Posts made by Agustin Dwi Rahayu 2311011093

Nama : Agustin Dwi Rahayu
NPM : 2311011093

A. Menurut pendapat saya, proses pendidikan ditengah pandemi covid-19 yang dimana harus dilakukan secara daring memberikan dampak cukup besar terhadap dunia pendidikan, menurunnya kualitas pelajar, menumbuhkan rasa malas pada pelajar, karena aktivitas belajar dirumah ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk bersantai-santi dirumah, siswa sebagian besar bergantung pada internet, literasi siswa menurun. Selain itu kegiatan belajar dirumah juga menyebabkan orang tua harus mengeluarkan uang lebih besar untuk kebutuhan belajar anaknya, yang dimana saat itu semuanya sedang menghadapi krisis covid-19. Sehingga ada beberapa siswa yang bahkan terpaksa putus sekolah karena orang tua mereka tidak mampu membiayai.

B. Seluruh pelajar harus tetap mematuhi protokol kesehatan, tidak membolos sekolah online, memanfaatkan waktu yang dipunya untuk belajar dengan bersungguh-sungguh, pemerintah menunjang hal yang dapat membantu baik siswa maupun guru dalam kegiatan belajar mengajar seperti memberikan kuota gratis dan lainnya, memberkan edukasi kepada para pelajar tentang pentingnya pendidikan.

C. Kasus yang terkait dengan pengembangan karakter contohnya adalah ajakan membuang sampah pada tempatnya, kegiatan gotong royong yang diadakan satu minggu sekali di lingkungan rt/rw, mentaati tata tertib yang ada baik dilingkungan keluarga, masyarakat, negara. Contoh kasus tersebut mendorong seeorang untuk memiliki karakter yang baik, yang berpengaruh sangat baik terhadap lingkungan.

D. Hakikat Pancasila yang dimaksud merupakan nilai-nilai pancasila yang dijadikan acuan atau pandangan hidup bagi seluruh warga Indonesia, dalam berpikir dan bersikap. Pancasila memiliki lima sila yang berasas ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan yang haruslah diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Nama : Agustin Dwi Rahayu
NPM : 2311011093

FILSAFAT PANCASILA DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA MENUJU BANGSA BERKARAKTER

Pancasila merupakan dasar pandangan hidup rakyat Indonesia yang di dalamnya memuat lima dasar yang isinya merupakan jati diri bangsa Indonesia. Masuknya Pancasila sebagai suatu ideologi dan falsafah bangsa Indonesia tak lepas pula dari peran Bung Karno. Suatu masyarakat atau bangsa menjadikan filsafat sebagai suatu pandangan hidup, yaitu merupakan asas dan pedoman yang melandasi semua aspek hidup dan kehidupan bangsa tersebut, tanpa terkecuali aspek pendidikan. Di Indonesia, pendidikan ditekankan pada penguasaan landasan terbentuknya masyarakat meritorik, artinya memberikan waktu jam pelajaran yang luas dalam penguasaan mata pelajaran tertentu.

Filsafat pendidikan Indonesia berakar pada nilai-nilai budaya yang terkandung pada Pancasila. Nilai Pancasila tersebut harus ditanamkan pada peserta didik melalui penyelenggaraan pendidikan nasional dalam semua level dan jenis pendidikan. Pendidikan merupakan usaha sadar yang sengaja dan terencana untuk membantu perkembangan potensi dan kemampuan anak agar bermanfaat bagi kepentingan hidupnya sebagai individu dan sebagai warga masyarakat. Pendidikan dipandang mempunyai peranan yang besar dalam mencapai keberhasilan dalam perkembangan anak. Tujuan pendidikan sama dengan tujuan didirikannya suatu negara. Demikian juga dengan Indonesia. Pendidikan selain sebagai sarana tranfer ilmu pengetahuan, sosial budaya juga merupakan sarana untuk mewariskan ideologi bangsa kepada generasi selanjutnya.

Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Semuanya telah mencakup filsafat pendidikan Pancasila yang mempunyai ciri, yaitu integral, etis dan reigius.
Nama : Agustin Dwi Rahayu
NPM : 2311011093

1. Menurut saya kasus penolakan jenazah korban covid-19 yang terjadi di Jawa Tengah sangat tidak manusiawi, terlebih korban adalah seorang perawat yang mengorbankan hidupnya untuk menjadi garda terdepan demi menyelamatkan nyawa-nyawa lain dari virus covid-19 tersebut. Tidak seharusnya masyarakat Jawa Tengah melakukan hal tersebut, karena sejatinya perilaku tersebut melenceng dari sila ke-2 Pancasila. Seluruh masyrakat baik di Jawa Tengah maupun daerah lain harus menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila,

2. Saran dan solusi yang bisa saya berikan sebagai mahasiswa adalah yang pertama tentunya menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam diri seluruh masyarakat Indonesia sedini mungkin, yang kedua pemerintah sendiri haruslah tegas memberikan contoh yang baik dalam kasus ini bahwa sesungguhnya jenazah korban covid-19 tidaklah memberikan pengaruh buruk bagi lingkungan sekitarnya, yang ketiga menyadarkan bahwa sebagai masyarakat Indonesia haruslah mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, mengesampingkan kepentingan pribadi untuk kepentingan bersama.

3. Ya, penolakan jenazah korban covid-19 termasuk pelanggaran sila Pancasila terutama sila ke-2 meskipun jenazah tersebut tidaklah bernyawa, karena setiap manusia memiliki hak asasi manusia yang dimana ham sendiri merupakan hak yang di anugrahkan tuhan ketika manusia itu lahir, jadi ketika seorang manusia meninggal dunia, jenazah tersebut tetap harus diberi keadilan seperti makam yang layak karena itu adalah bagian dari hak yang masih dia miliki.
Nama : Agustin Dwi Rahayu
NPM : 2311011093

FILSAFAT ILMU DAN ARAH PENGEMBANGAN PANCASILA: RELEVANSINYA DALAM MENGATASI PERSOALAN KEBANGSAAN

Filsafat ilmu adalah sebuah refleksi kritis secara mendasar atas perkembangan ilmu, khususnya terhadap tendensi filsafat ilmu, yaitu filsafat sebagai “pandangan hidup". Selain itu, filsafat sebagai pandangan hidup juga hampir sama dengan Pancasila yang merupakan way of life. Karena itu, Pancasila dan filsafat memiliki ilmu pengetahuan. Hubungan-hubungan keilmuan nampak terlihat di dalam nilai-nilai Pancasila yang terdiri dari lima sila.

Ketika berbicara tentang filsafat, ada dua hal yang patut diperhatikan, yaitu filsafat sebagai metode dan filsafat sebagai suatu pandangan. Oleh karena itu, di sini filsafat sebagai sebuah ilmu pengetahuan akan dijadikan sebagai pandangan hidup. Terkait dengan Pancasila, Pancasila sebagai sebuah pandangan hidup sudah tentu memiliki nilai-nilai filsafat yang terkandung di dalamnya. Secara filsafati, Pancasila merupakan sistem nilai-nilai ideologis yang berderajat. Artinya di dalamnya terkandung nilai luhur, nilai dasar, nilai instrumental, nilai praksis, dan nilai teknis. Pancasila juga mampu dijadikan pangkal sudut pandang dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Sebagai pandangan dunia atau filsafat, Pancasila merupakan acuan intelektual kognitif bagi cara berpikir bangsa, yang dalam usaha keilmuan dapat terbangun ke dalam sistem filsafat yang kredibel.

Pancasila mengandung prinsip-prinsip mulia. Kehendak untuk menegakkan negara Indonesia pastilah didasari oleh niat dan pedoman yang baik. Gagasan-gagasan yang terkandung di dalamnya merangkum kebijaksanaan bangsa Indonesia atas konteks budaya dan agama yang berabad lamanya disimpan sebagai norma etis. Unsur-unsur kebaikan tercantum dan menjadi pedoman masyarakat Indonesia. Untuk mengembangkan Pancasila, pertama harus ada unsur keyakinan. Setiap ideologi selalu memuat konsep-konsep dasar yang menggambarkan seperangkat keyakinan yang diorientasikan kepada tingkah laku para pendukungnya untuk mencapai suatu tujuan yang dicita-citakan. Yang kedua adalah unsur mitos. Setiap ideologi selalu memitoskan ajaran dari seseorang atau “badan” sebagai kesatuan, yang secara fundamental mengajarkan cara bagaimana hal yang ideal itu pasti dapat dicapai. Yang ketiga adalah loyalitas. Setiap ideologi selalu menuntut adanya loyalitas serta keterlibatann optimal para pendukungnya untuk mendapatkan derajat penerimaan optimal. Filsafat ternyata ilmu yang sangat mendasar bagi setiap pengembangan ilmu. Oleh karena itu sudah seharusnya jika ia dijadikan dasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Beberapa tahun terakhir persoalan persatuan kebangsaan terasa mengalami tantangan yang tidak ringan, yang tampak pada munculnya peristiwa-peristiwa kerusuhan yang tak sedikit. Perbedaan aliran keagamaan dapat menyulut perpecahan yang pada akhirnya rasa persatuan semakin hilang. Untuk mengatasi persoalan kebangsaan dalam upaya pengembangan Pancasila diperlukan beberapa faktor. Pertama, harus ada proses penyadaran terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila yang memiliki banyak makna bagi kehidupan umat manusia. Kedua, memperbaiki mental pejabat negara agar tidak selalu melakukan korupsi yaitu dengan selalu menanamkan nilainilai Pancasila. Ketiga, menanamkan nilai-nilai Pancasila ke dalam hati nurani. Rasa atau kemauan untuk mengaplikasikan pengetahuan nilai-nilai Pancasila sangat dibutuhkan. Sebab hanya dengan kemauan, kemampuan tersebut dapat berguna bagi masyarakat dan bangsa Indonesia.

Dapat disimpulkan bahwa kehadiran filsafat di dalam kehidupan manusia, amatlah penting.
Nama : Agustin Dwi Rahayu
NPM : 2311011093

Pancasila Sebagai Sistem Filsafat

Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu "Philosophia" yang dimana phile (cinta) berarti hasrat yang besar/berkobar-kobar/bersungguh-sungguh dan sophia (kebijaksanaan) yang berarti kebenaran sejati/sesungguhnya. Aliran-aliran filsafat dibagi menjadi 4 yaitu berfilsafat Rationalisme (akal), Materialisme (materi), Individualisme (individualitas), dan Hedonisme (kesenangan). Dalam memperoleh filsafat kita juga dapat menerima manfaat seperti memperoleh kebenaran yang hakiki, melatih kemampuan berfikir logis, rasional serta komprehensif, bertindak bijaksana, dan menyeimbangkan antara pertimbangan dan tindakan sehingga diperoleh keselarasan hidup.

Filsafat Pancasila didefinisikan sebagai refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila sebagai dasar negara dan kenyataan budaya bangsa dengan tujuan untuk mendapatkan pokok-pokok pengertiannya. Pancasila sebagai sistem filsafat memiliki ciri-ciri yaitu merupakan satu kesatuan bagian-bagian yang mempunyai fungsi sendiri-sendiri, saling berhubungan dan ketergantungan, memiliki tujuan untuk dicapai, dan terjadi dalam suatu lingkungan yang kompleks. Wawasan filsafat meliputi aspek penyelidikan ortologis yang menyelidiki hakikat sesuatu atau eksistensi dan disamaratakan dengan metafisika, epistemologis menyelidiki asal, syarat, susunan, metode, dan validitas ilmu pengetahuan, serta aksiologis yang artinya nilai, manfaat, pikiran, ilmu dan teori.