Masalah
sosial yang masih terjadi di Indonesia adalah Kebiasaan Jajan Sembarangan pada Anak
Sekolah Dasar. Penelitian Khoiriyah, Solikhah, & Supriatiningrum (2023)
yang dilakukan di beberapa SD Muhammadiyah di Kabupaten Gresik menunjukkan
bahwa banyak siswa yang memiliki kebiasaan membeli jajanan di luar sekolah
tanpa memperhatikan kebersihan dan kandungan gizinya. Kebiasaan ini dipengaruhi
oleh pengetahuan anak yang masih rendah tentang makanan sehat, pengaruh teman
sebaya, dan kurangnya pengawasan dari orang tua. Hasil penelitian juga
menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kebiasaan konsumsi jajanan dengan
status gizi anak, di mana anak yang sering jajan sembarangan cenderung memiliki
status gizi kurang baik, baik itu kekurangan gizi maupun kelebihan berat badan.
Solusi:
Berdasarkan saran dari penelitian Khoiriyah et al. (2023), beberapa langkah
yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini antara lain:
Pendidikan
gizi sejak dini kepada siswa agar memahami pentingnya memilih makanan yang
sehat dan bergizi.
Perlunya
kerja sama antara guru dan orang tua untuk mengawasi kebiasaan jajan anak, baik
di rumah maupun di sekolah.
Menyediakan
kantin sekolah yang sehat dan higienis, agar siswa memiliki pilihan makanan
yang aman.
Peran
tenaga kesehatan dan pemerintah, untuk memberikan penyuluhan dan pengawasan
terhadap jajanan yang dijual di sekitar sekolah.
Landasan
Teori yang Relevan
Teori
Fungsionalisme (Émile Durkheim), Teori ini memandang masyarakat sebagai suatu
sistem yang terdiri atas bagian-bagian yang saling berhubungan dan berfungsi
untuk menjaga keseimbangan sosial. Jika salah satu bagian tidak berfungsi
dengan baik, misalnya sekolah tidak memberikan pendidikan gizi, atau keluarga
tidak mengawasi anak, maka akan timbul gangguan sosial, seperti kebiasaan makan
yang tidak sehat. Dengan demikian, setiap lembaga sosial perlu menjalankan perannya secara
harmonis agar keseimbangan masyarakat tetap terjaga.
Teori
Ekologi Sosial (Urie Bronfenbrenner) Teori ini menjelaskan bahwa perilaku
manusia dipengaruhi oleh lingkungan sosial di berbagai tingkatan. Perilaku anak
tidak hanya dibentuk oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh keluarga, sekolah,
teman sebaya, masyarakat, dan budaya di sekitarnya. Dalam konteks kebiasaan
jajan sembarangan, lingkungan yang tidak mendukung, seperti banyaknya pedagang
di sekitar sekolah atau kurangnya pengawasan orang tua dapat memperkuat
kebiasaan negatif tersebut. Oleh karena itu, perubahan perilaku anak perlu
dilakukan dengan memperbaiki lingkungan sosial secara menyeluruh.
Kesimpulan:
Kebiasaan jajan sembarangan di sekolah dasar merupakan masalah sosial yang
dipengaruhi oleh pengetahuan, lingkungan, dan pengawasan sosial. Berdasarkan
teori Fungsionalisme dan Ekologi Sosial, perilaku ini muncul karena fungsi
lembaga sosial seperti sekolah dan keluarga belum berjalan optimal, serta
lingkungan sosial anak belum mendukung pola hidup sehat. Untuk mengatasinya,
perlu dilakukan pendidikan gizi, kerja sama antar lembaga sosial, dan
pengawasan lingkungan sekolah, agar anak-anak terbiasa hidup sehat dan
bertanggung jawab terhadap diri serta lingkungannya.