གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Najwa Ayudia Aura Rachim

MPPE A2025 -> ACTIVITY: RESUME

Najwa Ayudia Aura Rachim གིས-
Nama: Najwa Ayudia Aura Rachim
NPM: 2313031027
Kelas: A

1. Teknik Sampling
Teknik sampling adalah cara peneliti mengambil sebagian anggota populasi untuk dijadikan sampel. Bab ini menegaskan bahwa penelitian tidak selalu harus memakai seluruh populasi, sehingga pemilihan teknik sampling yang tepat menjadi krusial. Tujuan Teknik Sampling yaitu menghasilkan sampel yang mampu mewakili populasi. Dan emungkinkan generalisasi hasil penelitian. Pembagian Umum Teknik Sampling dibagi menjadi dua kelompok besar:

A. Probability Sampling (Acak)
Setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk terpilih.
Jenis-jenisnya:
1. Simple Random Sampling – pengambilan sampel secara acak sederhana.
2. Stratified Random Sampling – populasi dibagi dalam strata lalu diambil sampelnya.
3. Area Sampling – pengambilan sampel berdasarkan wilayah.
4. Systematic Sampling – sampel dipilih dengan interval tertentu.

B. Non-Probability Sampling (Tidak Acak)
Tidak semua anggota populasi memiliki peluang yang sama.
Jenis-jenisnya:
1. Purposive Sampling – berdasarkan pertimbangan tertentu.
2. Snowball Sampling – sampel berkembang melalui referensi.
3. Accidental/Incidental Sampling – siapa saja yang ditemui.
4. Quota Sampling – berdasarkan proporsi tertentu.
5. Sampling Jenuh – seluruh populasi dijadikan sampel jika jumlahnya kecil.

2. Desain Penelitian (Research Design)
Desain penelitian merupakan kerangka dasar, rencana, atau strategi yang digunakan peneliti sebagai pedoman dalam proses pengumpulan data dan analisis. Desain penelitian membantu memastikan bahwa penelitian berjalan teratur dan sesuai tujuan. Serta Kerangka kerja yang menetapkan data apa yang dikumpulkan, bagaimana cara mengumpulkannya, dan bagaimana menganalisisnya dan juga Rencana strategis untuk menjawab tujuan atau hipotesis penelitian.

Unsur Pokok Desain Penelitian
1. Judul penelitian
2. Latar belakang masalah
3. Tujuan dan hipotesis
4. Kerangka dasar penelitian
5. Penarikan sampel
bahwa banyak peneliti turun ke lapangan tanpa desain yang baik sehingga hasilnya tidak sistematis. Desain penelitian membantu mengatasi hal tersebut.

3. Instrumen Penelitian dan Persyaratannya
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan peneliti untuk mengukur variabel, merekam data, atau mengumpulkan informasi. Instrumen dapat berupa tes, angket/kuesioner, pedoman wawancara, observasi, maupun dokumentasi. Instrumen adalah alat untuk mengukur objek ukur, engumpulkan data secara sistematis dan mendapatkan informasi kuantitatif dari suatu variable. Menurut Arikunto dan Suryabrata, instrumen harus mampu mencatat data secara objektif dan sistematis.
Macam-Macam Instrumen
• Tes (hasil belajar, IQ, kemampuan)
• Non-tes (observasi, wawancara, angket, dokumentasi)

Instrumen yang baik harus memenuhi tiga syarat utama:
1. Validitas
Mengukur apa yang seharusnya diukur. Jenis validitas:
• Isi
• Konstruksi
• Empiris

2. Reliabilitas
Konsistensi alat ukur jika digunakan berulang kali. Metode pengujiannya:
• Test-retest
• Konsistensi internal

3. Praktikabilitas (Usability)
Instrumen harus:
• Ekonomis (waktu & biaya)
• Mudah digunakan
• Hasilnya mudah diinterpretasikan

Jadi dalam bab 4 menekankan Pentingnya menentukan teknik sampling untuk memperoleh sampel yang representative, Desain penelitian adalah strategi yang membantu peneliti mencapai tujuan dan menjawab hipotesis dan Instrumen penelitian harus valid, reliabel, dan praktis agar mampu menghasilkan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Bab ini memberikan landasan penting sebelum melangkah ke tahap berikutnya, yaitu menentukan populasi dan sampel secara lebih detail
Nama: Najwa Ayudia Aura Rachim
NPM: 2313031027
Kelas: A

1. Pengertian Populasi
populasi sebagai wilayah generalisasi yang mencakup subjek atau objek yang memiliki karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari. Populasi tidak selalu berarti jumlah yang banyak; bahkan satu orang dapat menjadi populasi jika orang tersebut memiliki banyak karakteristik yang dapat diteliti, Contohnya
• Jika penelitian dilakukan di sekolah X, maka sekolah tersebut adalah populasi karena memiliki jumlah orang, objek, dan karakteristik tertentu seperti motivasi kerja, disiplin, kepemimpinan, kebijakan sekolah, dan lain-lain.
• Dalam bidang kedokteran, darah seseorang dapat menjadi populasi, sedangkan sampel adalah sebagian kecil darah yang diperiksa.
terlihat bahwa populasi dipahami dalam dua arti:
1. Populasi jumlah (kuantitas) > berisi anggota dalam jumlah tertentu.
2. Populasi karakteristik > berisi atribut/kualitas yang melekat pada anggota populasi.

2. Pengertian Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki populasi. Sampel digunakan ketika peneliti menghadapi keterbatasan tenaga, waktu, dana, atau kesulitan mempelajari seluruh populasi. Sampel harus representatif, artinya dapat mewakili populasi sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasikan. memberikan ilustrasi bahwa sampel yang tidak representatif akan menghasilkan kesimpulan yang salah diibaratkan seperti beberapa orang buta yang menyimpulkan bentuk gajah hanya dari bagian tubuh yang mereka pegang. Dalam penelitian kuantitatif, sampel yang representatif memungkinkan generalisasi hasil ke populasi. Namun dalam penelitian kualitatif, sampel dipilih secara purposive dan hasilnya tidak digeneralisasikan, melainkan hanya dapat ditransfer ke situasi yang mirip.

3. Teknik Pengambilan Sampel
teknik sampling dibagi menjadi dua kelompok besar:

A. Probability Sampling
Memberikan peluang yang sama bagi setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Jenisnya:
1. Simple Random Sampling — populasi dianggap homogen dan pemilihan dilakukan secara acak.
2. Proportionate Stratified Random Sampling — populasi tidak homogen dan berstrata proporsional.
3. Disproportionate Stratified Random Sampling — digunakan ketika ada strata kecil yang tidak proporsional.
4. Cluster/Area Sampling — berdasarkan wilayah tertentu.

B. Non-Probability Sampling
Tidak memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh anggota populasi. Jenisnya:
1. Sampling Sistematis berdasarkan nomor urut populasi; misalnya mengambil anggota pada kelipatan tertentu.
2. Sampling Kuota menentukan jumlah sampel tiap ciri tertentu sampai kuota terpenuhi.
3. Sampling Insidental siapa pun yang kebetulan ditemui dan cocok dijadikan sampel.
4. Purposive Sampling berdasarkan pertimbangan tertentu, sangat umum dalam penelitian kualitatif.
5. Sampling Jenuh digunakan jika seluruh anggota populasi dijadikan sampel (misalnya populasi < 30).
6. Snowball Sampling jumlah sampel awal sedikit namun bertambah seperti bola salju karena peneliti terus mencari sumber data yang relevan.

4. Penentuan Ukuran Sampel
menyajikan rumus dan tabel dari Isaac & Michael untuk menentukan jumlah sampel berdasarkan tingkat kesalahan (1%, 5%, dan 10%). Misalnya:
Dari populasi 1000 orang, sampel ideal:
399 (kesalahan 1%)
258 (kesalahan 5%)
213 (kesalahan 10%)
Semakin besar sampel mendekati populasi, semakin kecil kesalahan generalisasi.

Jadi populasi dan sampel adalah dua konsep kunci dalam penelitian, terutama penelitian kuantitatif. Populasi merupakan keseluruhan elemen yang memiliki karakteristik tertentu, sedangkan sampel adalah bagian dari populasi yang digunakan sebagai sumber data. Pemilihan sampel harus tepat dan representatif agar hasil penelitian valid. Teknik sampling yang dipilih harus disesuaikan dengan jenis penelitian (kuantitatif atau kualitatif), kondisi populasi, serta tujuan penelitian.

MPPE A2025 -> CASE STUDY 2

Najwa Ayudia Aura Rachim གིས-
Nama: Najwa Ayudia Aura Rachim
NPM: 2313031027
Kelas: A

1. Teori Landasan Teori yang Bisa Digunakan:
• Teori Kepemimpinan Transformasional dan Transaksional (Bass, 1985), yang menjelaskan bagaimana gaya kepemimpinan mempengaruhi motivasi dan kinerja melalui inspirasi dan penghargaan.
• Teori Motivasi Herzberg, yang mengaitkan hubungan antar gaya kepemimpinan dan motivasi karyawan serta dampaknya pada kinerja.
• Teori Kontingensi Kepemimpinan yang menyoroti pengaruh gaya kepemimpinan dalam konteks situasi tertentu di organisasi.
• Teori Perilaku Kepemimpinan yang membahas dampak perilaku pemimpin terhadap produktivitas dan semangat kerja karyawan.

2. Kerangka Pikir Hubungan Gaya Kepemimpinan dan Kinerja Karyawan adalah :
Gaya Kepemimpinan (seperti transformasional, partisipatif, autokratis) → mempengaruhi → Motivasi Karyawan → mempengaruhi → Kinerja Karyawan (produktivitas, kualitas kerja, disiplin).

3. Rumuskan hipotesis yang dapat diuji dari kerangka pikir adalah :
H1: Gaya kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi karyawan.
H2: Motivasi karyawan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan.
H3: Gaya kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan langsung terhadap kinerja karyawan.
H4: Motivasi karyawan memediasi hubungan antara gaya kepemimpinan dan kinerja karyawan.

mengacu pada hasil penelitian kuantitatif yang menemukan hubungan signifikan antara gaya kepemimpinan dan kinerja karyawan, serta peran motivasi sebagai mediator dalam mekanisme tersebut.

MPPE A2025 -> CASE STUDY

Najwa Ayudia Aura Rachim གིས-
Nama: Najwa Ayudia Aura Rachim
NPM: 2313031027
Kelas: A

1. Teori yang relevan untuk landasan teori pada penelitian ini adalah:
> Teori Pembelajaran Daring: menjelaskan karakteristik, manfaat, dan tantangan pembelajaran daring, seperti pembelajaran mandiri, interaksi virtual, dan penggunaan teknologi digital (constructivism, computer-supported collaborative learning).
> Teori Efektivitas Pembelajaran: membahas faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pembelajaran daring, termasuk motivasi, interaksi antara mahasiswa dan dosen, desain instruksional, dan dukungan teknologi.
3. Teori Hasil Belajar: fokus pada hubungan antara metode pembelajaran dan pencapaian hasil belajar mahasiswa, serta bagaimana perubahan metode memengaruhi penyerapan materi dan performa akademik.

2. Kerangka pikir yang logis dapat dirumuskan dengan:
> Variabel independen: Pembelajaran Daring (faktor seperti metode, frekuensi, interaksi, teknologi yang digunakan)
> Variabel tergantung: Hasil Belajar Mahasiswa (nilai, pemahaman materi, keterampilan)
Hubungan: Pembelajaran daring yang efektif dengan dukungan motivasi, interaksi, dan desain instruksional akan meningkatkan hasil belajar mahasiswa. Adanya faktor penghambat seperti kesulitan teknis dan kurangnya interaksi sosial dapat menurunkan efektivitas.

Secara sistematis:
Pembelajaran Daring → Motivasi, Interaksi, Desain Instruksional, Dukungan Teknologi → Efektivitas Pembelajaran → Hasil Belajar Mahasiswa

3. Berdasarkan kerangka pikir hipotesis yang bisa diuji adalah:
> Hipotesis utama: Pembelajaran daring yang efektif berpengaruh positif signifikan terhadap hasil belajar mahasiswa di masa pascapandemi COVID-19.
> Hipotesis tambahan dapat melibatkan pengaruh mediasi motivasi belajar dan interaksi daring terhadap hubungan pembelajaran daring dan hasil belajar.
Dengan kerangka dan hipotesis ini, mahasiswa dapat menyusun penelitian yang sistematis dan ilmiah dalam menguji pengaruh pembelajaran daring terhadap hasil belajar.

MPPE A2025 -> Menulis Summary e-journal

Najwa Ayudia Aura Rachim གིས-
Nama: Najwa Ayudia Aura Rachim
NPM: 2313031027
Kelas: A

perbedaan mendasar antara theory, theoretical framework, dan conceptual framework, tiga konsep yang sering membingungkan mahasiswa penelitian tingkat lanjut (HDR). Kivunja menyoroti bahwa banyak mahasiswa menggunakan istilah tersebut secara bergantian, padahal masing-masing memiliki makna, fungsi, dan posisi yang sangat berbeda dalam sebuah penelitian. Teori didefinisikan sebagai seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang saling berhubungan untuk menjelaskan atau memprediksi fenomena tertentu. Sebuah teori memiliki karakteristik logis, koheren, jelas batasannya, teruji secara empiris, serta mampu menjelaskan hubungan antar variabel. Teori berfungsi sebagai dasar intelektual yang memberikan cara pandang untuk memahami fenomena, merumuskan permasalahan, serta memprediksi apa yang mungkin terjadi dalam konteks sosial dan pendidikan.
Sementara itu, kerangka teoretis (theoretical framework) adalah struktur analitis yang disusun berdasarkan teori-teori yang sudah ada dan relevan dengan topik penelitian. Kerangka teoretis tidak berisi opini peneliti, tetapi merupakan sintesis dari pemikiran para pakar atau “giants” di bidang yang diteliti. Fungsinya sebagai “coat hanger” atau lensa yang membantu peneliti menganalisis data, menginterpretasikan temuan, serta menghubungkan hasil penelitian dengan pengetahuan teoretis yang telah mapan. Kerangka teoretis juga menunjukkan kompetensi akademik peneliti dalam memahami literatur. Berbeda dengan itu, kerangka konseptual (conceptual framework) jauh lebih luas. Ia mencakup seluruh proses berpikir peneliti dari pemilihan topik, perumusan masalah, tujuan penelitian, kajian literatur, teori yang digunakan, metode, teknik pengumpulan data, analisis, hingga penyusunan laporan. Kerangka konseptual adalah peta besar atau blueprint keseluruhan penelitian, sehingga mencerminkan konstruksi berpikir peneliti secara menyeluruh. Karena cakupannya sangat luas, Kivunja menekankan bahwa kerangka konseptual tidak perlu dijelaskan secara eksplisit dalam proposal atau tesis, kecuali diperlukan.
Artikel ini menegaskan bahwa setiap tesis yang baik harus memiliki kerangka teoretis, terutama pada tingkat doktoral, karena kerangka teoretis berperan langsung dalam analisis data dan argumentasi ilmiah. Sebaliknya, kerangka konseptual lebih bersifat internal dan tidak wajib ditulis dalam sebuah bab khusus. Dengan memahami perbedaan ini, mahasiswa dapat menyusun proposal dan tesis yang lebih terarah, rigor, dan konsisten secara metodologis.