Posts made by Dea Permata Sari 2311011131

Nama : Dea Permata Sari

Npm  : 2311011131

1. Bagaimana ciri-ciri utama pendekatan Klasik?

Jawab: 

Pendekatan klasik, atau pendekatan ilmiah-rasional, memiliki beberapa ciri utama. Pertama, organisasi dipandang sebagai entitas yang rasional, di mana seluruh bagian berfungsi seperti mesin yang bekerja sesuai aturan untuk mencapai efisiensi maksimal. Kedua, desain organisasi dianggap sebagai sebuah ilmu, sehingga struktur organisasi dan pembagian kerja dirancang berdasarkan prinsip ilmiah dan sistematis, bukan sekadar coba-coba. Ketiga, manusia dianggap sebagai makhluk ekonomi yang termotivasi oleh imbalan finansial, sehingga manajemen fokus pada kontrol, standarisasi prosedur, serta pemberian insentif untuk mendorong produktivitas.


2. Apa perbedaan dan persamaan antara karya Taylor, Fayol, dan Weber?

Jawab: 

Frederick Taylor menekankan efisiensi kerja individu melalui manajemen ilmiah (scientific management). Ia memperkenalkan metode seperti time study, standarisasi prosedur, pembagian kerja yang jelas, serta sistem insentif. Henri Fayol menekankan pentingnya efisiensi organisasi secara keseluruhan melalui prinsip administrasi yang mencakup perencanaan, pengorganisasian, memerintah, koordinasi, dan pengendalian. Max Weber menekankan pentingnya struktur organisasi yang formal melalui konsep birokrasi, yang mencakup aturan tertulis, hierarki jabatan, dan otoritas rasional-legal.

Ketiganya memiliki persamaan dalam hal menekankan rasionalitas, struktur, dan kontrol organisasi. Mereka percaya bahwa organisasi dapat dikelola secara ilmiah untuk meningkatkan produktivitas. Perbedaannya terletak pada fokusnya: Taylor menitikberatkan pada level operasional dan proses kerja, Fayol pada fungsi manajerial dan administrasi, sedangkan Weber pada struktur organisasi dan legitimasi otoritas.


3. Jelaskan ciri-ciri utama pendekatan Klasik terhadap perubahan organisasi!

Jawab: 

Pendekatan klasik melihat organisasi secara mekanistik, seperti mesin, sehingga perubahan dilakukan secara top-down oleh manajer. Tujuannya adalah meningkatkan efisiensi dan mengurangi pemborosan. Perubahan diarahkan dengan perencanaan dan pengendalian ketat oleh manajemen, sementara partisipasi pekerja cenderung diabaikan. Akibatnya, pendekatan ini sering memunculkan resistensi karena kurang memperhatikan aspek psikologis dan kebutuhan sosial pekerja.


4. Bagaimana perkembangan klasik dan perkembangan organisasi kerja?

Jawab:

Perkembangan klasik bermula dari Revolusi Industri yang memunculkan sistem pabrik. Sistem ini menekankan spesialisasi, pembagian kerja, dan penggunaan prosedur standar. Tokoh-tokoh seperti Taylor, Fayol, dan Weber kemudian mengembangkan teori-teori yang memperkuat sistem tersebut dengan menekankan standarisasi, hierarki, dan kontrol yang terstruktur. Dalam praktiknya, pekerja difokuskan untuk mengerjakan satu tugas sederhana agar keterampilan meningkat dan waktu yang hilang berkurang. Perkembangan ini juga memicu lahirnya inovasi teknologi yang menggantikan tenaga kerja manual dengan mesin dan menciptakan pola kerja modern.

Nama : Dea Permata Sari
Npm : 2311011131

1. Mengapa organisasi melakukan perubahan ?
Jawab: 
Organisasi perlu berubah karena ingin mencapai efektivitas. Efektivitas artinya kemampuan organisasi untuk mencapai tujuan dan hasil yang diinginkan. Jadi, perubahan dilakukan supaya proses, orang, budaya, dan kepemimpinan tetap relevan dengan kondisi lingkungan.

2. Definisikan efektivitas organisasi dan kaitannya dengan perubahan organisasi !
Jawab: 
Efektivitas organisasi adalah kemampuan atau kekuatan untuk menghasilkan efek yang diinginkan atau mencapai tujuan organisasi (Longman, 1978; Robbins, 1967). Efektivitas tidak hanya dilihat dari pencapaian tujuan, tetapi juga bergantung pada bagaimana organisasi disusun dan dijalankan, seperti proses kerja, orang, budaya, dan kepemimpinan (Handy, 1993; Yukl, 2002).

Kaitannya dengan perubahan organisasi adalah:
• Organisasi melakukan perubahan karena ingin meningkatkan efektivitas.
• Tanpa perubahan, organisasi berisiko tidak lagi efektif menghadapi dinamika lingkungan.
• Perubahan membantu menyesuaikan struktur, strategi, budaya, maupun perilaku agar tetap relevan dan mampu mencapai tujuan yang diinginkan.

3. Bagaimana menghargai perbedaan antara perubahan individu, kelompok dan sistem.
Jawab:
Untuk menghargai perbedaan antara perubahan individu, kelompok, dan sistem, kita perlu memahami fokus serta pendekatan masing-masing:

Perubahan Individu

Perspektif Behavioris: perilaku individu dipengaruhi oleh stimulus eksternal (hadiah atau hukuman).

Perspektif Gestalt-Field: individu dipandang sebagai organisme utuh, perubahan tergantung bagaimana mereka menafsirkan stimulus.

Artinya, perubahan individu bisa didorong dengan kombinasi insentif eksternal dan kesadaran internal.

Perubahan Kelompok

Dijelaskan oleh teori Dinamika Kelompok (Kurt Lewin).

Fokusnya pada norma, peran, dan nilai dalam kelompok kerja.

Perubahan kelompok berarti menciptakan keseimbangan baru melalui interaksi sosial dan kerja sama tim.

Perubahan Sistem (Organisasi)

Dilihat melalui pendekatan Sistem Terbuka.

Organisasi terdiri dari sub-sistem yang saling memengaruhi: tujuan & nilai, teknis, psikososial, dan manajerial.

Perubahan dalam satu sub-sistem akan berdampak pada keseluruhan organisasi.

Kesimpulan:

Perbedaan ini harus dihargai karena tiap tingkat perubahan punya fokus dan tantangan yang berbeda. Individu menekankan perilaku dan kesadaran, kelompok menekankan norma dan nilai, sementara sistem menekankan keterkaitan antar sub-sistem. Ketiganya saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan dalam manajemen perubahan.

4. Bagaimana menghargai sifat penolakan terhadap perubahan dan kaitannya dengan komitmen dan kesiapan terhadap perubahan?
Jawab: 
Penolakan atau resistensi terhadap perubahan wajar terjadi dalam organisasi. Dulu resistensi dianggap sebagai hambatan, tapi dalam pandangan modern resistensi tidak selalu buruk. Justru resistensi bisa menjadi tanda bahwa perubahan yang direncanakan mungkin kurang tepat, tidak realistis, atau menimbulkan masalah etis.

Resistensi juga tidak hanya berasal dari sifat individu, tetapi bisa muncul karena struktur dan dinamika organisasi. Faktor seperti nilai, keyakinan, kontrak psikologis, hingga gaya kepemimpinan sangat memengaruhi.

Kaitannya dengan komitmen dan kesiapan:

Jika organisasi siap berubah, resistensi bisa dikelola melalui partisipasi, komunikasi terbuka, dan keadilan prosedural. Hal ini akan meningkatkan komitmen anggota untuk mendukung perubahan.

Jika organisasi tidak siap, resistensi akan makin kuat, menurunkan komitmen, bahkan berisiko membuat perubahan gagal.

Jadi Menghargai sifat penolakan berarti melihat resistensi bukan sekadar penghalang, tetapi sebagai masukan yang berharga. Dengan kesiapan organisasi dan komitmen individu yang tinggi, resistensi bisa diubah menjadi peluang untuk memperbaiki arah perubahan.

5. Bagaimana peran dan keterampilan agen perubahan ?
Jawab:

Agen perubahan adalah pihak yang bertanggung jawab memastikan proses perubahan berjalan dengan baik. Mereka terdiri dari:

1. Pemimpin sebagai penjamin yang memastikan perubahan berjalan sesuai arah.

2. Fasilitator  sebagai penyedia informasi dan penghubung antar pihak.

3. Pelatih (coach)  memberikan bimbingan agar individu atau tim siap menghadapi perubahan.

4. Manajer proyek sebagai mengatur jalannya perubahan secara terstruktur.

5. Konsultan internal maupun eksternal bertindak sebagai katalis, memberikan saran dan dukungan.

Peran Agen Perubahan yaitu:

Bertindak sebagai fasilitator netral, membantu pihak terkait menentukan opsi dan membuat keputusan.

Membangun kepercayaan serta menciptakan lingkungan positif untuk perubahan.

Menilai kesiapan organisasi di tiga level:

Makro → strategi & budaya organisasi.

Meso → norma kelompok & struktur manajemen.

Mikro → kesiapan individu.

Penggerak utama → bukan sekadar fasilitator, tapi motor perubahan dengan mengelola komunikasi, negosiasi, dan membangun makna bersama.

Keterampilan & Kompetensi Agen Perubahan yaitu:

• Keterampilan diagnostik → menilai kesiapan organisasi, memahami sejarah, dan mengategorikan sifat organisasi (kaku ↔ organik).

• Goals (Tujuan) → menetapkan arah perubahan.

• Roles (Peran) → memahami fungsi dan tanggung jawab pihak terkait.

• Communication → menyampaikan pesan dengan jelas dan efektif.

• Negotiation → mengatasi resistensi dan membangun dukungan.

• Managing Up → menjalin komunikasi dengan manajemen puncak.

• Kreativitas & Simbolik → menggunakan bahasa, simbol, dan improvisasi untuk mengurangi ketidakpastian serta memberi rasa aman.

Nama : Dea Permata Sari

Npm : 2311011131

Kelas : Ganjil

Prodi : S1 Manajemen


Jurnal tersebut membahas pentingnya semangat bela negara di tengah pandemi COVID-19. Sebagai mahasiswa, saya setuju bahwa bela negara adalah kewajiban untuk semua warga negara. Ini menunjukkan kesetiaan dan cinta terhadap negara kita. Selama pandemi, bela negara bisa dilakukan dengan tetap patuh pada aturan, seperti tinggal di rumah dan tidak menyebarkan informasi palsu. Ini adalah cara kita membantu memperjuangkan eksistensi negara kita di mata dunia.

Bela Negara adalah sikap dan perilaku warga Negara yang dijiwai oleh kecintaan dan kesetiaan terhadap bangsa dan Negara kesatuan republic Indonesia (NKRI) berdasarkan pancasila dan undang undang dasar 1945 dalam menjalankan kehidupan bangsa dan negar seutuhnya. 

Bela Negara bukan hanya saja kita angkat senjata melainkan banyak cara lain yang kita bisa lakukan dengan nudah mulai dari lingkungan terkecil saja.contoh yang kita bisa lakukan saat pandemic begini  yaitu engan cara mematuhi semua aturan yang dikeluarkan oleh pemeritah agar tidak terkena penyakit virus covid-19 ini serta tidak menyebarkan berita bohong atau belum tentu kebenarannya (hoax) karena dapat mengakibatkan hal kurang baik. Dan melindungi para tenaga mediss yang sedang melakukan dedikasinya terhadap Negara.

Nama : Dea Permata Sari

Npm : 2311011131

Kelas Ganjil

Prodi : S1 Manajemen


Video tersebut membahas bahwa penting nya sebuah negara memiliki ketahanan nasional. Ketahanan nasional adalah kemampuan negara untuk menghadapi perubahan dan ancaman di bidang politik, sosial, budaya, dan ekonomi, serta menjamin keamanan warganya. Kita sebagai warga negara Indonesia perlu menjaga ketahanan nasional yang dimiliki Indonesia. 

Trigatra tiga aspek dasar alamiah yang menjadi fondasi ketahanan suatu negara. Ketiga aspek tersebut adalah:

1. Letak dan Kedudukan Geografis: Meliputi posisi dan kondisi geografis suatu negara yang mempengaruhi strategi pertahanan dan keamanan serta hubungan internasional.

2. Keadaan dan Kemampuan Penduduk (Demografi): Melibatkan jumlah, distribusi, dan kualitas penduduk yang mempengaruhi potensi dan kekuatan nasional.

3. Keadaan dan Kekayaan Alam: Mencakup sumber daya alam yang tersedia dan bagaimana pengelolaannya untuk mendukung pembangunan dan ketahanan nasional.

Panca Gatra adalah bagian dari konsep ketahanan nasional Indonesia yang mencakup lima aspek utama kehidupan berbangsa dan bernegara. Kelima aspek tersebut adalah:

1. Ideologi: Sistem nilai dan keyakinan yang mendasari kehidupan berbangsa, seperti Pancasila di Indonesia.

2. Politik: Sistem pemerintahan dan proses pengambilan keputusan politik.

3. Ekonomi: Kegiatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

4. Sosial Budaya: Nilai, norma, dan kebiasaan yang ada dalam masyarakat.

5. Pertahanan dan Keamanan (Hankam): Upaya untuk menjaga kedaulatan dan keamanan negara.

Panca Gatra bersama dengan Trigatra membentuk keseluruhan konsep ketahanan nasional yang holistik.