Posts made by Rahma Amelia

AKM A2025 -> Diskusi

by Rahma Amelia -
Nama: Rahma Amelia
NPM: 2413031026

Jika dibandingkan dengan metode FIFO, metode LIFO cenderung menghasilkan laba bersih yang lebih rendah ketika terjadi kenaikan harga atau inflasi. Hal ini disebabkan karena dalam metode LIFO, barang yang terakhir dibeli—yang harganya sudah meningkat—dianggap dijual terlebih dahulu. Akibatnya, harga pokok penjualan menjadi lebih tinggi, sehingga laba kotor dan laba bersih perusahaan akan terlihat lebih kecil. Meskipun laba bersihnya menurun, metode LIFO bisa memberikan keuntungan dari sisi pajak, karena laba yang lebih rendah berarti beban pajak juga ikut menurun.

Sebaliknya, ketika harga-harga menurun atau terjadi deflasi, metode LIFO justru akan menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode FIFO. Dalam kondisi ini, barang yang terakhir dibeli memiliki harga lebih rendah, sehingga harga pokok penjualan juga menjadi lebih rendah. Akibatnya, laba bersih yang dihasilkan meningkat. Jadi secara keseluruhan, metode LIFO membuat laba bersih bergerak berlawanan arah dengan perubahan harga—lebih rendah saat harga naik, dan lebih tinggi saat harga turun.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Rahma Amelia -
Nama: Rahma Amelia
NPM: 2413031026

1. Jurnal “Positive Accounting Theory: Theoretical Perspectives on Accounting Policy Choice” (Nasution et al., 2020)
Isi utama:
Jurnal ini membahas teori akuntansi positif (Positive Accounting Theory/PAT) yang dikembangkan oleh Watts dan Zimmerman. Teori ini menjelaskan bahwa manajer memilih kebijakan akuntansi bukan hanya karena aturan, tetapi karena kepentingan ekonominya sendiri. Ada tiga hipotesis utama yang menjelaskan perilaku tersebut: bonus plan hypothesis (manajer meningkatkan laba untuk mendapat bonus), debt covenant hypothesis (menaikkan laba agar tidak melanggar perjanjian utang), dan political cost hypothesis (menurunkan laba agar terhindar dari tekanan politik atau pajak tinggi). Meskipun banyak kritik, teori ini tetap penting karena bisa memprediksi dan menjelaskan perilaku manajerial dalam memilih kebijakan akuntansi berdasarkan motivasi ekonomi.
Opini:
Menurut saya, jurnal ini memberikan dasar teori yang kuat dan mudah dipahami untuk menjelaskan perilaku manajemen dalam praktik akuntansi modern. Meski fokusnya lebih ke aspek ekonomi dan belum menilai sisi etika, teori ini tetap relevan untuk memahami mengapa kebijakan akuntansi bisa berbeda antarperusahaan, terutama dalam konteks laba, pajak, dan tekanan pasar.

2. Jurnal “Perbandingan Pendekatan Teori Normatif dan Positif dalam Kebijakan Akuntansi pada PT Astra International Tbk dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk” (Ahmad & Nawangsari, 2025)
Isi utama:
Jurnal ini membandingkan penerapan teori normatif dan positif dalam kebijakan akuntansi dua perusahaan besar di Indonesia. Hasilnya, PT Astra International Tbk (manufaktur) lebih cenderung memakai pendekatan normatif, yaitu fokus pada kepatuhan terhadap standar akuntansi, transparansi, dan legitimasi sosial. Sementara itu, PT Telkom Indonesia Tbk (teknologi) lebih mengarah ke pendekatan positif, dengan fleksibilitas dalam pengelolaan laba dan pelaporan sesuai kebutuhan pasar serta inovasi bisnis. Kesimpulannya, setiap perusahaan menyesuaikan pendekatan akuntansi dengan karakteristik industrinya; tidak ada satu pendekatan yang paling benar, keduanya saling melengkapi tergantung konteks bisnis.
Opini:
Saya setuju dengan pandangan jurnal ini bahwa teori normatif dan positif tidak bisa dipisahkan sepenuhnya. Di dunia nyata, perusahaan butuh keseimbangan antara kepatuhan dan fleksibilitas. Contohnya, Astra butuh transparansi karena dampak sosialnya besar, sementara Telkom perlu adaptif karena industri teknologi cepat berubah. Pendekatan seperti ini mencerminkan akuntansi modern yang lebih kontekstual dan realistis.

TA2025 -> CASE STUDY

by Rahma Amelia -
Nama: Rahma Amelia
NPM: 2413031026

1. Menurut teori positif akuntansi, tindakan PT IndoEnergi mengubah metode depresiasi bisa dijelaskan karena adanya motivasi ekonomi di balik keputusan tersebut. Teori ini berpendapat bahwa manajer memilih kebijakan akuntansi untuk kepentingan mereka sendiri, misalnya agar pajak yang dibayar lebih kecil atau untuk menurunkan ekspektasi dividen dari investor. Jadi, meskipun alasan resminya adalah menyesuaikan pola manfaat aset, teori ini melihatnya sebagai strategi untuk mengatur laba demi kepentingan perusahaan dan manajemennya.

2. Dalam standar internasional seperti IFRS dan US GAAP, perubahan metode depresiasi diperbolehkan asal ada alasan yang jelas dan rasional, misalnya metode baru dianggap lebih mencerminkan penggunaan aset. Namun, perubahan seperti ini tetap harus dijelaskan secara terbuka dalam laporan keuangan agar tidak disalahgunakan. Praktik serupa juga sering terjadi di negara lain, terutama ketika perusahaan ingin menyesuaikan laba karena alasan pajak atau efisiensi pelaporan.

3. Teori positif akuntansi cukup kuat dalam menjelaskan perilaku manajemen karena teori ini fokus pada motif ekonomi di balik setiap keputusan akuntansi. Namun, teori ini juga punya kelemahan karena tidak mempertimbangkan faktor etika, budaya, atau perbedaan aturan di tiap negara. Jadi, meskipun teori ini bisa menjelaskan “mengapa” manajer bertindak seperti itu, teori ini tidak menilai apakah tindakan tersebut benar, etis, atau sesuai standar akuntansi yang berlaku secara global.

AKM A2025 -> Diskusi

by Rahma Amelia -
Nama: Rahma Amelia
NPM: 2413031026

1. Pengertian dan Jenis Instrumen Keuangan
Instrumen keuangan adalah kontrak yang menimbulkan aset keuangan bagi satu pihak dan kewajiban atau ekuitas bagi pihak lain. Contohnya uang, saham, obligasi, dan piutang. Jenisnya ada dua, yaitu instrumen primer (seperti saham, obligasi, deposito) yang diterbitkan langsung oleh pihak yang membutuhkan dana, dan instrumen derivatif (seperti opsi, futures, dan swap) yang nilainya tergantung pada instrumen keuangan lain.

2. Kas dan Pengendalian Internal terhadap Kas
Kas adalah uang tunai dan saldo di bank yang siap digunakan kapan saja untuk kegiatan operasional perusahaan. Pengendalian internal terhadap kas dilakukan untuk mencegah penyalahgunaan dan kehilangan uang, antara lain dengan memisahkan tugas antara penerima dan pencatat kas, melakukan penyetoran kas ke bank setiap hari, melakukan rekonsiliasi bank secara rutin, menggunakan sistem kas kecil (petty cash), dan memastikan semua transaksi kas memiliki bukti serta otorisasi yang sah.

3. Penyajian dan Pengungkapan Kas dalam Laporan Keuangan
Kas disajikan di bagian aset lancar pada neraca dengan nama “Kas dan Setara Kas.” Dalam catatan atas laporan keuangan (CALK) dijelaskan secara rinci jenis kas (tunai, bank, deposito), kebijakan akuntansi yang digunakan, serta batasan atau pembatasan atas penggunaan kas jika ada, misalnya kas yang tidak boleh digunakan untuk tujuan tertentu.

4. Pengertian dan Pengakuan Piutang
Piutang adalah hak perusahaan untuk menagih pembayaran dari pihak lain akibat penjualan barang atau jasa secara kredit. Piutang diakui saat barang atau jasa telah diserahkan kepada pelanggan dan perusahaan memiliki hak hukum untuk menagih uang meskipun pembayarannya belum diterima.

5. Penilaian, Penurunan Nilai, Penyajian, dan Pengungkapan Piutang
Piutang dinilai sebesar nilai yang dapat direalisasikan (net realizable value) yaitu jumlah piutang dikurangi estimasi piutang tak tertagih. Jika ada indikasi piutang tidak bisa ditagih, maka dibentuk cadangan kerugian piutang agar laporan tetap wajar. Dalam neraca, piutang disajikan bersih setelah dikurangi cadangan, sedangkan dalam catatan atas laporan keuangan dijelaskan kebijakan penilaian, rincian saldo piutang, dan perubahan cadangan kerugian.

6. Analisis Kas dan Piutang
Analisis kas dan piutang digunakan untuk menilai likuiditas dan efektivitas pengelolaan keuangan perusahaan. Analisis kas dilakukan dengan menghitung rasio seperti current ratio dan cash ratio untuk melihat kemampuan membayar kewajiban jangka pendek. Analisis piutang dilakukan dengan rasio perputaran piutang dan rata-rata periode penagihan, guna menilai seberapa cepat perusahaan mampu menagih dan mengubah piutang menjadi kas.