Kiriman dibuat oleh Dellya Fairuz Syasya Mandala_2411011078

Nama : Dellya Fairuz Syasya Mandala
NPM : 2411011078

Teknologi yang terus berkembang membuat informasi mudah berubah, sehingga kualitas dan objektivitas dokumen perencanaan menjadi semakin penting untuk pengambilan keputusan. Apakah laporan perencanaan masih efektif ketika informasi dapat diperbarui secara realtime?
Nama: Dellya Fairuz Syasya Mandala
NPM: 2411011078

Izin bertanya, dalam dunia bisnis, penyampaian pesan negatif seperti penolakan, kritik, atau kabar buruk merupakan tantangan tersendiri karena harus menjaga hubungan baik dengan penerima. Lalu, bagaimana menentukan kapan waktu yang tepat untuk menyampaikan pesan negatif kepada karyawan atau klien?
Dellya Fairuz Syasya Mandala
2411011078

Izin menjawab pertanyaan dari Nazwa.

Agar pesan persuasif tidak terasa memaksa dan tetap terlihat natural, ada beberapa hal yang sebaiknya dihindari. Pertama, hindari bahasa yang terlalu promosi atau berlebihan, seperti klaim “terbaik”, “pasti puas”, atau “wajib beli sekarang”, karena justru membuat audiens merasa digiring. Kedua, jangan terlalu sering menekan ajakan langsung (hard selling), lebih baik bangun ketertarikan lewat cerita, manfaat, atau pengalaman nyata pengguna. Ketiga, hindari pesan yang tidak sesuai dengan nilai dan gaya hidup audiens, karena akan terasa tidak tulus dan kehilangan relevansi. Selain itu, jangan meniru tren tanpa memahami konteksnya, sebab bisa terlihat dipaksakan atau malah menimbulkan kesan negatif. Terakhir, hindari inkonsistensi antara kata dan tindakan merek misalnya, mengampanyekan kepedulian lingkungan tapi praktiknya tidak sejalan. Dengan menjaga keaslian, empati, dan relevansi, pesan persuasif akan terasa lebih jujur, meyakinkan, dan mudah diterima oleh audiens.
Dellya Fairuz Syasya Mandala
2411011078

Izin menjawab pertanyaan dari Maulin.

Model AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) masih bisa digunakan untuk audiens Gen Z, tetapi perlu disesuaikan dengan cara berpikir dan perilaku digital mereka. Gen Z cenderung tidak tertarik pada promosi yang terasa “jualan”, melainkan lebih responsif terhadap pengalaman, nilai, dan keaslian. Jadi, penerapan AIDA harus lebih interaktif dan berbasis engagement.

Misalnya, tahap Attention bisa dicapai lewat konten yang relatable atau tren visual di media sosial. Interest dibangun bukan hanya dengan informasi produk, tapi lewat storytelling yang menyentuh nilai-nilai seperti keberlanjutan, kreativitas, atau keberanian berekspresi. Pada tahap Desire, brand perlu menunjukkan pengalaman nyata, misalnya lewat review jujur, kolaborasi dengan kreator yang dipercaya, atau partisipasi komunitas. Sementara Action tidak harus berupa pembelian langsung, tapi bisa berupa interaksi seperti share, comment, atau ikut challenge.
Dellya Fairuz Syasya Mandala
2411011078

Izin menjawab pertanyaan dari Salsabila Cintami

Dalam dunia digital yang dipenuhi iklan, pesan persuasif bisa tetap menonjol dan dipercaya jika dibuat dengan autentik, relevan, dan berbasis nilai yang nyata. Audiens sekarang lebih peka terhadap promosi yang berlebihan, jadi perusahaan perlu menampilkan kejujuran dan transparansi dalam setiap pesan. Gunakan gaya komunikasi yang alami dan dekat dengan bahasa audiens agar terasa lebih personal. Selain itu, sertakan bukti sosial seperti testimoni, ulasan pelanggan, atau konten buatan pengguna untuk menambah kepercayaan. Visual dan narasi juga harus selaras—pesan yang emosional, jujur, dan mudah dihubungkan dengan pengalaman sehari-hari akan lebih menempel di ingatan. Terakhir, konsistensi dalam menyampaikan nilai dan identitas merek di berbagai platform akan membantu audiens merasa yakin bahwa pesan tersebut bukan sekadar iklan, melainkan bagian dari hubungan yang tulus antara brand dan konsumennya.