Posts made by Syifa Hesti Pratiwi

ASP A2025 -> Diskusi

by Syifa Hesti Pratiwi -
Nama: Syifa Hesti Pratiwi
NPM: 2313031003

Pengukuran kinerja sektor publik adalah suatu proses terstruktur untuk mengevaluasi sejauh mana instansi pemerintah berhasil mencapai tujuan pelayanan publik secara efektif, efisien, dan akuntabel dengan memanfaatkan sumber daya yang terbatas. Berbeda dari sektor swasta yang berorientasi pada profit, sektor publik mengukur keberhasilan melalui kualitas pelayanan, pemerataan akses, tingkat kepuasan masyarakat, serta dampak sosial jangka panjang dari program yang dijalankan. Pemerintah menggunakan berbagai alat seperti SAKIP/LAKIP, Indikator Kinerja Utama (IKU), Balanced Scorecard versi publik, serta konsep Value for Money guna menilai pencapaian, mengidentifikasi masalah, dan menemukan area perbaikan dalam layanan publik. Meski demikian, pengukuran kinerja sering menemui tantangan, seperti keterbatasan data yang akurat, sulitnya menilai aspek non-finansial seperti keadilan layanan dan kepercayaan publik, perbedaan kompetensi SDM, dan budaya kerja yang belum sepenuhnya berfokus pada hasil. Walaupun menghadapi berbagai hambatan, penerapan sistem pengukuran kinerja yang baik sangat penting untuk memperkuat transparansi, mengurangi penyimpangan anggaran, meningkatkan kualitas pelayanan, serta membangun kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

MPPE A2025 -> Diskusi

by Syifa Hesti Pratiwi -
Nama: Syifa Hesti Pratiwi
NPM: 2313031003

Berdasarkan pengalaman belajar dan referensi dari buku Metodologi Penelitian (Sugiyono, 2019) serta beberapa jurnal ilmiah, dapat dijelaskan bahwa populasi adalah keseluruhan subjek atau objek penelitian yang memiliki karakteristik tertentu dan menjadi sumber data bagi peneliti. Populasi bisa berupa individu, kelompok, lembaga, dokumen, atau peristiwa yang relevan dengan topik penelitian. Sementara itu, sampel adalah bagian dari populasi yang diambil untuk mewakili karakteristik populasi tersebut, sehingga hasil penelitian yang diperoleh dari sampel dapat digeneralisasikan ke seluruh populasi.

Dalam menentukan populasi dan sampel, seorang peneliti perlu memperhatikan beberapa hal penting. Pertama, kesesuaian dengan tujuan penelitian, artinya populasi dan sampel harus benar-benar relevan dengan masalah yang ingin dikaji. Kedua, karakteristik populasi harus jelas, misalnya jumlah, lokasi, jenjang pendidikan, atau bidang yang ditekuni responden. Ketiga, ukuran sampel harus cukup besar agar hasil penelitian valid dan dapat mewakili populasi secara akurat. Keempat, teknik pengambilan sampel harus disesuaikan dengan jenis penelitian, apakah menggunakan teknik probability sampling (seperti simple random sampling) atau non-probability sampling (seperti purposive sampling). Kelima, peneliti perlu memperhatikan keterbatasan sumber daya, seperti waktu, biaya, dan akses terhadap responden, agar proses pengambilan sampel dapat dilakukan secara efektif.
Nama: Syifa Hesti Pratiwi
NPM: 2313031003

Berdasarkan hasil membaca buku Metodologi Penelitian (Sugiyono, 2019) dan beberapa jurnal penelitian di bidang pendidikan ekonomi, dapat disimpulkan bahwa populasi dan sampel merupakan dua elemen penting dalam penelitian kuantitatif yang berhubungan langsung dengan validitas hasil penelitian.

Populasi adalah keseluruhan subjek atau objek penelitian yang memiliki karakteristik tertentu dan menjadi sasaran generalisasi. Misalnya, dalam penelitian pendidikan ekonomi, populasi bisa berupa seluruh mahasiswa program studi Pendidikan Ekonomi di suatu universitas atau seluruh siswa SMA yang mengikuti mata pelajaran ekonomi. Populasi harus didefinisikan dengan jelas agar peneliti mengetahui batas cakupan penelitian.

Sampel adalah sebagian dari populasi yang diambil untuk mewakili keseluruhan populasi tersebut. Pemilihan sampel dilakukan karena keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya sehingga peneliti tidak mungkin meneliti seluruh populasi. Sampel yang baik harus representatif, artinya memiliki karakteristik yang sama atau mendekati karakteristik populasi. Dalam jurnal-jurnal pendidikan ekonomi, peneliti biasanya menggunakan teknik sampling seperti simple random sampling, stratified sampling, atau purposive sampling tergantung pada tujuan dan desain penelitian.

Sebagai contoh, pada penelitian tentang pengaruh model pembelajaran ekonomi berbasis proyek terhadap hasil belajar, populasi yang digunakan adalah seluruh siswa kelas XI IPS di satu sekolah, sedangkan sampelnya adalah dua kelas yang dipilih secara acak untuk dijadikan kelas eksperimen dan kontrol.

Dari hasil bacaan tersebut dapat disimpulkan bahwa pemahaman terhadap populasi dan sampel sangat penting agar hasil penelitian dapat digeneralisasikan dengan benar. Populasi menentukan ruang lingkup penelitian, sedangkan sampel menentukan ketepatan data yang diperoleh. Oleh karena itu, dalam penelitian pendidikan ekonomi, peneliti harus mampu menetapkan populasi dan memilih sampel secara tepat agar hasil penelitian valid, reliabel, dan dapat menggambarkan kondisi sebenarnya.

MPPE A2025 -> CASE STUDY 2

by Syifa Hesti Pratiwi -
Nama: Syifa Hesti Pratiwi
NPM: 2313031003

Jawaban:
1. Teori yang relevan untuk landasan teori
Beberapa teori yang bisa dipakai untuk menyusun landasan teori penelitian pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja karyawan antara lain: (a) Teori Kepemimpinan Transformasional vs Transaksional (Bass) — menjelaskan bagaimana pemimpin yang menginspirasi/cenderung transformasional dapat meningkatkan motivasi dan kinerja dibanding pemimpin transaksional; (b) Teori Situasional / Contingency (Fiedler, Hersey-Blanchard) — menyatakan efektivitas gaya kepemimpinan bergantung pada konteks dan kematangan bawahan; (c) Path-Goal Theory (House) — menjelaskan bagaimana pemimpin memfasilitasi pencapaian tujuan bawahan sehingga meningkatkan kinerja; (d) Leader–Member Exchange (LMX) — menekankan kualitas hubungan pemimpin-bawahan sebagai penentu kinerja; (e) Teori Motivasi (Herzberg, Maslow, Self-Determination Theory) — untuk menjelaskan mekanisme mengapa gaya kepemimpinan memengaruhi motivasi dan selanjutnya kinerja; dan (f) Social Exchange Theory — memberi dasar untuk memahami timbal balik antara perlakuan pemimpin dan komitmen/perilaku kerja karyawan. Kombinasi teori-teori ini membantu menjelaskan hubungan langsung maupun tidak langsung (melalui motivasi, kepuasan kerja, komitmen) antara gaya kepemimpinan dan kinerja.

2. Kerangka pikir yang logis dan sistematis
Kerangka pikirnya: gaya kepemimpinan (variabel independen) memengaruhi kinerja karyawan (variabel dependen) baik secara langsung maupun tidak langsung melalui mediator seperti motivasi kerja dan kepuasan kerja. Selain itu, hubungan tersebut dipengaruhi (dimoderasi) oleh faktor kontekstual seperti budaya organisasi, otonomi pekerjaan, dan kondisi kerja (mis. remote vs onsite). Secara singkat:
Gaya Kepemimpinan → (langsung) → Kinerja Karyawan
Gaya Kepemimpinan → Motivasi / Kepuasan Kerja (mediator) → Kinerja Karyawan
(Moderator: Budaya organisasi, Otonomi kerja, Kompetensi karyawan)
Penjelasan logis: pemimpin yang bersifat transformasional/relasional meningkatkan dukungan, kejelasan tugas, umpan balik, dan pemberdayaan sehingga meningkatkan motivasi dan kepuasan; motivasi/ kepuasan inilah yang menggerakkan perilaku kerja produktif dan hasil kerja yang lebih tinggi. Namun bila konteks (mis. budaya kontrol ketat atau rendahnya otonomi) tidak mendukung, pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja bisa melemah.

3. Hipotesis yang dapat diuji secara ilmiah
Berikut beberapa hipotesis operasional yang jelas dan dapat diuji:
- H1: Gaya kepemimpinan transformasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan.
- H2: Gaya kepemimpinan transaksional berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan, namun pengaruhnya lebih lemah dibanding gaya transformasional.
- H3: Motivasi kerja memediasi hubungan antara gaya kepemimpinan dan kinerja karyawan (yaitu, gaya kepemimpinan → motivasi → kinerja).
- H4: Kualitas hubungan leader–member (LMX) berhubungan positif dengan kinerja karyawan dan memoderasi pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja.
- H5: Otonomi pekerjaan memoderasi hubungan antara gaya kepemimpinan dan kinerja karyawan, sehingga pengaruh positif gaya kepemimpinan terhadap kinerja lebih kuat ketika otonomi pekerjaan tinggi.