Posts made by Annisa Rizki Waya

Nama : Annisa Rizki Waya
NPM : 2218011013

Analisis Jurnal
Judul : Penanaman Nilai-nilai Pancasila Melalui Kontrol Sosial Oleh Media Massa Untuk Menekan Kejahatan Di Indonesia, Nurani Hukum, Vol. 3 No. 1
Penulis : Ariesta Wibisono Anditya
Tahun terbit : Juni 2020
ISSN : 2655-7169
Amandemen atau perubahan peraturan atas dampak perubahan teknologi, ilmu pengetahuan, ekonomi, dan lain sebagainya dan yang sudah tidak sesuai perkembangan juga merupakan contoh terjadinya perubahan sosial sehingga perlu ditinjau, apakah perubahan tersebut dapat menggeser nilai-nilai Pancasila.
Pancasila dalam pengertian sebagai pandangan hidup asal-usulnya dari falsafah hidup. Pancasila dalam pengertian ini, isinya berupa nilai-nilai yang menjadi tolok ukur untuk memutuskan apakah sesuatu itu benar atau salah, baik atau buruk. Nilai-nilai Pancasila tersebut merupakan norma dan pedoman yang harus diterapkan. Norma Pancasila dapat ditemukan melalui Hakekat isi Pancasila
1. Hakekat Tuhan
2. Hakekat manusia
3. Hakekat satu, kata “satu” menunjukkan sesuatu yang tidak dapat dibagi-bagi lagi.
4. Hakekat rakyat, berarti segenap penduduk suatu negara.
5. Hakekat adil, yakni tidak berat sebelah, tidak sewenang-wenang, seimbang, atau perlakuan yang sama.
Pengamalan nilai-nilai Pancasila sudah sejak dahulu tertanam di dalam masyarakat Indonesia yang berpadu dengan adat-istiadat, kebudayaan, dan agama. Dengan memahami serta menerapkan dasar nilai-nilai tersebut, maka segala kegiatan kenegaraan, kemasyarakatan, maupun perorangan di Indonesia dapat dikatakan beretika Pancasila.
Tinjauan Umum Mengenai Media Massa
1. Perkembangan Media Massa di Indonesia
Secara historis, pers telah mengalami perjalanan periodik waktu cukup panjang. Media massa merupakan media atau alat yang dipergunakan oleh lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik sebagai alat komunikasi untuk menyebarkan berita dan pesan kepada masyarakat luas sehingga pesan informasi yang sama itu dapat diterima secara serentak dan sesaat. Media massa merupakan bagian dari pers, di mana media massa menjadi perantara bagi pers dalam menyiarkan berita dengan beberapa bentuk dan berfungsi untuk menyalurkan pikiran dan aspirasi masyarakat. Jurnalistik merupakan kegiatan pencatatan dan pelaporan kepada masyarakat tentang apa yang terjadi sehari-hari. Jurnalistik telah menjadi media edukasi kepada pelajar dan masyarakat umum. Pemanfaatan media massa artinya penggunaan berbagai bentuk media massa, di antaranya adalah media cetak, media penyiaran, dan media elektronik.

2. Peran Media Massa dalam Kontrol Sosial
Pers atau media massa berfungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial. Media masa dapat mempengaruhi pandangan-pandangan masyarakat tentang pengetahuan, keyakinan dan perilaku masyarakat dalam memahami hukum dan penyimpangan dalam hukum. Peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan hukum yang biasanya dimuat di media massa terbatas antara lain :
a. Melibatkan tokoh atau orang terkenal
b. Berkaitan dengan skandal hukum
c. Pertama kali terjadi
d. Memiliki problem hukum
e. Proses pembuatan undang-undang
f. Melihat penerapan undang-undang baru
g. Perselisihan antara lembaga hukum
h. Pemilihan petinggi hukum
i. Kisah-kisah pencari keadilan
j. Berkaitan dengan lembaga hukum atau aparat hukum
Berdasarkan jurnal ini, maka dapat diambil kesimpulan bahwa pembahasan mengenai media massa selalu berkaitan dengan sistem politik, ekonomi, sosial dan budaya yang berkembang. Dalam sistem sosial, media massa memiliki efek yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat, sebagai sumber kekuatan perubahan yang dapat mempengaruhi kehidupan sosial politik. Sebaliknya, media massa memiliki ketergantungan terhadap kehidupan politik. Untuk memperkuat posisi media massa dalam kontrol sosial dapat dilakukan dengan merekonstruksi kembali sebuah pelanggaran hukum dan para penegak hukumnya dengan memperhatikan kepentingan korban, pelaku, keluarga korban, penegak hukum dan masyarakat. Media massa mempunyai peran yang strategis dalam kontrol sosial di mana media massa dapat melakukan kontrol atau pengawasan terhadap hukum.
Nama : Annisa Rizki Waya
NPM : 2218011013

IDENTITAS JURNAL
1. Judul Jurnal : Filsafat Pancasila Dalam Pendidikan Di Indonesia Menuju Bangsa Berkarakter
1. Nama Penulis : Yoga Putra Semadi
2. Volume : 2
3. Nomor : 2
4. Halaman : 8
5. Tahun Terbit : 2019
6. ISSN : : E-ISSN 2620-7982

ANALISIS JURNAL
Berdasarkan jurnal tersebut Pancasila merupakan sebuah falsafat dan sebuah ideologi bagi bangsa Indonesia. Sebagai falsafah, Pancasila dijadikan sebagai dasar pandangan hidup yang mana merupakan asas dan pedoman yang melandasi semua aspek hidup dan kehidupan bangsa Indonesia tanpa terkecuali dalam bidang pendidikan. Pancasila memuat lima dasar yang isinya merupakan jati diri bangsa Indonesia di mana sila-sila tersebut menggambarkan tentang pedoman hidup berbangsa dan bernegara bagi manusia Indonesia seluruhnya dan seutuhnya. Pancasila juga merupakan sebuah filsafat dikarenakan Pancasila menjadi pedoman atau acuan intelektual kognitif bagi cara sebuah bangsa berpikir. Pancasila sebagai suatu sistem filsafat, memiliki dasar ontologis, dasar epistemologis dan dasar aksiologis tersendiri yang membedakannya dengan sistem filsafat lain. Secara ontologis, kajian Pancasila sebagai filsafat ditujukan untuk mengetahui hakikat dasar dari sila-sila Pancasila. Sedangkan secara epistemologis, kajian filsafat Pancasila, dimaksudkan untuk mencari hakikat Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan. Selanjutnya, Pancasila sebagai suatu sistem filsafat juga memiliki satu kesatuan dasar aksiologinya, yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan suatu kesatuan. Pancasila merupakan filsafat negara yang lahir sebagai cita-cita bersama dari seluruh bangsa Indonesia dan sudah disepakati dari awal untuk menganut Pancasila sebagai sumber inspirasi, nilai dan moral bangsa. Oleh karena itu, perlunya untuk mengerti, menghayati, membudayakan dan melaksanakan Pancasila yang dapat dikembangkan di lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah.
Pendidikan merupakan kegiatan yang dalam suatu keteraturan kalender akademik melibatkan guru, murid, kurikulum, evaluasi, administrasi yang secara simultan memproses peserta didik menjadi lebih lebih bertambah pengetahuan, skill, dan nilai kepribadiannya. Pendidikan nasional dipandang sebagai pranata sosial yang selalu berinteraksi dengan kelembagaan sosial lainnya dalam masyarakat. Terdapat dua pandangan yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan landasan filosofis dalam pendidikan Indonesia.
Pertama, pandangan tentang manusia Indonesia. Filosofis pendidikan nasional memandang bahwa manusia Indonesia sebagai:
a. Makhluk Tuhan Yang Maha Esa dengan segala fitrahnya;
b. Makhluk individu dengan segala hak dan kewajibannya;
c. Makhluk sosial dengan segala tanggung jawab hidup dalam masyarakat yang pluralistik.
Kedua, pandangan mengenai pendidikan nasional itu sendiri.
Selain sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan, sosial budaya. Pendidikan juga dapat menjadi sarana untuk mewariskan ideologi bangsa kepada generasi selanjutnya. Pendidikan suatu bangsa akan secara langsung mengikuti ideologi suatu bangsa yang dianutnya. Sistem pendidikan nasional pada dasarnya harus dijiwai dalam kehidupan sehari-hari, didasari, dan mencerminkan identitas Pancasila. Sistem pendidikan nasional dan filsafat pendidikan Pancasila sudah selaknya dapat terbina secara optimal supaya terjamin tegaknya martabat dan kepribadian bangsa. Filsafat pendidikan Pancasila merupakan aspek rohaniah atau spiritual sistem pendidikan nasional sehingga tidak ada sistem pendidikan nasional tanpa filsafat pendidikan.
Pendidikan karakter merupakan pendidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda. Pendidikan karakter ini memiliki makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Pendidikan karakter di Indonesia merupakan hasil dari penerapan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila yang sesuai dengan kultur kita bangsa Indonesia yang memiliki adat ketimuran. Sudah seharusnya pendidikan karakter diambil dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sehingga diharapkan dapat terciptanya manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, cerdas, berperilaku baik, mampu hidup secara individu dan sosial serta dapat memenuhi hak dan kewajiban sebagai warga negara yang baik
Hal-hal tersebut sudah mencakup filsafat pendidikan Pancasila yang mempunyai ciri yaitu integral, etis dan religius. Seorang pendidik haruslah sadar akan pentingnya pendidikan karakter. Salah satu cara untuk menerapkan pendidikan karakter adalah dengan melaksanakan nilai-nilai Pancasila. Berikut ini adalah beberapa hal yang harus dilakukan oleh pendidik dalam melaksanakan nilai-nilai Pancasila.
a. Pendidik harus dapat memahami nilai-nilai Pancasila;
b. Pendidik harus menjadikan Pancasila sebagai aturan hukum dalam kehidupannya;
c. Pendidik dapat memberikan contoh pelaksanaan nilai-nilai pendidikan kepada peserta didik dengan baik.
Nama : Annisa Rizki Waya
NPM : 2218011013
Analisis Soal 1

A. Bagaimanakah menurut pendapatmu mengenai proses pendidikan di tengah pandemi covid-19, Jelaskan!
Jawab :
Menurut saya, walaupun proses pendidikan di tengah pandemi covid-19 ini tetap berjalan, tetapi dalam prosesnya sangat lah tidak mudah apabila dibandingkan pembelajaran yang dilakukan di lembaga pendidikan secara tatap muka di mana tidak semua siswa memiliki fasilitas untuk menunjang pembelajaran online di rumah seperti laptop dan ponsel ditambah adanya sebagian siswa yang tinggal di wilayah dengan keterbatasan akses internet tentunya tidak sedikit siswa dan orang tua yang mengeluhkan akan hal tersebut belum lagi ada orang tua siswa yang harus kehilangan pekerjaannya akibat masa pandemi ini sehingga siswa dapat terancam putus sekolah akibat kesulitan menyediakan kesempatan pendidikan yang optimal bagi anak-anak mereka. Selain itu, untuk siswa di jenjang sekolah dasar dan taman kanak-kanak yang mana harus didampingi oleh orang tua dalam pembelajarannya sedangkan sebagian besar orang tua siswa diharuskan untuk tetap bekerja sehingga hal ini sangat menyulitkan. Kemudian, pembelajaran daring di rumah dinilai tidak efektif hal tersebut dikarenakan kurangnya pengawasan dan pembimbingan secara langsung sehingga tidak sedikit siswa kurang fokus untuk memperhatikan pembelajaran yang berlangsung oleh karenanya tenaga pendidikan dituntut untuk kreatif dalam memberikan pembelajaran. Serta diharapkan orang tua untuk bekerja sama dalam mengawasi para siswa. Selain itu, siswa cenderung kurang berinteraksi dengan lingkungan sekitar sehingga siswa akan kesulitan dan membangun relasi. Akan tetapi, terdapat hal positif akan proses pendidikan di tengah pandemi covid-19 di mana hubungan orang tua dan anak dapat lebih terjalin dan ada banyak sekali inovasi-inovasi pembelajaran jarak jauh seperti penggunaan zoom, classroom dan lain sebagainya.

B. Bagaimanakah mengefektifkan dan memaksimalkan proses pendidikan di tengah pandemi covid-19 supaya tetap berkorelasi dengan implementasi nilai Pancasila?
Jawab :
Dalam mengefektifkan dan memaksimalkan proses pendidikan di tengah pandemi covid-19 supaya tetap berkorelasi dengan implementasi nilai Pancasila dapat dilakukan dengan tetap mengamalkan nilai-nilai Pancasila selama proses pembelajaran walaupun dilakukan dengan jarak jauh. Inti dari Pancasila adalah gotong royong. Semua sila Pancasila pun dijalankan atas asas gotong royong. Sikap gotong royong ini sangat diperlukan pada pandemi ini dalam rangka menghadapi berbagai persoalan yang menghambat proses pendidikan, dengan bergotong royong kita akan mampu melalui situasi ini dengan baik sehingga perlu adanya kerja sama baik antara tenaga pendidikan dan siswa di mana tenaga pendidikan tetap memberikan pembelajaran serta siswa menghargai dan memperhatikan pembelajaran materi dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru secara disiplin dan jujur sehingga pembelajaran dapat diusahakan lebih efektif dan maksimal serta tetap mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila walaupun pembelajaran jarak jauh. Selain itu, dibutuhkan pula kerja sama dengan orang tua untuk mengawasi putra putrinya di rumah untuk tetap mengimplementasikan nilai Pancasila

C. Berikan contoh kasus yang terkait dengan pengembangan karakter Pancasilais, seperti jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, dan cinta damai di lingkungan Anda dan bagaimanakah menurut pendapatmu mengenai contoh kasus tersebut!
Jawab :
Contoh-contoh kasus yang terkait dengan pengembangan karakter Pancasilais, seperti jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, dan cinta damai di lingkungan, yaitu jujur dalam mengerjakan tugas dan ujian serta bertanggung jawab atas tugas dan amanah yang diberikan tersebut; disiplin dengan datang tepat waktu ke kampus; bersikap sopan santun kepada siapa pun termasuk kepada civitas academica dan sesama mahasiswa; peduli terhadap sesama terutama bagi mereka yang mendapatkan kesulitan akibat dari pandemi covid-19; bergotong royong atau bekerja sama dalam sebuah kegiatan kampus; menciptakan perdamaian dengan saling menghargai antar sesama, tanpa membeda-bedakan satu sama lain. Menurut saya, dengan menerapkan tindakan-tindakan tersebut sama saja dengan kita mengembangkan karakter nilai-nilai Pancasila di lingkungan kita yang sudah seharusnya menjadi nilai luhur bagi bangsa Indonesia sejak dahulu.

D. Jelaskan yang dimaksud dengan hakikat Pancasila dalam pengaktualisasian nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai paradigma berpikir, bersikap dan berperilaku masyarakat?
Jawab :
Arti dari hakikat Pancasila dalam pengaktualisasian nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai paradigma berpikir, bersikap dan berperilaku masyarakat adalah menjadikan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila dijadikan sebagai acuan atau pedoman hidup bagi masyarakat Indonesia dalam melakukan kegiatannya sehari-hari, baik dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku di masyarakat. Nilai-nilai Pancasila tersebut meliputi ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Intinya, sebagai masyarakat kita harus mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila tersebut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga dapat terciptanya warga negara yang memiliki kepribadian baik dan memahami hak dan kewajibannya serta mempunyai rasa nasionalisme dan cinta terhadap tanah air Indonesia sehingga dapat tercapai cita-cita dan tujuan nasional yang sudah tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Sedangkan, perilaku yang melanggar nilai Pancasila berarti tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa tentulah dipandang negatif.
Nama : Annisa Rizki Waya
NPM : 2218011013
Tugas Resume

A. Materi 1 : Spirit Moderasi Beragama
Pemateri 1: Dr. Mohammad Bahrudin, M.A (Ketua FKUB Lampung)
Moderat dan Peduli
Hasil konferensi WCRP, Kyoto 1970
"No peace among the nations without peace among the religion." Tidak ada perdamaian antar bangsa tanpa perdamaian antar agama
"No peace among the religions without dialogue among the religions."
"No dialogue among the religions without a consensus oncshared ethical values, a global ethic."
"No new world order without a global ethic."
Ditengah pluralitas tidak ada alternatif lain kecuali kita harus rukun dengan semua warga bangsa, apapun etnis, suku, agamanya dan lain sebagainya.

Moderasi beragama merupakan soul/ruh kerukunan amat beragama dan kerukunan umat beragama merupakan pilar kerukunan nasional. Yang terpenting adalah karakter atau mental sehinga tidak mudah tergoyah untuk menciptakan kerukunan dengan siapapun. Untuk rukun tidak harus mempelajari agama lain, tetapi tetap kita menjalani ajaran agam masing" dengan tetap menghargai dan menghormati agama lain.

Pengertian Moderasi Beragama
Moderasi beragama dipahami sebagai pilihan untuk memiliki cara pandang, sikap, dan perilaku di tengah-tengah, adil dan seimbang termasuk seimbang antara pengamalan agama sendiri (eksklusif) dan penghormatan kepada praktik beragama orang lain yang berbeda keyakinan (inklusif).

Pilar Moderasi Beragama
Moderasi sering dijabarkan melalui tiga pilar, yakni moderasi pemikiran, moderasi gerakan, dan moderasi, perbuatan.

Moderasi Beragama Dalam Berbagai Bidang
1) Moderasi dalam berkeyakinan
2) Terbukanya pintu Rukshah (Keringanan). Artinya agama tidak menyulitkan pemeluknya.
3) Rutin menjalankan ajaran agama walaupun sedikit
4) Moderat dalam berperilaku. Tidak dibuat-buat (berlebihan )atau yang sedang-sedang saja dan selalu positif thinking
5) Moderat dalam membelanjakan harta.
Islam mengajarkan kita untuk sederhana dan sesuai dengan kemampuannya.

Hambatan dan Solusi pada Global Ethic
Esklusifisme
-Bind obdience
-Intolerance
-Racism
Inklusifisme

Indikator Moderate
Acknowledge : Menghormati kehadiran agama lain;
​Celebrate : Menikmati keberagaman yang disumbangkan setiap agama;
​Value : Menjunjung tinggi nilai-nilai luhur universal agama-agama;
​Learn : Belajar dari pengalaman dan sejarah masa lalu;
​Respect : Mengapresiasi kontribusi setiap kelompok agama.

Materi 2 : Penguatan Karakter Melalui Pendidikan Spiritual
Pemateri 2 : Prof. Dr. H. A. Gani., S.Ag., S.H., M.Ag.

Kondisi Generasi Muda Saat Ini?
Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), ada 17 kasus kekerasan yang melibatkan peserta didik dan guru tahun 2021 yang tersebar di 11
Provinsi dan 20 Kabupaten/Kota. Hal ini didukung pula dari Data yang dirilis Pores Kota Bogor teriadi peningkatan jumlah tawuran pelajar meski sedang pandemi Covid-19

Perilaku seksual yang tidak sehat dikalangan remaja bisa dikatakan cenderung meningkat. Hal ini juga dibuktikan berdasarkan penelitian dari Australia National University (ANU) dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI) di Jakarta.
Tangerang, dan Bekasi dengan jumlah sampel 3006 responden usia 17-24, menunjukkan. 20,9 % remaja mengalami kehamilan dan kelahiran sebelum menikah.
Dan 38,7 % remaja mengalacai kehamilan sebelum menikah dan kelahiran
setelah menikah. (BKKBN, 2012)

Narkoba dikalangan generasi muda, terdapat kasus kekerasan, kasus perilaku seksual yang menyimpang dimana adanya kehamilan dan kelahiran diluar pernikahan. Selain itu, ditemukannya pula kasus AIDS yang mengancam keselamatan generasi muda. Padahal generasi muda adalah harapan dan penerus bangsa. Solusi yang dapat dilakukan salah satunya adalah dengan menerapkan pendidikan spiritual (tarbiyah ruhiyyah) termasuk "nutrisi bergizi tinggi" yang sangat dibutuhkan oleh manusia agar tidak menjauh dari hidayah Allah SWT. Pengamatan menunjukkan bahwa mereka yang sukses adalah mereka yang dapat memanage waktu. Waktu adalah uang dan waktu tidak dapat diulang waktu.

4 Perkara yang akan ditanyakan di HARI AKHIR
1) Umur
2) Ilmu
3) Harta
4) Tubuh
Mahasiswa Sukses adalah mereka yang bisa mengelola waktu dengan baik.
Mahasiswa sukses adalah orang yang bisa mengajak orang lain sukses. Dan orang yang paling cerdas adalah mereka yang selalu mengingat kematian dan mempersiapkannya. Orang yang paling Bahagia adalah mereka yang bisa membuat orang lain bahagia.

Materi 3 : Membangun Karakter Kebangsaan
Pemateri 3 : Dr. Sairul Basri., SA.g., S.H., M.Pd.

Negarawan : Seseorang yang ahli menjalankan pemerintahan atau negara yang mampu membawa negara yang berwibawa yang taat menyusun arah negara kedepan untuk kemajuan bangsa.
Tujuan : Segala upaya untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan negara dari berbagai ancaman.

Ancaman Negara
Radikalisme dan terorisme, pornografi, narkoba, politik, teknologi, ekonomi dll.
Mengapa perlu sikap kebangsaan
Karena negara layaknya seperti makhluk hidup, maka perlu dilindungi dari HTAG dan yang bertanggu jawab akan hal itu adalah seluruh warga negara.

Doktrin Nilai Nasionalime yang Berpancasila
1) Mencintai tanah air;
2) Sadar berbangsa dan bernegara ;
3) Rela berkorban untuk kepentingan bangsa;
4) Yakin pancasila sebagai ideologi negara.

Alat pemersatu sebagai ideologi berbangsa
- Pancasila, UUD 1945
-Bhineka Tunggal Ika

Ideologi Terancam Apabila Warga Negara:
1). Bertindak sendiri tanpa dengan kearifan lokal (karena pancasila diambil dari KL).
2. Tidak ditanamkan sejak dini kepada seluruh WN
3. Pancasila hanya sebagai slogan saja, teori dan tidak menjadi pandangan hidup berbangsa.
4. Berpikir dan berupaya untuk menggabti ideologi bangsa (Ini resiko yang tertinggi)
5. Melemahkan kebhinekaan.

LaksanakanLAKSANAKAN
1. Hati-hati jangan sampai mudah percaya kepada hal-hal baru.
2. Laporkan dengan aparat hal-hal yang mencurigakan
3. Jangan mudah meniru budaya baru atau asing
4. Dekatkan diri kepada Allah
5. Buatlah diri anda hanya prestasi bukan prustasi
6. Hormati orang tua dan guru (kalau ini hilang berarti budaya sudah berubah ke dunia barat)
7. Berusahalah untuk menjadi orang baik dan benar karena orang-orang sukseslah yang akan menyelamatkan bangsa dan agama.