berisiko rendah dengan pendapatan rutin: 50% (Rp 5 miliar) obligasi pemerintah untuk keamanan dasar dan kupon stabil 6,5%; 35% (Rp 3,5 miliar) saham dividen untuk pertumbuhan jangka panjang dan return 11% melawan inflasi (fokus saham stabil seperti konsumer/perbankan); 15% (Rp 1,5 miliar) deposito berjangka untuk likuiditas dan cadangan aman.

3. Simulasi Dampak Ekonomi
a. Dampak Inflasi Tinggi dan IHSG Turun 20%**:
•Saham Dividen (35%)
Harga turun signifikan (Rp 700 juta), dividen mungkin berkurang akibat laba menurun, menyebabkan penurunan terbesar di portofolio.
•Obligasi Pemerintah (50%) Kupon 6,5% aman; inflasi naikkan suku bunga, tekan harga obligasi, tapi modal pokok aman jika dipegang hingga jatuh tempo.
•Deposito Berjangka (15%) Bunga dan pokok stabil, tidak terpengaruh pasar, menjaga nilai portofolio tetap.

b. Langkah Mitigasi Risiko
- Rebalancing defensif: Alihkan kas untuk beli saham berkualitas diskon tanpa jual saham murah.
- Hold to maturity obligasi: Pegang hingga jatuh tempo untuk hindari risiko harga dan jamin modal.
- Analisis kewajiban: Cocokkan jatuh tempo obligasi dengan jadwal pembayaran manfaat jangka panjang untuk ketersediaan dana.

4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan
Berdasarkan PSAK 71:
•Saham Dividen
Aset keuangan diukur nilai wajar (FVOCI atau FVTPL). Dividen sebagai pendapatan investasi; perubahan nilai wajar ke laba rugi atau penghasilan komprehensif lain.
•Obligasi Pemerintah
Aset keuangan diukur biaya perolehan diamortisasi (metode suku bunga efektif). Kupon sebagai pendapatan akrual; premi/diskon diamortisasi ke laba rugi.
•Deposito Berjangka
Aset keuangan diukur biaya perolehan diamortisasi. Dicatat nilai pokok plus bunga akrual sebagai pendapatan.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Muhammad Fawwaz -
nama = muhammad khalil fawwaz
npm = 2413031085

1. Analisis Instrumen Investasi
Ketiga instrumen investasi tersebut menawarkan profil return, risiko, dan likuiditas yang berbeda, yang harus disesuaikan dengan tujuan jangka panjang Dana Pensiun (DP). Obligasi Pemerintah adalah instrumen dengan risiko terendah dan return sedang (6.5%), menawarkan pendapatan kupon tetap yang sangat sesuai untuk mencocokkan kewajiban pembayaran manfaat pensiun yang pasti di masa depan (prinsip Liability-Driven Investment). Keunggulannya adalah keamanan modal tinggi; kelemahannya adalah returnnya mungkin tergerus oleh inflasi tinggi. Deposito Berjangka juga memiliki risiko sangat rendah dan likuiditas rendah akibat penalti pencairan, dengan return paling rendah (4.25%); ini ideal hanya untuk buffer kas jangka pendek atau dana darurat karena returnnya yang paling lemah dalam melawan inflasi. Sebaliknya, Saham Dividen menawarkan return tertinggi (11%) dan likuiditas tinggi, serta berfungsi sebagai lindung nilai alami terhadap inflasi jangka panjang. Namun, kelemahan utamanya adalah volatilitas dan risiko kerugian modal yang tinggi dalam jangka pendek akibat fluktuasi pasar, menjadikannya kurang cocok untuk porsi dana yang bersifat wajib aman.

2. Penentuan Alokasi Portofolio
Mengingat profil risiko DPDN adalah konservatif-moderat—di mana stabilitas dan keamanan dana adalah prioritas karena menyangkut masa depan pensiunan—strategi alokasi harus menyeimbangkan kebutuhan keamanan dengan pertumbuhan jangka panjang untuk mengalahkan inflasi selama 20 tahun. Oleh karena itu, portofolio harus didominasi oleh aset pendapatan tetap. Alokasi yang diusulkan adalah: 50% Obligasi Pemerintah (Rp5 Miliar), 35% Saham Dividen (Rp3.5 Miliar), dan 15% Deposito Berjangka (Rp1.5 Miliar). Porsi terbesar di Obligasi (50%) memastikan keamanan modal dan menjamin cash flow kupon yang stabil untuk memenuhi liabilitas wajib DPDN. Porsi Saham Dividen (35%) dialokasikan untuk mencari pertumbuhan nilai modal dan dividen secara berkala, yang esensial untuk menjaga daya beli dana pokok dalam jangka panjang. Sementara itu, Deposito (15%) berfungsi sebagai dana buffer likuiditas yang siap digunakan untuk pembayaran manfaat pensiun rutin tanpa perlu menjual Obligasi atau Saham dalam kondisi pasar yang tidak menguntungkan.

3. Simulasi Dampak Ekonomi
a. Dampak terhadap Portofolio
Dalam skenario krisis ekonomi yang ditandai dengan inflasi tinggi dan penurunan IHSG sebesar 20%, portofolio DPDN akan mengalami dampak negatif yang signifikan, namun terkendali. Porsi Saham Dividen (35%) akan mengalami kerugian nilai yang belum terealisasi (nilai Rp3.5 Miliar turun menjadi Rp2.8 Miliar), yang menjadi beban terbesar bagi kinerja portofolio jangka pendek. Sementara itu, porsi Obligasi (50%) mungkin mengalami penurunan harga pasar karena kenaikan suku bunga (sebagai respons atas inflasi), tetapi pendapatan kupon (6.5%) tetap dijamin dan stabil, melindungi cash flow operasional. Dampak terburuk akan dirasakan Deposito (15%), di mana meskipun nilai pokok stabil, pengembalian riil menjadi negatif karena tingkat bunga 4.25% tidak mampu menutupi laju inflasi yang tinggi, menggerus daya beli dana.

b. Langkah Mitigasi Risiko
Langkah mitigasi yang dapat diambil manajer investasi DPDN adalah menerapkan prinsip hold to maturity dan rebalancing disiplin. Untuk Saham, manajer harus menahan kepemilikan (kecuali fundamental perusahaan memburuk drastis) dan memanfaatkan penurunan harga 20% sebagai kesempatan untuk akumulasi pembelian secara bertahap (dollar-cost averaging), karena saham merupakan investasi jangka panjang. Untuk Obligasi, DPDN harus mempertahankan obligasi hingga jatuh tempo agar nilai pokok kembali utuh dan kupon tetap diterima. Jika perlu melakukan investasi baru, manajer harus memilih obligasi dengan durasi yang lebih pendek untuk mengurangi sensitivitas terhadap kenaikan suku bunga di tengah inflasi. Selain itu, porsi Deposito harus dipertahankan sebagai cash buffer agar DPDN tidak terpaksa menjual aset lain saat harga sedang jatuh untuk memenuhi kewajiban pensiun.

4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan (PSAK yang Relevan)
Pelaporan aset investasi Dana Pensiun di Indonesia diatur terutama oleh PSAK 18: Akuntansi dan Pelaporan Program Manfaat Pensiun, dengan perlakuan aset berdasarkan PSAK 71: Instrumen Keuangan.

Saham Dividen: Karena dibeli untuk pertumbuhan jangka panjang, saham ini kemungkinan diklasifikasikan sebagai Instrumen Keuangan yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Penghasilan Komprehensif Lain (FVOCI). Awalnya diakui sebesar biaya perolehan, kemudian diukur kembali pada nilai wajar setiap periode pelaporan. Laba/Rugi yang timbul dari perubahan nilai wajar dicatat pada Penghasilan Komprehensif Lain (OCI) di Neraca Dana Pensiun (sebagai komponen ekuitas) dan tidak langsung memengaruhi laba/surplus operasional DPDN. Pendapatan dividen dicatat sebagai pendapatan pada Laporan Surplus atau Defisit.

Obligasi Pemerintah: Instrumen ini dibeli dengan tujuan utama untuk memperoleh cash flow kontraktual hingga jatuh tempo, sehingga diklasifikasikan sebagai Instrumen Keuangan yang Diukur pada Biaya Diamortisasi (AC). Obligasi diukur berdasarkan biaya perolehan ditambah/dikurangi amortisasi diskonto/premium. Pendapatan kupon 6.5% dicatat sebagai Pendapatan Bunga Obligasi dalam Laporan Surplus atau Defisit DPDN.

Deposito Berjangka: Sama seperti obligasi, deposito dipegang hingga jatuh tempo untuk mengelola kas, sehingga juga diklasifikasikan sebagai Instrumen Keuangan yang Diukur pada Biaya Diamortisasi (AC). Nilai pokoknya tidak berfluktuasi, dan pendapatan bunga 4.25% dicatat sebagai Pendapatan Bunga Deposito dalam Laporan Surplus atau Defisit.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Dwi Nurshovi Diana Sari -
Nama : Dwi Nurshovi Diana Sari
NPM : 2413031072


1. Analisis Instrumen Investasi
Ketiga instrumen tersebut memiliki fungsi yang berbeda: Saham Dividen memberikan imbal hasil tertinggi (11%) serta memiliki likuiditas tinggi, namun juga memiliki risiko fluktuasi yang paling besar, sehingga lebih cocok untuk pertumbuhan jangka panjang meskipun harus dibatasi. Obligasi Pemerintah menawarkan pengembalian yang moderat (6,5%) dengan risiko yang sangat rendah karena adanya jaminan dari pemerintah serta likuiditas yang sedang; instrumen ini merupakan pilihan terbaik untuk dana pensiun karena dapat memberikan pendapatan tetap yang aman dan terprediksi, sangat cocok untuk mencocokkan kewajiban yang akan datang. Sementara itu, Deposito Berjangka memiliki imbal hasil terendah (4,25% net) dengan likuiditas rendah, tetapi juga memiliki risiko terendah, menjadikannya pilihan ideal untuk memelihara likuiditas dan sebagai dana cadangan yang sangat aman.

2. Penentuan Alokasi Portofolio
Dengan berdasarkan pada profil konservatif-moderat serta fokus pada keamanan, alokasi investasi yang disarankan sebesar Rp10 miliar adalah 55% untuk Obligasi Pemerintah (Rp5,5 M) sebagai porsi mayoritas karena memberikan keamanan dan pendapatan tetap yang stabil; 30% untuk Saham Dividen (Rp3,0 M) untuk mengoptimalkan pertumbuhan modal dan mengatasi inflasi, meskipun porsi ini harus dibatasi untuk mengurangi risiko; dan 15% untuk Deposito Berjangka (Rp1,5 M) guna menjaga likuiditas serta menyediakan dana cadangan. Dengan alokasi ini, diharapkan imbal hasil yang diperoleh sekitar 7,51% dengan risiko yang terjaga.

3. Simulasi Dampak Ekonomi
a. Dampaknya terhadap Portofolio
Dalam situasi krisis di mana inflasi tinggi dan IHSG turun 20%, portofolio akan mendapatkan tekanan. Bagian saham (30%) akan mengalami dampak negatif yang besar berupa kerugian modal langsung. Sementara porsi obligasi (55%) akan mengalami penurunan nilai di pasar sekunder akibat kenaikan suku bunga untuk mengendalikan inflasi, meskipun pembayaran kuponnya akan tetap aman. Di sisi lain, nilai nominal deposito (15%) akan terjaga, tetapi pengembalian riilnya akan sangat tergerus oleh inflasi yang tinggi.

b. Langkah Mitigasi Risiko
Manajer investasi dapat mengambil langkah mitigasi melalui rebalancing strategis, seperti membeli saham yang harga lebih rendah saat pasar mengalami penurunan, agar dapat mengunci potensi keuntungan modal saat pemulihan. Selain itu, obligasi sebaiknya tetap dipertahankan hingga jatuh tempo (Hold to Maturity) untuk memastikan penerimaan kupon dan pengembalian modal secara penuh, tanpa memperhatikan fluktuasi harga pasar dalam jangka pendek. Penting juga untuk melakukan diversifikasi dalam porsi saham ke sektor yang defensif dan menjaga porsi Deposito tetap likuid untuk memastikan ketersediaan dana pembayaran pensiun.

4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan
Sesuai dengan PSAK 18, ketiga instrumen investasi harus dicatat dan dilaporkan berdasarkan Nilai Wajar dalam Laporan Aset Neto Dana Pensiun. Saham Dividen dan Obligasi Pemerintah akan dievaluasi berdasarkan harga pasar, dan perubahan nilainya diakui sebagai Keuntungan atau Kerugian yang Belum Direalisasi dalam Laporan Perubahan Aset Neto. Pendapatan yang diterima (Dividen, Kupon, Bunga Deposito) diakui secara akrual sebagai Pendapatan Investasi, yang mencerminkan performa riil dari aset dana pensiun tersebut.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Esa Azalia Zahra -
Nama : Esa Azalia Zahra
NPM : 2413031084
Kelas : 2024 C

1. Analisis instrumen Investasi
Untuk memenuhi target tersebut, Manajer Investasi DPDN mengevaluasi tiga jenis instrumen utama, masing-masing dengan kelebihan dan kekurangan:

1) Saham Dividen (Sektor Konsumer dan Perbankan). Saham ini memberikan potensi pengembalian tertinggi (11%), menjadikannya instrumen penting untuk meningkatkan modal dan melawan inflasi selama 20 tahun. Selain itu, memiliki likuiditas yang baik dan menghasilkan arus kas secara rutin melalui dividen. Namun, kelemahannya adalah risikonya yang tinggi dan tidak stabil; nilainya sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar dan ekonomi, yang dapat menyebabkan kerugian besar dalam jangka pendek.

2) Obligasi Pemerintah (ORI dan SBN). Instrumen ini menjadi dasar stabilitas portofolio karena memiliki risiko yang sangat rendah (dijamin oleh negara). Obligasi menawarkan kupon tetap sebesar 6. 5% per tahun, yang sangat penting untuk memastikan arus kas yang stabil dan dapat diprediksi untuk pembayaran manfaat pensiun. Walaupun likuiditasnya sedang, stabilitas dan jaminan pendapatan membuatnya paling cocok untuk tujuan keamanan dana pensiun. Kelemahannya adalah pengembaliannya lebih rendah dibandingkan saham.

3) Deposito Berjangka. Deposito memberikan risiko paling rendah dan hasil yang paling dapat diprediksi. Namun, pengembaliannya adalah yang terendah (4. 25% net), sehingga kurang efektif untuk pertumbuhan jangka panjang. Deposito juga memiliki likuiditas rendah karena dikenakan penalti jika dicairkan sebelum jatuh tempo. Instrumen ini lebih pas sebagai tempat penyimpanan likuiditas jangka pendek dibandingkan sebagai instrumen investasi utama dalam periode 20 tahun.

2. Berdasarkan profil risiko Dana Pensiun yang memprioritaskan keamanan modal sambil tetap mencari pertumbuhan (Moderat-Konservatif). Alasan Alokasi: Porsi terbesar (55%) dialokasikan ke Obligasi Pemerintah untuk melindungi pokok modal dan memastikan pendapatan rutin melalui kupon 6. 5%. Alokasi 35% pada Saham Dividen berfungsi sebagai pendorong pertumbuhan untuk melawan inflasi dan meningkatkan total return portofolio. Sementara itu, 10% dialokasikan untuk Deposito Berjangka sebagai cadangan likuiditas yang siap diakses tanpa risiko fluktuasi harga pasar. Gabungan ini menyeimbangkan antara keamanan modal dan kebutuhan pertumbuhan jangka panjang.

3. Simulasi Dampak Ekonomi (Krisis)
a. Dampaknya terhadap Portofolio
Dalam situasi krisis ekonomi (inflasi tinggi dan penurunan IHSG sebesar 20%):
1) Saham Dividen (35%): Segmen ini kemungkinan besar akan mengalami penurunan nilai pasar yang signifikan, sekitar 20% (sekitar Rp700 Juta). Namun, karena saham yang dipilih adalah saham dividen defensif, potensi arus kas dari dividen mungkin tetap ada, yang dapat mengurangi total kerugian.

2) Obligasi Pemerintah (55%): Nilai pokok dan kupon sudah dijamin oleh negara, jadi pendapatan kupon tetap aman. Jika suku bunga naik karena inflasi, nilai pasar obligasi yang sudah ada mungkin turun, tetapi karena DPDN mengambil strategi beli dan tahan (buy and hold) hingga jatuh tempo, kerugian nilai pasar ini dapat diabaikan.

3) Deposito Berjangka (10%): Bagian ini tidak terpengaruh oleh fluktuasi pasar saham atau obligasi. Nilai dan bunganya tetap terjamin dengan aman. Secara keseluruhan, sebagian besar portofolio (65% dalam Obligasi dan Deposito) akan secara signifikan mengurangi kerugian dari saham, sehingga dana pensiun tetap berstabilitas.

b. Manajer investasi dapat mengambil langkah-langkah mitigasi meliputi:
1) Prioritas Arus Kas. Memusatkan perhatian pada penerimaan kupon dari obligasi dan dividen, serta menghindari penjualan saham atau obligasi ketika harga mengalami penurunan untuk mencegah kerugian nyata.

2) Rebalancing Kontrarian. Memanfaatkan dana likuid dari Deposito atau Kupon Obligasi untuk menambah saham berkualitas saat harganya turun, sehingga bisa memaksimalkan keuntungan ketika ekonomi mulai pulih.

3) Peninjauan Durasi Obligasi. Dalam situasi suku bunga yang tinggi, penting untuk memastikan obligasi yang dibeli memiliki durasi yang tepat untuk mengurangi dampak dari kenaikan suku bunga di masa mendatang.

4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan (PSAK 71)
Pencatatan investasi pada laporan keuangan Dana Pensiun mengikuti PSAK 71: Instrumen Keuangan, berdasarkan kerangka kerja PSAK 18: Akuntansi dan Pelaporan Program Manfaat Pensiun.

1) Obligasi Pemerintah. Obligasi umumnya ditempatkan sebagai Aset Keuangan yang diukur menggunakan Biaya Perolehan Diamortisasi (Amortized Cost - AC). Hal ini disebabkan oleh tujuan DPDN yang ingin menahan obligasi sampai jatuh tempo guna menerima arus kas kontraktual (kupon dan pokok). Obligasi dicatat pada nilai biaya perolehan diamortisasi, dan pendapatan dari kupon diakui sebagai pendapatan investasi. Perubahan nilai pasar (yang belum direalisasi) tidak dicatat dalam laporan laba rugi.

2) Saham Dividen. Saham Dividen, yang dibeli untuk mendapatkan capital gain dan arus kas dari dividen, umumnya dikategorikan sebagai Aset Keuangan yang diukur pada Nilai Wajar melalui Laba Rugi (Fair Value through Profit or Loss - FVTPL). Investasi ini harus dinilai berdasarkan nilai wajar (harga pasar) pada setiap periode pelaporan. Perubahan nilai wajar (keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi) serta dividen yang diterima diakui segera dalam Laporan Surplus/Defisit (Laba Rugi) Dana Pensiun.

3) Deposito Berjangka. Deposito, yang direncanakan untuk disimpan sampai jatuh tempo, juga dikategorikan sebagai Aset Keuangan yang diukur berdasarkan Biaya Perolehan Diamortisasi (Amortized Cost - AC). Deposito dicatat sesuai dengan nilai pokoknya. Bunga yang diterima (setelah dikurangi pajak) diakui sebagai pendapatan investasi. Jumlah ini dicatat sebagai bagian dari Kas dan Setara Kas atau Deposito Berjangka dalam Laporan Posisi Keuangan.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Alfiantika Putri -
Nama : Alfiantika Putri
Npm : 2413031095

Jawaban Pertanyaan Kasus :

1. Saham dividen memberikan return paling tinggi dan cocok untuk pertumbuhan dana jangka panjang, namun resikonya juga paling besar karena nilainya sangat dipengaruhi kondisi pasar. Instrumen ini tidak stabil jika dijadikan investasi utama dana pensiun, tetapi tetap penting sebagai pendorong peningkatan nilai dana.

Obligasi pemerintah memiliki risiko sangat rendah karena dijamin negara dan memberikan kupon tetap yang stabil. Instrumen ini paling sesuai dengan tujuan dana pensiun karena mampu menjaga keamanan dana sekaligus menyediakan arus kas yang pasti untuk pembayaran manfaat pensiun.

Deposito berjangka merupakan instrumen paling aman dengan bunga tetap, namun tingkat returnnya paling rendah dan likuiditasnya terbatas. Deposito lebih cocok digunakan sebagai dana cadangan dan pengaman likuiditas, bukan untuk pertumbuhan jangka panjang.

2. Dengan profil konservatif-moderat, dana pensiun sebaiknya menempatkan porsi terbesar pada obligasi pemerintah sebesar 50% atau 5.000.000.000 untuk menjaga stabilitas dana. Selanjutnya dana dialokasikan pada saham dividen 30% atau sebesar 3.000.000.000 agar nilai dana tetap tumbuh dalam jangka panjang, dan sisanya pada deposito berjangka yaitu sebesar 2.000.000.000 sebagai cadangan likuiditas. Dari kombinasi ini menciptakan keseimbangan antara keamanan, pendapatan tetap, dan potensi keuntungan.

3. Saat terjadi krisis ekonomi dan penurunan pasar saham, nilai investasi saham akan mengalami penurunan paling besar. Obligasi pemerintah relatif lebih aman karena kupon tetap masih diterima, sedangkan deposito hampir tidak terpengaruh secara langsung meskipun nilainya dapat tergerus inflasi. Untuk mengurangi resiko, manajer investasi perlu melakukan diversifikasi, memilih saham sektor defensif, menahan obligasi hingga jatuh tempo, serta melakukan penyesuaian portofolio secara berkala.

4. ⁠Saham dan obligasi dicatat sebagai aset keuangan dan diukur sesuai nilai wajar atau biaya perolehan diamortisasi berdasarkan PSAK 71. Dividen saham dan bunga obligasi diakui sebagai pendapatan investasi. Deposito berjangka dicatat sebagai investasi jangka pendek atau setara kas, dengan bunga diakui secara akrual. Seluruh investasi tersebut dilaporkan dalam laporan keuangan dana pensiun sesuai dengan PSAK 18 tentang Akuntansi Dana Pensiun.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by vie amanillah -
Nama: Vie Amanillah
NPM: 2413031097
Kelas: 2024C

1. Analisis Instrumen Investasi
-Saham Divide, kelebihannya yaitu Return tertinggi (11%) & ada pertumbuhan modal jangka panjang, dan kelemahannya Sangat fluktuatif; nilai pokok bisa turun drastis saat pasar crash. Cocok untuk melawan inflasi, tapi jangan jadi aset dominan karena risiko tinggi.
-Obligasi Pemerintah, kelebihannya Aman (dijamin negara), bunga tetap (6.5%) lebih tinggi dari deposito, kelemahannya Harga pasar bisa turun jika suku bunga bank naik. Sangat Sesuai. Memberikan kepastian arus kas (matching) untuk bayar manfaat pensiun.
-Deposito, kelebihannya Risiko hampir nol, nilai pokok tetap utuh. kelemahannya Return terendah (4.25%) & kena penalti jika dicairkan mendadak. Cocok sebagai cadangan kas darurat saja agar dana tidak tergerus inflasi.

2. Penentuan Alokasi Portofolio
Untuk profil Konservatif-Moderat, keamanan dana adalah prioritas tanpa meninggalkan peluang pertumbuhan.
-Obligasi Pemerintah: 60% (Rp6 Miliar): Menjadi "tulang punggung" portofolio. Memberikan kupon tetap setiap bulan/tahun yang stabil untuk membayar pensiunan selama 20 tahun ke depan.
-Saham Dividen: 30% (Rp3 Miliar): Bertujuan untuk mengejar return tinggi agar dana Rp10 Miliar tidak habis termakan inflasi. Fokus pada sektor perbankan dan konsumer karena bisnisnya cenderung stabil.
-Deposito Berjangka: 10% (Rp1 Miliar): Berfungsi sebagai penyangga likuiditas (kas siap pakai) jika ada kebutuhan pembayaran manfaat pensiun mendadak atau operasional kantor.

3. Simulasi Dampak Ekonomi
a. Dampak terhadap Portofolio:
Sisi Saham: Nilai pasar aset saham akan turun sekitar 20%. Namun, jika perusahaan yang dipilih sehat, dividen biasanya tetap dibagikan meski harganya turun.
Sisi Obligasi: Secara nilai pasar mungkin turun, tetapi kupon 6.5% tetap masuk ke kantong DPDN karena dijamin pemerintah.
Sisi Deposito: Tidak terdampak, tetap aman dan memberikan bunga tetap.

b. Langkah Mitigasi Risiko:
Rebalancing: Menjual sebagian aset yang masih stabil untuk membeli saham-saham bagus yang harganya sedang diskon (murah).
Diversifikasi Tenor: Mengatur jatuh tempo obligasi agar tidak bersamaan, sehingga aliran kas masuk selalu tersedia setiap tahun.
Monitoring Emiten: Mengevaluasi apakah perusahaan saham masih mampu membagi dividen di tengah krisis.

4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan
Berdasarkan PSAK 18 (Akuntansi Dana Pensiun) dan PSAK 71 (Instrumen Keuangan), pencatatannya adalah: Penyajian di Laporan Keuangan: Investasi dana pensiun harus dilaporkan pada Nilai Wajar (Fair Value), Obligasi & Saham: Dicatat menggunakan kategori Fair Value through Profit or Loss (FVTPL) atau Fair Value through Other Comprehensive Income (FVOCI). Artinya, perubahan harga pasar setiap akhir periode harus dilaporkan dalam laporan aktiva bersih, Deposito: Dicatat sebesar nilai nominalnya karena bersifat setara kas atau investasi yang dipegang hingga jatuh tempo, Pengungkapan: DPDN wajib mengungkapkan jenis risiko (risiko pasar, kredit, likuiditas) dalam Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK) agar para dosen tahu bagaimana uang mereka dikelola.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Shafa Djiana Wardani -
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

1. Analisis Instrumen Investasi
Menurut saya, ketiga instrumen tersebut memiliki karakter yang saling melengkapi.
- Saham dividen menawarkan return paling tinggi, rata rata 11% per tahun, sehingga cocok untuk mengejar pertumbuhan nilai dana dalam jangka panjang. Namun risikonya juga paling besar karena nilainya sangat dipengaruhi kondisi pasar dan ekonomi makro, sehingga fluktuasinya cukup tinggi. Likuiditas saham relatif tinggi karena mudah diperjualbelikan, tetapi volatilitas ini membuat saham kurang cocok jika digunakan sebagai satu satunya instrumen dana pensiun.
- Obligasi pemerintah berada di posisi tengah, dengan kupon tetap 6,5% dan risiko sangat rendah karena dijamin pemerintah. Instrumen ini memberikan pendapatan yang stabil dan lebih dapat diprediksi, sehingga sangat sesuai dengan tujuan dana pensiun yang membutuhkan kepastian arus kas. Likuiditasnya sedang, karena meskipun dapat diperdagangkan, harga pasar bisa berubah.
- Deposito berjangka memiliki risiko paling rendah dan return paling kecil, yaitu 4,25% net pajak. Instrumen ini sangat aman, tetapi kurang optimal untuk pertumbuhan dana karena tingkat bunganya relatif rendah dan likuiditasnya terbatas akibat penalti pencairan sebelum jatuh tempo. Dari sisi tujuan dana pensiun, deposito cocok sebagai penyangga likuiditas dan stabilitas.

2. Penentuan Alokasi Portofolio
Dengan mempertimbangkan profil risiko dana pensiun yang bersifat konservatif menuju moderat, menurut saya alokasi yang seimbang antara keamanan dan pertumbuhan adalah pilihan terbaik.
- Dari total Rp10 miliar, alokasi yang wajar adalah sekitar 50% atau Rp5 miliar ditempatkan pada obligasi pemerintah, karena instrumen ini memberikan pendapatan stabil dan risiko rendah.
- Kemudian sekitar 30% atau Rp3 miliar dialokasikan ke saham dividen untuk menjaga pertumbuhan nilai dana dalam jangka panjang dan mengimbangi risiko inflasi.
- Sisanya, sekitar 20% atau Rp2 miliar, ditempatkan pada deposito berjangka sebagai cadangan likuiditas dan penopang stabilitas portofolio.
Alokasi ini menurut saya mencerminkan prinsip kehati-hatian, namun tetap memberikan ruang bagi peningkatan nilai dana pensiun.

3. Simulasi Dampak Ekonomi
A. Dalam kondisi krisis ekonomi, seperti inflasi tinggi dan IHSG turun 20% :
- Dampak terbesar tentu akan dirasakan pada porsi saham dividen, di mana nilai pasar saham berpotensi turun signifikan sehingga menurunkan nilai wajar portofolio.
- Namun, obligasi pemerintah relatif lebih stabil karena kupon tetap dapat diterima, meskipun harga pasar bisa sedikit tertekan.
- Deposito hampir tidak terdampak secara langsung, sehingga berfungsi sebagai penahan gejolak portofolio.

B. Untuk mitigasi risiko, manajer investasi dapat melakukan rebalancing portofolio, meningkatkan porsi instrumen berisiko rendah, serta menahan saham yang masih memiliki fundamental kuat agar tidak direalisasi saat harga turun. Selain itu, diversifikasi sektor saham dan pengelolaan jatuh tempo obligasi juga penting untuk menjaga kestabilan arus kas.

4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan
Dari sisi akuntansi, saham dividen dan obligasi pemerintah dicatat sebagai aset keuangan sesuai PSAK 71. Jika instrumen tersebut diklasifikasikan pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain, maka perubahan nilai wajarnya diakui pada penghasilan komprehensif lain, sedangkan dividen saham dan pendapatan bunga obligasi diakui dalam laba rugi. Obligasi juga dicatat menggunakan metode suku bunga efektif untuk pengakuan pendapatan bunganya.
Sementara itu, deposito berjangka dicatat sebagai kas dan setara kas atau investasi jangka pendek sebesar nilai nominalnya, dan pendapatan bunga diakui secara akrual. Dalam laporan keuangan Dana Pensiun, seluruh instrumen ini disajikan secara transparan agar mencerminkan kondisi keuangan dan kemampuan dana dalam memenuhi kewajiban pembayaran manfaat pensiun di masa depan.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Aura Liyanti -
Nama : Aura Liyanti Fani
NPM : 2413031089

1. Saham yang membayar dividen menawarkan imbal hasil tertinggi, mendekati 11% per tahun, yang dapat secara signifikan meningkatkan nilai dana pensiun dalam jangka panjang. Namun, instrumen ini membawa risiko fluktuasi harga yang tinggi karena pengaruhnya yang kuat terhadap kondisi makroekonomi dan pasar. Saham memiliki likuiditas yang relatif tinggi, yang memudahkan penjualannya, tetapi volatilitasnya membuatnya kurang stabil sebagai instrumen utama untuk dana pensiun yang membutuhkan kepastian dalam pembayaran manfaat.
Obligasi pemerintah menawarkan imbal hasil yang lebih rendah daripada saham, sekitar 6,5% per tahun, tetapi memiliki tingkat risiko yang sangat rendah karena dijamin oleh pemerintah. Instrumen ini cocok untuk dana pensiun karena dapat memberikan pendapatan tetap yang stabil dan relatif dapat diprediksi. Obligasi memiliki likuiditas moderat karena dapat diperdagangkan di pasar sekunder, meskipun harganya dapat berfluktuasi.
Deposito berjangka memiliki imbal hasil terendah, yaitu 4,25% per tahun, tetapi memiliki risiko yang sangat rendah dan praktis tidak terpengaruh oleh fluktuasi pasar. Kelemahannya terletak pada likuiditasnya yang rendah, karena ada penalti untuk penarikan dini. Deposito berjangka lebih berfungsi sebagai penyangga likuiditas jangka pendek daripada sebagai sumber pertumbuhan dana jangka panjang.

2. Berdasarkan profil risiko moderat hingga konservatif dari Dana Pensiun Guru Nusantara, alokasi portofolio yang direkomendasikan adalah menempatkan 50% dana sebesar Rp. 5 miliar dalam obligasi pemerintah, 30% Rp. 3 miliar dalam saham yang memberikan dividen, dan 20% Rp. 2 miliar dalam deposito berjangka. Obligasi pemerintah mewakili porsi terbesar, karena memberikan pendapatan tetap yang relatif stabil, dan risikonya yang rendah memastikan ketersediaan dana untuk pembayaran pensiun jangka panjang. Saham yang memberikan dividen tetap dimasukkan dalam portofolio untuk meningkatkan potensi pertumbuhan dana melalui keuntungan modal dan dividen, tetapi proporsinya dibatasi agar fluktuasi pasar tidak secara signifikan memengaruhi stabilitas dana pensiun. Di sisi lain, deposito berjangka berfungsi sebagai cadangan likuiditas dan merupakan instrumen teraman untuk menutupi kebutuhan kas jangka pendek, memastikan bahwa portofolio secara keseluruhan mempertahankan keseimbangan antara keamanan, stabilitas, dan pertumbuhan.

3. a. Dalam krisis ekonomi, seperti kenaikan inflasi dan penurunan 20% pada Indeks Komposit Jakarta (JCI), dampak terbesar akan dirasakan pada investasi saham yang memberikan dividen. Anjloknya pasar saham dapat menyebabkan nilai investasi ekuitas, yang awalnya sebesar 3 miliar rupiah, turun menjadi sekitar 2,4 miliar rupiah, sehingga mengurangi nilai total portofolio menjadi sekitar 9,4 miliar rupiah. Sementara itu, obligasi pemerintah dan deposito berjangka relatif stabil karena memberikan pendapatan tetap dan memiliki risiko rendah, sehingga mencegah penurunan nilai portofolio yang signifikan.

b. Untuk mengurangi risiko ini, manajer investasi dapat melakukan diversifikasi di berbagai sektor saham, menyeimbangkan kembali portofolio dengan meningkatkan proporsi investasi obligasi pemerintah, dan meningkatkan cadangan dalam bentuk deposito berjangka. Selain itu, pemantauan kondisi pasar secara berkala diperlukan untuk memastikan penyesuaian portofolio dilakukan dengan segera ketika terjadi perubahan signifikan, sehingga menjaga stabilitas dana pensiun dan memastikan pembayaran manfaat yang berkelanjutan kepada para pensiunan.

4. Saham yang memberikan dividen dicatat sebagai instrumen keuangan dalam kategori nilai wajar melalui laba rugi (FVTPL) atau nilai wajar melalui pendapatan komprehensif lainnya (FVOCI), sesuai dengan tujuan kepemilikan yang ditetapkan dalam PSAK 71. Perubahan nilai wajar saham diakui dalam laba rugi atau pendapatan komprehensif lainnya, sedangkan dividen diakui sebagai pendapatan investasi. Obligasi pemerintah umumnya diklasifikasikan sebagai aset keuangan yang diukur pada biaya amortisasi atau FVOCI, sesuai dengan model bisnis dana pensiun. Kupon obligasi diakui secara periodik sebagai pendapatan bunga, dan perubahan nilai wajar dilaporkan sesuai dengan klasifikasinya. Deposito berjangka dicatat sebagai aset keuangan yang diukur pada biaya amortisasi. Pendapatan bunga atas deposito diakui berdasarkan basis akrual pada setiap periode dan dilaporkan sebagai pendapatan investasi dalam laporan laba rugi dana pensiun.