CASE STUDY

CASE STUDY

Number of replies: 11

Kementerian Pendidikan dan berbagai startup edtech meluncurkan aplikasi pembelajaran daring untuk siswa di seluruh Indonesia, termasuk daerah terpencil. Namun, banyak guru dan siswa di daerah seperti pedalaman Papua, Kalimantan, dan Nusa Tenggara mengalami kendala. Bukan hanya soal akses internet, tetapi juga karena aplikasi dirasa tidak relevan dengan konteks budaya dan bahasa lokal. Guru juga kesulitan mengintegrasikan aplikasi ke dalam metode pembelajaran mereka.

 Pertanyaan:

  1. Gunakan pendekatan SCP untuk menganalisis mengapa aplikasi edukasi digital tersebut tidak efektif di daerah terpencil.
  2. Nilai peran faktor sosial, budaya, dan lokalitas dalam membentuk makna dan penerimaan teknologi pendidikan.
  3. Desain sebuah model aplikasi atau strategi penerapan yang mempertimbangkan prinsip SCP dan lokalitas untuk meningkatkan efektivitas edtech di Indonesia.

In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Agnes Yuhestifiani -
Nama: Agnes Yuheatifiani
NPM: 2213031045

1. Analisis SCP terhadap Ketidakefektifan Aplikasi Edutech di Daerah Terpencil
Melalui pendekatan Structure-Conduct-Performance (SCP), ketidakefektifan aplikasi edukasi digital di daerah terpencil dapat dijelaskan dari struktur pasar pendidikan yang tidak merata, perilaku pengguna yang beragam, dan hasil kinerja yang belum optimal. Struktur pendidikan di wilayah terpencil ditandai oleh keterbatasan infrastruktur digital, rendahnya literasi teknologi, serta minimnya dukungan teknis. Perilaku guru dan siswa dalam menggunakan teknologi juga dipengaruhi oleh keterbatasan pemahaman dan adaptasi terhadap metode pembelajaran digital. Akibatnya, performa aplikasi edutech tidak mencapai tujuan yang diharapkan, karena tidak mampu menjawab kebutuhan lokal secara kontekstual dan fungsional.

2. Peran Faktor Sosial, Budaya, dan Lokalitas dalam Penerimaan Teknologi Pendidikan
Faktor sosial, budaya, dan lokalitas memiliki pengaruh besar dalam membentuk makna dan penerimaan terhadap teknologi pendidikan. Bahasa daerah, nilai-nilai lokal, serta cara belajar yang khas menjadi elemen penting yang menentukan apakah sebuah teknologi dianggap relevan dan bermanfaat. Di banyak wilayah terpencil, pendekatan pendidikan masih sangat bergantung pada interaksi langsung dan metode tradisional, sehingga aplikasi yang tidak mempertimbangkan konteks lokal cenderung ditolak atau tidak digunakan secara maksimal. Ketika teknologi tidak selaras dengan budaya dan kebiasaan setempat, maka resistensi terhadap inovasi akan meningkat, meskipun secara teknis aplikasi tersebut canggih.

3. Desain Model Aplikasi dan Strategi Penerapan yang Responsif terhadap SCP dan Lokalitas
Untuk meningkatkan efektivitas edtech di Indonesia, perlu dirancang model aplikasi yang adaptif terhadap struktur pendidikan lokal, perilaku pengguna, dan hasil yang diharapkan. Aplikasi harus memiliki fitur multibahasa, termasuk bahasa daerah, serta konten yang disesuaikan dengan konteks budaya masing-masing wilayah. Strategi penerapan harus melibatkan pelatihan intensif bagi guru, kolaborasi dengan komunitas lokal, dan integrasi dengan metode pembelajaran yang sudah dikenal. Pemerintah dan startup edtech juga perlu membentuk ekosistem pendukung, seperti pusat teknologi pendidikan daerah dan program pendampingan digital. Dengan pendekatan yang berbasis SCP dan lokalitas, teknologi pendidikan dapat menjadi alat yang inklusif dan efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di seluruh Indonesia.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Riani Suniar -
Nama : Riani Suniar
Npm : 2213031042

1.Papua, Kalimantan, dan Nusa Tenggara punya masalah infrastruktur digital. Internet tidak merata dan perangkat minim. Aplikasi belajar tidak cocok dengan budaya dan bahasa lokal. Jadi, susah pakai teknologi. Pasar aplikasi edukasi kecil dan tidak saing. Guru dan siswa sulit pakai teknologi yang tidak sesuai. Aplikasi tidak pakai budaya dan bahasa mereka. Mereka juga jarang dapat pelatihan dan dukungan. Akibatnya, mereka malas pakai dan tidak aktif.Karena itu, belajar jarak jauh gagal. Penggunaan rendah dan hasil belajar buruk. Digital learning tidak efektif. Berbeda dengan kota yang sudah siap dan infrastrukturnya baik.

2.Sosial budaya dan lokal mempengaruhi bagaimana teknologi pendidikan diterima. Bahasa daerah, kebiasaan, dan nilai budaya belajar berbeda-beda. Kondisi ekonomi juga penting. Jika aplikasi tidak mengakomodasi ini, maka tidak akan banyak dipakai. Aplikasi harus punya konten lokal, dukungan bahasa, dan cocok untuk metode guru di daerah. Guru di daerah terpencil sering kekurangan pelatihan dan dukungan teknis. Komunitas dan lingkungan berpengaruh besar dalam belajar yang efektif. Contohnya, pembelajaran dengan cerita rakyat dan kearifan lokal harus diadaptasi ke platform digital.

3.Fokus untuk membuat aplikasi yang ringan, bekerja secara offline, dan berjalan di perangkat sederhana. Bekerja sama dengan pemerintah dan penyedia untuk mendapatkan internet dan perangkat di sekolah jarak jauh. Libatkan guru dan kelompok lokal untuk mengembangkan konten yang sesuai dengan budaya dan bahasa lokal. Latih guru secara intensif dengan pembinaan sehingga mereka dapat menambahkan aplikasi ke pengajaran mereka. Gunakan platform yang interaktif dan memungkinkan penambahan konten lokal, seperti cerita atau game. Periksa secara teratur seberapa baik siswa belajar dan apakah pengguna menyukai aplikasi ini. Perbarui konten berdasarkan umpan balik lokal agar sesuai dengan setiap area. Bekerja sama dengan kelompok lokal dan pemerintah untuk terus menggunakan teknologi dalam jangka panjang.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Dwi Intan Ramadhani -
Nama: Dwi Intan Rahmadani
NPM; 2213031048
Ketidakefektifan aplikasi pembelajaran digital di daerah terpencil dapat dijelaskan melalui pendekatan Structure Conduct Performance (SCP). Dari sisi struktur, daerah seperti Papua, Kalimantan, dan Nusa Tenggara masih memiliki keterbatasan infrastruktur, akses internet, dan kemampuan ekonomi, sementara aplikasi edtech dirancang dengan asumsi kondisi pengguna di perkotaan. Dari sisi perilaku, startup dan pemerintah kurang memahami kebutuhan lokal; konten tidak relevan dengan budaya dan bahasa daerah, serta guru kesulitan mengintegrasikan teknologi karena kurang pelatihan dan literasi digital. Akibatnya, kinerja aplikasi rendah penggunaan minim, hasil belajar tidak meningkat, dan kesenjangan pendidikan semakin besar.

Faktor sosial, budaya, dan lokalitas berperan penting dalam menentukan penerimaan teknologi pendidikan. Siswa dan guru lebih mudah menerima aplikasi jika kontennya sesuai dengan konteks kehidupan, bahasa, dan nilai-nilai budaya mereka. Pendekatan yang seragam secara nasional justru menimbulkan resistensi karena tidak mencerminkan realitas lokal. Oleh karena itu, pengembangan edtech perlu menyesuaikan gaya belajar, bahasa, serta kebiasaan sosial masyarakat setempat agar teknologi benar-benar bermakna dan inklusif.

Model edtech yang efektif harus berbasis SCP dan lokalitas. Dari sisi struktur, pemerintah dan swasta perlu memperkuat infrastruktur digital serta memperluas akses perangkat murah. Dari sisi perilaku, aplikasi harus melibatkan guru dan komunitas lokal dalam perancangan konten dengan bahasa dan konteks daerah. Dari sisi kinerja, keberhasilan diukur bukan hanya dari jumlah pengguna, tetapi dari peningkatan hasil belajar dan partisipasi masyarakat. Dengan demikian, edtech dapat menjadi sarana pembelajaran yang inklusif, relevan, dan berkelanjutan di seluruh Indonesia.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by FAZA AULIA -
FAZA AULIA
2213041046
1. Analisis ketidakefektifan aplikasi edtech dengan pendekatan SCP
Menurut pendekatan SCP, aplikasi edukasi digital tidak efektif karena dikonstruksi berdasarkan asumsi dan kebutuhan aktor pusat (pemerintah dan startup) tanpa melibatkan guru dan siswa di daerah terpencil, sehingga teknologi dimaknai sebagai beban tambahan yang sulit digunakan, tidak kontekstual, dan tidak sesuai dengan realitas sosial, budaya, serta praktik pembelajaran lokal.

2. Peran faktor sosial, budaya, dan lokalitas
Faktor sosial dan budaya sangat memengaruhi penerimaan teknologi, karena perbedaan bahasa, nilai budaya, kebiasaan belajar, serta otoritas guru dan komunitas lokal membentuk makna teknologi sebagai sesuatu yang “asing” dan kurang relevan, sehingga guru dan siswa cenderung mempertahankan metode pembelajaran konvensional yang lebih sesuai dengan konteks mereka.

3. Model aplikasi atau strategi berbasis SCP dan lokalitas
Strategi edtech yang efektif perlu dirancang secara partisipatif dengan melibatkan guru dan komunitas lokal, menyediakan konten multibahasa dan berbasis budaya setempat, fleksibel untuk metode mengajar guru, serta diposisikan sebagai pendukung pembelajaran lokal agar teknologi dimaknai sebagai alat bantu yang relevan dan bermanfaat bagi daerah terpencil.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Selly Ismi Safitri -
Nama : Selly Ismi Safitri
NPM : 2213031049

1. Dalam perspektif SCP, teknologi pendidikan tidak bersifat netral, melainkan dibentuk oleh interaksi sosial para aktor yang terlibat. Aplikasi pembelajaran daring yang diluncurkan secara nasional dikonstruksi dengan asumsi bahwa pengguna memiliki akses internet memadai, literasi digital yang cukup, serta keseragaman konteks budaya dan bahasa. Asumsi ini sesuai dengan realitas perkotaan, tetapi tidak mencerminkan kondisi daerah terpencil seperti Papua, Kalimantan, dan Nusa Tenggara. Akibatnya, terjadi ketidaksesuaian antara makna teknologi yang dibangun oleh pengembang dan pemerintah (sebagai alat modernisasi dan efisiensi pendidikan) dengan makna yang dipahami oleh guru dan siswa di daerah terpencil, yang melihat aplikasi tersebut sebagai sesuatu yang sulit, asing, dan tidak relevan dengan kebutuhan pembelajaran mereka. Ketidaksamaan makna inilah yang membuat teknologi tidak efektif.

2. Faktor sosial dan budaya sangat menentukan penerimaan edtech. Perbedaan bahasa daerah, nilai-nilai komunitas, serta pola belajar yang masih mengandalkan interaksi langsung membuat aplikasi berbasis teks dan visual standar kurang dapat diterima. Selain itu, posisi guru sebagai aktor sentral dalam pembelajaran sering kali terabaikan, karena aplikasi dirancang untuk pembelajaran mandiri tanpa mempertimbangkan metode mengajar lokal. Dalam konteks ini, teknologi dipersepsikan sebagai produk luar yang “dipaksakan” dan tidak menghargai kearifan lokal. Hal ini memperkuat resistensi sosial dan membuat proses adopsi berjalan lambat, meskipun teknologi tersebut tersedia.

3. Untuk meningkatkan efektivitas edtech, desain teknologi harus bersifat partisipatif dan kontekstual. Pengembang perlu melibatkan guru, tokoh pendidikan lokal, dan komunitas sejak tahap perancangan aplikasi. Konten pembelajaran sebaiknya fleksibel, mendukung penggunaan bahasa lokal, serta menyesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya setempat. Dari sisi implementasi, aplikasi harus mendukung mode offline, penggunaan media audio-visual sederhana, serta berfungsi sebagai alat bantu guru, bukan pengganti peran mereka. Pendampingan dan pelatihan bagi guru juga menjadi kunci agar teknologi dapat diintegrasikan dengan metode pembelajaran yang sudah ada. Dengan menerapkan prinsip SCP, edtech tidak lagi dipandang sekadar alat digital, tetapi sebagai hasil konstruksi sosial yang menghargai keberagaman budaya dan kebutuhan lokal, sehingga lebih efektif dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by WANTY NURKHOLIFAH 2213031051 -
Wanty Nurkholifah
2213031051

Dalam perspektif Social Construction of Technology (SCP), ketidakefektifan aplikasi pembelajaran daring di daerah terpencil terjadi karena teknologi tersebut dikonstruksi dengan asumsi konteks perkotaan. Aplikasi dirancang berdasarkan kebutuhan, bahasa, dan budaya pengguna di wilayah dengan akses internet stabil dan literasi digital tinggi. Ketika teknologi yang sama diterapkan di daerah pedalaman Papua, Kalimantan, dan Nusa Tenggara, makna teknologi menjadi berbeda. Bagi pengembang dan pemerintah, aplikasi dianggap sebagai solusi pemerataan pendidikan, namun bagi guru dan siswa di daerah terpencil, aplikasi tersebut dipahami sebagai sesuatu yang sulit digunakan, tidak relevan, dan tidak mendukung cara belajar mereka sehari-hari.

Faktor sosial, budaya, dan lokalitas sangat memengaruhi penerimaan teknologi pendidikan. Bahasa pengantar yang tidak sesuai dengan bahasa ibu siswa, contoh materi yang jauh dari kehidupan sehari-hari, serta metode belajar yang tidak selaras dengan budaya lokal membuat teknologi kehilangan makna sosialnya. Guru juga memiliki peran penting dalam konstruksi makna teknologi. Ketika guru tidak dilibatkan dalam perancangan aplikasi dan tidak mendapatkan pendampingan yang memadai, teknologi dipersepsikan sebagai beban tambahan, bukan alat bantu pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi pendidikan tidak netral, melainkan dibentuk oleh nilai, kebiasaan, dan relasi sosial di lingkungan tempat teknologi digunakan.

Agar aplikasi edtech lebih efektif, pengembangan dan penerapannya harus mempertimbangkan prinsip SCP dan lokalitas. Aplikasi sebaiknya dirancang fleksibel, dapat digunakan secara luring atau dengan koneksi terbatas, serta memungkinkan penggunaan bahasa lokal dan konten kontekstual. Guru perlu dilibatkan sejak awal sebagai co-designer, sehingga aplikasi dapat disesuaikan dengan metode mengajar yang sudah ada. Pendekatan pendampingan juga lebih penting daripada sekadar distribusi aplikasi. Dengan cara ini, teknologi pendidikan tidak lagi dipaksakan dari atas, tetapi dikonstruksi bersama oleh pemerintah, pengembang, guru, dan komunitas lokal, sehingga lebih mudah diterima dan digunakan secara berkelanjutan.