གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Castyllus Devandra Oktafio

NAMA : Castyllus Devandra Oktafio
NPM : 2311011004


1. Bagaimana ciri-ciri utama pendekatan Klasik ?
Ciri-ciri utama dari pendekatan Klasik yaitu 
  • Organisasi sebagai entitas rasional: Dipandang seperti mesin, dengan struktur yang harus berjalan efisien berdasarkan logika dan aturan yang ketat.
  • Desain organisasi adalah sebuah ilmu: Bisa dipelajari dan disusun secara ilmiah dengan prinsip dan metode tertentu.
  • Manusia sebagai makhluk ekonomi: Diperlakukan sebagai bagian dari mesin produksi, yang termotivasi oleh imbalan finansial dan harus dikontrol secara ketat.
  • Pengendalian dan efisiensi menjadi fokus utama: Melalui standar prosedur kerja, pengawasan, dan pembagian tugas yang jelas.
  • Struktur organisasi hierarkis dan formal: Terdapat pembagian kerja yang tegas dan otoritas yang bersifat impersonal.
2. Apa perbedaan dan persamaan antara karya Taylor,Fayol dan Weber ?
Perbedaan antara karya taylor, fayol dan weber yaitu :
  • Karya Taylor berfokus dalam Meningkatkan efisiensi pekerjaan individu dan proses produksi di lantai pabrik.
  • Karya Fayol berfokus Meningkatkan efisiensi seluruh organisasi melalui fungsi-fungsi dan prinsip-prinsip manajemen.
  • Karya Weber berfokus dalam merancang struktur organisasi yang paling efisien dan rasional.
Persamaan antara karya taylor, fayol, dan weber yaitu :
  • Pendekatan Rasional dan Logis: Ketiganya menggunakan pendekatan ilmiah dan logis untuk memecahkan masalah manajemen dan organisasi.
  • Tujuan Efisiensi Maksimal: Tujuan akhir ketiga tokoh tersebut yaitu mencapai efisiensi, produktivitas, dan kinerja organisasi yang tertinggi.
  • Pandangan Formal dan Struktural: Mereka menekankan pentingnya struktur formal, aturan, prosedur, dan hierarki untuk menciptakan ketertiban dan predictability.
  • Latar Belakang Sejarah: Muncul pada era yang sama (Revolusi Industri) sebagai respon terhadap kebutuhan akan cara mengelola organisasi dan pabrik yang semakin besar dan kompleks.
3. Jelaskan ciri-ciri utama pendekatan Klasik terhadap perubahan organisasi !
Ciri ciri utama dari pendekatan klasik terhadap perubahan organisasi yaitu :
  • Top-down approach: Perubahan diarahkan oleh manajemen puncak, bukan inisiatif dari bawah. Bawahan tidak dilibatkan dalam perencanaan dan hanya bertugas untuk melaksanakan perubahan yang telah ditetapkan.
  • Fokus pada stabilitas: Perubahan dianggap sebagai gangguan terhadap sistem yang stabil dan efisien.
  • Kontrol ketat: Perubahan dikelola melalui aturan dan prosedur, bukan fleksibilitas atau partisipasi karyawan.
  • Efisiensi sebagai tujuan utama: Setiap perubahan harus menghasilkan peningkatan efisiensi dan produktivitas.
  • Desain ulang struktural: Perubahan biasanya difokuskan pada desain struktur kerja dan pembagian tugas.

4. Bagaimana perkembangan klasik dan perkembangan organisasi kerja ?

Perkembangan pendekatan klasik dan organisasi kerja berawal dari kebutuhan untuk mengelola tenaga kerja secara efisien pada masa Revolusi Industri. Pendekatan ini dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Frederick Taylor, Henri Fayol, dan Max Weber yang masing-masing mengembangkan prinsip manajemen ilmiah, fungsi manajemen, dan birokrasi. Organisasi kerja pada masa itu ditandai dengan pembagian kerja yang kaku, pengawasan ketat, dan struktur hierarkis. Meskipun pendekatan klasik banyak dikritik karena mengabaikan aspek manusiawi, prinsip-prinsip dasarnya seperti efisiensi, struktur, dan pengendalian masih berpengaruh dalam praktik manajemen modern.

MANAJEMEN PERUBAHAN 2025 -> Responsi sesi 2 -> responsi 2 -> Re: responsi 2

Castyllus Devandra Oktafio གིས-

Nama : Castyllus Devandra Oktafio

NPM : 2311011004

1. Organisasi melakukan perubahan untuk menyesuaikan diri dengan dinamika lingkungan yang terus berkembang, seperti perubahan teknologi, pasar, regulasi, dan kebutuhan konsumen. Tujuan utama dari perubahan adalah untuk mencapai dan mempertahankan efektivitas organisasi. Tanpa adanya perubahan, organisasi berisiko mengalami stagnasi dan kehilangan daya saing.

2. Efektivitas organisasi adalah kemampuan organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan serta menghasilkan efek yang diinginkan. Hal ini berkaitan dengan efisiensi dalam penggunaan sumber daya, pencapaian kinerja, serta kepuasan pemangku kepentingan. 

Dalam konteks perubahan, efektivitas sangat bergantung pada bagaimana organisasi dirancang dan dijalankan, termasuk proses kerja, struktur, budaya, serta kepemimpinan. Maka dari itu, efektivitas menjadi indikator keberhasilan perubahan, sementara perubahan diperlukan untuk menjaga dan meningkatkan efektivitas organisasi.

3.Perubahan Individu: Fokus pada perilaku, sikap, dan persepsi pribadi. Contoh: pendekatan behavioris dan gestalt.

Perubahan Kelompok: Melibatkan norma, peran, dan nilai dalam dinamika kelompok kerja. Fokus pada interaksi dan keseimbangan sosial (Kurt Lewin).

Perubahan Sistem: Melihat organisasi sebagai sistem terbuka; perubahan harus mencakup koordinasi antar sub-sistem (teknis, manajerial, psikososial, tujuan).

4. Menghargai penolakan terhadap perubahan berarti melihat resistensi bukan sebagai hambatan, tetapi sebagai masukan berharga. Penolakan bisa mencerminkan ketidaksesuaian antara perubahan dengan nilai atau harapan individu. Kaitannya dengan komitmen dan kesiapan, resistensi cenderung menurun jika organisasi melibatkan karyawan, berkomunikasi dengan jelas, dan membangun kesiapan sejak awal. Sebaliknya, tanpa kesiapan dan partisipasi, komitmen melemah dan resistensi meningkat.

5. Peran Agen Perubahan:

  • Fasilitator, pelatih, pemimpin tim, konsultan.
  • Mengelola transisi, menilai kesiapan, dan membangun komitmen.
  • Menjadi penggerak utama, bukan hanya fasilitator netral.

Keterampilan yang dibutuhkan:

  • Diagnostik: menilai kesiapan dan klasifikasi organisasi.
  • Komunikasi dan negosiasi: membangun dukungan.
  • Manajemen perubahan: mengelola resistensi dan transisi.
  • Kreativitas dan simbolik: menggunakan makna, ritual, dan simbol untuk memengaruhi budaya.
  • Politik dan kepemimpinan: menjalin hubungan dengan manajemen dan stakeholder.
Nama : Castyllus Devandra Oktafio
NPM : 2311011004
Kelas : Manajemen genap
Prodi : S1 Manajemen

Analisis jurnal dengan judul "SEMANGAT BELA NEGARA DI TENGAH PANDEMI COVID-19 (THE NATIONAL SPIRIT OF DEFENSE IN THE MIDDLE OF THE COVID-19 PANDEMIC)

Jadi jurnal tersebut menjelaskan bahwa Bela negara merupakan suatu kewajiban bagi seluruh warga negaranya. Dalam menghadapi tantangan, seperti pandemi COVID-19, aktualisasi bela Negara dapat lakukan melalui tindakan kolektif seperti menjaga kebersihan, mematuhi protokol kesehatan, dan tidak menyebarkan informasi palsu. Kesadaran ini juga tercermin dalam solidaritas sosial saat masyarakat menghadapi kesulitan ekonomi dan emosional akibat dampak pandemi. Seluruh masyarakat berhak dan berkewajiban atas ikut serta dalam melakukan bela Negara, hal ini tertuang dalam UUD 1945 yaitu pada pasal 27 ayat 3 UUD 1945 dan pada pasal 30 ayat 1 UUD 1945. Jadi semakin tinggi kesadaran masyarakat terhdap bela negara, maka semakin kokoh pula kesatuan negara tersebut. Dalam menghadapi pandemi Covid-19 kita sebagai warga negara Indonesia harus bersatu dalam mengatasi pandemi tersebut yaitu dengan cara mematuhi semua peraturan yang dikeluarkan pemerintah dan melindungi para tenaga medis yang sedang berjuang dengan mempertaruhkan nyawanya dalam mencegah pandemi covid-19 ini.

Jadi kesimpulannya yaitu bela Negara bukan hanya tentang pertahanan militer, tetapi juga tentang memperkuat persatuan, gotong royong, dan kerja sama untuk mengatasi krisis dan mempertahankan integritas serta kelangsungan hidup bangsa.