postes kelompok 3
Posts made by Ratih Apriyani
TA C2025 -> CASE STUDY 2
by Ratih Apriyani -
RATIH APRIYANI
2413031073
1. Perbandingan pendekatan tradisional vs AI dalam pengukuran fair value
Pendekatan tradisional mengandalkan teknik valuasi yang jelas (market, income, cost) dengan input yang dapat diverifikasi dan langkah perhitungan yang transparan. Nilainya dinilai andal karena prosesnya dapat dijelaskan dan direplikasi. Pendekatan berbasis AI memanfaatkan data pasar real-time dan algoritma big data untuk menangkap pola kompleks yang sulit ditangkap metode tradisional. AI meningkatkan relevansi dan kecepatan, tetapi menurunkan transparansi karena proses perhitungannya tidak sepenuhnya dapat dijelaskan (“black box”), sehingga tantangan utamanya adalah verifikasi dan objektivitas.
2. Implikasi epistemologis penggunaan AI
Penggunaan AI mengubah sumber pengetahuan akuntansi dari data terstruktur yang eksplisit menjadi data besar dengan pola yang dipelajari algoritma. Hal ini memperluas basis informasi tetapi memunculkan risiko bias dan ketergantungan pada kualitas model. Validitas pengetahuan menjadi sulit diuji jika langkah pengambilan keputusan tidak dapat dijelaskan atau direplikasi. Oleh karena itu, epistemologi akuntansi menuntut dokumentasi model, uji sensitivitas, dan bukti bahwa output AI tetap mencerminkan asumsi pelaku pasar, bukan sekadar hasil komputasi internal model.
3. Strategi akuntabilitas dan pelaporan sesuai IFRS 13
Perusahaan perlu menjelaskan teknik valuasi yang digunakan dan bagaimana AI mendukung penentuan input dan asumsi yang relevan dengan pelaku pasar. Tata kelola model harus meliputi validasi berkala, audit trail, dokumentasi data dan algoritma, serta pemeriksaan independen. Dalam laporan keuangan, perusahaan harus mengungkap penggunaan AI, asumsi kunci, sensitivitas nilai, serta bukti bahwa output AI konsisten dengan hierarki fair value IFRS 13. Transparansi ini memastikan auditor dan pengguna laporan dapat menilai kewajaran nilai wajar yang dihasilkan model AI.
2413031073
1. Perbandingan pendekatan tradisional vs AI dalam pengukuran fair value
Pendekatan tradisional mengandalkan teknik valuasi yang jelas (market, income, cost) dengan input yang dapat diverifikasi dan langkah perhitungan yang transparan. Nilainya dinilai andal karena prosesnya dapat dijelaskan dan direplikasi. Pendekatan berbasis AI memanfaatkan data pasar real-time dan algoritma big data untuk menangkap pola kompleks yang sulit ditangkap metode tradisional. AI meningkatkan relevansi dan kecepatan, tetapi menurunkan transparansi karena proses perhitungannya tidak sepenuhnya dapat dijelaskan (“black box”), sehingga tantangan utamanya adalah verifikasi dan objektivitas.
2. Implikasi epistemologis penggunaan AI
Penggunaan AI mengubah sumber pengetahuan akuntansi dari data terstruktur yang eksplisit menjadi data besar dengan pola yang dipelajari algoritma. Hal ini memperluas basis informasi tetapi memunculkan risiko bias dan ketergantungan pada kualitas model. Validitas pengetahuan menjadi sulit diuji jika langkah pengambilan keputusan tidak dapat dijelaskan atau direplikasi. Oleh karena itu, epistemologi akuntansi menuntut dokumentasi model, uji sensitivitas, dan bukti bahwa output AI tetap mencerminkan asumsi pelaku pasar, bukan sekadar hasil komputasi internal model.
3. Strategi akuntabilitas dan pelaporan sesuai IFRS 13
Perusahaan perlu menjelaskan teknik valuasi yang digunakan dan bagaimana AI mendukung penentuan input dan asumsi yang relevan dengan pelaku pasar. Tata kelola model harus meliputi validasi berkala, audit trail, dokumentasi data dan algoritma, serta pemeriksaan independen. Dalam laporan keuangan, perusahaan harus mengungkap penggunaan AI, asumsi kunci, sensitivitas nilai, serta bukti bahwa output AI konsisten dengan hierarki fair value IFRS 13. Transparansi ini memastikan auditor dan pengguna laporan dapat menilai kewajaran nilai wajar yang dihasilkan model AI.
AKM C2025 -> CASE STUDY
by Ratih Apriyani -
RATIH APRIYANI
2413031073
1. Analisis Instrumen Investasi
A. Saham Dividen (Perusahaan Sektor Konsumer dan Perbankan)
Return: Rata-rata 11% per tahun, berpotensi lebih tinggi dalam kondisi ekonomi baik, dengan dividen 1–2 kali setahun.
Risiko: Tinggi dan fluktuatif, tergantung kondisi pasar, ekonomi makro, dan kinerja perusahaan (misalnya, resesi bisa menyebabkan penurunan harga saham). Likuiditas: Tinggi, mudah dijual di pasar modal kapan saja. Kesesuaian dengan Tujuan Dana Pensiun: Moderat; bisa memberikan pertumbuhan jangka panjang, tapi kurang cocok untuk dana konservatif karena risiko volatilitas yang tinggi, yang bisa mengancam keamanan dana pensiun. Kelebihan: Potensi return tinggi untuk inflasi dan pertumbuhan modal; dividen sebagai pendapatan tambahan; likuiditas tinggi memungkinkan penyesuaian cepat. Kelemahan: Risiko kerugian modal signifikan; tidak cocok untuk investor konservatif; dividen tidak dijamin dan bisa berfluktuasi.
B. Obligasi Pemerintah (ORI dan SBN)
Return: Kupon tetap 6.5% per tahun, lebih stabil dibanding saham. Risiko: Sangat rendah, dengan jaminan pemerintah (default risk minimal). Likuiditas: Sedang; bisa diperdagangkan, tapi harga pasar bisa naik/turun tergantung suku bunga.
Kesesuaian dengan Tujuan Dana Pensiun: Tinggi; cocok untuk stabilitas dan keamanan, dengan return moderat untuk melawan inflasi jangka panjang. Kelebihan: Risiko rendah dan aman; pendapatan kupon tetap; jaminan pemerintah; cocok untuk alokasi konservatif. Kelemahan: Return lebih rendah dibanding saham; likuiditas sedang bisa menyebabkan kerugian jika dijual di harga pasar rendah; sensitif terhadap perubahan suku bunga.
C. Deposito Berjangka
Return: Bunga 4.25% per tahun (net pajak), tetap dan rendah. Risiko: Sangat rendah, hampir tanpa risiko default (dijamin LPS hingga batas tertentu). Likuiditas: Rendah; penalti jika dicairkan sebelum jatuh tempo (1 tahun), meski bisa diperpanjang otomatis.
Kesesuaian dengan Tujuan Dana Pensiun: Tinggi untuk bagian konservatif; memberikan keamanan, tapi return rendah mungkin tidak cukup untuk mengimbangi inflasi jangka panjang. Kelebihan: Risiko sangat rendah dan aman; bunga tetap; cocok untuk dana darurat atau alokasi konservatif. Kelemahan: Return rendah, rentan terhadap inflasi; likuiditas rendah membatasi fleksibilitas; tidak ada potensi pertumbuhan modal.
2. Penentuan Alokasi Portofolio
Berdasarkan profil risiko dana pensiun yang konservatif-moderat (fokus pada stabilitas dan keamanan, dengan sedikit toleransi risiko untuk pertumbuhan jangka panjang), alokasi portofolio dari Rp10 miliar disusun sebagai berikut:
Obligasi Pemerintah: 50% (Rp5 miliar) – Sebagai instrumen utama untuk stabilitas, dengan risiko rendah dan return moderat (6.5%) yang cocok melawan inflasi tanpa volatilitas tinggi.
Deposito Berjangka: 30% (Rp3 miliar) – Untuk keamanan maksimal, sebagai buffer risiko, meski return rendah (4.25%).
Saham Dividen: 20% (Rp2 miliar) – Alokasi moderat untuk potensi pertumbuhan (11%), tapi dibatasi agar tidak mendominasi risiko portofolio.
3. Simulasi Dampak Ekonomi
a. Dampak terhadap Portofolio. Dalam skenario krisis ekonomi (inflasi tinggi dan IHSG turun 20%):
Saham Dividen: Dampak negatif terbesar; harga saham bisa turun 20% atau lebih, menyebabkan kerugian modal Rp400 juta (20% dari Rp2 miliar). Dividen mungkin berkurang atau ditunda. Obligasi Pemerintah: Dampak moderat; harga obligasi bisa naik (sebagai safe haven), tapi kupon tetap 6.5% mungkin tidak mengimbangi inflasi tinggi, sehingga nilai riil turun. Tidak ada kerugian besar, tapi return riil negatif. Deposito Berjangka: Dampak minimal; bunga tetap 4.25%, tapi inflasi tinggi membuat return riil negatif (misalnya, jika inflasi 10%, return riil -5.75%). Tidak ada fluktuasi harga. Dampak Keseluruhan Portofolio: Kerugian utama dari saham (Rp400 juta), dengan obligasi dan deposito stabil tapi tergerus inflasi. Total portofolio bisa turun sekitar 4% (Rp400 juta dari Rp10 miliar), tapi keamanan terjaga.
b. Langkah Mitigasi Risiko
Diversifikasi Lebih Lanjut: Tingkatkan alokasi obligasi/deposito (misalnya, ke 60% obligasi) dan kurangi saham; tambahkan instrumen lain seperti reksa dana campuran atau emas sebagai hedge inflasi. Hedging: Gunakan derivatif seperti opsi atau futures untuk melindungi saham dari penurunan IHSG; atau investasi dalam obligasi indeks yang terproteksi inflasi. Monitoring dan Rebalancing: Lakukan review berkala (misalnya, triwulanan) dan rebalance portofolio; cairkan deposito jika diperlukan untuk likuiditas. Strategi Jangka Panjang: Fokus pada tenor obligasi panjang (7–10 tahun) untuk kupon stabil; hindari penjualan saham di puncak krisis; gunakan data makroekonomi untuk timing investasi. Asuransi Risiko: Pertimbangkan asuransi portofolio atau kerja sama dengan manajer risiko eksternal untuk mitigasi sistemik.
4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan
Berdasarkan prinsip PSAK (Standar Akuntansi Keuangan Indonesia), khususnya PSAK 55 (Investasi), PSAK 71 (Keuangan), dan PSAK 68 (Laporan Keuangan Entitas Nirlaba), ketiga instrumen dicatat dan dilaporkan sebagai berikut (dengan asumsi DPDN sebagai entitas nirlaba dana pensiun):
A. Saham Dividen. Pencatatan: Diklasifikasikan sebagai investasi tersedia untuk dijual (AFS) atau fair value through profit or loss (FVPL) jika volatil. Dicatat pada biaya perolehan awal, lalu disesuaikan ke fair value (harga pasar) setiap akhir periode. Dividen dicatat sebagai pendapatan saat diterima. Relevansi PSAK: PSAK 55 untuk klasifikasi; PSAK 71 untuk pengukuran fair value.
B. Obligasi Pemerintah Pencatatan: Diklasifikasikan sebagai AFS atau held-to-maturity (HTM) jika dimaksudkan hingga jatuh tempo. Dicatat pada biaya perolehan, disesuaikan ke fair value (amortisasi diskonto/premium). Kupon dicatat sebagai pendapatan bunga efektif (menggunakan metode bunga efektif). Relevansi PSAK: PSAK 55 untuk klasifikasi; PSAK 71 untuk amortisasi dan fair value.
C. Deposito Berjangka. Pencatatan: Diklasifikasikan sebagai HTM atau AFS. Dicatat pada biaya perolehan; bunga diakumulasikan sebagai pendapatan bunga efektif (meski sederhana, karena bunga tetap). Pelaporan: Dalam laporan posisi keuangan, sebagai aset finansial HTM (amortisasi biaya) atau AFS (fair value, jika signifikan). Dalam laporan laba rugi, bunga sebagai pendapatan investasi. Relevansi PSAK: PSAK 55 untuk klasifikasi; PSAK 71 untuk pengakuan pendapatan bunga.
2413031073
1. Analisis Instrumen Investasi
A. Saham Dividen (Perusahaan Sektor Konsumer dan Perbankan)
Return: Rata-rata 11% per tahun, berpotensi lebih tinggi dalam kondisi ekonomi baik, dengan dividen 1–2 kali setahun.
Risiko: Tinggi dan fluktuatif, tergantung kondisi pasar, ekonomi makro, dan kinerja perusahaan (misalnya, resesi bisa menyebabkan penurunan harga saham). Likuiditas: Tinggi, mudah dijual di pasar modal kapan saja. Kesesuaian dengan Tujuan Dana Pensiun: Moderat; bisa memberikan pertumbuhan jangka panjang, tapi kurang cocok untuk dana konservatif karena risiko volatilitas yang tinggi, yang bisa mengancam keamanan dana pensiun. Kelebihan: Potensi return tinggi untuk inflasi dan pertumbuhan modal; dividen sebagai pendapatan tambahan; likuiditas tinggi memungkinkan penyesuaian cepat. Kelemahan: Risiko kerugian modal signifikan; tidak cocok untuk investor konservatif; dividen tidak dijamin dan bisa berfluktuasi.
B. Obligasi Pemerintah (ORI dan SBN)
Return: Kupon tetap 6.5% per tahun, lebih stabil dibanding saham. Risiko: Sangat rendah, dengan jaminan pemerintah (default risk minimal). Likuiditas: Sedang; bisa diperdagangkan, tapi harga pasar bisa naik/turun tergantung suku bunga.
Kesesuaian dengan Tujuan Dana Pensiun: Tinggi; cocok untuk stabilitas dan keamanan, dengan return moderat untuk melawan inflasi jangka panjang. Kelebihan: Risiko rendah dan aman; pendapatan kupon tetap; jaminan pemerintah; cocok untuk alokasi konservatif. Kelemahan: Return lebih rendah dibanding saham; likuiditas sedang bisa menyebabkan kerugian jika dijual di harga pasar rendah; sensitif terhadap perubahan suku bunga.
C. Deposito Berjangka
Return: Bunga 4.25% per tahun (net pajak), tetap dan rendah. Risiko: Sangat rendah, hampir tanpa risiko default (dijamin LPS hingga batas tertentu). Likuiditas: Rendah; penalti jika dicairkan sebelum jatuh tempo (1 tahun), meski bisa diperpanjang otomatis.
Kesesuaian dengan Tujuan Dana Pensiun: Tinggi untuk bagian konservatif; memberikan keamanan, tapi return rendah mungkin tidak cukup untuk mengimbangi inflasi jangka panjang. Kelebihan: Risiko sangat rendah dan aman; bunga tetap; cocok untuk dana darurat atau alokasi konservatif. Kelemahan: Return rendah, rentan terhadap inflasi; likuiditas rendah membatasi fleksibilitas; tidak ada potensi pertumbuhan modal.
2. Penentuan Alokasi Portofolio
Berdasarkan profil risiko dana pensiun yang konservatif-moderat (fokus pada stabilitas dan keamanan, dengan sedikit toleransi risiko untuk pertumbuhan jangka panjang), alokasi portofolio dari Rp10 miliar disusun sebagai berikut:
Obligasi Pemerintah: 50% (Rp5 miliar) – Sebagai instrumen utama untuk stabilitas, dengan risiko rendah dan return moderat (6.5%) yang cocok melawan inflasi tanpa volatilitas tinggi.
Deposito Berjangka: 30% (Rp3 miliar) – Untuk keamanan maksimal, sebagai buffer risiko, meski return rendah (4.25%).
Saham Dividen: 20% (Rp2 miliar) – Alokasi moderat untuk potensi pertumbuhan (11%), tapi dibatasi agar tidak mendominasi risiko portofolio.
3. Simulasi Dampak Ekonomi
a. Dampak terhadap Portofolio. Dalam skenario krisis ekonomi (inflasi tinggi dan IHSG turun 20%):
Saham Dividen: Dampak negatif terbesar; harga saham bisa turun 20% atau lebih, menyebabkan kerugian modal Rp400 juta (20% dari Rp2 miliar). Dividen mungkin berkurang atau ditunda. Obligasi Pemerintah: Dampak moderat; harga obligasi bisa naik (sebagai safe haven), tapi kupon tetap 6.5% mungkin tidak mengimbangi inflasi tinggi, sehingga nilai riil turun. Tidak ada kerugian besar, tapi return riil negatif. Deposito Berjangka: Dampak minimal; bunga tetap 4.25%, tapi inflasi tinggi membuat return riil negatif (misalnya, jika inflasi 10%, return riil -5.75%). Tidak ada fluktuasi harga. Dampak Keseluruhan Portofolio: Kerugian utama dari saham (Rp400 juta), dengan obligasi dan deposito stabil tapi tergerus inflasi. Total portofolio bisa turun sekitar 4% (Rp400 juta dari Rp10 miliar), tapi keamanan terjaga.
b. Langkah Mitigasi Risiko
Diversifikasi Lebih Lanjut: Tingkatkan alokasi obligasi/deposito (misalnya, ke 60% obligasi) dan kurangi saham; tambahkan instrumen lain seperti reksa dana campuran atau emas sebagai hedge inflasi. Hedging: Gunakan derivatif seperti opsi atau futures untuk melindungi saham dari penurunan IHSG; atau investasi dalam obligasi indeks yang terproteksi inflasi. Monitoring dan Rebalancing: Lakukan review berkala (misalnya, triwulanan) dan rebalance portofolio; cairkan deposito jika diperlukan untuk likuiditas. Strategi Jangka Panjang: Fokus pada tenor obligasi panjang (7–10 tahun) untuk kupon stabil; hindari penjualan saham di puncak krisis; gunakan data makroekonomi untuk timing investasi. Asuransi Risiko: Pertimbangkan asuransi portofolio atau kerja sama dengan manajer risiko eksternal untuk mitigasi sistemik.
4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan
Berdasarkan prinsip PSAK (Standar Akuntansi Keuangan Indonesia), khususnya PSAK 55 (Investasi), PSAK 71 (Keuangan), dan PSAK 68 (Laporan Keuangan Entitas Nirlaba), ketiga instrumen dicatat dan dilaporkan sebagai berikut (dengan asumsi DPDN sebagai entitas nirlaba dana pensiun):
A. Saham Dividen. Pencatatan: Diklasifikasikan sebagai investasi tersedia untuk dijual (AFS) atau fair value through profit or loss (FVPL) jika volatil. Dicatat pada biaya perolehan awal, lalu disesuaikan ke fair value (harga pasar) setiap akhir periode. Dividen dicatat sebagai pendapatan saat diterima. Relevansi PSAK: PSAK 55 untuk klasifikasi; PSAK 71 untuk pengukuran fair value.
B. Obligasi Pemerintah Pencatatan: Diklasifikasikan sebagai AFS atau held-to-maturity (HTM) jika dimaksudkan hingga jatuh tempo. Dicatat pada biaya perolehan, disesuaikan ke fair value (amortisasi diskonto/premium). Kupon dicatat sebagai pendapatan bunga efektif (menggunakan metode bunga efektif). Relevansi PSAK: PSAK 55 untuk klasifikasi; PSAK 71 untuk amortisasi dan fair value.
C. Deposito Berjangka. Pencatatan: Diklasifikasikan sebagai HTM atau AFS. Dicatat pada biaya perolehan; bunga diakumulasikan sebagai pendapatan bunga efektif (meski sederhana, karena bunga tetap). Pelaporan: Dalam laporan posisi keuangan, sebagai aset finansial HTM (amortisasi biaya) atau AFS (fair value, jika signifikan). Dalam laporan laba rugi, bunga sebagai pendapatan investasi. Relevansi PSAK: PSAK 55 untuk klasifikasi; PSAK 71 untuk pengakuan pendapatan bunga.
AKM C2025 -> LATIHAN
by Ratih Apriyani -
RATIH APRIYANI
2413031073
AKM C2025 -> LATIHAN
by Ratih Apriyani -
RATIH APRIYANI
2413031073