Nama : Eris Ana Dita
Npm : 2413031017
Jurnal "Historical Costs Versus Fair Value in Financial Accounting membahas dua konsep utama pengukuran aset dan kewajiban dalam akuntansi keuangan, yaitu biaya historis (historical costs) dan pengukuran nilai wajar (fair value). Pengukuran diperlukan pada dua momen penting, yaitu saat pengakuan awal dan saat tanggal neraca. IFRS umumnya menggunakan nilai wajar saat tanggal neraca, sementara pengakuan awal masih didominasi biaya historis.
Nilai wajar dipandang lebih relevan dalam mencerminkan kondisi ekonomi saat ini dan memberikan informasi yang lebih objektif dan dapat dibandingkan dibandingkan biaya historis yang berbasis pada harga perolehan. Namun, pengukuran nilai wajar juga membawa risiko, terutama ketika nilai wajar tidak dapat diobservasi dari pasar aktif dan harus memperhitungkan subyektivitas manajemen.
Jurnal ini juga mengkaji dampak krisis keuangan terhadap pendekatan pengukuran, di mana terdapat kecenderungan penangguhan penggunaan nilai wajar karena ketidakpastian pasar dan kesulitan dalam menilai nilai wajar aset. Penulis menyimpulkan bahwa kombinasi antara pengukuran nilai wajar dan pengukuran spesifik entitas dapat memberikan informasi akuntansi yang lebih akurat dan mengurangi risiko distribusi laba yang tidak realistis.
Kesimpulan utama adalah tidak ada satu pendekatan pengukuran yang sempurna; nilai wajar sesuai untuk instrumen keuangan, tetapi untuk aset non-keuangan pengukuran spesifik entitas mungkin lebih tepat. Dalam kondisi krisis, penggunaan nilai wajar perlu dipertimbangkan kembali untuk menghindari dampak negatif pada pelaporan keuangan.
Npm : 2413031017
Jurnal "Historical Costs Versus Fair Value in Financial Accounting membahas dua konsep utama pengukuran aset dan kewajiban dalam akuntansi keuangan, yaitu biaya historis (historical costs) dan pengukuran nilai wajar (fair value). Pengukuran diperlukan pada dua momen penting, yaitu saat pengakuan awal dan saat tanggal neraca. IFRS umumnya menggunakan nilai wajar saat tanggal neraca, sementara pengakuan awal masih didominasi biaya historis.
Nilai wajar dipandang lebih relevan dalam mencerminkan kondisi ekonomi saat ini dan memberikan informasi yang lebih objektif dan dapat dibandingkan dibandingkan biaya historis yang berbasis pada harga perolehan. Namun, pengukuran nilai wajar juga membawa risiko, terutama ketika nilai wajar tidak dapat diobservasi dari pasar aktif dan harus memperhitungkan subyektivitas manajemen.
Jurnal ini juga mengkaji dampak krisis keuangan terhadap pendekatan pengukuran, di mana terdapat kecenderungan penangguhan penggunaan nilai wajar karena ketidakpastian pasar dan kesulitan dalam menilai nilai wajar aset. Penulis menyimpulkan bahwa kombinasi antara pengukuran nilai wajar dan pengukuran spesifik entitas dapat memberikan informasi akuntansi yang lebih akurat dan mengurangi risiko distribusi laba yang tidak realistis.
Kesimpulan utama adalah tidak ada satu pendekatan pengukuran yang sempurna; nilai wajar sesuai untuk instrumen keuangan, tetapi untuk aset non-keuangan pengukuran spesifik entitas mungkin lebih tepat. Dalam kondisi krisis, penggunaan nilai wajar perlu dipertimbangkan kembali untuk menghindari dampak negatif pada pelaporan keuangan.