Nama: Anggi Fadhilah Putri
Npm: 2313031061
Pertanyaan no 1:
Paradigma anggaran tradisional pada dasarnya berfokus pada input, yaitu seberapa banyak uang yang dialokasikan untuk suatu kegiatan atau program. Dalam sistem ini, anggaran disusun berdasarkan rincian pos-pos belanja, misalnya gaji pegawai, biaya operasional, dan pembelian barang. Orientasinya lebih ke kepatuhan administrasi, apakah dana digunakan sesuai dengan pos yang sudah ditentukan, bukan pada seberapa besar hasil atau manfaat yang dicapai.
Sementara itu, paradigma anggaran berbasis New Public Management (NPM) membawa perubahan yang cukup besar. NPM memandang anggaran tidak hanya sekadar daftar belanja, tetapi juga alat manajemen kinerja. Artinya, setiap rupiah yang dikeluarkan harus dikaitkan dengan target, output, atau outcome tertentu. Dengan pendekatan ini, kinerja birokrasi lebih mudah diukur karena bukan hanya jumlah dana yang dihabiskan yang dilihat, melainkan juga apa hasil dari penggunaan anggaran tersebut.
Pertanyaan no 2:
Nah, di sinilah implementasi Zero-Based Budgeting (ZBB) bisa berperan untuk menjembatani kesenjangan antara anggaran tradisional dan NPM. ZBB mengharuskan setiap kegiatan atau program yang diajukan benar-benar dimulai dari nol, bukan sekadar melanjutkan alokasi anggaran tahun sebelumnya. Dengan cara ini, setiap program harus dipertanggungjawabkan manfaatnya, tujuan yang ingin dicapai, serta alasan kenapa anggaran tersebut dibutuhkan. ZBB membantu mengurangi kelemahan anggaran tradisional yang cenderung rutin dan kurang kritis terhadap efektivitas, sekaligus memperkuat prinsip NPM yang menuntut efisiensi dan akuntabilitas. Jadi, penerapan ZBB dapat menjadi solusi agar anggaran lebih transparan, rasional, serta benar-benar mendukung kinerja sektor publik sesuai kebutuhan masyarakat.