Kiriman dibuat oleh Preisi Odelia Hutabarat

Nama: Preisi Odelia Hutabarat
NPM:2415061101
Kelas: PSTI-C

Aksi protes warga Desa Pegaden Tengah terhadap enam pabrik pakaian yang diduga membuang limbah industri ke sungai menyoroti isu penting tentang dampak negatif limbah industri terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat di sekitar area pabrik. Warga desa merasa terganggu dan khawatir atas dampak pencemaran limbah yang membahayakan kualitas air dan kesehatan mereka, sehingga mereka bergerak menuju lokasi pabrik dan menutup saluran pembuangan limbah sebagai bentuk protes langsung. Pemilik pabrik mengakui ketidakpahaman dalam mengelola limbah industri mereka, namun belum memberikan solusi konkret untuk masalah tersebut.

Aksi ini mencerminkan peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan limbah dan dampak seriusnya terhadap kesehatan serta kualitas lingkungan. Di tengah pesatnya perkembangan industri di Indonesia, protes semacam ini semakin sering terjadi sebagai respons terhadap praktik industri yang mengabaikan regulasi lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan regulasi yang lebih ketat dan pengawasan yang lebih baik dalam pengelolaan limbah industri. Pemerintah daerah dan pusat perlu bekerja sama untuk memastikan bahwa setiap pabrik yang beroperasi mematuhi standar pengelolaan limbah yang ramah lingkungan.

Jika tidak ada tindakan yang cepat dan tegas, masalah seperti ini akan terus berulang, dan dampaknya terhadap masyarakat dan alam akan semakin parah. Hal ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara perkembangan industri dengan kelestarian lingkungan demi kesejahteraan bersama. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan industri tentang pentingnya pengelolaan limbah yang baik, serta memastikan bahwa pemerintah dan industri bekerja sama untuk mencapai tujuan tersebut.
Nama : Preisi Odelia Hutabarat
NPM : 2415061101
Kelas : PSTI-C

Jurnal yang ditulis oleh Ika Setyorini ini membahas urgensi penegasan Pancasila sebagai dasar nilai dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di Indonesia. Pancasila, sebagai ideologi negara, merupakan kristalisasi dari nilai-nilai budaya dan agama bangsa Indonesia yang seharusnya mengakomodasi seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk dalam kegiatan ilmiah. Penulis menekankan bahwa pengembangan iptek di Indonesia harus berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila agar tidak terjadi sekularisme yang dapat mengakibatkan hilangnya arah dan orientasi dalam perkembangan ilmu. Dalam konteks ini, Pancasila berfungsi sebagai panduan normatif yang mengarahkan pengembangan iptek agar tetap relevan dengan budaya dan karakter bangsa.

Jurnal tersebut menjelaskan bahwa setiap ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan di Indonesia harus sejalan dengan nilai-nilai Pancasila. Penulis mengidentifikasi tiga jenis nilai dalam Pancasila: nilai dasar (instrinsik), nilai instrumental, dan nilai praktis. Nilai-nilai ini berfungsi sebagai kerangka acuan dalam pembangunan hukum dan pengembangan iptek, yang diharapkan dapat menciptakan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Selain itu, penulis juga menekannkan bahwa pentingnya menghormati keyakinan religius masyarakat dalam pengembangan iptek, agar tidak terjadi konflik antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai spiritual.

Jurnal ini juga membahas bahwa pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia harus mempertimbangkan konteks sosiologis dan historis Pancasila. Dalam hal ini, penulis mengaitkan Pancasila dengan amanat Pembukaan UUD 1945 yang menekankan pentingnya mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum. Penulis mengemukakan bahwa pengembangan iptek yang tidak berakar pada nilai-nilai Pancasila dapat mengakibatkan dampak negatif, seperti kerusakan lingkungan dan dehumanisasi. Oleh karena itu, penting bagi bangsa Indonesia untuk tetap memegang teguh nilai-nilai Pancasila sebagai ruh dalam pengembangan iptek.

Kesimpulan, jurnal ini menegaskan bahwa pengembangan iptek di Indonesia harus berlandaskan pada Pancasila untuk menciptakan harmoni antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai budaya serta agama. Pancasila diharapkan dapat menjadi rambu normatif yang mengarahkan setiap langkah dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi masyarakat dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Penulis berharap bahwa dengan mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam pengembangan iptek, Indonesia dapat mencapai kemajuan yang berkelanjutan dan seimbang, tanpa kehilangan identitas dan karakter bangsa.
Nama : Preisi Odelia Hutabarat
NPM : 2415061101
Kelas : PSTI-C


A. Sistem etika perilaku politik saat ini di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Meskipun ada upaya untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara, praktik politik yang terjadi seringkali tidak mencerminkan prinsip-prinsip tersebut. Banyak pejabat publik dan birokrat yang terjebak dalam praktik korupsi, nepotisme, dan penyalahgunaan kekuasaan, yang jelas bertentangan dengan nilai-nilai keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab yang terkandung dalam Pancasila.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun secara formal nilai-nilai Pancasila diakui dan dijadikan pedoman, dalam praktiknya, banyak yang tidak mematuhi dan mengimplementasikannya. Misalnya, prinsip "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab" sering kali diabaikan, terlihat dari ketidakadilan dalam pelayanan publik dan diskriminasi yang terjadi di masyarakat. Oleh karena itu, sistem etika perilaku politik saat ini belum sepenuhnya sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dan perlu adanya reformasi yang lebih mendalam untuk memastikan bahwa etika dalam politik dapat terwujud secara nyata.

B. Etika generasi muda di sekitar tempat tinggal saya menunjukkan adanya campuran antara nilai-nilai tradisional dan pengaruh modern. Banyak generasi muda yang masih memegang teguh nilai-nilai Pancasila, seperti gotong royong dan menghormati perbedaan. Namun, ada juga pengaruh negatif dari budaya konsumerisme dan individualisme yang mengarah pada dekadensi moral, seperti kurangnya kepedulian terhadap sesama dan meningkatnya perilaku materialistis.
Untuk mengatasi dekadensi moral yang terjadi, beberapa solusi dapat diterapkan. Pertama, pendidikan karakter yang mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam kurikulum sekolah perlu diperkuat. Hal ini dapat membantu generasi muda memahami dan menginternalisasi nilai-nilai tersebut sejak dini. Kedua, masyarakat dan orang tua harus berperan aktif dalam memberikan teladan yang baik dan menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan karakter positif. Ketiga, kampanye sosial yang mempromosikan nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan kejujuran perlu digalakkan melalui media sosial dan kegiatan komunitas. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan generasi muda dapat tumbuh dengan etika yang kuat dan mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.
Nama : Preisi Odelia Hutabarat
NPM : 2415061101
Kelas : PSTI-C


Jurnal yang berjudul "Penanaman Nilai-Nilai Pancasila Melalui Kontrol Sosial Oleh Media Massa Untuk Menekan Kejahatan Di Indonesia" oleh Ariesta Wibisono Anditya membahas peran penting media massa dalam pencegahan kejahatan di Indonesia dengan menginternalisasi nilai-nilai Pancasila. Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun media massa memiliki potensi untuk menjadi alat kontrol sosial yang efektif, praktik pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam pemberitaan masih kurang terlaksana. Banyak berita yang disajikan tidak akurat dan tidak mendukung pembentukan kesadaran sosial yang sejalan dengan Pancasila. Jurnal ini juga menyoroti bahwa media massa tidak hanya berfungsi sebagai penyebar informasi, tetapi juga sebagai lembaga pendidikan dan kontrol sosial yang dapat mencegah penyalahgunaan kekuasaan, seperti korupsi. Penulis menggarisbawahi pentingnya peran media dalam menciptakan keharmonisan sosial dan menekankan perlunya regulasi yang lebih baik untuk mengatasi tantangan yang muncul akibat perkembangan teknologi informasi. Akhirnya, jurnal ini mengajak semua pihak untuk lebih serius dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila agar media massa dapat berkontribusi positif terhadap masyarakat dan negara.