གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Zahra Khadijah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, izin menyampaikan jawaban atas pertanyaan yang diberikan
Nama : Zahra Khadijah
NPM : 2313053059
Kelas : 6B

1. Kesiapan SDM (Guru Mengajar Lintas Disiplin)
Jika ditanya apakah semua guru sudah siap mengajar lintas disiplin, menurut saya jawabannya belum sepenuhnya. Masih banyak guru yang terbiasa mengajar per mata pelajaran secara terpisah, jadi ketika harus mengaitkan beberapa bidang dalam satu tema, mereka merasa kesulitan.
Secara mental, sebagian guru sebenarnya siap berubah, apalagi dengan adanya Kurikulum Merdeka yang lebih fleksibel. Namun dari sisi kompetensi, memang masih perlu pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan. Mengajar terpadu itu bukan hanya soal menggabungkan materi, tetapi juga menyusun perencanaan yang matang, memahami keterkaitan konsep, dan mengelola kelas dengan model pembelajaran aktif. Jadi kesiapan itu ada, tetapi belum merata.
2. Efektivitas Ujian atau Asesmen Standar
Ini juga menjadi tantangan. Jika setiap sekolah menggunakan tema integrasi yang berbeda, tentu sulit jika penilaiannya hanya berdasarkan hafalan materi yang sama persis. Karena itu, menurut saya asesmen tidak lagi bisa hanya berfokus pada isi materi, tetapi harus pada kompetensi.
Artinya yang dinilai adalah kemampuan berpikir, pemahaman konsep, pemecahan masalah, dan keterampilan siswa. Dengan begitu, walaupun temanya berbeda, kompetensi dasarnya tetap sama. Saat ini pun ujian nasional sudah tidak lagi menjadi satu-satunya penentu, dan asesmen lebih diarahkan pada literasi, numerasi, serta survei karakter. Ini sebenarnya sudah sejalan dengan konsep pembelajaran terpadu.
3. Implementasi di Indonesia melalui Kurikulum Merdeka dan P5
Menurut saya, Kurikulum Merdeka sudah cukup mencerminkan prinsip kurikulum terpadu, terutama melalui kegiatan P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila). Dalam P5, siswa belajar melalui proyek yang mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu sekaligus.
Misalnya dalam proyek tentang gaya hidup berkelanjutan, siswa bisa belajar sains, sosial, bahasa, bahkan seni dalam satu kegiatan. Pembelajaran menjadi kontekstual, berbasis masalah nyata, dan mendorong kerja sama serta kreativitas.
Walaupun dalam praktiknya masih ada tantangan seperti kesiapan guru, sarana prasarana, dan manajemen waktu, secara konsep Kurikulum Merdeka sudah mengarah pada pembelajaran yang lebih terpadu, fleksibel, dan berpusat pada siswa.
Jadi bisa dikatakan bahwa Indonesia sedang dalam proses menuju sistem pembelajaran terpadu yang lebih matang, meskipun masih perlu penyesuaian dan perbaikan di berbagai aspek.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, izin menyampaikan jawaban atas pertanyaan yang diberikan
Nama : Zahra Khadijah
NPM : 2313053059
Kelas : 6B

Dalam pelaksanaannya, pembelajaran terpadu memang tidak boleh asal menggabungkan mata pelajaran saja. Ada beberapa prinsip penting yang harus dijaga supaya pembelajarannya tetap bermakna dan tidak kehilangan tujuan pendidikannya, yaitu:
1. Keaslian (Authenticity)
Pembelajaran sebaiknya berkaitan dengan pengalaman nyata siswa. Artinya, materi yang diajarkan dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Misalnya saat membahas tema “Lingkungan”, siswa bisa diajak mengamati kebersihan kelas atau lingkungan rumah. Dengan begitu, mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami secara langsung.
2. Kebermaknaan
Siswa perlu tahu dan paham kenapa mereka mempelajari suatu topik. Jika mereka mengerti manfaatnya, mereka akan lebih semangat dan merasa pembelajaran itu penting. Misalnya belajar tentang menjaga kesehatan, siswa jadi sadar bahwa itu berguna untuk kehidupan mereka sendiri.
3. Keterkaitan
Dalam pembelajaran terpadu harus ada hubungan yang jelas antar konsep. Jadi bukan sekadar menggabungkan beberapa mata pelajaran dalam satu tema tanpa hubungan yang kuat. Misalnya dalam satu tema, materi Bahasa Indonesia bisa digunakan untuk membaca teks tentang lingkungan, lalu IPA membahas dampak sampah terhadap kesehatan. Semua saling terhubung dan mendukung.
4. Kemandirian
Pembelajaran terpadu sebaiknya memberi ruang bagi siswa untuk aktif dan mandiri. Guru tidak hanya menjelaskan, tetapi memberi kesempatan siswa untuk mencoba, berdiskusi, dan menyelesaikan tugas sendiri atau bersama teman.
5. Mendorong Inkuiri (Mencari Tahu Sendiri)
Siswa didorong untuk bertanya, mencari informasi, dan menemukan jawaban sendiri, bukan hanya menerima penjelasan dari guru. Dengan cara ini, kemampuan berpikir kritis dan rasa ingin tahu mereka akan berkembang.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, izin menyampaikan jawaban atas pertanyaan yang diberikan
Nama : Zahra Khadijah
NPM : 2313053059
Kelas : 6B

1. Menurut saya, mata kuliah kajian pembelajaran tematik memiliki peran yang sangat penting bagi calon guru sekolah dasar. Pembelajaran tematik membantu mahasiswa memahami bagaimana mengintegrasikan berbagai mata pelajaran ke dalam satu tema yang dekat dengan kehidupan siswa. Hal ini sesuai dengan karakteristik siswa SD yang masih berada pada tahap berpikir konkret dan memahami sesuatu secara utuh. Melalui mata kuliah ini, calon guru dilatih untuk merancang pembelajaran yang tidak terpisah-pisah, tetapi saling berkaitan antara Bahasa Indonesia, IPA, IPS, dan mata pelajaran lainnya. Pendekatan ini membuat pembelajaran lebih bermakna karena siswa dapat melihat hubungan antar konsep dalam satu pengalaman belajar. Dalam implementasinya di sekolah dasar saat ini, pembelajaran tematik masih banyak digunakan terutama pada kelas rendah. Guru dituntut untuk kreatif dalam memilih tema, menyusun perangkat ajar, serta menerapkan pendekatan yang berpusat pada siswa. Namun, dalam praktiknya masih terdapat beberapa kendala seperti keterbatasan waktu, kesiapan guru dalam mengintegrasikan materi, serta perbedaan kemampuan siswa. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang kajian pembelajaran tematik sangat diperlukan agar implementasinya dapat berjalan optimal.

2. Menurut saya, pembelajaran terpadu masih sangat relevan dengan kurikulum saat ini. Dalam Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Merdeka, pembelajaran tetap menekankan pada pengembangan kompetensi secara holistik, tidak hanya aspek pengetahuan tetapi juga sikap dan keterampilan. Pembelajaran terpadu mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif siswa. Selain itu, pendekatan ini sejalan dengan prinsip pembelajaran yang kontekstual dan berpusat pada siswa. Tema atau proyek yang digunakan dalam pembelajaran memungkinkan siswa belajar secara aktif dan mengaitkan materi dengan kehidupan nyata.
Meskipun terdapat penyesuaian dalam struktur kurikulum terbaru, konsep keterpaduan tetap menjadi landasan penting dalam pembelajaran di sekolah dasar. Dengan demikian, pembelajaran terpadu bukan hanya relevan, tetapi juga menjadi kebutuhan dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna dan sesuai.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Nama: Zahra Khadijah
NPM: 2313053059
Kelas: 6B

Karakteristik Pembelajaran Kelas Rangkap (Multi-Grade Teaching)
Pembelajaran kelas rangkap adalah pembelajaran ketika satu guru mengajar dua atau lebih tingkat kelas dalam satu ruang dan waktu yang sama. Karena kondisi tersebut, proses belajar tidak bisa dilakukan seperti kelas biasa, sehingga memiliki beberapa ciri khusus sebagai berikut.
1. Keserempakan kegiatan: Dalam kelas rangkap, semua siswa tetap belajar pada waktu yang sama walaupun aktivitasnya berbeda. Saat guru menjelaskan ke satu kelompok, kelompok lain tidak menunggu, tetapi mengerjakan tugas, membaca, atau diskusi.
2. Kadar CBSA (keaktifan siswa) tinggi: Siswa dituntut lebih aktif. Mereka tidak bisa hanya menunggu penjelasan guru terus-menerus. Siswa harus membaca sendiri, berdiskusi, mengerjakan latihan, dan mencari jawaban secara mandiri atau kelompok.
3. Kontak intensif: Guru tetap berinteraksi dengan semua kelompok secara bergantian. Guru mendatangi tiap kelompok untuk memberi arahan, membantu kesulitan, dan mengecek pekerjaan siswa.
4. Tutor sebaya: Siswa yang lebih mampu atau yang tingkat kelasnya lebih tinggi membantu temannya yang masih kesulitan. Jadi siswa ikut berperan sebagai pembimbing bagi temannya.
5. Sumber belajar beragam: Pembelajaran tidak hanya bergantung pada penjelasan guru. Siswa menggunakan berbagai sumber belajar seperti buku, LKS, media gambar, alat peraga, maupun lingkungan sekitar agar tetap belajar ketika guru membimbing kelompok lain.
6. Fleksibilitas ruang: Tempat duduk tidak harus berjajar seperti kelas biasa. Ruangan bisa diatur berkelompok atau dibuat sudut-sudut belajar supaya beberapa kegiatan bisa berlangsung dalam satu kelas secara bersamaan.
7. Perencanaan matang: Guru harus menyiapkan pembelajaran dengan sangat baik, mulai dari pembagian waktu, materi tiap kelas, sampai tugas yang harus dikerjakan siswa. Tanpa perencanaan yang jelas, kelas rangkap akan menjadi tidak teratur.
8. Penilaian berkelanjutan: Penilaian dilakukan terus selama pembelajaran, tidak hanya saat ulangan. Guru memperhatikan proses belajar siswa, keaktifan, dan hasil tugas sesuai tingkat kelas masing-masing.

Terimakasih
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh