Nama: Rahma Noviyana
NPM: 2313031060
1. Paradigma anggaran tradisional cenderung berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat dengan pendekatan yang terpusat dan berorientasi pada pengeluaran. Proses anggaran lebih hierarkis, dengan pemerintah menentukan alokasi dana untuk departemen dan program-program berdasarkan kebutuhan historis. Anggaran ini kurang fleksibel dan kurang berorientasi pada pengukuran kinerja. Di sisi lain, paradigma anggaran berbasis NPM lebih menekankan efisiensi dan akuntabilitas dalam penggunaan dana publik. Pendanaan dialokasikan berdasarkan kinerja dan hasil yang diharapkan, dengan penekanan pada pengukuran kinerja, transparansi, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat yang berubah. Ini melibatkan pemikiran yang lebih terdesentralisasi dalam pengambilan keputusan anggaran, mendorong inovasi, dan partisipasi masyarakat dalam proses anggaran.
2. Proses implementasi Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat berperan penting dalam mengatasi kesenjangan antara paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM. Dalam mengadopsi ZBB, organisasi sektor publik harus memeriksa kembali setiap komponen anggaran dari awal, tidak hanya berdasarkan anggaran sebelumnya, sehingga memungkinkan identifikasi dan penghapusan aktivitas yang tidak efisien atau tidak efektif. Dengan demikian, ZBB memberikan kesempatan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan dana publik, yang sejalan dengan prinsip-prinsip anggaran berbasis NPM. Selain itu, ZBB juga mendorong fokus pada hasil dan kinerja program, yang sesuai dengan pendekatan berorientasi pada hasil yang dianut dalam anggaran berbasis NPM. Proses implementasi ZBB juga dapat mempromosikan transparansi dan akuntabilitas, karena setiap anggaran harus dijelaskan dan dibenarkan dari awal, mengurangi kesenjangan informasi yang mungkin ada dalam paradigma anggaran tradisional.
Suryanto. (2019). Tinjauan Perubahan Sistem Penganggaran Berbasis. Jurnal Administrasi Publik dan Pembangunan, 1(2).
NPM: 2313031060
1. Paradigma anggaran tradisional cenderung berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat dengan pendekatan yang terpusat dan berorientasi pada pengeluaran. Proses anggaran lebih hierarkis, dengan pemerintah menentukan alokasi dana untuk departemen dan program-program berdasarkan kebutuhan historis. Anggaran ini kurang fleksibel dan kurang berorientasi pada pengukuran kinerja. Di sisi lain, paradigma anggaran berbasis NPM lebih menekankan efisiensi dan akuntabilitas dalam penggunaan dana publik. Pendanaan dialokasikan berdasarkan kinerja dan hasil yang diharapkan, dengan penekanan pada pengukuran kinerja, transparansi, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat yang berubah. Ini melibatkan pemikiran yang lebih terdesentralisasi dalam pengambilan keputusan anggaran, mendorong inovasi, dan partisipasi masyarakat dalam proses anggaran.
2. Proses implementasi Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat berperan penting dalam mengatasi kesenjangan antara paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM. Dalam mengadopsi ZBB, organisasi sektor publik harus memeriksa kembali setiap komponen anggaran dari awal, tidak hanya berdasarkan anggaran sebelumnya, sehingga memungkinkan identifikasi dan penghapusan aktivitas yang tidak efisien atau tidak efektif. Dengan demikian, ZBB memberikan kesempatan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan dana publik, yang sejalan dengan prinsip-prinsip anggaran berbasis NPM. Selain itu, ZBB juga mendorong fokus pada hasil dan kinerja program, yang sesuai dengan pendekatan berorientasi pada hasil yang dianut dalam anggaran berbasis NPM. Proses implementasi ZBB juga dapat mempromosikan transparansi dan akuntabilitas, karena setiap anggaran harus dijelaskan dan dibenarkan dari awal, mengurangi kesenjangan informasi yang mungkin ada dalam paradigma anggaran tradisional.
Suryanto. (2019). Tinjauan Perubahan Sistem Penganggaran Berbasis. Jurnal Administrasi Publik dan Pembangunan, 1(2).