NAMA: QONITA NURUL IZZAH
NPM: 2313031042
Menurut saya, proses audit dan risiko audit memiliki hubungan yang sangat erat dan bersifat saling memengaruhi, karena seluruh tahapan audit pada dasarnya dirancang untuk mengelola dan menurunkan risiko audit ke tingkat yang dapat diterima.
Secara teori, hubungan ini dijelaskan dalam Audit Risk Model (ARM), yaitu:
Audit Risk (AR) = Inherent Risk (IR) × Control Risk (CR) × Detection Risk (DR).
Model ini menunjukkan bahwa proses audit tidak dilakukan secara acak, tetapi berbasis pada penilaian risiko. Auditor terlebih dahulu menilai risiko inheren dan risiko pengendalian (yang berasal dari kondisi perusahaan), kemudian menentukan risiko deteksi melalui prosedur audit yang akan dilakukan.
Dalam praktiknya, hubungan tersebut terlihat jelas dalam setiap tahapan proses audit:
Tahap Perencanaan Audit
Auditor melakukan risk assessment untuk memahami bisnis klien, lingkungan pengendalian, serta potensi salah saji. Di sini, risiko audit menjadi dasar dalam menentukan strategi audit. Semakin tinggi IR dan CR, maka auditor harus merancang prosedur yang lebih ketat.
Tahap Pelaksanaan (Pengujian Audit)
Risiko audit memengaruhi jenis dan jumlah pengujian, terutama pengujian substantif. Jika risiko salah saji material tinggi, maka auditor harus menurunkan risiko deteksi dengan cara meningkatkan jumlah bukti audit, memilih prosedur yang lebih andal (misalnya konfirmasi eksternal), dan memperluas sampel pemeriksaan.
Tahap Evaluasi dan Pelaporan
Auditor mengevaluasi apakah bukti yang diperoleh sudah cukup dan tepat untuk menekan risiko audit ke tingkat yang dapat diterima sebelum memberikan opini. Jika risiko masih tinggi, auditor dapat melakukan prosedur tambahan.
Dari sisi hasil riset, banyak penelitian dalam auditing (misalnya oleh Arens, Elder & Beasley serta Messier) menunjukkan bahwa pendekatan berbasis risiko (risk-based auditing) meningkatkan efektivitas audit karena auditor dapat memfokuskan sumber daya pada area yang paling berisiko. Selain itu, riset juga menunjukkan bahwa kegagalan audit sering terjadi karena kesalahan dalam menilai risiko, bukan semata-mata karena kurangnya prosedur audit.
NPM: 2313031042
Menurut saya, proses audit dan risiko audit memiliki hubungan yang sangat erat dan bersifat saling memengaruhi, karena seluruh tahapan audit pada dasarnya dirancang untuk mengelola dan menurunkan risiko audit ke tingkat yang dapat diterima.
Secara teori, hubungan ini dijelaskan dalam Audit Risk Model (ARM), yaitu:
Audit Risk (AR) = Inherent Risk (IR) × Control Risk (CR) × Detection Risk (DR).
Model ini menunjukkan bahwa proses audit tidak dilakukan secara acak, tetapi berbasis pada penilaian risiko. Auditor terlebih dahulu menilai risiko inheren dan risiko pengendalian (yang berasal dari kondisi perusahaan), kemudian menentukan risiko deteksi melalui prosedur audit yang akan dilakukan.
Dalam praktiknya, hubungan tersebut terlihat jelas dalam setiap tahapan proses audit:
Tahap Perencanaan Audit
Auditor melakukan risk assessment untuk memahami bisnis klien, lingkungan pengendalian, serta potensi salah saji. Di sini, risiko audit menjadi dasar dalam menentukan strategi audit. Semakin tinggi IR dan CR, maka auditor harus merancang prosedur yang lebih ketat.
Tahap Pelaksanaan (Pengujian Audit)
Risiko audit memengaruhi jenis dan jumlah pengujian, terutama pengujian substantif. Jika risiko salah saji material tinggi, maka auditor harus menurunkan risiko deteksi dengan cara meningkatkan jumlah bukti audit, memilih prosedur yang lebih andal (misalnya konfirmasi eksternal), dan memperluas sampel pemeriksaan.
Tahap Evaluasi dan Pelaporan
Auditor mengevaluasi apakah bukti yang diperoleh sudah cukup dan tepat untuk menekan risiko audit ke tingkat yang dapat diterima sebelum memberikan opini. Jika risiko masih tinggi, auditor dapat melakukan prosedur tambahan.
Dari sisi hasil riset, banyak penelitian dalam auditing (misalnya oleh Arens, Elder & Beasley serta Messier) menunjukkan bahwa pendekatan berbasis risiko (risk-based auditing) meningkatkan efektivitas audit karena auditor dapat memfokuskan sumber daya pada area yang paling berisiko. Selain itu, riset juga menunjukkan bahwa kegagalan audit sering terjadi karena kesalahan dalam menilai risiko, bukan semata-mata karena kurangnya prosedur audit.