Kiriman dibuat oleh Nicholas Syahputra Hutahaean

Reg D:
1. Nicholas Syahputra Hutahaean (2316041128)
2. Ilham Kamil Royan (2316041142)
Man B:
3. Bella Damayanti (2356041027)
4. Muhammad Fadli Putra Lambada (2356041036)
5. Riska Nur Halimah (2356041039)
6. Gina Hanipa Murti (2356041041)
7. Raihan Ufaldo (2356041044)
8. Ratu Cinderella (2356041046)
9. Salsabila Andrianto Putri (2356041048)

https://youtu.be/r0SQvPG6T0U?si=oooZ2AhQxpdX0PRr
Nama: Nicholas Syahputra Hutahaean
NPM: 2316041128
Kelas: Reguler D

Adapting NATO's Security Policy to Emerging Trends and Challenges(Penyesuaian Kebijakan Keamanan NATO dengan Tren dan Tantangan yang Muncul) 

Pendahuluan:
Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) merupakan aliansi politik dan militer yang terdiri dari 32 Negara Anggota. Didirikan pada tahun 1949 sebagai respons terhadap ancaman ekspansi Soviet, NATO bertujuan utama untuk melindungi kebebasan dan keamanan negara-negara anggotanya. Berdasarkan prinsip-prinsip pertahanan kolektif dan keamanan bersama, NATO mendorong perdamaian, demokrasi, kebebasan individu, dan supremasi hukum.

Evolusi NATO:
Seiring berjalannya waktu, NATO telah berkembang untuk mengatasi tantangan keamanan baru dengan mempertahankan kemampuan militer yang kuat, terlibat dalam kemitraan dengan negara-negara lain dan organisasi internasional, serta menekankan pentingnya ketahanan baik di tingkat nasional maupun kolektif.

Menyesuaikan Diri dengan Tantangan yang Muncul:
Perubahan lanskap keamanan menuntut NATO untuk menyesuaikan kebijakannya guna menghadapi ancaman modern secara efektif. Tren kunci meliputi beragamnya sifat ancaman seperti serangan cyber dan perang hibrida, kemajuan teknologi yang mengubah dinamika perang, pentingnya kemitraan strategis, serta urgensi ketahanan dan adaptasi.

Strategi Kunci untuk Masa Depan:
NATO harus memanfaatkan inovasi sambil mengatasi implikasi dari kemampuan cyber dan senjata otonom. Membangun kemitraan yang solid dengan negara-negara non-NATO dan organisasi internasional menjadi krusial untuk meningkatkan kerja sama keamanan. Menempatkan ketahanan dan adaptasi sebagai prioritas di tingkat nasional maupun kolektif sangat diperlukan untuk menghadapi ancaman yang terus berkembang.

Tanggapan terhadap Tantangan Hibrida di Eropa:
NATO telah merespons kebangkitan agresi Rusia dan taktik perang hibrida dengan meningkatkan kehadiran militer di Eropa Timur, menyelenggarakan latihan pertahanan cyber, dan menerapkan inisiatif komunikasi strategis untuk melawan disinformasi. Kerangka tanggapan ini mencakup pendekatan multidimensional yang mengintegrasikan kemampuan militer, diplomatik, dan cyber, dengan menekankan ketahanan, penanggulangan, dan komunikasi strategis.

Kesimpulan:
Dengan memprioritaskan ketahanan, inovasi, dan kemitraan strategis, NATO dapat mengatasi tantangan yang muncul dan tren yang berkembang dalam lanskap keamanan. Hal ini akan membantu memastikan keselamatan dan stabilitas wilayah tersebut secara efektif.
Nama: Nicholas Syahputra Hutahaean
NPM: 2316041128


Izin menjawab bu,
Salah satu contoh pelayanan publik yang telah mengalami perubahan dari sentralisasi ke desentralisasi adalah sistem pendidikan di Indonesia. Dulu, pengelolaan pendidikan di Indonesia sangat terpusat di tingkat pusat, dimana kebijakan, kurikulum, dan pengelolaan sumber daya manusia sepenuhnya ditentukan oleh pemerintah pusat. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan tuntutan untuk memberikan pelayanan pendidikan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal, pengelolaan pendidikan kini telah bergeser menuju desentralisasi.

Upaya pengembangan pengelolaan pendidikan dengan adanya perubahan ini dapat dianalisis dengan teori desentralisasi. Teori ini menekankan pentingnya memberikan otonomi kepada pemerintah daerah atau lembaga pendidikan di tingkat lokal untuk mengelola sumber daya dan kebijakan pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masyarakat setempat. Hal ini dilakukan dengan memberikan wewenang kepada pemerintah daerah untuk mengatur kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan lokal, merekrut dan mengelola sumber daya manusia, serta mengalokasikan anggaran pendidikan sesuai dengan prioritas lokal.

Selain itu, upaya pengembangan pengelolaan pendidikan juga dapat melibatkan partisipasi masyarakat. Dengan melibatkan masyarakat dalam evaluasi pendidikan, kebijakan pendidikan yang diambil dapat lebih responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat setempat. "Namun, tidak jelas apakah pendidik Indonesia siap untuk bekerja dalam kolaborasi dengan anggota masyarakat. Sekolah-sekolah di Indonesia belum secara tradisional mengundang atau merespons masukan warga" (Cohen, 2000; Mandolang, 1996).

Selain itu, upaya pengembangan pengelolaan pendidikan juga melibatkan peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam mengelola pendidikan. Hal ini dilakukan melalui pelatihan dan pendampingan teknis dalam perencanaan, penganggaran, monitoring, dan evaluasi pendidikan di tingkat daerah. Dengan peningkatan kapasitas ini, pemerintah daerah dapat mengelola pendidikan secara efektif dan efisien.

Catatan kaki
Pradana, G. W., & Ma’ruf, M. F. (2020). Desentralisasi pendidikan.

MP Reg D 2024 -> Diskusi -> Diskusi1 -> Re: Diskusi1

oleh Nicholas Syahputra Hutahaean -
Nama: Nicholas Syahputra Hutahaean
NPM: 2316041128

Izin menjawab bu,
Salah satu tantangan utama yang dihadapi Indonesia dalam melakukan reformasi administrasi publik adalah transformasi budaya birokrasi yang cenderung lamban dan terdapat praktik korupsi. Budaya birokrasi yang lamban menyulitkan proses pengambilan keputusan dan pelayanan publik yang berjalan efisien. Selain itu, adanya praktik korupsi juga merusak integritas serta kredibilitas lembaga pemerintah.

Contoh konkret dari tantangan ini adalah proses perekrutan dan promosi pegawai negeri sipil (PNS) yang seringkali tidak transparan dan rentan terhadap praktik nepotisme. Dampaknya adalah penempatan orang-orang yang tidak kompeten di posisi strategis, yang kemudian menghambat efisiensi serta efektivitas pelayanan publik.

Teori yang mendukung dalam menghadapi tantangan ini secara konseptual dapat diterapkan dalam teori "public administration," yang menekankan pentingnya transparansi, akuntabilitas, serta partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan publik. Disamping itu, teori "organizational behavior" juga menyoroti pentingnya membangun budaya organisasi yang berorientasi pada pelayanan, responsif, serta inovatif.

Guna mengatasi tantangan ini, Indonesia harus melakukan perubahan struktural serta budaya dalam lembaga pemerintah. Langkah konkret seperti menerapkan sistem meritokrasi dalam perekrutan dan promosi PNS, meningkatkan transparansi pengambilan keputusan publik, serta penegakan hukum secara tegas terhadap korupsi akan menjadi langkah awal yang penting dalam upaya reformasi administrasi publik di Indonesia.