Nama : Irfan A Suki
NPM : 2313031013
Analisis Kasus Teknologi Agritech di Indonesia
1. Aktor sosial utama dan perannya
Dalam penerapan teknologi pertanian digital, terdapat beberapa pihak yang ikut memengaruhi diterima atau tidaknya teknologi tersebut.
a. Petani menjadi pengguna utama teknologi. Mereka akan menggunakan teknologi jika merasa teknologi tersebut bermanfaat dan mudah digunakan. Sebaliknya, petani bisa menolak jika teknologi dianggap terlalu rumit, mahal, atau tidak sesuai dengan cara bertani yang selama ini dilakukan.
b. Pemerintah berperan dalam membuat kebijakan, memberikan bantuan, menyediakan pelatihan, dan mendorong penggunaan teknologi di bidang pertanian.
c. Perusahaan teknologi bertugas membuat dan menyediakan berbagai teknologi seperti drone, IoT, dan aplikasi digital untuk membantu kegiatan pertanian.
d. Penyuluh pertanian membantu mengenalkan teknologi kepada petani serta memberikan pendampingan dalam penggunaannya.
e. Kelompok tani dan tokoh masyarakat dapat memengaruhi keputusan petani lainnya. Jika orang yang dipercaya dalam kelompok menerima teknologi, petani lain biasanya akan lebih terbuka untuk mencobanya.
f. Perguruan tinggi dapat membantu melalui penelitian, pengembangan teknologi, serta pendampingan agar teknologi yang digunakan lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Dari beberapa aktor tersebut dapat dilihat bahwa keberhasilan teknologi tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada bagaimana teknologi tersebut diterima dan digunakan oleh masyarakat.
2. Interpretative flexibility dalam teknologi agritech
Dalam pendekatan Social Construction of Technology (SCOT), interpretative flexibility berarti bahwa satu teknologi dapat dipahami dan digunakan secara berbeda oleh kelompok masyarakat yang berbeda.
Contohnya adalah drone untuk pertanian. Bagi perusahaan teknologi, drone dapat dianggap sebagai alat yang membuat penyemprotan pestisida lebih cepat dan efisien. Pemerintah mungkin melihatnya sebagai teknologi yang dapat membantu meningkatkan produktivitas. Namun, sebagian petani dapat melihat drone sebagai teknologi yang sulit digunakan, membutuhkan biaya tambahan, atau tidak cocok dengan cara bertani yang sudah mereka kenal.
Contoh lainnya adalah teknologi IoT untuk mengukur kelembapan tanah. Bagi pengembang, teknologi tersebut dapat membantu petani mengetahui kondisi tanah berdasarkan data. Akan tetapi, sebagian petani mungkin merasa tidak membutuhkannya karena sudah terbiasa mengetahui kondisi tanah melalui pengalaman mereka sendiri.
Hal tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu memiliki arti yang sama bagi setiap orang. Cara masyarakat memahami teknologi dipengaruhi oleh kebutuhan, pengalaman, kebiasaan, dan kondisi lingkungan mereka.
3. Pengaruh kekuasaan sosial dan budaya lokal
Faktor sosial dan budaya mempunyai pengaruh cukup besar terhadap keberhasilan penerapan teknologi pertanian. Petani memiliki pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dari kebiasaan serta proses bertani selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, teknologi baru yang dianggap tidak sesuai dengan kebiasaan mereka dapat menimbulkan penolakan. Selain itu, pihak seperti pemerintah dan perusahaan memiliki pengetahuan serta sumber daya yang lebih besar dalam bidang teknologi. Namun, petani lebih memahami kondisi nyata di lapangan, seperti karakteristik tanah, tanaman, cuaca, dan kebiasaan masyarakat. Jika teknologi diterapkan hanya berdasarkan keputusan pemerintah atau perusahaan tanpa melibatkan petani, teknologi tersebut dapat dianggap sebagai sesuatu yang dipaksakan. Penolakan yang muncul tidak selalu berarti petani tidak mau menggunakan teknologi, tetapi bisa menunjukkan bahwa teknologi tersebut belum sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lokal. Dengan demikian, keberhasilan teknologi sebaiknya tidak hanya dilihat dari seberapa canggih teknologi tersebut, tetapi juga dari proses penyesuaian dan kesepakatan antara teknologi dengan masyarakat yang menggunakannya.
4. Strategi penerapan teknologi agritech
Agar teknologi pertanian digital dapat lebih mudah diterima masyarakat, beberapa strategi yang dapat dilakukan yaitu:
a. Melibatkan petani dalam prosesnya
Petani perlu diajak berdiskusi sejak awal agar teknologi yang dikembangkan sesuai dengan masalah dan kebutuhan mereka.
b. Melakukan percobaan terlebih dahulu
Teknologi dapat dicoba dalam kelompok atau wilayah tertentu sebelum digunakan secara luas. Dengan cara ini, manfaat dan kekurangannya dapat diketahui terlebih dahulu.
c. Melibatkan penyuluh dan tokoh masyarakat
Penyuluh serta tokoh yang dipercaya masyarakat dapat membantu menjelaskan manfaat dan cara penggunaan teknologi kepada petani.
d. Memberikan pelatihan secara langsung
Pelatihan sebaiknya dilakukan secara sederhana dan praktik langsung sehingga petani tidak hanya memahami teori, tetapi juga dapat menggunakan teknologinya.
e. Menyesuaikan teknologi dengan kondisi daerah
Teknologi sebaiknya tidak diterapkan dengan cara yang sama di semua wilayah. Kondisi lahan, jenis tanaman, kemampuan petani, dan kebiasaan masyarakat perlu menjadi pertimbangan.
f. Menggabungkan teknologi dengan pengetahuan lokal
Teknologi baru sebaiknya digunakan untuk membantu pengalaman dan pengetahuan petani, bukan langsung menggantikannya.
Kesimpulan
Menurut saya, keberhasilan teknologi agritech tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologinya. Faktor sosial, budaya, pengalaman, dan kebutuhan petani juga sangat berpengaruh. Dalam pendekatan SCOT, setiap kelompok dapat memiliki pemahaman yang berbeda terhadap teknologi yang sama. Oleh karena itu, penerapan agritech sebaiknya dilakukan dengan melibatkan petani, menyesuaikan teknologi dengan kondisi lokal, memberikan pendampingan, serta menggabungkan teknologi modern dengan pengetahuan yang sudah dimiliki masyarakat. Dengan cara tersebut, teknologi akan lebih mudah diterima dan dapat memberikan manfaat yang sesuai dengan kebutuhan petani.