Nama : Najwa Intan Zahira
NPM : 2416041033
Kelas : Reguler A
Prodi : Ilmu Administrasi Negara
Analisis kasus 2
1. Isi dari artikel tersebut, HAM pada tahun 2019 benar-benar berada pada titik terendah karena mengalami kemunduran pada kualitas HAM. Kasus tersebut berisi tidak adanya proses keadilan atas pelanggaran HAM yang dilakukan oleh aparat keamanan, adanya pembatasan dalam kebebasan berekspresi dan kebebasan beragama, diskrimasi gender, yang terakhir kegagalan pemerintah dalam menciptakan keadilan, pengungkapan kebenaran, dan pemulihan terhadap korban pelanggaran HAM.
Hal positif yang dapat diambil adalah Indonesia terus mengupayakan beberapa pembaruan untuk memastikan perlindungan HAM yang lebih baik, menegakan supremasi hukum, dan memperbarui sektor keamanan publik. Dalam hal ini pemerintah masih berusaha supaya masyarakat indonesia mendapatkan apa yang seharusnya dirasakan dalam kepemilikan Hak Asasi Manusia.
2. Demokrasi yang diambil dari istiadat/budaya di Indonesia sebenarnya hasil dari adaptasi dari perkembangan zaman dan pengaruh dari luar yang diwariskan dari setiap generasi. Dengan memahami akar dari sebuah demokrasi di Indonesia, diharapkan bisa lebih menghargai dan melestarikan nilai-nilai luhur. Contohnya seperti proses pengambilan keputusan dengan cara musyawarah, tolong-menolong jika ada yang berada dalam masalah, dan lain sebagainya.
Prinsip demokrasi berdasarkan Ketuhanan yang maha esa seharusnya bisa menjadi pedoman dalam penegakan hukum di Indonesia karena jika seseorang memiliki kepercayaan kepada Tuhan, maka bisa mendorong manusia untuk menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan kebenaran dalam setiap tindakan. Selain itu, bisa dijadikan pelajaran mengenai pentingnya toleransi dan saling menghormati.
3. Praktik demokrasi di Indonesia saat ini menurut saya pribadi masih belum 100% sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 karena masih ada oknum-oknum penegak keadilan yang bertolak belakang dengan hukum yang ada. Oknum-oknum tersebut juga ada yang menghambat HAM di masyarakat biasa dan mangacuhkan suara-suara dari rakyat kecil seolah sengaja menulikan telinga mereka. Kebijakan yang dibuat banyak yang menguntungkan bagi aparatur negara dan sangat merugikan bagi rakyat biasa. Kebijakan-kebijakan yang dibuat sengaja untuk menyejahterakan orang-orang yang berkuasa dan sengaja menindas rakyat-rakyat kecil saja.
4. Tanggapan saya mengenai sikap anggota parlemen yang mengatasnamakan suara rakyat namun sebenarnya melaksanakan politik untuk kepentingan pribadi itu termasuk ke pelanggaran sumpah yang sudah diutarakan saat pertama kali dilantik. Oknum seperti itu sangat mengacaukan negara karena bertindak seolah-olah tidak ada aturan yang mengikatnya. Bukan hanya rakyat yang merugi, tetapi juga negara yang dijadikan sebagai kapal untuk menjalankan semua Kebijakan-kebijakan pribadinya tersebut untuk kepentingan sendiri.
5. Pihak-pihak yang mempunyai kekuasan kharismatik tega menggerakan emosi rakyat untuk tujuan yang tidak jelas, seolah-olah rakyat adalah boneka yang bisa dimainkan dengan mudahnya dan diarahkan dengan gampangnya. Mempermainkan segala hak-hak yang seharusnya diberikan secara adil dan keseluruhan, menjadikan sebagian besar masyarakat Indonesia masih tertinggal jauh dari negara-negara lainnya. Indonesia mempunyai tujuan untuk menyejahterakan rakyat namun pada kenyataan berbanding terbalik dengan itu semua, yang ada hanya menyejahterakan pihak-pihak 'tinggi' saja.