གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Nazwa Bunga Lestari

EKONDUS B2025 -> ACTIVITY: RESUME

Nazwa Bunga Lestari གིས-
Nama : Nazwa Bunga Lestari
NPM : 2213031040

Kedua artikel tersebut sama-sama membahas persoalan pembangunan industri di Indonesia, tetapi dari sudut pandang yang berbeda. Artikel pertama menjelaskan bahwa sejak krisis 1998, Indonesia terlihat tidak memiliki strategi industrialisasi yang jelas. Akibatnya, banyak industri berpindah ke negara lain, investasi baru tidak tumbuh, dan pemerintah sering mengeluarkan kebijakan yang berubah-ubah serta tidak terkoordinasi. Masalah utama yang disorot adalah lemahnya koordinasi antarinstansi, kurangnya insentif yang tepat sasaran, dan tidak adanya arah prioritas industri yang mampu memperkuat struktur ekonomi. Artikel kedua mengangkat masalah yang lebih spesifik, yaitu pembangunan Kawasan Industri Prioritas (KIP) yang ternyata banyak tidak berkembang karena perencanaannya kurang matang. Pemerintah menetapkan 14 kawasan industri baru, namun sebagian besar berjalan lambat karena pengelolaan yang lemah, minimnya infrastruktur dasar, rendahnya minat investor, serta ketidaksiapan lahan dan fasilitas pendukung. Artikel ini juga menegaskan bahwa pembangunan kawasan industri seharusnya memperhatikan kebutuhan nyata pelaku usaha, seperti biaya produksi yang lebih rendah, akses pasar, dan ketersediaan utilitas. Selain itu, artikel kedua menunjukkan contoh negara seperti Korea Selatan dan Taiwan yang berhasil memajukan industrinya melalui perencanaan bertahap, komunikasi intens antara pemerintah dan sektor swasta, serta kebijakan yang konsisten dari waktu ke waktu. Jika dibandingkan, kedua artikel sama-sama menekankan bahwa kegagalan pembangunan industri di Indonesia terutama disebabkan kurangnya koordinasi, lemahnya perencanaan jangka panjang, dan minimnya kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha.

EKONDUS B2025 -> PERTEMUAN 6: Studi SCP di Indonesia

Nazwa Bunga Lestari གིས-
Nama: Nazwa Bunga Lestari
NPM: 2213031040

Jurnnal ini membahas penerapan model Structure–Conduct–Performance (SCP) dalam menganalisis kinerja dan efisiensi industri air minum dalam kemasan di Indonesia. Model SCP menjelaskan bahwa struktur pasar (jumlah pelaku, tingkat konsentrasi, dan hambatan masuk) memengaruhi perilaku perusahaan (strategi harga, promosi, dan inovasi), yang pada akhirnya menentukan kinerja industri (tingkat keuntungan dan efisiensi). Berdasarkan hasil analisis, industri air minum di Indonesia memiliki tingkat konsentrasi pasar yang tinggi karena didominasi oleh beberapa perusahaan besar seperti **Aqua (Danone), Club (Orang Tua Group), dan Le Minerale (Mayora Group)**. Kondisi ini membuat pasar bersifat **oligopoli**, di mana perusahaan besar memiliki kekuatan untuk mengatur harga dan strategi pemasaran.

Menurut pandangan saya, struktur pasar yang oligopolistik dapat memberikan dua sisi berbeda. Di satu sisi, dominasi perusahaan besar dapat mendorong efisiensi dan inovasi karena mereka memiliki sumber daya besar untuk investasi teknologi dan riset produk. Namun di sisi lain, kondisi ini juga berpotensi menghambat persaingan sehat karena perusahaan kecil sulit bersaing dari segi harga dan distribusi. Untuk meningkatkan efisiensi internal industri air minum di Indonesia, pemerintah perlu memperkuat pengawasan terhadap persaingan usaha serta mendorong inovasi di tingkat produsen kecil agar pasar tetap kompetitif. Dengan begitu, konsumen dapat memperoleh produk berkualitas dengan harga yang wajar, dan industri air minum nasional dapat berkembang lebih berkelanjutan.