2411012064
Bagaimana konsep self-concept (konsep diri) dapat memengaruhi keputusan konsumen dalam memilih produk fashion dan gadget? Berikan contohnya
Menurut saya, belanja online punya dua sisi yang sama kuat—bisa meningkatkan kesejahteraan konsumen, tapi juga berpotensi merugikan kalau tidak terkendali.
1. Meningkatkan kesejahteraan konsumen
Mudah & hemat waktu: Konsumen tidak perlu keluar rumah untuk mencari barang, cukup lewat aplikasi. Misalnya, ibu rumah tangga bisa belanja kebutuhan bulanan di Tokopedia atau Shopee tanpa harus ke supermarket.
Banyak pilihan & harga lebih murah: Ada fitur perbandingan harga, flash sale, atau voucher ongkir. Contohnya, mahasiswa bisa dapat buku referensi kuliah dengan harga lebih murah lewat e-commerce dibanding toko buku fisik.
Akses yang lebih inklusif: Orang di daerah terpencil bisa membeli barang yang sebelumnya sulit dijangkau, misalnya alat elektronik atau pakaian tertentu.
2. Merugikan konsumen
Impulsif & boros: Promo "11.11" atau "Harbolnas 12.12" mendorong konsumen membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Banyak orang hanya tergiur tulisan “diskon 90%”.
Ketergantungan psikologis: Belanja online bisa jadi pelarian stres. Misalnya, ada tren “healing checkout” di TikTok, di mana orang merasa lebih baik setelah membeli barang walaupun tidak urgent.
Risiko penipuan & kualitas tidak sesuai: Masih ada kasus barang tidak sesuai deskripsi, misalnya beli baju terlihat bagus di foto tapi ternyata tipis dan cepat rusak.
Contoh nyata:
Saat pandemi COVID-19, banyak UMKM di Indonesia bisa bertahan karena jualan online, dan konsumen tetap bisa memenuhi kebutuhan dengan aman. Ini meningkatkan kesejahteraan.
Namun, di sisi lain, survei Bank Indonesia menemukan bahwa sebagian konsumen menyesal setelah belanja impulsif saat Harbolnas, karena barang menumpuk dan uang terpakai untuk hal yang kurang penting.