Kiriman dibuat oleh Intan Ruliana

MPPE A2025 -> CASE STUDY

oleh Intan Ruliana -
Nama: Intan Ruliana
NPM: 2313031016

1. Pendekatan Penelitian yang Paling Sesuai

Pendekatan yang paling tepat untuk penelitian mengenai pengaruh penggunaan media digital interaktif terhadap motivasi belajar siswa adalah pendekatan kuantitatif. Hal ini karena tujuan penelitian jelas ingin mengetahui seberapa besar pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain, sehingga membutuhkan pengukuran angka dan analisis statistik. Penelitian kuantitatif memungkinkan peneliti menguji hipotesis mengenai ada atau tidaknya pengaruh media digital terhadap motivasi, serta memberikan hasil yang objektif dan terukur. Pendekatan kualitatif sebenarnya dapat memberikan gambaran mendalam mengenai pengalaman siswa, namun bukan yang paling tepat jika fokus utama penelitian adalah pengaruh.

2. Langkah-Langkah Penelitian

Langkah awal penelitian dimulai dari identifikasi masalah, yaitu mengenali bahwa motivasi belajar siswa selama pembelajaran daring masih rendah dan media digital interaktif diperkirakan dapat menjadi solusi. Peneliti menyusun latar belakang yang menjelaskan kondisi tersebut secara logis dan didukung teori atau penelitian terdahulu. Latar belakang kemudian dirumuskan menjadi pertanyaan penelitian yang spesifik, misalnya: “Apakah media digital interaktif berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa?”

Tujuan penelitian disusun sebagai jawaban dari rumusan masalah. Setelah menentukan variabel bebas (penggunaan media digital interaktif) dan variabel terikat (motivasi belajar), peneliti menetapkan hipotesis serta menentukan populasi dan sampel. Instrumen penelitian berupa angket kemudian disusun dan diuji kelayakannya. Data dikumpulkan melalui angket, dianalisis menggunakan statistik yang sesuai, dan hasilnya disajikan dalam bentuk kesimpulan serta saran. Tahap akhir adalah penyusunan laporan penelitian dalam format ilmiah.

3. Potensi Masalah dan Solusinya

Beberapa kendala mungkin muncul selama penelitian. Pertama, responden bisa saja kurang serius mengisi angket karena kegiatan dilakukan secara daring. Untuk mengatasinya, peneliti perlu bekerja sama dengan guru atau wali kelas agar siswa mengisi instrumen pada waktu yang tepat. Kedua, instrumen yang disusun mungkin belum valid atau belum reliabel. Peneliti perlu melakukan uji coba instrumen terlebih dahulu sebelum digunakan secara resmi. Ketiga, bisa jadi penggunaan media digital interaktif tidak berjalan konsisten di kelas, sehingga mempengaruhi hasil penelitian. Solusinya adalah melakukan koordinasi dengan guru agar media digital digunakan secara teratur. Terakhir, peneliti mungkin mengalami kesulitan dalam melakukan analisis data. Kesulitan ini dapat diatasi dengan menggunakan aplikasi statistik seperti SPSS atau Jamovi, dan belajar rumus dasar analisis data sesuai kebutuhan penelitian.

4. Penyusunan Instrumen dan Pengujian Validitas

Instrumen penelitian dapat disusun dengan terlebih dahulu menetapkan indikator masing-masing variabel. Variabel penggunaan media digital interaktif dapat diukur melalui indikator seperti intensitas penggunaan, kemudahan, interaktivitas, dan manfaatnya. Sementara itu, motivasi belajar dapat diukur melalui indikator minat, perhatian, ketekunan, serta antusiasme siswa. Setiap indikator kemudian dikembangkan menjadi pernyataan dalam skala Likert.

Setelah instrumen selesai, tahap selanjutnya adalah menguji validitas dan reliabilitas. Validitas isi diuji dengan meminta ahli menilai apakah setiap pernyataan sudah mewakili konsep teoritis. Validitas empiris diuji dengan melakukan uji coba instrumen kepada kelompok kecil siswa lalu menghitung korelasi item dengan total skor. Item yang tidak valid perlu dibuang atau diperbaiki. Reliabilitas diukur menggunakan nilai Cronbach’s Alpha, di mana nilai di atas 0.70 menunjukkan instrumen reliabel. Setelah instrumen dinyatakan valid dan reliabel, barulah instrumen dapat digunakan untuk penelitian utama.

MPPE A2025 -> Summary

oleh Intan Ruliana -
Nama: Intan Ruliana
NPM: 2313031016

Perumusan Masalah Penelitian
Modul menegaskan bahwa penelitian selalu berangkat dari adanya persoalan yang perlu dijawab. Tanpa masalah yang jelas, peneliti tidak memiliki arah dalam merancang langkah penelitian, memilih teori, mengumpulkan data, ataupun menarik kesimpulan. Karena itu, perumusan masalah dianggap sebagai fondasi utama dalam kegiatan ilmiah.

Masalah penelitian dipahami sebagai kesenjangan antara keadaan yang seharusnya terjadi menurut teori atau tujuan yang diharapkan, dengan kondisi yang berlangsung di dunia nyata. Kesenjangan inilah yang memunculkan pertanyaan dan mendorong peneliti mencari penjelasan. Tidak semua masalah dapat dijadikan objek penelitian; hanya masalah yang memunculkan pertanyaan ilmiah, memiliki urgensi yang jelas, dan memungkinkan dijawab melalui metode ilmiah yang dianggap dapat diteliti lebih lanjut. Untuk itu, peneliti perlu menguraikan latar belakang masalah secara terstruktur dan logis, sehingga pembaca memahami mengapa topik tersebut penting untuk dikaji.

Dalam proses mengidentifikasi masalah, peneliti harus mampu menunjukkan kondisi faktual yang menimbulkan persoalan, menjelaskan relevansinya, serta mempertimbangkan apakah penelitian tersebut mungkin dilakukan dengan keterbatasan waktu, data, dan kemampuan. Modul membedakan beberapa jenis masalah yang umum digunakan dalam penelitian: masalah deskriptif yang menekankan gambaran terhadap suatu variabel, masalah komparatif yang mengkaji perbedaan antar kelompok, dan masalah asosiatif atau korelatif yang menyelidiki hubungan antar variabel. Ketiga jenis masalah tersebut direpresentasikan melalui bentuk rumusan yang berbeda sesuai fokus penelitian.

Sumber masalah bisa berasal dari banyak hal: pengalaman pribadi peneliti, temuan penelitian terdahulu, teori yang menimbulkan pertanyaan lanjut, diskusi akademik, perubahan kebijakan, fenomena sosial, hingga pengamatan di lapangan. Modul menegaskan bahwa masalah yang baik tidak hanya menarik perhatian peneliti, tetapi juga memiliki kontribusi teoretis atau praktis bagi bidang yang diteliti. Masalah juga harus realistis untuk dikerjakan, tidak terlalu luas, jelas ruang lingkupnya, dan memungkinkan diperoleh data yang mendukung.

Setelah masalah diidentifikasi, peneliti harus merumuskannya menjadi kalimat yang jelas dan terarah. Rumusan masalah biasanya berupa pertanyaan penelitian yang menjadi dasar pengumpulan data dan analisis. Perumusan masalah merupakan inti penelitian karena akan menentukan teori yang digunakan, teknik pengumpulan data, hingga metode analisis yang relevan. Rumusan masalah untuk penelitian deskriptif, komparatif, maupun asosiatif memiliki pola yang berbeda dan harus disesuaikan dengan tujuan kajian.

Modul kemudian membahas penyusunan judul penelitian. Judul tidak dibuat secara sembarangan, tetapi lahir dari rumusan masalah yang telah matang. Judul harus informatif, spesifik, dan menggambarkan variabel serta ruang lingkup penelitian. Judul yang terlalu panjang atau terlalu singkat, ambigu, atau menggunakan istilah yang tidak jelas perlu dihindari. Judul yang baik mampu memberi gambaran singkat tentang topik utama yang akan diteliti.

Modul menegaskan bahwa proses penelitian harus dimulai dari latar belakang yang kuat, rumusan masalah yang jelas, tujuan penelitian yang ingin dicapai, serta manfaat yang dapat diberikan penelitian tersebut. Keempat komponen ini saling berkaitan dan menentukan kualitas keseluruhan penelitian. Modul juga menyediakan latihan serta tes formatif untuk memastikan pemahaman mahasiswa terhadap perumusan masalah penelitian.

MPPE A2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Intan Ruliana -
Nama: Intan Ruliana
NPM: 2313031016

A. Perumusan Masalah Penelitian

Metodologi penelitian adalah cara untuk melakukan penelitian, yaitu proses memperoleh informasi dan menginvestigasi data agar dapat menemukan atau mengembangkan ilmu pengetahuan. Karena penelitian merupakan kegiatan yang panjang dan sistematis, maka peneliti harus memiliki rumusan masalah yang jelas. Latar belakang masalah menjadi alasan mengapa penelitian dilakukan, dapat disusun dari teori menuju fakta atau sebaliknya. Di dalamnya harus diuraikan situasi masalah, urgensi penelitian, serta informasi yang sudah dan belum diketahui. Untuk menyusun latar belakang, peneliti perlu meninjau teori, data, fakta, dan hasil penelitian terdahulu agar tidak terjadi duplikasi. Sumber penyusunan latar belakang dapat berasal dari buku, jurnal, penelitian sebelumnya, pengalaman pribadi, maupun pengamatan langsung. Setelah itu, rumusan masalah harus dibuat dalam bentuk pertanyaan yang jelas, operasional, dan dapat diteliti, karena menjadi dasar pengumpulan data dan analisis penelitian.

B. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan jawaban atas rumusan masalah. Penyusunannya tidak lepas dari rumusan masalah karena keduanya harus konsisten. Melalui tujuan penelitian, peneliti menetapkan apa yang ingin dicapai sehingga seluruh proses penelitian dapat berjalan terarah. Dengan demikian, tujuan penelitian berfungsi sebagai pedoman utama dalam pengumpulan data, analisis, serta penyusunan kesimpulan.

C. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian menjelaskan kegunaan yang diperoleh setelah penelitian selesai. Manfaat dapat bersifat teoritis maupun praktis. Manfaat teoritis berkaitan dengan kontribusi penelitian terhadap pengembangan ilmu, misalnya memperluas teori, menguji konsep, atau memperbaiki pemahaman. Manfaat praktis berkaitan dengan kegunaan langsung bagi lembaga, masyarakat, atau pihak tertentu, misalnya memberikan solusi, rekomendasi, atau informasi baru yang dapat digunakan dalam praktik. Peneliti dapat menyusun manfaat penelitian dengan mengacu kepada rumusan masalah dan tujuan penelitian.

MPPE A2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Intan Ruliana -
Nama: Intan Ruliana
NPM: 2313031016

A. Penelitian Ilmiah

Penelitian ilmiah dimulai dengan kemampuan berpikir ilmiah yang memiliki sifat sistemik, testable, fleksibel, dan mampu memprediksi. Dalam kehidupan yang semakin kompleks, pemikiran ilmiah dibutuhkan agar permasalahan dapat diatasi secara benar dan objektif. Secara etimologis, penelitian berarti “kembali mencari”, yaitu rangkaian kegiatan ilmiah untuk memecahkan masalah. Penelitian berfungsi mencari penjelasan dan solusi, dimulai dari rasa ingin tahu manusia tentang suatu masalah. Penyelidikan ilmiah merupakan proses sistematis, terkontrol, empiris, dan kritis terhadap hubungan antar fenomena sehingga menghasilkan pengetahuan. Untuk memilih masalah, peneliti mempertimbangkan workability, critical mass, interest, nilai teoretis, dan nilai praktis agar penelitian layak dan bermanfaat.

B. Metode Penelitian Ilmiah

Metode penelitian ilmiah merupakan operasionalisasi metode ilmiah yang berisi langkah penyelidikan ilmiah. Metode yang dipilih harus sesuai dengan pertanyaan penelitian. Penelitian dasar bertujuan mengembangkan atau menguji teori secara deduktif maupun induktif melalui penelusuran fakta. Sementara itu, penelitian terapan digunakan untuk memecahkan masalah nyata melalui riset evaluasi, penelitian dan pengembangan (R&D) yang memvalidasi produk pendidikan, serta penelitian tindakan yang menguji metode baru untuk menyelesaikan masalah tertentu.

C. Metode Penelitian Berdasarkan Tujuan

Metode eksplorasi digunakan untuk menemukan hal-hal yang belum diketahui keberadaan atau kebenarannya. Metode deskriptif bertujuan menggambarkan secara akurat suatu keadaan, sifat individu, atau penyebaran fenomena yang terjadi. Metode verifikatif digunakan untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan berdasarkan pertanyaan penelitian.

D. Metode Penelitian Berdasarkan Sifat

Studi kasus merupakan studi intensif, terperinci, dan mendalam tentang organisme, jaringan, atau fenomena tertentu yang dianggap istimewa. Studi sejarah menekankan pengamatan, pemahaman, interpretasi, dan penjelasan peristiwa masa lalu untuk menafsirkan kondisi sekarang dan memprediksi masa depan. Penelitian eksperimental digunakan untuk mengetahui hubungan sebab akibat. Studi kelayakan menilai apakah suatu program atau kegiatan layak secara teknis dan ekonomis. Studi banding berusaha menemukan solusi melalui hubungan sebab-akibat antara faktor tertentu.

E. Langkah-Langkah atau Prosedur Penelitian

Penelitian bertujuan variatif seperti evaluasi program atau pengembangan, sehingga peneliti perlu memilih metode kuantitatif atau kualitatif secara tepat. Penelitian kuantitatif mengikuti langkah-langkah: identifikasi, pemilihan, dan perumusan masalah; penyusunan kerangka pemikiran; perumusan hipotesis; pengujian hipotesis secara empirik menggunakan statistik; pembahasan; dan penarikan kesimpulan. Penelitian kualitatif dimulai dari masalah yang fleksibel, tinjauan pustaka, penetapan tujuan, pengumpulan data berupa teks atau gambar, observasi, sampel purposive, wawancara, hingga analisis induktif berdasarkan fakta dan gejala lapangan.

F. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian merupakan gambaran objektif mengenai hasil yang diperoleh setelah tujuan penelitian tercapai. Manfaat teoritis berfungsi menguji, memperkuat, atau meruntuhkan teori yang sudah ada sehingga mendukung pengembangan ilmu. Manfaat praktis adalah dampak langsung dari hasil penelitian yang dapat digunakan masyarakat untuk memecahkan masalah nyata atau meningkatkan praktik pendidikan.