Posts made by Rasya Ramadhani 2411021139

Nggak selalu, Pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu hanya dilihat dari data rata rata dari keseluruhan masyarakat, jadi sering kali nggak menggambarkan realitas di semua kalangan masyarakat.

Kalau pertumbuhan itu cuma didorong oleh sektor yang padat modal (kayak industri yang pakai banyak mesin otomatis tapi minim pekerja), uangnya cuma muter di kalangan pemilik modal aja. yang menikmati hanya segelintir orang. Jadi, ekonomi tinggi baru bisa dibilang bikin sejahtera kalau dibarengi dengan penurunan ketimpangan, berkurangnya kemiskinan, dan terciptanya banyak lapangan kerja baru untuk masyarakat luas.
1. Dampak bagi mahasiswa: Depresiasi ini menggerus uang saku secara riil, terutama untuk membiayai kebutuhan kuliah yang kebanyakan merupakan barang impor seperti gadget, buku , dan biaya langganan aplikasi pendukung studi.
2. Barang yang akan naik: Kenaikan harga akan sangat terasa pada komoditas pangan berbahan gandum seperti mie instan dan roti, barang elektronik, produk perawatan tubuh yang bahan bakunya impor, serta potensi kenaikan biaya transportasi akibat penyesuaian harga BBM nonsubsidi.
3. Dampak bagi UMKM dan masyarakat bawah: UMKM terancam gulung tikar akibat biaya produksi yang membengkak sementara daya beli pasar lesu, sedangkan masyarakat berpenghasilan rendah akan semakin terpuruk karena inflasi pangan yang memaksa mereka menurunkan kualitas konsumsi harian.
1. Strategi yang paling prioritas: pembangunan infrastruktur digital dan peningkatan SDM digital.

Alasannya, tanpa internet yang memadai, masyarakat sulit masuk ke ekonomi digital. Sinyal yang masih 3G membuat UMKM susah jualan online, promosi produk terbatas, dan layanan administrasi jadi lambat. Selain itu, masyarakat yang masih gaptek perlu pelatihan agar bisa memanfaatkan teknologi.

2. Dua kegiatan konkret dalam 6 bulan ke depan:

Pelatihan digital UMKM dan nelayan
Mengadakan pelatihan penggunaan smartphone, pemasaran di marketplace, media sosial, dan pembayaran digital bagi pelaku usaha lokal.
Pusat layanan digital desa
Membuat posko atau ruang layanan di kantor desa untuk membantu perizinan online, promosi produk desa, dan pendampingan masyarakat yang belum paham teknologi.

3. Pihak yang harus dilibatkan:

1. Pemerintah desa, menyiapkan kebijakan, fasilitas, dan anggaran desa.
2. Pemerintah daerah, membantu jaringan internet, perizinan, dan program UMKM.
Swasta/provider internet, memperkuat jaringan dan akses internet.
3. Komunitas pemuda, menjadi penggerak literasi digital dan pelaksana.
4. mahasiswa, memberi pendampingan, pelatihan, dan inovasi pemasaran digital.
Nama: Rasya Ramadhani
NPM: 2411021139
STUDI KASUS 4
1. Apakah fintech membantu atau justru membebani masyarakat?
Menurut saya, fintech itu ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, sangat membantu efisiensi, terutama bagi kelompok masyarakat/UMKM yang tidak punya akses ke bank konvensional karena syaratnya mudah dan prosesnya cepat. Ini mendorong perputaran uang di level mikro. Tapi di sisi lain, bisa jadi beban berat kalau literasi keuangan masyarakat masih rendah. Banyak yang terjebak bunga harian yang tinggi dan biaya admin tersembunyi karena cuma butuh uang cepat tanpa menghitung kemampuan bayar.
2. Bagaimana regulasi melindungi konsumen dari praktik predatory?
Sejauh ini, peran OJK (Otoritas Jasa Keuangan) sudah cukup ketat lewat regulasi yang membatasi akses data pribadi hanya boleh Camera, Microphone, Location. Selain itu, ada penetapan batas bunga maksimal melalui AFPI agar tidak terlalu membebankan masyarakat. Masalahnya, praktik predatory ini seringnya datang dari pinjol ilegal yang memang tidak terdaftar. Jadi, perlindungan terbaik sebenarnya ada di pengawasan OJK yang harus lebih responsif memblokir aplikasi ilegal dan edukasi masif ke masyarakat agar tidak tergiur tawaran yang bersliweran.
3. Dampak terhadap inklusi keuangan versus over-indebtedness?
Fintech sukses meningkatkan inklusi keuangan Indonesia dengan cepat sehingga orang jadi lebih kenal produk keuangan digital. Tapi kalau kenaikannya didominasi untuk konsumsi bukan ke hal yang produktif, yang terjadi malah over-indebtedness. Banyak orang terjebak hutang dan bunga. Jadi, inklusi tanpa literasi itu berbahaya. Harusnya fintech diarahkan lebih banyak ke sektor produktif/UMKM supaya dampaknya ke pertumbuhan ekonomi lebih riil, bukan sekadar menaikkan daya beli lewat utang.