གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Annisa Luthfiyyah

EKO PUBLIK A26 -> Aktivitas Diskusi Mahasiswa

Annisa Luthfiyyah གིས-
Nama : Annisa Luthfiyyah
NPM : 2313031010

1. Ini termasuk kegagalan pemerintah karena pemerintah tidak bisa memberikan subsidi itu dengan tepat sasaran ke kelompok masyarakat yang sebenarnya memerlukan.
2. Pemerintah memberikan subsidi tujuannya untuk melakukan pemerataan untuk masyarakat berpendapatan rendah agar dapat memenuhi kebutuhan hidup, dan menjaga stabilitas harga agar tetap stabil.
3. Penyebab subsidi tidak tepat sasaran karena ketidak akuratan data masayarakat yang berpendapatan rendah, lemahnya pengawasan dan penegakan hukum menyebabkan banyak oknum yang tidak jujur.
4. Dampak terhadap pemerataan ialah semua kalangan bisa mengkonsumsi barang bersubsidi, sedangkan dampak terhadap efisiensi yaitu terjadi pembengkakan alokasi anggaran APBN.
5. Lebih baik subsidi diberikan secara langsung berupa barang karena pada kenyataannya kalau diberikan dalam jumlah uang tunai uang tersebut bisa digunakan untuk kebutuhan lain yang tidak semestinya.
6. Data yang dapat membuktikan adalah berkurangnya presentasi masyarakat miskin, berkurang indikator ketimpangan, dan daya beli masyarakat naik.

EKO PUBLIK A26 -> PEMANTIK DISKUSI

Annisa Luthfiyyah གིས-
Nama : Annisa Luthfiyyah
NPM : 2313031010

1. Ya, penggunaan kendaraan bermotor menimbulkan eksternalitas negatif karena merugikan pihak ketiga. Dimana pengguna mendapatkan manfaat yaitu memudahkan mobilitas dengan mengeluaran biaya lebih sedikit, namun mengabaikan efek samping yang timbul.
2. Yang menerima manfaat adalah pengemudi, produsen kendaraaan, distributor bahan bakar, dan dealer.
3. Masyarakat umum yang terpapar polusi, pemerintah dan anggaran publik yang melayani kesehata seperti BPJS.
4. Hal ini dapat terjadi karena biaya perjalanan hanya nominal yang dikeluarkan di SPBU, hanya biaya pribadi yang tidak memasukkan biaya eksternal berupa kerugian kesehatan dan lingkungan. Dampaknya, harga pasar menjadi lebih murah dari biaya sosial yang sebenarnya dikeluarkan, sehingga menimbulkan banyaknya kendaraan pribadi.
5. Iya, dengan adanya pajak pengeluaran biaya kendaraan pribadi jadi lebih mahal, sehingga dapat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, dan beralih ke transportasi umum, yang hasilnya dapat mengurangi kerusakan lingkungan.
6. Iya, ini adalah salah satu alternatif lain yang dapat digunakan masyarakat selain menggunakan transportasi umum. Kendaraan listrik tidak akan menyebabkan kerusakan lingkungan, dan mengurangi penggunaan bahan bakar kendaraan. Namun, padatnya kendaraan di jalan tidak berkurang.
7. Kombinasi beberapa kebijakan merupakan solusi yang efektif, seperti menyediakan transportasi umum, menertibkan pajak, dan pembatasan ganjil genap untuk wilayah padat.
8. Saya mengambil data dari kompasiana.com, dijelaskan di kota Bandar Lampung terdaftar lebih dari 1 juta unit kendaraan. Kepadatan puncak terjadi pada saat pagi dan sore hari, dimana rutinitas masyarakat berangkat dan pulang beraktivitas. Selain itu, kepadatan ini juga diperparah oleh kapasitas jalan yang melebihi batas tampung. Sehingga menyebabkan kepadatan terjadi di Bandar Lampung.

EKO PUBLIK A26 -> Refleksi dan Diskusi

Annisa Luthfiyyah གིས-
Nama : Annisa Luthfiyyah
NPM : 2313031010

Mekanisme pasar dapat mengatur harga dan alokasi sumber daya secara mandiri, namun sistem ini memiliki kelemahan yang memerlukan campur tangan pemerintah untuk mengatasi kegagalan pasar, menyediakan barang public (seperti jalan raya), mengatasi masalah kegiatan ekonomi, mewujudkan keadilan dan pemertaan yang tidak dapat diselesaikan sendiri oleh mekanisme permintaan dan penawaran.

Kebijakan subsidi energi (pertalite dan solar)
1. Masalah ekonomi apa yang ingin diatasi: Pemerintah mencegah lonjakan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat, karena kenaikan harga Pertalite dan Solar di pasar dunia bisa langsung menaikkan biaya angkutan barang dan memicu kenaikan harga bahan pokok.
2. Mengapa pemerintah perlu melakukan intervensi: Pemerintah perlu turun tangan karena BBM adalah kebutuhan vital yang berdampak pada seluruh kegiatan ekonomi, sehingga intervensi dibutuhkan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi masyarakat dari dampak lonjakan harga yang mendadak.
3. Bentuk intervensi yang digunakan: Pemerintah menggunakan subsidi harga dengan membayar selisih harga asli minyak menggunakan dana APBN agar harga di SPBU tetap murah, serta menerapkan aturan pembatasan pembeli.
4. Apakah kebijakan tersebut sudah efektif dan adil: Kebijakan ini kurang adil karena subsidi melekat pada barang sehingga pemilik kendaraan pribadi yang mampu justru menikmati subsidi lebih banyak daripada warga miskin, serta kurang efisien secara jangka panjang karena membebani anggaran negara sehingga idealnya diubah menjadi bantuan uang tunai langsung yang tepat sasaran.

EKONDUS A26 -> CASE STUDY

Annisa Luthfiyyah གིས-
Nama : Annisa Luthfiyyah
NPM : 2313031010

1. Berikut adalah analisis SCP:
a. Struktur: terjadi kesenjangan infrastruktur listrik, sinyal internet untuk daerah pedalaman seperti Papua, Kalimantan, dan Nusa Tenggara, serta alasan tidak efektifnya aplikasi ini karena siswa siswi di daerah terpencil tidak memiliki literasi digital yang sama dengan siswa siswi di perkotaan.
b. Perilaku (Conduct): akibat ketimpangan struktur membuat para pengembang merancang aplikasi dengan bahasa yang baku dan mengikuti pembelajaran di perkotaan yang paham digital. Di sisi lain, dorongan dari pemerintah secara mendesak meminta guru untuk mengajarkan pembelajaran tersebut ke siswa tanpa memberikan pembekalan sebelumnya, membuat guru dan siswa merasa terasingkan sehingga mengabaikan platform tersebut.
c. Kinerja (Perfrmance): kinerja yang dihasilkan sangat rendah, karena tidak optimalnya penggunaan aplikasi dalam pembelajaran.
2. Teknologi tidak dapat dipisahkan dari penggunanya yaitu masyarakat, maka terdapat tiga faktor yang memengaruhi penerimaan aplikasi edukasi: Pertama adalah hambatan bahasa, banyak sisa daerah yang belum terbiasa dengan bahasa Indonesia formal terutama dalam aplikasi digital. Kedua, relevansi materi dengan pembelajaran, dimana siswa pedalam belajar materi menggunakan contoh disekitar yang berbeda jauh dengan contoh kehidupan kota yang ada di aplikasi. Ketiga, peran utama guru yang dijunung tinggi sebagai pengajar bukan aplikasi yang dirancang untuk pembelajaran mandiri tanpa peran aktif dari guru.
3. Untuk mengatasi masalah tersebut, berikut adalah rancangan strategis untuk penerapan dalam aplikasi: pertama aplikasi dapat diakses tanpa internet, kedua contoh kasus ataupun ilustrasi menggunakan perumpamaan dasar agar dapat dimengerti oleh semua kalangan, ketiga kolaborasi antara guru di perkotaan dengan di pedesaan dalam penyusunan materi, dan terakhir pembelajaran secara berkelompok untuk mengatasi keterbatasan perangkat sekaligus menyesuaikan dengan budaya masyarakat setempat.

EKONDUS A26 -> CASE STUDY

Annisa Luthfiyyah གིས-
Nama : Annisa Luthfiyyah
NPM : 2313031010

1. Faktor utama dan perannya dalam konstruksi, yaitu:
a. Petani tradisional yang bekerja langsung dilapangan, perannya mengevaluasi suatu teknologi dengan menganalisis penggunaannya, jika teknologi dirasa rumit dan mengancam tradisi pertanian yang diwariskan turun temurun, maka teknologi dianggap tidak relevan digunakan.
b. Pengembang teknologi, berperan menicptakan teknologi yang modern, efisien, dan merupakan solusi optimal untuk meningkatkan produkivitas hasil panen.
c. Pemerintah & dinas pertanian, perannya sebagai fasilitator dan regulator yang menjembatani teknologi dengan kebijakan ketahanan pangan nasional.
d. Tengkulak berhubungan langsung dengan petani, perannya membeli hasil panen petani secara langsung. Tengkulak menolak aplikasi pasar digital karena mengonstruksikannya sebagai ancaman yang dapat memotong jalur distribusi mereka, merusak model bisnis, dan menghilangkan dominasi pasar yang selama ini mereka pegang di desa.
2. Interpretative Flexibility menjelaskan bahwa suatu objek teknologi memiliki makna yang berbeda-beda bagi kelompok sosial, tergantung pada nilai, kebutuhan, dan pengalaman mereka. Contohnya bagi pemerintah, mengembangkan drone pestisida dapat menghemat waktu dan bahan kimia. Sedangkan bagi petani lokal, drone ini sangat rumit digunakan, mahal dan mengancam tradisi pertanian. Penolakan ini terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara kegunaan dengan karakter petani.
3. Keberhasilan atau kegagalan penerapan teknologi pertanian digital sangat ditentukan oleh struktur kekuasaan dan nilai budaya di masyarakat. Selama pemerintah masih memosisikan petani sekadar sebagai objek yang kurang paham teknologi, bukan sebagai subjek yang memiliki kearifan lokal, maka teknologi tidak bisa diterapkan, akan terus muncul penolakan sebagai bentuk perlawanan terhadap sikap yang terlalu mengatur. Bagi masyarakat desa, bertani bukan hanya soal mencari untung, melainkan bagian dari kegiatan sosial dan keagamaan seperti tradisi gotong royong dan ritual panen. Kehadiran teknologi yang terlalu otomatis dan individualistis berisiko merusak rasa kebersamaan serta ikatan kekeluargaan di antara warga.
4. Agar teknologi pertanian digital dapat diterima dengan baik oleh masyarakat desa, pemerintah perlu mengajak petani berdiskusi sejak awal dalam proses perancangan alat agar fitur yang dibuat sesuai dengan kemampuan serta kebutuhan nyata di lapangan. Teknologi tidak boleh hadir untuk menggantikan tradisi, melainkan menyempurnakannya. Sebagai contoh, penggunaan drone dapat dikelola secara bersama-sama melalui badan usaha milik desa agar semangat gotong royong tetap terjaga. Terakhir, pemerintha harus menyediakan pendampingan di lapangan untuk mengajari petani secara langsung, sekaligus merangkul para perantara lokal atau tengkulak agar bisa dijadikan mitra kerja sehingga tidak timbul konflik sosial baru di desa.