Nama : Saskia Azizah
NPM : 2425011038
Kelas : B
ANALISIS JURNAL
FILSAFAT PANCASILA DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA MENUJU BANGSA BERKARATER
Filsafat berasal dari kata "philosophy," yang berarti cinta akan kebijaksanaan, dengan etimologi dari "philos" (cinta) dan "sophia" (hikmat). Pancasila dianggap sebagai filsafat karena berfungsi sebagai acuan intelektual dan kognitif bagi cara berpikir bangsa, serta membentuk sistem pemikiran dalam usaha keilmuan.
Filsafat Pancasila adalah pandangan hidup dan dasar negara Indonesia yang memiliki tiga dasar utama: ontologis, epistemologis, dan aksiologis.
1. Ontologis: Pancasila berakar pada hakikat manusia, yang merupakan makhluk individu dan sosial. Manusia Indonesia dilihat sebagai subjek utama yang menjalankan nilai-nilai Pancasila, yaitu berketuhanan, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berpersatuan, berkerakyatan yang bijaksana, dan berkeadilan sosial.
2. Epistemologis: Pancasila sebagai sistem pengetahuan berasal dari nilai-nilai luhur budaya bangsa yang digali dan dirumuskan oleh para pendiri bangsa (kausa materialis). Penyusunan sila-silanya bersifat hierarkis dan logis, membentuk satu kesatuan nilai.
3. Aksiologis: Nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila tidak berdiri sendiri tetapi saling melengkapi, menciptakan kesatuan yang merefleksikan identitas dan budaya bangsa.
Menurut prinsip kausalitas Aristoteles, Pancasila memiliki:
Kausa Materialis: Nilai-nilai sosial budaya bangsa Indonesia.
Kausa Formalis: Bentuk sah Pancasila dalam Pembukaan UUD 1945.
Kausa Efisiensi: Upaya BPUPKI dan PPKI dalam menyusun Pancasila sebagai dasar negara.
Kausa Finalis: Tujuan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang merdeka.
Esensi lima sila Pancasila meliputi: ke-Tuhanan (hubungan manusia dengan Tuhan), kemanusiaan (keadilan sosial), persatuan (identitas bangsa), kerakyatan (kerja sama dan musyawarah), dan keadilan (hak setiap individu).
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan potensi anak demi kepentingan hidupnya sebagai individu dan warga masyarakat. Terdapat berbagai pandangan tentang perkembangan manusia dalam pendidikan:
Empirisme: Perkembangan bergantung pada pengalaman hidup (John Locke).
Nativisme: Perkembangan ditentukan oleh pembawaan sejak lahir (Schopenhauer).
Naturalisme: Anak lahir baik, dan pendidikan hanya perlu membiarkan perkembangan alamiah (J.J. Rousseau).
Konvergensi: Perkembangan dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan (William Stern).
Di Indonesia, pendidikan bertujuan mewariskan ilmu dan ideologi Pancasila sesuai dasar negara, serta mendukung keberlanjutan bangsa.