Kiriman dibuat oleh Qonita Nurul Izzah 2313031042

MPPE B2025 -> CASE STUDY

oleh Qonita Nurul Izzah 2313031042 -
Nama : Qonita Nurul Izzah
NPM: 2313031042

1. Identifikasi Masalah Penelitian yang Relevan
Masalah penelitian yang relevan dari kasus di atas adalah penurunan jumlah mahasiswa baru di universitas tersebut, yang terjadi secara konsisten selama tiga tahun terakhir meskipun telah dilakukan upaya promosi intensif melalui media sosial, pameran pendidikan, dan kerja sama dengan sekolah menengah atas. Masalah ini menyoroti ketidakefektifan strategi pemasaran pendidikan tinggi, yang memerlukan investigasi mendalam untuk mengidentifikasi faktor penyebab (seperti faktor internal universitas, eksternal pasar, atau persepsi calon mahasiswa) agar dapat dirumuskan rekomendasi strategis untuk meningkatkan pendaftaran di masa depan.

2. Penjelasan Minimal Dua Variabel yang Dapat Dikaji
Dalam penelitian ini, variabel-variabel dapat dikaji untuk memahami hubungan kausal atau pengaruh terhadap penurunan pendaftaran. Berikut dua contoh variabel beserta jenisnya:

- Variabel Dependen: Jumlah mahasiswa baru yang mendaftar.
Variabel ini merupakan hasil atau outcome yang diamati, yaitu penurunan jumlah pendaftaran mahasiswa baru selama tiga tahun terakhir. Variabel ini dapat diukur secara kuantitatif melalui data statistik pendaftaran tahunan, dan menjadi fokus utama untuk menjelaskan masalah penurunan.

-Variabel Independen: Efektivitas strategi promosi (misalnya, intensitas dan kualitas kampanye media sosial serta pameran pendidikan).
Variabel ini merupakan faktor penyebab potensial yang memengaruhi variabel dependen. Meskipun universitas telah melakukan promosi besar-besaran, efektivitasnya (seperti jangkauan audiens atau konversi ke pendaftaran) mungkin rendah, sehingga dapat dikaji melalui indikator seperti tingkat engagement di media sosial atau feedback dari calon mahasiswa.

Selain itu, variabel lain seperti variabel intervening (misalnya, persepsi calon mahasiswa terhadap reputasi universitas) juga bisa dikaji untuk menjelaskan mekanisme pengaruh.

3. Paradigma Penelitian yang Paling Tepat
Paradigma penelitian yang paling tepat untuk mengkaji kasus ini adalah positivisme.

Alasan pemilihan paradigma positivisme adalah karena kasus ini melibatkan fenomena yang dapat diukur secara objektif dan empiris, seperti data kuantitatif mengenai jumlah pendaftaran mahasiswa, anggaran promosi, dan metrik efektivitas kampanye (misalnya, melalui survei terstruktur atau analisis statistik). Paradigma ini menekankan pencarian hubungan kausal yang dapat diuji secara ilmiah, seperti pengaruh variabel independen terhadap dependen, untuk menghasilkan rekomendasi strategis berbasis bukti yang dapat direplikasi. Paradigma interpretif kurang tepat karena lebih fokus pada makna subjektif individu, sementara kritis lebih cocok untuk isu kekuasaan sosial yang tidak dominan di sini; positivisme memungkinkan tim peneliti internal untuk mengumpulkan data faktual guna mendukung keputusan rektor secara efisien.

4. Satu Rumusan Masalah dan Satu Pertanyaan Penelitian
- Rumusan Masalah: Apa faktor-faktor utama yang menyebabkan penurunan jumlah mahasiswa baru di universitas tersebut selama tiga tahun terakhir, meskipun telah dilakukan promosi intensif melalui media sosial, pameran pendidikan, dan kerja sama dengan sekolah menengah atas, serta bagaimana faktor-faktor tersebut dapat diatasi melalui strategi pemasaran yang lebih efektif?

- Pertanyaan Penelitian: Sejauh mana efektivitas strategi promosi memengaruhi jumlah pendaftaran mahasiswa baru di universitas tersebut, dan faktor eksternal apa yang berkontribusi terhadap penurunan tersebut?

MPPE B2025 -> Menulis Summary e-journal

oleh Qonita Nurul Izzah 2313031042 -
Nama : Qonita Nurul Izzah
NPM: 2313031042

Artikel jurnal ini bertujuan menjelaskan perbedaan mendasar antara teori, kerangka teoretis (theoretical framework), dan kerangka konseptual (conceptual framework), tiga konsep yang sering membingungkan mahasiswa dan peneliti pemula dalam penyusunan proposal maupun tesis. Melalui pendekatan pengalaman praktis dan tinjauan literatur sistematis, Kivunja menguraikan makna, fungsi, serta cara penerapan ketiganya dalam konteks penelitian pendidikan.

1. Teori
Teori diartikan sebagai seperangkat konsep, proposisi, dan prinsip yang saling berhubungan untuk menjelaskan atau memprediksi fenomena. Teori muncul dari penelitian empiris dan berfungsi sebagai dasar intelektual untuk memahami, menganalisis, dan memecahkan masalah. Sebuah teori yang baik harus logis, konsisten, berbasis data empiris, serta dapat diuji dan direvisi sesuai perkembangan ilmu.

2. Kerangka teoritis
Kerangka teoretis merupakan struktur yang dibangun dari teori-teori yang relevan untuk menjelaskan, menganalisis, dan menafsirkan data penelitian. Ia berperan sebagai “gantungan teoretis” yang menyatukan temuan agar memiliki makna ilmiah. Melalui kerangka ini, peneliti mengaitkan hasil penelitiannya dengan teori yang ada, memperkuat validitas, serta menunjukkan kontribusi akademik.

3. Kerangka konseptual
kerangka konseptual bersifat lebih luas, mencakup keseluruhan rancangan dan logika penelitian mulai dari identifikasi masalah, metodologi, hingga interpretasi hasil. Jika kerangka teoretis adalah satu “ruangan” dalam rumah penelitian, maka kerangka konseptual adalah keseluruhan “rumah”-nya.

Kivunja menegaskan bahwa setiap tesis yang baik harus memiliki kerangka teoretis yang jelas, sementara kerangka konseptual tidak harus dijelaskan secara eksplisit. Pemahaman yang tepat terhadap ketiganya menunjukkan kedewasaan ilmiah peneliti dalam menghubungkan teori dengan praktik penelitian.

ASP B2025 -> Diskusi

oleh Qonita Nurul Izzah 2313031042 -
Nama: Qonita Nurul Izzah
NPM: 2313031042
Kelas : B

Sistem manajemen sektor publik di era digital menghadirkan transformasi mendalam dalam pelayanan publik melalui implementasi e-government, big data, dan artificial intelligence. Inovasi ini memungkinkan layanan yang lebih efisien, transparan, dan terukur, seperti terlihat dalam platform digital pemerintah dan sistem layanan online. Namun dalam pandangan saya, kemajuan ini belum sepenuhnya inklusif karena masih menghadapi tantangan digital divide dan kesenjangan literasi digital di berbagai daerah, yang justru berisiko memperlebar ketimpangan akses terhadap pelayanan publik.
Dari sudut pandang saya, saya melihat implementasi teknologi dalam sektor publik masih sering terjebak pada pendekatan teknosentris yang mengutamakan pembangunan infrastruktur tanpa diimbangi dengan kesiapan SDM dan regulasi yang memadai. Pengalaman mengamati berbagai inovasi digital pemerintah menunjukkan bahwa banyak program yang lebih fokus pada aspek hardware daripada peningkatan kapasitas pengguna dan penyiapan governance yang kuat. Saya meyakini bahwa kesuksesan transformasi digital seharusnya diukur dari sejauh mana teknologi mampu memecahkan masalah konkret masyarakat, bukan sekadar dari sophistication teknologi yang diadopsi.

Ke depannya arah transformasi digital sektor publik seharusnya tidak hanya mengejar efisiensi teknis, tetapi membangun ekosistem digital yang berpusat pada manusia dan nilai-nilai publik. Saya percaya bahwa kunci keberhasilan terletak pada keseimbangan antara inovasi teknologi dengan penguatan tata kelola, perlindungan data masyarakat, dan peningkatan literasi digital secara menyeluruh. Teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperkuat demokrasi dan keadilan sosial, bukan sekadar alat efisiensi administratif semata.

ASP B2025 -> Diskusi

oleh Qonita Nurul Izzah 2313031042 -
Nama : Qonita Nurul Izzah
NPM: 2313031042
Kelas : B

1. Anggaran Tradisional bercirikan pendekatan inkremental, dimana anggaran tahun berjalan disusun berdasarkan realisasi tahun sebelumnya dengan penyesuaian minimal. Fokus utamanya terletak pada pengendalian input dan kepatuhan terhadap prosedur, dengan struktur line-item yang mengelompokkan belanja menurut pos-pos seperti gaji, peralatan, dan barang habis pakai. Akuntabilitas diukur dari kesesuaian dengan regulasi, bukan hasil yang dicapai. Sedangkan Anggaran Berbasis NPM mentransformasi orientasi menjadi hasil kinerja dengan menekankan value for money. Paradigma ini menghubungkan alokasi anggaran secara langsung dengan output dan outcome yang ditargetkan. Struktur program berbasis kinerja menggantikan line-item, sementara akuntabilitas bergeser dari kepatuhan prosedural menjadi pencapaian target performa.

2. Implementasi ZBB dimulai dengan identifikasi unit pengambilan keputusan, dilanjutkan penyusunan paket keputusan yang memuat berbagai level layanan beserta biayanya. Seluruh paket kemudian diranking berdasarkan prioritas strategis sebelum alokasi dana ditetapkan.
Sebagai jembatan, ZBB memutus pola inkremental tradisional dengan memulai evaluasi dari nol setiap periode. Secara paralel, metode ini mendorong budaya kinerja ala NPM melalui keharusan membuktikan nilai setiap program. Proses ranking memaksa kompetisi sehat antarkegiatan berdasarkan kontribusi strategis. Tantangan implementasi mencakup kompleksitas administratif yang membutuhkan data rinci, resistensi birokrasi terhadap perubahan, serta potensi pengabaian investasi jangka panjang. Namun, ZBB tetap efektif sebagai mekanisme transisi menuju anggaran berbasis kinerja yang lebih rasional.