Kiriman dibuat oleh Saneha Jofita Sari

PBSI TSM A 2023-2024 -> DISKUSI VI -> Diskusi VI -> Re: Diskusi VI

oleh Saneha Jofita Sari -
Saneha Jofita Sari 2313041065
Kelas: 2A

Izin menjawab pak,
setelah memahami materi terkait Carl Gustav saya mengetahui bahwa adanya perbedaan fokus kajian antara Jung dengan Sigmund Freud. Dimana Sigmun berbicara tentang Id, Ego, Super ego, sedangkan gustav bicara tentang mimpi yang berkaitan dengan sifat religius seseorang.
Pada awal mulanya antara Jung dengan Sigmund saling berkorespodensi namun karena karena adanya pecah pendapat, maka sigmun berdiri sendiri dan Jung juga berdiri sendiri terhadap psikoanalisis yang praktis dengan keinginanya seperti apa, sehingga saling bertolak belakang lah.

Freud Fokus pada tingkah laku sedangkan Jung meletakan pandangan Determisik, sebagaimana freud tidak. Jung lebih dipengaruhi arketip yaitu sistem mengenai kebebasan berkehendak dan spontanitas.

Pada konsep kesadaran(ego) Jung membaginya menjadi dua kompenen : Fungsi jiwa da sikap jiwa, yang mana melalui fungsi jiwa kita bisa menilai bagaiman cara manusia bertindak apakah berdasarkan thinking ( rasional ), apakah melalui feeling ( irasional ),kemudian sensing, dan intuiting. Selanjutnya berkaitan dnegan sikap jiwa yang berkaitan dan dipengaruhi subjektivitas, ada introvert dan ekstrovert. Sedangkan pada konsep ego dengan teori sigmund freud menjelaskan bagaimana cara seseorang dalam mengambil keputusan melalui penyesuaian atau adaptasi dengan kenyataan.

Freud memfokuskan pada alam bawah sadar dan tidak sadar sebagai tempat dimana hasrat dan dorongan untuk memenuhi prinsip kesenagan dan merupakan respresentasi psikis kebutuhan biologis. Sedagkan Gustav memebagi alam tidak sadar menjadi dua yaitu : Ketidak sadaran personal yang berkaitan dengan pengalaman pribadi, harapan yang pernah dsadari tapi tidak diinginkan ego . Kemudian Ketidak sadaran kolektif hal ini yang membuat kontraversial antara gustav dan sigmund, kenapa ? karena sigmund fokus pada tingkah laku, sedang gustav fokus pada bagaimana mimpi mempengaruhi. Menurut gustav evolusi manusia sudah memilki cetak biru dalam segala hal kepribadiannya, yaitu kumpulan pengalaman generasi terdahulu dan bawaan dari nenek moyang, yang mana manifestinya melalui symptom, kompleks, mimpi, famtasi, archetypus.
Namun untuk menganalisisnya sama seperti sigmund yaitu berdasarkan teks berbentuk dialog atau paparan. Jung Fokus pada penokohan, latar, dan penceritaan dalam karya sastra.

PBSI TSM A 2023-2024 -> DISKUSI III -> DISKUSI III -> Re: DISKUSI III

oleh Saneha Jofita Sari -
Nama: Saneha Jofita Sari
NPM :2313041065
Kelas: 2A
Izin menjawab pak
Diantara ke empat pendekatan tersebut, saya lebih memilih pendekatan objektif sebab jika dilihat dari situasi lebih memungkinkan. Selain itu memudahkan kita dalam penelitian karena fokus kita hanya pada unsur-unsur intrinsik , berkaitan dengan unsur instrinsik tidak jauh jauh dari tema, gaya bahasa, amanat, sudut pandang, dan sebagainya.

Dengan pendekatan objektif ini akan lebih mudah jika dikaitkan dengan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, baik itu di SMP ataupun di SMA. Nah melalui pendekatan ini kita akan lebih mudah untuk melakukan penelitian.

Kemudian pendekatan ini jauh dari penilaian yang dipengaruhi oleh perasaan pribadi.
Pendekatan objek tidak harus tergantung dengan prinsip, ilmu lain dalam menyelidikinya. Dengan begitu Melalui pendekatan ini kita dapat mengekploitasi semaksimal mungkin karya sastra tersebut.
Kemudian hasil yang kita dapat dari evaluasi elemen-elemen konkret dalam teks dapat kita pertanggung jawabkan.
Izin menjawab pak, saya Saneha Jofita Sari (2313041065), menurut saya:

1.Karya sastra yang berkualitas merupakan karya hasil kreativitas penulis itu sendiri. yang di dapat melalui sumber inspirasi yang ia temukan melalui proses kreatifitas, dan ia tuangkan ke dalam tulisan yang berbahasa.

Karya yang berkualitas merupakan karya sastra yang mampu memberikan pemahaman melalui apa yang ia tuangkan sehingga bukan hanya unsur keindahan yang dapat di nikmati namun terdapat nilai-nilai yang dapat menambah pengetahuan bagi si pembaca.

2.Hubungan antara teks dengan pengarang, tentu memiliki keterkaitan sebab apa yang ada didalam teks tersebut merupakan hasil dari pikiran si penulis yang bersumber dari realita atau kenyataan yang dialami penulis, kemudian dituangkan melalui tulisan dan hasilnya sebuah karya sastra.

3.Peran yang diberikan pembaca adalah bukan hanya sekedar menikmati namun mampu menganalisis, menginterpretasi, untuk memahami pesan apa saja yang di dapat melalui karya sastra.

Sebagai pembaca tentu kita memiliki peran mengapresiasi karya sastra sebagai bentuk penghargaan terhadap suatu karya yang kita baca, kemudian bisa mengkritik karya sastra dengan cara objektif berdasarkan data yang rasional.

4.Status yang diberikan media teks dengan bahasa adalah, media teks sebagai sarana untuk menyampaikan gagasan emosi dan juga pengamalaman manusia dengan bahasa yang digunakan sebagai penjelas dari apa yang ingin disampaikan.
sehingga pembaca dapat memahami isi dari sastra