Posts made by Erlyn Anggis Safitri

Nama : Erlyn Anggis Safitri
NPM : 2353053020
Kelas : 3/G

PArtikel ini menekankan pentingnya peran keluarga sebagai institusi pendidikan pertama dan utama dalam membentuk moral anak. Keluarga memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai agama, keimanan, dan moral sejak dini guna mencegah anak terjerumus ke dalam kenakalan remaja dan degradasi moral.

Faktor Penyebab Kemerosotan Moral
Jurnal mengidentifikasi berbagai penyebab kemerosotan moral pada anak, seperti:

1. Kurangnya penanaman nilai keimanan.
2. Lingkungan masyarakat yang tidak sehat.
3. Pendidikan moral yang tidak berjalan optimal di rumah, sekolah, dan masyarakat.
4. Ketidakharmonisan dalam keluarga.
5. Pengaruh buruk media, narkoba, dan westernisasi.

Solusi yang Ditawarkan
1. Pendidikan Keimanan: Dimulai sejak lahir dengan penanaman nilai agama secara bertahap sesuai usia.
2. Pendidikan Moral: Melibatkan contoh konkret dari orang tua mengenai perilaku baik, seperti kejujuran, kesabaran, dan kesederhanaan.
3. Keharmonisan Keluarga: Orang tua harus menjaga hubungan yang baik agar menjadi teladan bagi anak.
4. Kolaborasi Tiga Pilar: Keluarga, sekolah, dan masyarakat harus bekerja sama untuk mendukung pembentukan moral anak.
Nama: Erlyn Anggis Safitri
NPM : 2353053020
Kelas : 3/G

Kriteria nilai hardskill mengacu pada kemampuan teknis atau akademik yang spesifik, terukur, dan berhubungan langsung dengan tugas atau pekerjaan tertentu. Penilaian hardskill biasanya dilakukan melalui tes, proyek, atau evaluasi praktis dengan hasil yang konkret.
Kriteria nilai softskill adalah ukuran kemampuan interpersonal dan intrapersonal yang berkaitan dengan sikap, perilaku, dan keterampilan sosial. Penilaian softskill dilakukan secara subjektif melalui observasi, refleksi, atau evaluasi perilaku dalam situasi nyata.

Perbedaan Kriteria Nilai Hardskill dan Softskill :

1. Sifat Kemampuan:
- Hardskill: Kemampuan teknis yang terukur, seperti keterampilan komputer.
- Softskill: Kemampuan interpersonal dan intrapersonal, seperti komunikasi dan kerja tim.
2. Metode Penilaian:
- Hardskill: Dinilai objektif melalui tes atau proyek.
- Softskill: Dinilai subjektif melalui observasi atau umpan balik.
3. Tujuan:
- Hardskill: Menilai kompetensi teknis.
- Softskill: Menilai kemampuan sosial dan pengelolaan diri.
Nama : Erlyn Anggis Safitri
NPM : 2353053020
Kelas : 3/G

Pendidikan Moral di Sekolah
Menurut Bronfenbrenner (1979), sekolah sebagai mikrosistem memengaruhi perkembangan siswa melalui interaksi dengan guru, teman sebaya, dan lingkungan. Selain menjadi tempat pembelajaran akademik, sekolah juga mendukung pengembangan moral, emosional, sosial, dan spiritual siswa.

Fungsi Pendidikan Moral
Noeng Muhadjir (2003) menyatakan bahwa pendidikan bertujuan menumbuhkan kreativitas, nilai insani, dan produktivitas. Pendidikan moral harus mencakup kebersihan, disiplin, kerjasama, toleransi, tanggung jawab, dan hubungan harmonis dengan manusia, alam, serta Tuhan.

Pendekatan Pendidikan Moral
1. Peran Pendidik: Guru dan seluruh warga sekolah berperan sebagai teladan moral.
2. Materi Pendidikan Moral: Nilai-nilai moral terhadap diri sendiri, orang lain, alam, dan Tuhan, termasuk melalui pendidikan agama.
3. Metode: Meliputi inkulkasi nilai, keteladanan, klarifikasi, fasilitasi, dan pembiasaan tindakan moral.
4. Evaluasi: Menilai ranah kognitif, afektif, dan perilaku siswa menggunakan observasi jangka panjang.

Relevansi di Era Modern.
Globalisasi dan teknologi menuntut pendekatan moral yang dialogis dan reflektif. Pendidikan moral yang efektif harus direncanakan secara terintegrasi, melibatkan semua komponen sekolah.
Nama : Erlyn Anggis Safitri
NPM : 2353053020

Penanaman Nilai-Nilai Moral Pada Anak Usia Dini

Jurnal ini menguraikan konsep moral dan pendidikan moral untuk anak usia dini. Menurut berbagai ahli, moral adalah pandangan tentang baik dan buruk yang dipandu oleh nilai, norma, dan ajaran masyarakat atau agama. Moral bukan sekadar ide, tetapi dapat diwujudkan dalam sikap dan tindakan yang didasarkan pada prinsip dan nilai tertentu. Pendidikan moral pada anak usia dini penting karena periode ini dianggap sebagai "usia emas" untuk membentuk karakter.

Penanaman nilai moral pada anak usia dini dapat dilakukan melalui metode bermain, bercerita, pemberian tugas, dan bercakap-cakap. Metode-metode ini membantu anak mengembangkan keterampilan sosial, tanggung jawab, empati, dan kepatuhan pada aturan. Pendidikan moral juga dapat dilakukan di lembaga formal seperti TK dan PAUD, maupun melalui pendidikan non-formal di rumah dan lingkungan. Dalam praktiknya, penanaman moral memerlukan perencanaan, pelaksanaan kegiatan, dan evaluasi yang menekankan lingkungan dan media pembelajaran yang mendukung perkembangan anak secara optimal.
Nama : Erlyn Anggis Safitri
NPM : 2353053020

PENANAMAN NILAI-NILAI MORAL PADA SISWA DI SD NEGERI
LAMPEUNEURUT

Jurnal tersebut membahas tentang kemerosotan moral di kalangan generasi muda Indonesia dan pentingnya penanaman nilai-nilai moral, khususnya di lingkungan sekolah dasar.
Penanaman nilai moral dianggap esensial untuk mencegah kemunduran moral yang dapat berdampak buruk pada generasi mendatang. Menurut John Mahoney, kegiatan sekolah, termasuk ekstra kurikuler, seharusnya dirancang untuk mengandung nilai-nilai moral sebagai bekal hidup masyarakat.
Penelitian ini mengungkapkan bahwa penanaman nilai moral di sekolah tersebut belum optimal karena sebagian guru belum memiliki pandangan yang jelas tentang nilai moral yang harus diajarkan. Penanaman nilai moral seperti kejujuran, tanggung jawab, kemandirian, Religiusitas telah dijalankan melalui berbagai aktivitas pembelajaran dan sikap guru sebagai panutan peserta didik.
Namun, masih terdapat beberapa nilai moral yang kurang ditanamkan, Seperti disiplin dalam baris-berbaris dan sikap terhadap lingkungan hidup.
Adapun manfaat dari menanamkan nilai moral tersebut, anak dapat lebih maju untuk masa yang akan datang, dan bisa mengetahui mana saja yang baik dan tidak baik.