Posts made by Olivia Rahma Dani

Nama : Olivia Rahma Dani
NPM : 2413031039

Saya sudah materi terkait Teori positif kebijakan Akuntansi, Buku yang saya baca adalah Konservatisme Akuntansi dari Tinjauan Teori Akuntansi Positif (Yossi Diantimala, 2024). Buku ini membahas tentang Teori Akuntansi Positif, yaitu melihat perilaku manajer dalam kondisi-kondisi nyata, khususnya dalam situasi krisis atau ketidakpastian tinggi (misalnya krisis keuangan, pandemi).

AKM B2025 -> Diskusi

by Olivia Rahma Dani -
Nama : Olivia Rahma Dani
Npm: 2413031039

1. Pengertian dan jenis instrumen keuangan
Instrumen keuangan adalah perjanjian yang membentuk hak atau kewajiban moneter antara dua pihak. Terdapat tiga kategori utama dari instrumen keuangan, yaitu aset keuangan seperti uang tunai dan piutang, kewajiban keuangan seperti utang dan pinjaman, serta instrumen ekuitas seperti saham yang mencerminkan kepemilikan di dalam perusahaan.

2. Kas dan pengendalian internal terhadap kas
Kas merupakan aset yang paling likuid, meliputi uang tunai dan setara kas seperti deposito jangka pendek. Pengawasan internal terhadap kas sangat penting untuk menjaga aset ini agar tidak disalahgunakan, dan langkah-langkahnya termasuk memisahkan tugas penerimaan dan pencatatan kas, menyetujui transaksi, melakukan rekonsiliasi secara rutin dengan catatan bank, serta menyimpan kas dengan aman.

3. Penyajian dan pengungkapan kas dalam laporan keuangan
Kas dan setara kas tampil sebagai aset lancar di dalam laporan posisi keuangan. Setara kas sering kali berupa investasi jangka pendek yang mudah dicairkan dan memiliki jangka waktu singkat, umumnya kurang dari tiga bulan. Selain itu, perusahaan diwajibkan untuk mengungkapkan rincian kas dan setara kas serta kebijakan pengelolaan kas yang digunakan dalam catatan laporan keuangan.

4. Pengertian, pengakuan piutang
Piutang adalah klaim yang dimiliki perusahaan terhadap pihak lain yang muncul akibat penjualan barang atau jasa secara kredit. Piutang diakui saat hak untuk menerima pembayaran muncul, biasanya saat barang dikirim atau jasa diselesaikan untuk pelanggan.

5. Penilaian, perhitungan penurunan nilai, penyajian dan pengungkapan piutang dalam laporan keuangan
Piutang awalnya dicatat berdasarkan nilai wajar dan kemudian dinilai dengan biaya perolehan yang disesuaikan dengan cadangan kerugian kredit yang diantisipasi. Apabila ada indikasi bahwa piutang tidak bisa tertagih secara penuh, perusahaan harus mengakui adanya penurunan nilai. Piutang diungkapkan dalam laporan keuangan setelah dikurangi dengan cadangan kerugian, dan perusahaan harus menjelaskan metode penilaian, estimasi kerugian, serta rincian saldo piutang di dalam pengungkapan.

6. Analisis kas dan piutang
Analisis kas berfokus pada aliran kas yang masuk dan keluar untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan likuiditas. Sementara itu, analisis piutang melibatkan perhitungan rasio seperti perputaran piutang dan umur piutang yang menunjukkan efektivitas dalam menagih. Dengan demikian, analisis ini mendukung penilaian kinerja pengelolaan kas dan piutang serta pengidentifikasian potensi risiko likuiditas atau kredit.

TA B 2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Olivia Rahma Dani -
Nama : Olivia Rahma Dani
NPM : 2413031039

Biaya historis adalah metode pengukuran aset dan kewajiban berdasarkan harga pembelian saat transaksi awal. Nilai ini hanya akan berkurang jika terjadi penurunan nilai aset yang signifikan. Namun, metode biaya historis dianggap kurang mencerminkan kondisi ekonomi yang sedang berlangsung, terutama untuk investasi dan instrumen keuangan yang nilainya bisa berubah-ubah. Oleh karena itu, IFRS mendorong penggunaan pengukuran nilai wajar yang didasarkan pada harga pasar saat pengukuran dilakukan. Nilai wajar dianggap lebih relevan dan objektif karena mencerminkan kondisi pasar saat ini, bukan hanya biaya masa lalu. Peralihan dari biaya historis ke nilai wajar didasarkan pada beberapa alasan penting. Pertama, biaya historis sering dianggap memberikan informasi yang kurang memadai bagi pengguna laporan keuangan, terutama dalam hal investasi. Kedua, biaya historis dapat menyebabkan erosi modal fisik karena pengakuan laba yang terlalu tinggi akibat inflasi yang tidak tercermin dalam biaya aset. Ketiga, nilai wajar meningkatkan objektivitas dan komparabilitas antar entitas, karena pengukuran tidak bergantung pada kondisi awal saat aset atau kewajiban diakui. 

Dalam IFRS, banyak standar mengadopsi nilai wajar sebagai dasar pengukuran, terutama pada tanggal neraca, seperti IAS 16 (Properti, Pabrik dan Peralatan), IAS 40 (Properti Investasi), dan IAS 39 (Instrumen Keuangan). Namun, pada pengakuan awal, sebagian besar aset dan kewajiban masih diukur menggunakan biaya historis, kecuali untuk beberapa kasus seperti aset biologis (IAS 41) dan instrumen keuangan, yang mewajibkan pengukuran nilai wajar sejak awal. Pengukuran nilai wajar memang memberikan informasi yang lebih relevan, tetapi juga memiliki risiko, terutama ketika pasar aktif tidak tersedia. Dalam kondisi ini, nilai wajar sering harus dihitung berdasarkan estimasi yang subjektif dan spesifik entitas, sehingga dapat mengurangi reliabilitas informasi. Selain itu, keuntungan yang diperoleh dari kenaikan nilai wajar belum tentu bisa direalisasikan dalam bentuk kas, terutama untuk aset yang tidak mudah dijual. Perbedaan dalam pendekatan nilai wajar juga terlihat antara IAS 41 dan panduan IASB. IAS 41 memperbolehkan pengurangan nilai wajar dengan biaya transaksi, sedangkan IASB cenderung menolak pengurangan tersebut agar nilai wajar tetap mencerminkan harga pasar murni. Hal ini menunjukkan bahwa pengukuran nilai wajar masih terus dikembangkan dan disesuaikan agar lebih akurat dan dapat diandalkan. 

Secara keseluruhan, meskipun pengukuran nilai wajar membawa risiko, metode ini dinilai lebih mampu memberikan informasi yang relevan dan objektif bagi pengguna laporan keuangan dibandingkan biaya historis. Oleh karena itu, IFRS lebih mengutamakan pengukuran yang mencerminkan kondisi ekonomi saat ini, dengan tetap mempertimbangkan aspek reliabilitas agar laporan keuangan tetap memberikan gambaran yang adil dan tepat mengenai kondisi perusahaan.