NAMA : EDBERT FREDERICK
NPM : 2415061114
KELAS : PSTI_D
Video yang membahas perjalanan demokrasi Indonesia dari masa Revolusi Kemerdekaan hingga Era Reformasi ini menguraikan lima periode penting: Masa Revolusi Kemerdekaan (1945–1950), Demokrasi Liberal atau Parlementer (1950–1959), Demokrasi Terpimpin di bawah kepemimpinan Soekarno (1959–1966), Demokrasi Pancasila pada masa Orde Baru di bawah Presiden Soeharto (1966–1998), dan Era Reformasi pasca-Soeharto (1998–sekarang). Setiap periode dijelaskan dengan menyoroti konteks sejarah, sistem pemerintahan, serta dinamika politik dan sosial yang terjadi.
Pada masa Revolusi Kemerdekaan, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam membentuk negara yang merdeka pascakolonial, sambil mempertahankan kemerdekaan dari upaya Belanda untuk kembali menjajah. Proklamasi 17 Agustus 1945 menjadi titik awal terbentuknya lembaga-lembaga negara yang masih bersifat darurat, seperti Panitia Persiapan Kemerdekaan dan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Meskipun sistem pemerintahan pada saat itu belum stabil, semangat demokrasi sudah mulai tumbuh melalui partisipasi rakyat dan pembentukan lembaga-lembaga representatif.
Memasuki era Demokrasi Liberal pada tahun 1950, Indonesia mulai menganut sistem parlementer yang berdasarkan pada UUDS 1950. Dalam sistem ini, kekuasaan eksekutif berada di tangan kabinet yang bertanggung jawab kepada parlemen. Pemilu pertama tahun 1955 menjadi tonggak penting demokrasi karena dilaksanakan secara jujur dan adil. Namun, sistem multipartai yang terlalu banyak menyebabkan kabinet sering berganti, sehingga menciptakan ketidakstabilan politik dan pemerintahan yang tidak efektif.
Ketidakstabilan pada masa Demokrasi Liberal mendorong Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang menandai dimulainya era Demokrasi Terpimpin. Dalam sistem ini, kekuasaan terpusat di tangan presiden, dan prinsip musyawarah mufakat dijadikan dasar pengambilan keputusan. Namun, pada praktiknya, sistem ini justru mengekang kebebasan sipil dan membatasi peran partai politik. Presiden Soekarno mengusung konsep Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme) untuk menyatukan kekuatan politik, tetapi hal ini justru menimbulkan konflik dan ketegangan politik yang berujung pada peristiwa G30S/PKI.
Setelah runtuhnya kekuasaan Soekarno, masa Orde Baru di bawah Soeharto memperkenalkan konsep Demokrasi Pancasila. Pemerintahan Orde Baru menekankan stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi, namun pada saat yang sama mengekang kebebasan politik, membatasi peran partai oposisi, serta melakukan sentralisasi kekuasaan. Pemilu tetap dilaksanakan setiap lima tahun, tetapi tidak mencerminkan demokrasi yang sesungguhnya karena hasilnya telah diarahkan untuk memenangkan Golkar sebagai partai dominan. Meski demikian, Orde Baru berhasil membawa Indonesia ke era pembangunan ekonomi yang cukup pesat.
Era Reformasi yang dimulai pada tahun 1998 merupakan respon atas otoritarianisme Orde Baru dan krisis multidimensi yang melanda Indonesia. Gerakan mahasiswa dan tekanan masyarakat sipil berhasil menggulingkan Soeharto dan membuka jalan bagi perubahan sistem politik. Perubahan tersebut mencakup amandemen UUD 1945, pelaksanaan pemilu langsung, kebebasan pers, penguatan peran DPR, serta pembentukan lembaga-lembaga demokratis seperti Mahkamah Konstitusi dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Meskipun era Reformasi membawa angin segar bagi demokrasi, tantangan seperti politik uang, oligarki, dan lemahnya penegakan hukum masih menjadi pekerjaan rumah bagi bangsa Indonesia.