གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Putri Reza Anandita 2313053065

Selamat Siang, Pak.

Perkenalkan, Saya

Nama : Putri Reza Anandita

NPM : 2313053065

Kelas : 6B

Izin menjawab, Bapak.

1. Keaslian (Authenticity)
Menurut saya, prinsip keaslian menuntut pembelajaran dikaitkan dengan pengalaman nyata siswa. Secara umum di SD, hal ini sudah mulai terlihat, misalnya guru menggunakan contoh dari lingkungan sekitar seperti kegiatan di rumah atau kondisi sekolah. Pendekatan seperti ini membuat materi lebih konkret dan mudah dipahami siswa. Namun, di beberapa kelas pembelajaran masih cukup bergantung pada buku sehingga konteks nyatanya belum selalu kuat.

2. Kebermaknaan
Prinsip kebermaknaan berarti siswa memahami tujuan dari apa yang mereka pelajari. Saat saya melaksanakan PLP, saya melihat bahwa ketika guru menjelaskan manfaat materi di awal pembelajaran, siswa menjadi lebih fokus dan antusias. Sebaliknya, jika pembelajaran langsung masuk ke materi tanpa apersepsi yang jelas, siswa cenderung pasif dan hanya mengerjakan tugas tanpa benar-benar memahami maknanya.

3. Keterkaitan
Prinsip keterkaitan menekankan adanya hubungan yang jelas antar konsep. Secara umum di SD, upaya menghubungkan materi sudah ada, tetapi belum selalu mendalam. Masih ditemukan pembelajaran yang berjalan per bagian sehingga hubungan antar konsep kurang terlihat oleh siswa. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan merancang keterpaduan yang kuat masih perlu terus ditingkatkan.

4. Kemandirian
Prinsip kemandirian mendorong siswa belajar aktif dan tidak selalu bergantung pada guru. Dari pengamatan saya saat PLP, kegiatan seperti kerja kelompok dan penugasan mandiri cukup membantu melatih tanggung jawab siswa. Beberapa siswa sudah mulai berani mencoba sendiri, meskipun tetap perlu arahan guru. Namun, secara umum pembelajaran di SD masih cukup banyak yang berpusat pada guru.

5. Inkuiri (Mencari Tahu Sendiri)
Prinsip inkuiri menekankan bahwa siswa perlu didorong untuk bertanya, menyelidiki, dan menemukan sendiri. Di sekolah dasar saat ini, praktik inkuiri sudah mulai diperkenalkan, misalnya melalui percobaan sederhana atau diskusi. Pendekatan ini terbukti dapat meningkatkan rasa ingin tahu siswa. Namun, penerapannya belum merata karena membutuhkan kesiapan guru, pengelolaan waktu yang baik, dan kondisi kelas yang mendukung.


Jadi, Prinsip-prinsip pembelajaran terpadu sudah mulai diterapkan di SD, tetapi pelaksanaannya belum sepenuhnya optimal. Diperlukan peningkatan kompetensi guru dan pengelolaan pembelajaran yang lebih konsisten agar prinsip-prinsip tersebut benar-benar terlaksana secara maksimal.

Sekian, terima kasih Bapak.
Selamat siang, Pak.

Perkenalkan, Saya

Nama : Putri Reza Anandita

NPM : 2313053065

Kelas : 6B

Izin menjawab, Bapak.

1. Kesiapan SDM
Menurut pengamatan saya saat melaksanakan PLP di sekolah dasar, kesiapan guru untuk mengajar lintas disiplin sebenarnya sudah mulai terlihat, tetapi belum merata. Secara mental, banyak guru sudah terbuka dengan pendekatan pembelajaran yang mengaitkan beberapa mata pelajaran sekaligus. Mereka memahami bahwa pembelajaran tidak lagi harus terkotak-kotak per mata pelajaran. Namun, dari sisi kompetensi masih ada tantangan. Di lapangan saya melihat beberapa guru masih cenderung mengajar per mata pelajaran secara terpisah. Hal ini terjadi karena sebagian guru belum sepenuhnya percaya diri dalam menghubungkan berbagai muatan pelajaran dalam satu kegiatan pembelajaran. Selain itu, beban administrasi dan keterbatasan pelatihan juga memengaruhi kesiapan mereka.
Meski begitu, ada juga guru yang sudah cukup siap. Biasanya guru yang aktif mengikuti pelatihan atau komunitas belajar lebih mampu merancang pembelajaran lintas disiplin yang menarik dan kontekstual. Jadi, kesiapan SDM sudah ada, tetapi masih perlu penguatan melalui pelatihan berkelanjutan dan pendampingan praktis.

2. Efektivitas Ujian
Menurut saya, asesmen standar tetap bisa dilakukan meskipun pendekatan pembelajaran di setiap sekolah bisa berbeda. Berdasarkan yang saya lihat di SD saat PLP, perbedaan konteks pembelajaran tidak menjadi masalah selama kompetensi dasar yang diukur tetap sama secara nasional. Kuncinya adalah asesmen mengukur kompetensi, bukan sekadar materi yang diajarkan. Misalnya, kemampuan membaca, numerasi, dan penalaran tetap bisa diuji melalui berbagai konteks soal. Di lapangan, guru juga mulai menggunakan soal berbasis literasi dan numerasi yang menuntut pemahaman, bukan hanya hafalan.
Namun, tantangannya adalah masih ada guru yang terbiasa membuat soal berbasis hafalan dari buku. Jika pola ini tidak berubah, maka pembelajaran yang menekankan keterpaduan dan asesmen standar bisa kurang selaras. Karena itu, perlu peningkatan pemahaman guru dalam menyusun asesmen berbasis kompetensi.

3. Implementasi di Indonesia (Kurikulum Merdeka dan P5)

Secara konsep, Kurikulum Merdeka sudah mencerminkan prinsip pembelajaran terpadu, terutama melalui kegiatan P5. Melalui P5, siswa didorong untuk belajar secara kontekstual, kolaboratif, dan berbasis proyek sehingga tidak hanya fokus pada satu mata pelajaran, tetapi pada pengembangan kompetensi secara menyeluruh. Program ini relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini karena menekankan penguatan karakter, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. Selain itu, P5 memberi ruang bagi sekolah dan guru untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik.
Namun, dalam pelaksanaannya masih diperlukan penguatan pemahaman guru terkait perencanaan proyek, pengelolaan waktu, serta teknik asesmen yang sesuai. Dengan pendampingan dan pelatihan yang berkelanjutan, implementasi Kurikulum Merdeka melalui P5 berpotensi semakin optimal dalam mendukung pembelajaran terpadu di sekolah dasar.

Demikian pendapat dari saya
Sekian, terima kasih Bapak.
Selamat siang, Pak.

Perkenalkan, Saya

Nama : Putri Reza Anandita

NPM : 2313053066

Kelas : 6B

Izin menjawab, Bapak.

1. Pendapat tentang mata kuliah kajian pembelajaran tematik dan implementasinya di SD saat ini
Menurut saya, mata kuliah kajian pembelajaran tematik sangat penting karena membantu calon guru memahami cara mengintegrasikan beberapa mata pelajaran ke dalam satu tema yang dekat dengan kehidupan siswa. Melalui pendekatan ini, pembelajaran di sekolah dasar menjadi lebih bermakna, tidak terpisah-pisah, dan lebih mudah dipahami oleh siswa.
Dalam praktik di sekolah dasar saat ini, pembelajaran tematik sudah cukup banyak diterapkan, terutama di kelas rendah. Dari kenyataan di lapangan, ketika guru mengaitkan materi dengan tema yang kontekstual (misalnya tema lingkungan atau kegiatan sehari-hari), siswa terlihat lebih aktif, lebih mudah fokus, dan berani bertanya. Namun, implementasinya belum selalu optimal. Masih ada guru yang cenderung mengajar per mata pelajaran secara terpisah meskipun menggunakan buku tematik. Selain itu, keterbatasan waktu, kesiapan guru dalam merancang pembelajaran terpadu, serta perbedaan kemampuan siswa juga menjadi tantangan.

2. Apakah pembelajaran terpadu masih relevan dengan kurikulum saat ini
Menurut saya, pembelajaran terpadu masih sangat relevan dengan kurikulum saat ini. Kurikulum yang berlaku menekankan pembelajaran yang berpusat pada siswa, kontekstual, dan mengembangkan kompetensi secara menyeluruh (pengetahuan, sikap, dan keterampilan). Pembelajaran terpadu sejalan dengan tujuan tersebut karena mendorong siswa berpikir holistik dan menghubungkan konsep dengan kehidupan nyata.
Di sekolah dasar, pendekatan terpadu juga membantu mengurangi beban hafalan dan membuat pembelajaran lebih menyenangkan. Namun, agar tetap relevan dan efektif, guru perlu terus berinovasi, misalnya dengan menggunakan metode aktif, media yang menarik, serta mengaitkan tema dengan kondisi nyata di lingkungan siswa. Dengan demikian, pembelajaran terpadu tidak hanya sesuai dengan kurikulum, tetapi juga benar-benar berdampak pada kualitas belajar siswa.

Sekian, terima kasih Bapak.
Selamat sore bapak

Izin memperkenalkan diri
Nama: Putri Reza Anandita
Npm: 2313053065
Kelas: 6B

Pembelajaran kelas rangkap adalah cara mengajar di mana seorang guru mengajar beberapa tingkat kelas sekaligus dalam satu ruangan pada waktu yang sama. Model pembelajaran ini umumnya digunakan di sekolah yang memiliki jumlah siswa yang sedikit atau kurang memiliki guru. Oleh karena itu, pelaksanaannya membutuhkan kemampuan guru dalam mengelola kelas dengan baik dan tepat. Salah satu ciri utama pembelajaran kelas rangkap adalah guru mengajar lebih dari satu tingkatan kelas sekaligus. Kondisi ini memaksa guru harus bisa membagi perhatian, waktu, dan cara mengajar agar semua siswa tetap mendapatkan pembelajaran yang terbaik. Selain itu, di kelas rangkap terdapat perbedaan dalam kemampuan, usia, serta materi pelajaran yang dipelajari oleh para siswa. Perbedaan ini memaksa guru membuat rencana pembelajaran yang beragam dan sesuai dengan kebutuhan setiap kelompok. Pengelolaan waktu sangat penting dalam proses belajar mengajar di kelas yang berisi lebih dari satu kelompok. Guru biasanya menggunakan metode giliran, memberi tugas sendiri, atau kerja berkelompok. Dengan cara ini, ketika guru menjelaskan kepada satu kelompok, kelompok yang lain tetap bisa belajar sendiri. Kondisi tersebut juga memaksa siswa untuk memiliki tingkat kemandirian, disiplin, dan tanggung jawab dalam belajar yang lebih tinggi dibandingkan siswa di kelas biasa. Selain itu, pembelajaran di kelas rangkap membutuhkan penggunaan berbagai strategi dan media pembelajaran. Guru perlu kreatif dalam memilih cara mengajar seperti diskusi kelompok, belajar bersama teman, atau tugas yang terorganisir agar proses belajar tetap hidup dan nyaman. Dengan cara mengelola yang baik, pembelajaran kelas dua mata pelajaran tetap bisa berjalan efektif dan mampu mencapai tujuan belajar yang direncanakan.

Sekian terimakasih bapak.