གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Adea Aprilia

AUDITING B2026 -> Diskusi

Adea Aprilia གིས-

NAMA : Adea Aprilia
NPM    : 2313031034

Pemeriksaan aktiva tetap merupakan salah satu komponen penting dalam audit laporan keuangan yang bertujuan untuk memastikan bahwa pencatatan dan pengelolaan aset tetap perusahaan dilakukan secara akurat dan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Dari perspektif akuntansi, pemeriksaan ini menekankan pada ketepatan pengakuan nilai aset, perhitungan penyusutan, serta identifikasi kemungkinan penurunan nilai aset. Tujuannya adalah untuk menjaga keandalan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Sementara itu, dari sisi keuangan, pemeriksaan aktiva tetap membantu dalam menilai efisiensi pengelolaan aset, termasuk dalam hal umur ekonomis dan kebutuhan penggantian aset. Pemeriksaan ini penting agar perusahaan dapat menghindari risiko kerugian akibat kerusakan atau ketidaksiapan dalam pembiayaan aset yang sudah usang.

Dari sudut pandang manajerial, hasil pemeriksaan aset tetap sangat berguna dalam perencanaan strategis, seperti keputusan investasi, peremajaan aset, atau pelepasan aset yang tidak produktif. Manajemen memerlukan informasi yang akurat mengenai kondisi aset untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya yang dimiliki perusahaan. Sedangkan dari perspektif pemilik saham atau investor, kejelasan informasi terkait nilai dan kondisi aset tetap sangat memengaruhi penilaian terhadap kesehatan dan integritas keuangan perusahaan. Ketidakakuratan dalam pelaporan nilai aset tetap dapat menimbulkan ketidakpercayaan dan berdampak pada keputusan investasi. Oleh karena itu, pemeriksaan aktiva tetap tidak hanya penting untuk pelaporan keuangan semata, tetapi juga sebagai dasar dalam pengambilan keputusan ekonomi dan manajerial yang strategis. Seperti yang dijelaskan oleh Wicaksana & Haryati (2024), pengendalian internal terhadap aset tetap yang efektif berkontribusi signifikan dalam menciptakan keandalan laporan keuangan dan meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.

Refrensi: 
Wicaksana, F. E. C., & Haryati, T. (2024). Peranan Audit Operasional dan Pengendalian Internal pada Kinerja Perusahaan. Jurnal Ilmiah Ekonomi Dan Manajemen, 2(7), 658-668.


AUDITING B2026 -> Diskusi

Adea Aprilia གིས-

Nama : Adea Aprilia
NPM   : 2313031034

Prosedur pemeriksaan biaya dibayar di muka merupakan bagian penting dalam proses audit karena akun ini berkaitan langsung dengan penyajian aset lancar dalam laporan keuangan. Biaya dibayar di muka adalah pengeluaran yang dilakukan perusahaan untuk memperoleh manfaat ekonomi di masa yang akan datang, seperti sewa dibayar di muka, asuransi, atau langganan. Dalam proses pemeriksaannya, auditor biasanya memulai dengan memeriksa dokumen pendukung seperti faktur, bukti pembayaran, dan kontrak atau perjanjian yang relevan. Setelah itu, auditor akan melakukan penelusuran ke jurnal akuntansi, mencocokkan nilai yang dibayar dengan periode manfaatnya, dan memverifikasi apakah alokasi atau amortisasi biaya telah dilakukan secara sistematis dan rasional selama masa manfaatnya. Prosedur selanjutnya mencakup pengujian kelayakan periode pembebanan biaya, serta konfirmasi saldo akhir jika diperlukan, misalnya kepada pihak ketiga seperti perusahaan asuransi.

Pertimbangan utama dalam memeriksa biaya dibayar di muka adalah ketepatan pengakuan dan alokasi waktu manfaat ekonomisnya. Artinya, auditor harus memastikan bahwa biaya tersebut benar-benar memberikan manfaat di masa depan dan belum sepenuhnya dikonsumsi pada periode berjalan. Jika biaya yang seharusnya menjadi aset (karena manfaatnya untuk periode selanjutnya) langsung dibebankan ke beban periode berjalan, maka hal ini akan menyebabkan distorsi pada laporan laba rugi, yaitu beban menjadi terlalu besar, dan laba bersih menjadi tidak wajar. Sebaliknya, jika biaya seharusnya dibebankan tetapi masih tercatat sebagai aset, maka nilai aset akan terlalu besar dan tidak mencerminkan realitas ekonomi perusahaan. Oleh karena itu, pengujian waktu dan proporsi alokasi biaya menjadi pertimbangan yang sangat krusial, karena menyangkut kewajaran penyajian laba bersih dan aset lancar perusahaan. Pertimbangan ini penting tidak hanya bagi kepentingan internal manajemen, tetapi juga bagi pengguna laporan keuangan seperti investor, kreditur, dan regulator.

AUDITING B2026 -> Diskusi

Adea Aprilia གིས-
Nama : Adea Aprilia
NPM : 2313031034

Pemeriksaan persediaan merupakan salah satu aspek penting dalam audit laporan keuangan karena persediaan sering kali merupakan salah satu aset terbesar dan paling berisiko dalam sebuah entitas, terutama di sektor manufaktur, perdagangan, dan distribusi. Persediaan yang tercatat dalam laporan keuangan harus diverifikasi keakuratannya, baik dari segi jumlah fisik maupun nilai tercatatnya. Hal ini penting karena persediaan dapat mempengaruhi laba yang dilaporkan oleh entitas, terutama ketika ada perbedaan antara jumlah yang tercatat dan jumlah yang sebenarnya tersedia di lapangan, atau jika persediaan tidak dihitung dengan metode yang benar sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku, seperti PSAK 14 tentang Persediaan. Urgensi pemeriksaan persediaan terletak pada beberapa faktor. Pertama, persediaan memiliki dampak langsung pada laporan laba rugi karena perubahan nilai persediaan akan memengaruhi biaya barang yang terjual (COGS) dan pada akhirnya laba kotor entitas. Kedua, persediaan yang tidak dikelola dengan baik atau tidak tercatat dengan akurat dapat mengarah pada masalah likuiditas atau bahkan kerugian finansial jika entitas harus menjual barang dengan harga lebih rendah dari nilai tercatatnya. Sebagai contoh, persediaan yang usang atau tidak dapat dijual dapat mengurangi nilai wajar persediaan dan harus dinilai dengan penyisihan penurunan nilai, yang mempengaruhi laba dan aset perusahaan. Ketiga, ketepatan pengelolaan persediaan berhubungan dengan efisiensi operasional, di mana audit terhadap persediaan dapat membantu mengidentifikasi apakah ada pemborosan, kelebihan stok, atau masalah dalam pengendalian internal yang dapat merugikan entitas.

Dalam melakukan pemeriksaan persediaan, auditor perlu memeriksa beberapa hal, termasuk pencatatan dan metode perhitungan yang digunakan, serta verifikasi fisik terhadap barang yang ada di gudang atau lokasi penyimpanan. Selain itu, auditor juga harus memastikan bahwa entitas menggunakan metode valuasi yang tepat seperti FIFO (First In First Out), LIFO (Last In First Out), atau rata-rata tertimbang sesuai dengan kebijakan akuntansi yang diterapkan. Di samping itu, auditor juga harus mengevaluasi keberadaan persediaan yang sudah tidak relevan lagi atau rusak, yang mungkin memerlukan penurunan nilai untuk mencerminkan nilai pasar yang lebih rendah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Widyastuti dan Sari (2019) dalam jurnal "Pemeriksaan Persediaan dalam Audit Laporan Keuangan", mereka menekankan bahwa pemeriksaan persediaan bukan hanya sekadar menghitung jumlah barang yang ada, tetapi juga memeriksa sistem pengendalian internal entitas yang berkaitan dengan persediaan. Sistem yang baik dapat mencegah pencatatan yang salah, penghilangan barang, atau manipulasi data yang dapat mempengaruhi kewajaran laporan keuangan. Oleh karena itu, audit persediaan tidak hanya dilihat dari sisi fisik, tetapi juga dari sisi proses yang mendasari pencatatan dan pengelolaannya, yang tentunya berhubungan erat dengan aspek kontrol internal yang diterapkan oleh entitas.Pemeriksaan persediaan ini juga menjadi sangat krusial dalam situasi perusahaan yang sedang berkembang atau melakukan ekspansi, di mana pengelolaan persediaan yang tidak efektif bisa menyebabkan masalah serius di kemudian hari, termasuk
ketidaksesuaian dalam perencanaan dan pengalokasian sumber daya yang efisien. Oleh karena itu, audit persediaan memiliki peran penting dalam memberikan keyakinan kepada pihak eksternal (misalnya, investor atau kreditor) bahwa laporan keuangan yang disajikan mencerminkan keadaan yang sesungguhnya, dengan demikian menjaga kepercayaan publik terhadap kinerja finansial entitas.

Referensi:
Widyastuti, A., & Sari, D. P. (2019). Pemeriksaan Persediaan dalam Audit Laporan Keuangan. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, 17(1), 45-56.

AUDITING B2026 -> Diskusi

Adea Aprilia གིས-
Nama : Adea Aprilia
NPM : 2313031034

Pemeriksaan surat berharga dan investasi dalam audit laporan keuangan adalah proses penting yang harus dilakukan dengan teliti karena akun ini biasanya memiliki nilai yang besar dan melibatkan risiko tinggi. Surat berharga dan investasi dapat berupa saham, obligasi, reksa dana, surat utang jangka pendek, atau bahkan penyertaan modal pada perusahaan lain. Dalam melakukan audit, hal pertama yang harus dilakukan auditor adalah memahami bagaimana perusahaan mencatat dan mengklasifikasikan investasi tersebut, apakah untuk diperdagangkan (trading), dimiliki hingga jatuh tempo (held to maturity), atau tersedia untuk dijual (available for sale), karena klasifikasi ini memengaruhi perlakuan akuntansi dan bagaimana nilai investasinya disajikan di laporan keuangan. Auditor kemudian memverifikasi keberadaan dan kepemilikan investasi tersebut, misalnya dengan meminta konfirmasi kepada bank kustodian atau broker tempat investasi disimpan, atau mengecek dokumen seperti sertifikat saham dan laporan portofolio. Kemudian, auditor juga harus mengevaluasi apakah nilai yang dicatat sudah sesuai dengan nilai pasar yang wajar.

Misalnya, jika perusahaan memiliki saham di perusahaan publik, auditor bisa membandingkan harga pasar saham tersebut di bursa efek. Untuk investasi yang tidak aktif diperdagangkan, seperti penyertaan pada anak perusahaan atau entitas asosiasi, auditor harus menilai apakah terdapat penurunan nilai (impairment) yang harus diakui, yaitu kondisi ketika nilai investasi lebih rendah dari nilai tercatat secara signifikan dan permanen. Hal yang juga penting diperhatikan adalah tujuan investasi dan dokumen pendukungnya tentang apakah investasi tersebut bertujuan untuk jangka pendek atau jangka panjang karena ini akan mempengaruhi klasifikasi aset lancar atau tidak lancar di neraca. Jadi, pemeriksaan surat berharga dan investasi tidak hanya melihat angka-angka, tetapi juga mempertimbangkan risiko, pasar, dokumen legal, dan strategi perusahaan sehingga auditor dapat memberikan keyakinan bahwa nilai yang dilaporkan benar-benar mencerminkan kondisi ekonomi sebenarnya, dan tidak menyesatkan pemakai laporan keuangan seperti investor, kreditur, maupun regulator.

Contoh:
Jika sebuah perusahaan memiliki portofolio investasi yang terdiri dari saham PT ABC Tbk, obligasi pemerintah, dan penyertaan 30% di PT XYZ, maka auditor akan memeriksa harga saham PT ABC berdasarkan harga pasar terakhir di Bursa Efek Indonesia, memastikan bunga obligasi diterima sesuai jadwal, serta memeriksa apakah PT XYZ memberikan laporan keuangan yang menunjukkan laba atau rugi, dan apakah ada indikasi bahwa nilai investasinya harus disesuaikan. Jika dalam pemeriksaan ditemukan bahwa nilai pasar saham PT ABC telah turun tajam selama 6 bulan terakhir dan tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan, maka auditor akan mempertimbangkan kemungkinan adanya penurunan nilai yang harus dicatat oleh perusahaan.

AUDITING B2026 -> Diskusi

Adea Aprilia གིས-
NAMA : Adea Aprilia
NPM : 2313031034

Pemeriksaan kas dan setara kas mencakup beberapa prosedur utama yang bertujuan memastikan keandalan informasi keuangan. Langkah-langkah ini mencakup pengecekan fisik kas yang dimiliki perusahaan, pencocokan antara catatan kas internal dengan data rekening koran melalui rekonsiliasi bank, serta pengecekan transaksi penerimaan dan pengeluaran untuk memastikan semuanya telah dicatat dengan benar. Selain itu, auditor juga perlu meminta konfirmasi langsung dari pihak bank mengenai saldo kas, guna memastikan bahwa angka yang disajikan dalam laporan keuangan benar adanya.
Dalam proses audit kas dan setara kas, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan. Misalnya, auditor harus menjaga independensinya, mewaspadai potensi terjadinya kecurangan, menilai sejauh mana pengendalian internal berjalan efektif, dan memperhatikan nilai kas dalam konteks materialitas laporan keuangan secara keseluruhan.
Pemeriksaan terhadap kas dan setara kas juga tidak bisa dilepaskan dari pemeriksaan piutang. Hal ini karena kas yang masuk ke perusahaan umumnya berasal dari pembayaran piutang oleh pelanggan. Jika terdapat ketidaksesuaian antara catatan kas dan piutang, hal ini bisa menjadi tanda adanya masalah, seperti piutang yang belum tertagih atau pencatatan yang keliru. Oleh karena itu, audit terhadap dua pos ini saling melengkapi dan sama-sama penting dalam mengevaluasi kondisi keuangan perusahaan secara menyeluruh.
Adapun contoh empirisnya dalam audit yang dilakukan oleh KAP Kanaka terhadap PT Dealer Kendaraan di Bali, beberapa langkah pemeriksaan kas dan setara kas dilakukan. Salah satunya adalah pengecekan fisik kas, yang mencatat saldo sebesar Rp 151.842.200, sementara hasil pengecekan fisik menunjukkan angka Rp 147.345.100, dengan selisih sebesar Rp 4.497.100. Auditor juga melakukan rekonsiliasi bank untuk memastikan semua transaksi telah dicatat dengan akurat, dan meminta konfirmasi dari pihak bank yang mengonfirmasi bahwa saldo di bank sesuai dengan catatan perusahaan.

Referensi:
Kusuma, A. L. D., & Suryaningrum, D. H. (2024). Analisis prosedur kertas kerja kas setara kas pada PT Dealer Kendaraan di Bali oleh KAP Kanaka. Economic and Business Management International Journal, 6(2), 196-203.