Posts made by Fajriyatur Rohmah 2313031048

MPPE B2025 -> CASE STUDY

by Fajriyatur Rohmah 2313031048 -
Nama: Fajriyatur Rohmah
NPM: 2313031048

1. Menurut saya penggunaan angket dengan skala Likert sudah sesuai dengan pendekatan kuantitatif. Hal ini karena pendekatan kuantitatif membutuhkan data dalam bentuk angka yang bisa dihitung, dianalisis secara statistik, dan digeneralisasi. Skala Likert 1–5 mengubah persepsi guru terhadap gaya kepemimpinan maupun motivasi kerja menjadi data numerik, sehingga cocok untuk analisis kuantitatif.

2. Kelebihan:
- Bisa mengumpulkan data dari banyak responden dalam waktu relatif singkat.
- Praktis, murah, dan mudah dibagikan.
- Jawaban sudah terstruktur sehingga mudah diolah secara statistik.

Kelemahan:
-Jawaban responden mungkin kurang jujur atau asal-asalan, misalnya hanya mengisi untuk formalitas.
-Tidak bisa menggali informasi mendalam seperti alasan atau latar belakang dari jawaban.
-Interpretasi pertanyaan bisa berbeda-beda antar responden.

3. Untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja, analisis yang tepat adalah regresi linear sederhana. Karena gaya kepemimpinan sebagai variabel independen (X) dan motivasi kerja sebagai variabel dependen (Y), sehingga regresi bisa menunjukkan arah dan besar pengaruh.

Untuk melihat perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan, analisis yang tepat adalah uji ANOVA satu arah (One Way ANOVA). Alasannya karena tingkat pendidikan terdiri dari beberapa kelompok (misalnya S1, S2, atau lainnya), dan ANOVA mampu menguji apakah rata-rata motivasi kerja berbeda secara signifikan antar kelompok tersebut.

4. Potensi bias/masalah validitas:
-Bias sosial: responden bisa saja menjawab lebih positif agar terlihat baik.
-Kesalahpahaman item: ada kemungkinan guru menafsirkan pernyataan berbeda dari maksud peneliti.
-Respon tidak konsisten: beberapa responden mengisi secara asal atau terburu-buru.
-Validitas konstruk: apakah pernyataan dalam angket benar-benar mewakili konsep gaya kepemimpinan dan motivasi kerja.

Cara mengatasinya:
-Menyusun angket dengan bahasa yang jelas, sederhana, dan mudah dipahami.
-Melakukan uji validitas dan reliabilitas instrumen sebelum angket dibagikan secara luas.
-Memberi instruksi yang jelas dan menekankan kerahasiaan jawaban agar responden lebih jujur.
-Menggunakan uji statistik tambahan (seperti Cronbach’s Alpha) untuk memastikan konsistensi internal item angket.

MPPE B2025 -> Diskusi

by Fajriyatur Rohmah 2313031048 -
Nama: Fajriyatur Rohmah
NPM: 2313031048

Menurut pendapat saya, seorang peneliti perlu menentukan teknik pengumpulan data yang tepat karena hal ini sangat berpengaruh pada kualitas hasil penelitian. Data yang terkumpul adalah dasar dari seluruh analisis, jadi kalau teknik pengumpulannya tidak sesuai, maka data yang diperoleh bisa tidak akurat atau bahkan menyesatkan. Akibatnya, kesimpulan penelitian juga menjadi lemah dan kurang bisa dipercaya.

Teknik pengumpulan data juga harus selaras dengan masalah penelitian dan tujuan yang ingin dicapai. Misalnya, kalau penelitian ingin mengukur persepsi atau sikap mahasiswa, maka kuesioner atau wawancara lebih sesuai. Sebaliknya, kalau peneliti ingin tahu pengaruh suatu metode pembelajaran terhadap hasil belajar, maka teknik tes atau observasi lebih cocok. Artinya, setiap jenis masalah penelitian punya kebutuhan data yang berbeda, sehingga teknik yang dipilih pun harus menyesuaikan.

Dengan memilih teknik yang tepat, peneliti tidak hanya menghemat waktu dan tenaga, tapi juga memastikan bahwa data yang dikumpulkan benar-benar relevan dengan fokus penelitian. Jadi, keterkaitan antara teknik pengumpulan data, masalah penelitian, dan tujuan penelitian itu sangat erat: masalah menentukan jenis data yang dibutuhkan, tujuan penelitian menentukan kedalaman data, dan teknik pengumpulan data menjadi cara untuk memperoleh informasi tersebut secara efektif.