གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Tesalonika Julia Asher Simanjuntak

Nama: Tesalonika Julia Asher Simanjuntak
NPM: 2218011167
ANALISIS SOAL

A. Bagaimanakah sistem etika perilaku politik saat ini? Sudah sesuaikah dengan nilai-nilai Pancasila? Jelaskan!
= Secara tertulis atau dalam aturan, etika perilaku politik di Indonesia saat ini sudah baik. Namun di sisi lain, etika perilaku politik saat ini belum sesuai dengan nilai pancasila. Hal ini dapat dilihat dari lunturnya etika politik pada para pelaku politik di Indonesia yang menyebabkan hilangnya tatanan yang bermoral dan rasional. Para pelaku politik kerap ditemukan melakukan tindakan yang menyebabkan hilangnya kepercayaan masyarakat kepada mereka. Para pelaku politik berpolitik dengan mengedepankan emosi dan kepentingan kelompok serta tidak mengutamakan kepentingan berbangsa. Akibatnya, Pancasila hanya dijadikan slogan oleh mereka dan persoalan yang timbul dalam masyarakat tidak kunjung selesai dan terus bertumpuk. Meskipun begitu, pemerintah dan masyarakat terus berupaya agar negara ini bisa memiliki etika yang sesuai dengan nilai- nilai pancasila.

B. Etika selalu terkait dengan masalah nilai sehingga perbincangan tentang etika, pada umumnya membicarakan tentang masalah nilai (baik atau buruk). Bagaimanakah etika generasi muda yang ada di sekitar tempat tinggal mu? Apakah mencerminkan etika dan nilai yang dianut oleh bangsa Indonesia? Berikan solusi mengenai adanya dekadensi moral yang saat ini terjadi!
Etika generasi muda yang ada di sekitar tempat tinggal saya belum sepenuhnya menerapkan nilai-nilai pancasila. Meningkatnya sikap individualisme serta menurunnya rasa gotong royong dan kebersamaan dalam masyarakat menjadi salah satu tanda lunturnya etika yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Saat ini, banyak orang yang melakukan perbuatan menyimpang, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Globalisasi yang terjadi saat ini mendorong masyarakat untuk melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Hal ini menyebabkan memudarnya sopan santun dalam masyarakat dan meningkatnya kenakalan remaja. Padahal, para generasi muda lah yang akan membawa masa emas Indonesia di masa mendatang. Oleh sebab itu, perlu dilakukan edukasi yang lebih mendalam pada para masyarakat, khususnya generasi muda. Nilai-nilai Pancasila dapat ditanamkan di lingkungan sekolah, keluarga, dan lingkungan. Selain itu, nilai-nilai agama juga perlu ditekankan pada para generasi muda demi menghindari perbuatan yang menyimpang di masa mendatang.

Nama: Tesalonika Julia Asher Simanjuntak

NPM: 2218011167


ANALISIS JURNAL

Pancasila merupakan dasar pandangan hidup rakyat Indonesia yang di dalamnya memuat lima dasar yang isinya merupakan jati diri bangsa Indonesia. Sila-sila dalam Pancasila menggambarkan tentang pedoman hidup berbangsa dan bernegara bagi masyarakat Indonesia seluruhnya dan seutuhnya. Filsafat yang dikembangkan harus berdasarkan filsafat yang dianut oleh suatu bangsa, sedangkan pendidikan merupakan suatu cara atau mekanisme dalam menanamkan dan mewariskan nilai-nilai filsafat tersebut. Hubungan antara filsafat dan pancasila yaitu pandangan hidup yang ditinjau dari filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan adalah pemikiran yang mendalam tentang suatu pendidikan. Apabila kita hubungkan fungsi Pancasila dengan sistem pendidikan ditinjau dari filsafat pendidikan, maka Pancasila merupakan pandangan hidup bangsa yang menjiwai dalam kehidupan sehari-hari sehingga sistem pendidikan nasional Indonesia wajar apabila dijiwai, didasari dan mencerminkan identitas Pancasila.

Prinsip-Prinsip Filsafat Pancasila, meliputi:
1.Kausa Materialis, maksudnya sebab yang berhubungan dengan materi/bahan.
2. Kausa Formalis, maksudnya sebab yang berhubungan dengan bentuknya.
3. Kausa Efisiensi, maksudnya kegiatan BPUPKI dan PPKI dalam menyusun dan merumuskan
Pancasila. Dan menjadikan Pancasila sebagai dasar negara
4. Kausa Finalis, maksudnya berhubungan dengan tujuannya, tujuan diusulkannya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia merdeka

Nilai-nilai Pancasila yang bersumber dari hakikat Tuhan, manusia, satu rakyat dan adil dijabarkan menjadi konsep Etika Pancasila, bahwa hakikat manusia Indonesia adalah untuk memiliki sifat dan keadaan yang berperiKetuhanan Yang Maha Esa, berperi-Kemanusiaan, berperi-Kebangsaan, berperi-Kerakyatan, dan berperi-Keadilan Sosial. Sedangkan, filsafat Pancasila dalam Pendidikan di Indonesia adalah filsafat Pendidikan di Indonesia berakar pada nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila. 

Filosofis pendidikan nasional memandang bahwa manusia Indonesia sebagai:
a. makhluk Tuhan Yang Maha Esa dengan segala fitrahnya
b. makhluk individu dengan segala hak dan kewajibannya
c. makhluk sosial dengan segala tanggung jawab hidup dalam masyarakat yang pluralistik

Teori mengenai perkembangan manusia dan hasil pendidikan, yaitu:
1. Empirisme, yaitu bahwa hasil pendidikan dan perkembangan itu bergantung pada pengalaman yang diperoleh anak didik selama hidupnya.
2. Nativisme, yaitu teori yang dianut oleh Schopenhauer yang berpendapat bahwa bayi lahir dengan pembawan baik dan pembawan yang buruk.
3. Naturalisme, yaitu dipelopori oleh J.J Rousseau, ia berpendapat bahwa semua anak yang baru lahir mempunyai pembawaan yang baik, tidak seorang anak pun lahir dengan pembawaan buruk.
4. Konvergensi, yaitu dipelopori oleh William Stern, yang berpendapat bahwa anak dilahirkan dengan pembawaan baik dan buruk.

Nama: Tesalonika Julia Asher Simanjuntak

NPM: 2218011167


ANALISIS SOAL 1 PERTEMUAN 10

A.   Bagaimanakah menurut pendapatmu mengenai proses pendidikan di tengah pandemi covid-19, Jelaskan!

Menurut saya, proses pendidikan di tengah pandemi covid-19 kurang efektif dan cukup sulit dalam pelaksanaannya, terutama di masa awal pandemi covid-19. Banyak pelajar yang tidak bisa mengikuti pembelajaran jarak jauh dengan maksimal karena ketidaksanggupan orang tua mereka dalam menyediakan fasilitas pendukung pembelajaran untuk anak mereka. Hal ini mengakibatkan angka putus sekolah meningkat, terutama di daerah-daerah pedesaan, sehingga dapat berpotensi dalam menurunkan kualitas sumber daya manusia yang merupakan kunci terwujudnya Indonesia Emas 2045, yang adil dan sejahtera, aman dan damai, serta maju dan mendunia.  Selain itu, kurangnya kemampuan dan pemahaman sebagian guru tentang pembelajaran jarak jauh dan bagaimana membuat pembelajaran yang menyenangkan serta tetap menarik bagi peserta didik, juga menjadi kendala sehingga pembelajaran jarak jauh yang dilakukan kurang efektif. Akibatnya, proses pendidikan di tengah pandemi covid-19 menjadi kurang efektif.


B.   Bagaimanakah mengefektifkan dan memaksimalkan proses pendidikan di tengah pandemi covid-19 supaya tetap berkorelasi dengan implementasi nilai Pancasila?

Menurut saya, cara mengefektifkan dan memaksimalkan proses pendidikan di tengah pandemi covid-19 supaya tetap berkorelasi dengan implementasi nilai Pancasila adalah menekankan pendidikan karakter kepada pelajar. Pendidikan karakter merupakan hal utama dan harus terus menerus dikuatkan kepada peserta didik agar pondasi-pondasi yang sudah dibangun pada masa sebelum pandemi semakin kokoh. Selain itu, sekolah juga harus tetap mengajarkan pelajaran pendidikan Pancasila dan menekankan nilai-nilai Pancasila, terutama yang berhubungan dengan kondisi pandemi covid-19, seperti menaati kebijakan pemerintah untuk menjaga jarak, larangan berpergian, PSBB, serta memberikan bantuan kepada orang-orang yang kesulitan selama pandemic covid-19 melalui donasi. Selain dari pihak sekolah, orang tua juga harus membimbing anak dan memberikan contoh yang baik agar anak tetap berpegang pada nilai-nilai Pancasila dan tidak melakukan perbuatan menyimpang.


C.   Berikan contoh kasus yang terkait dengan pengembangan karakter Pancasilais, seperti jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, dan cinta damai di lingkungan anda dan bagaimanakah menurut pendapatmu mengenai contoh kasus tersebut!

Contoh kasus terkait dengan pengembangan karakter Pancasilais, seperti jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, dan cinta damai di lingkungan universitas, yaitu: menerapkan sikap jujur dalam ujian dan absen mata kuliah, disiplin dalam mengerjakan tugas, tidak terlambat masuk kelas, bertanggung jawab atas tugas-tugas yang harus dikerjakan, peduli terhadap teman terutama teman yang sedang kesusahan, santun terhadap dosen, seluruh civitas akademik, staf, dan sesama mahasiswa, tidak merusak lingkungan sekitar, melakukan gotong royong dalam mengerjakan masalah-masalah yang ada, serta tidak melakukan aksi anarkis yang membuat kerusakan dan meresahkan warga sekitar.


D.   Jelaskan yang dimaksud dengan hakikat Pancasila dalam pengaktualisasian nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai paradigma berpikir, bersikap dan berperilaku masyarakat?

Hakikat Pancasila sebagai sistem filsafat terletak pada 5 hal. Pertama, hakikat sila ketuhanan terletak pada keyakinan bangsa Indonesia bahwa Tuhan sebagai prinsip utama dalam kehidupan semua makhluk. Setiap warga negara harus memiliki kesadaran yang otonom sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa yang akan dimintai pertanggungjawaban atas semua tindakan yang dilakukannya. Kedua, hakikat sila kemanusiaan adalah manusia monopluralis, yang terdiri atas 3 monodualis, yaitu susunan kodrat (jiwa, raga), sifat kodrat (makhluk individu, sosial), kedudukan kodrat (makhluk pribadi yang otonom dan makhluk Tuhan). Ketiga, hakikat sila persatuan terkait dengan semangat kebangsaan. Rasa kebangsaan terwujud dalam bentuk cinta tanah air. Keempat, hakikat sila kerakyatan terletak pada prinsip musyawarah. Artinya, keputusan yang diambil lebih didasarkan atas semangat musyawarah untuk mufakat. Kelima, hakikat sila keadilan terwujud dalam tiga aspek, yaitu keadilan distributif, legal, dan komutatif.

Nama: Tesalonika Julia Asher Simanjuntak

NPM: 2218011167


Materi Pertama: Spirit Moderasi Beragama
Pemateri: Dr. Mohammad Bahrudin, M. A. (Ketua FKUB Lampung)

Salah satu perilaku moderat adalah saling peduli meskipun ada perbedaan beragama. Salah satu poin hasil konferensi WCRP, Kyoto, 1970, menyatakan bahwa tidak akan ada kedamaian dan kerukunan di dunia jika tidak ada kedamaian antara umat beragama. Sudah ada banyak konflik nyata antara umat beragama, seperti perang salib dan konflik Poso yang merupakan perselisihan antara umat Islam dan Kristen yang menimbulkan banyak kekacauan dan kerugian. Kemajemukan, pluralitas, dan keberagaman adalah salah satu hukum alam yang diciptakan oleh Tuhan dan tidak bisa dihilangkan oleh manusia. Tuhan menciptakan semua hal di dunia berpasang-pasangan sehingga perbedaan tidak dapat dihilangkan oleh manusia. Oleh sebab itu, manusia harus hidup rukun dan damai di tengah perbedaan yang ada. Karakter moderat adalah sikap yang diperlukan untuk hidup rukun dan roh kerukunan umat beragama. Kerukunan umat beragama adalah pilar kerukunan nasional. 

Moderasi memiliki tiga pilar, yaitu moderasi pemikiran, gerakan, dan perbuatan. Moderasi beragama dalam berbagai bidang, yaitu:
1. Moderasi dalam berkeyakinan
2. Terbukanya pintu Rukhsah (keringanan)
3. Rutin menjalankan ajaran agama walaupun sedikit
4. Moderat dalam perilaku
5. Moderat dalam membelanjakan harta

Hambatan dan solusi pada global ethic adalah eksklusivisme (blind obedience, intolerance, racism) dan inklusifisme.
Indikator moderat adalah:
- acknowledge: menghormati kehadiran agama lain
- celebrate: merayakan dan tidak mempermasalahkan keberagaman yang disumbangkan setiap agama
- value: menjunjung tinggi nilai-nilai luhur universal agama
- learn: belajar dari pengalaman dan sejarah di masa lalu
- respect: mengapresiasi kontribusi setiap umat beragama
- tolerate: memberikan hak yang sama kepada agama lain.


Materi 2: Penguatan Karakter Melalui Pendidikan Spiritual
Pemateri: Prof. Dr. Ainul Gani, S. Ag., S. H., M. Ag.
Generasi muda saat ini mengambil bagian yang banyak dalam populasi masyarakat Indonesia. Menurut Data Pengendalian Gangguan Sosial DKI Jakarta dan Data KPAI, ada begitu banyak peserta didik, terutama SMP dan SMA yang terlibat dalam tawuran. Tidak hanya tawuran, narkoba dan perilaku seksual yang tidak sehat juga terjadi pada remaja Indonesia. Untuk mengatasi permasalahan pada remaja, perlu diterapkan pendidikan spiritual. Pendidikan spiritual dibutuhkan agar manusia tidak menyimpang ke arah nafsu yang jahat, melainkan semakin dekat dengan Tuhan. Selain pendidikan spiritual, manajemen waktu juga penting dalam kesuksesan manusia. Umur, ilmu, harta, dan tubuh adalah hal yang harus dijaga untuk meraih kesuksesan di dunia dan akhirat.

Materi 3: Membangun Karakter Kebangsaan
Pemateri: Dr. Sairul Basri, M.Pd.
Siklus ancaman yang dapat meruntuhkan bangsa Indonesia adalah ekonomi, teknologi, dan ancaman non militer, yaitu: narkoba, pornografi, radikalisme dan terorisme, ligeslasi, bencana alam, politik, ideologi. Sikap kebangsaan diperlukan karena negara seperti makhluk hidup yang terus berubah-ubah dan bahkan bisa mati. Oleh karena itu, perlu dilindungi dengan HTAG ( Hambatan, Tantangan, Ancaman, Gangguan). Maka, masyarakat Indonesia perlu mencintai tanah air, rela berkorban untuk kepentingan bangsa, sadar berbangsa dan bernegara, dan meyakini Pancasila sebagai ideologi negara. Alat pemersatu NKRI adalah Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Ideologi dapat terancam apabila warga negara melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan landasan negara bangsa Indonesia. Kenakalan remaja yang melakukan seks bebas, narkoba, merokok, dan tindakan lainnya dapat merusak masa depan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, seluruh bangsa Indonesia, terutama generasi muda, harus melakukan tindakan-tindakan yang sesuai dengan landasan negara dan agama, serta tidak melakukan tindakan yang menyimpang.