གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Rahmi Taqiya Darmawanti

AKM A2025 -> Diskusi

Rahmi Taqiya Darmawanti གིས-
Nama: Rahmi Taqiya Darmawanti
NPM: 2413031006

Urgensi Mempelajari Akuntansi Sewa
Akuntansi sewa, diatur oleh PSAK 73 yang mengadopsi IFRS 16 sejak 2020, menjadi mendesak karena mewajibkan pengakuan aset hak guna dan liabilitas sewa di neraca penyewa untuk hampir semua kontrak sewa jangka panjang, menggantikan model lama yang membedakan sewa operasi dan pembiayaan. Hal ini meningkatkan transparansi laporan keuangan, memengaruhi rasio utang, dan memerlukan adaptasi cepat di tengah isu audit kontemporer seperti evaluasi kepatuhan PSAK 73. Tanpa pemahaman ini, perusahaan berisiko salah pelaporan yang berdampak pada keputusan investor dan regulator.

Manfaat Akuntansi Sewa bagi Perusahaan
Akuntansi sewa memungkinkan efisiensi modal dengan mengalokasikan dana untuk pengembangan bisnis daripada pembelian aset langsung. Fleksibilitas aset meningkat karena perusahaan bisa mengganti peralatan sesuai teknologi baru, sementara pengelolaan arus kas lebih baik melalui pembayaran terjadwal yang menghindari beban besar di awal. Selain itu, pencatatan aset dan liabilitas sewa membuat laporan keuangan lebih akurat dan konsisten, mendukung analisis kinerja jangka panjang.

Kebijakan Akuntansi: Pengertian dan Manfaat
Kebijakan akuntansi mencakup prinsip, dasar, dan praktik spesifik yang diterapkan perusahaan untuk pengakuan, pengukuran, serta penyajian laporan keuangan, seperti metode biaya atau revaluasi aset tetap. Manfaatnya termasuk konsistensi perbandingan antarperiode atau antarperusahaan, pengendalian internal untuk minimalkan penipuan, serta kemudahan pelatihan karyawan baru dan kepatuhan audit. Kebijakan ini juga berfungsi sebagai panduan hukum penyusunan laporan, memastikan standarisasi transaksi serupa.

Isu Terkini Seputar Akuntansi (2025)
Tahun 2025 menyoroti tantangan seperti manajemen arus kas di tengah perubahan regulasi, adaptasi AI/otomasi, risiko siber keuangan, serta pelaporan ESG dan keberlanjutan. Di Indonesia, fokus pada reorganisasi SDM akuntansi untuk technical/soft skills baru, termasuk pengungkapan lingkungan hidup dan standar sewa pasca-PSAK 73. Isu ini menekankan perlunya pembaruan kompetensi untuk integritas informasi keuangan di era digital.

TA2025 -> CASE STUDY 2

Rahmi Taqiya Darmawanti གིས-
Nama: Rahmi Taqiya Darmawanti
NPM: 2413031006

1. Pendekatan tradisional fair value mengandalkan tiga metode utama—pasar (market approach) dengan perbandingan harga aset serupa, pendapatan (income approach) melalui diskonto arus kas masa depan, dan biaya (cost approach) dengan penyesuaian depresiasi—yang menekankan judgement profesional dan data observasi untuk memastikan relevansi sesuai IFRS 13 dan PSAK 68. Sebaliknya, pendekatan AI memproses data pasar real-time serta big data secara otomatis untuk estimasi cepat, meningkatkan kecepatan dan volume analisis tapi mengurangi transparansi karena proses black box yang sulit dilacak. Dari perspektif teori akuntansi, tradisional lebih unggul dalam verifiabilitas dan reliabilitas melalui audit manual, sementara AI unggul dalam timeliness namun rentan bias model.

2. Penggunaan AI dalam fair value menggeser sumber pengetahuan akuntansi dari observasi empiris dan judgement ahli ke algoritma prediktif, menimbulkan keraguan validitas karena ketergantungan pada data pelatihan yang mungkin bias atau tidak lengkap, mengaburkan prinsip representasi setia. Epistemologisnya, black box AI melemahkan falsifiability pengetahuan akuntansi, di mana auditor sulit memverifikasi asumsi model terhadap kondisi pasar aktual, berpotensi menimbulkan asimetri informasi bagi stakeholder. Hal ini menantang paradigma positivisme akuntansi tradisional yang mengutamakan bukti objektif, memerlukan paradigma baru yang mengintegrasikan explainable AI untuk menjaga integritas epistemik.

3. Terapkan explainable AI (XAI) untuk mendokumentasikan proses keputusan model secara transparan, dilengkapi sensitivity analysis dan backtesting terhadap data historis agar sesuai hierarki IFRS 13. Libatkan auditor independen dalam validasi input data dan kalibrasi model secara berkala, dengan pengungkapan lengkap asumsi AI dalam catatan laporan keuangan untuk memenuhi prinsip pengungkapan wajar. Adopsi triangulasi metode—kombinasi AI dengan pendekatan tradisional—serta sertifikasi eksternal untuk meningkatkan akuntabilitas, memastikan objektivitas di tengah kompleksitas aset tetap PT Cerdas Digital.