གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Felicia Key Josephine

Felicia Key Josephine
2218011033
Analisis Soal - Pertemuan 12

A. Bagaimanakah sistem etika perilaku politik saat ini? Sudah sesuaikah dengan nilai-nilai Pancasila? Jelaskan!
Etika politik saat ini belum sepenuhnya terlaksana dengan baik sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Hal ini disebabkan paradigma pemerintahan politik di masa lalu yang tetap bertahan dan menjadi masalah tidak hanya dalam pemerintahan, tetapi juga etika dalam berpolitik yang mengakibatkan banyak terjadi penyimpangan dari nilai-nilai Pancasila. Hal ini mengakibatkan banyak keputusan-keputusan atau kebijakan yang diambil tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Dalam etika politik berdasarkan etika Pancasila, maka harus terkandung nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Pancasila sebagai acuan normatif dalam etika politik di Indonesia akan menjadi acuan dalam segala aktivitas yang berhubungan dengan politik dan pemerintahan termasuk dalam penyelenggaraan negara.

B. Etika selalu terkait dengan masalah nilai sehingga perbincangan tentang etika, pada umumnya membicarakan tentang masalah nilai (baik atau buruk). Bagaimanakah etika generasi muda yang ada di sekitar tempat tinggalmu? Apakah mencerminkan etika dan nilai yang dianut oleh bangsa Indonesia? Berikan solusi mengenai adanya dekadensi moral yang saat ini terjadi !
Etika generasi muda di sekitar tempat tinggal saya sudah cukup baik dan mencerminkan etika dan nilai yang dianut oleh bangsa Indonesia, namun tidak sedikit juga di lingkungan yang lain masih ditemukan dekadensi moral. Dekadensi moral merupakan bentuk perubahan sosial dimana kondisi moral terus mengalami kemerosotan, contohnya adalah pergaulan bebas, korupsi, tawuran, narkoba, dan lain sebagainya. Solusi dalam mengatasi dekadensi moral adalah dengan menanamkan pendidikan karakter sejak dini kepada anak-anak. Pendidikan karakter akan menumbuhkan nilai-nilai moral dan etika dalam diri seseorang, seperti kejujuran, sopan santun, toleransi, religius, dan mandiri. Pendidikan karakter tidak hanya ditanamkan, tetapi juga harus dipraktikkan sejak dini. Dengan demikian, pendidikan karakter tersebut akan terus berkembang sehingga akan mencerminkan pribadi seseorang yang jujur dan bertanggung jawab. Selain itu, orang tua juga perlu untuk mengawasi pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya, mengawasi pergaulan dan penggunaan media sosial atau internet, serta mampu mengarahkan mereka agar tidak menyimpang dari nilai-nilai di masyarakat dengan cara melakukan kegiatan-kegiatan yang positif di tengah masyarakat. Orang tua juga harus dapat menjadi teladan karakter yang baik bagi anak-anaknya.
Felicia Key Josephine
2218011033
Analisis Soal - Pertemuan 10

A. Bagaimanakah menurut pendapatmu mengenai proses pendidikan di tengah pandemi covid-19, Jelaskan!
Proses pendidikan di tengah pandemi sangatlah tidak mudah. Para siswa dihadapkan pada perubahan sistem pembelajaran yang begitu cepat dan diharapkan mampu beradaptasi dengan cepat. Tidak hanya siswa, pandemi Covid-19 juga mengharuskan perubahan dalam sistem mengajar dan hal ini tentu sangat berpengaruh kepada guru-guru untuk mengikuti dan beradaptasi dengan sistem mengajar yang baru. Pandemi Covid-19 secara tidak langsung mempercepat sistem pendidikan di masa depan melalui bantuan teknologi. Namun, teknologi tetap tidak dapat menggantikan peran guru dan interaksi selama proses belajar-mengajar. Situasi pandemi ini menjadi tantangan tersendiri bagi kreativitas setiap individu dalam menggunakan teknologi untuk mengembangkan diri di dunia pendidikan. Kesenjangan pendidikan pada saat pandemi ini juga meningkat, dimana sebagian pelajar tidak dapat mengakses pendidikan secara baik disebabkan banyak faktor, antara lain faktor ekonomi dan ketersediaan fasilitas. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam mencapai cita-cita bangsa menuju Indonesia Emas tahun 2045. Hal ini mendorong perbaikan secara besar-besaran dalam sistem pendidikan Indonesia, dimana semua pihak baik pemerintah dalam hal ini kemendikbud sebagai pemegang kebijakan dan semua pihak dilapangan, guru-guru dan juga para pelajar diharapkan mampu bergerak sebagai satu kesatuan, mampu beradaptasi, kreatif. dan mampu menjadi pelajar yang disiplin dan mandiri.

B. Bagaimanakah mengefektifkan dan memaksimalkan proses pendidikan di tengah pandemi covid-19 supaya tetap berkorelasi dengan implementasi nilai Pancasila?
Beberapa cara untuk mengefektifkan dan memaksimalkan proses pendidikan di tengah pandemi Covid-19 agar tetap dapat berkorelasi dengan implementasi nilai Pancasila adalah:
- Pelajar harus mampu mendisiplinkan diri sendiri dalam proses belajar, tetap meningkatkan kreativitas dan menjadi pembelajar mandiri. Hal ini dapat menjadi bagian dari semangat cinta tanah air dan bangsa yang merupakan implementasi Pancasila.
- Sebagai pelajar di tengah pandemi Covid-19 yang begitu sulit, pelajar dapat belajar dengan sungguh-sungguh, memberikan waktu agar dapat mengharumkan nama bangsa di kancah internasional, misalnya dengan menjadi duta negara di ajang olimpiade sains internasional. Kemauan rela berkorban untuk mengharumkan nama bangsa dan negara merupakan implementasi Pancasila.

C. Berikan contoh kasus yang terkait dengan pengembangan karakter Pancasilais, seperti jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, dan cinta damai di lingkungan anda dan bagaimanakah menurut pendapatmu mengenai contoh kasus tersebut!
Contoh kasus terkait pengembangan karakter Pancasilais, misalnya pada waktu ujian kita bersikap jujur dengan tidak mencontek atau memberikan contekan kepada teman, bertanggung jawab terhadap setiap tugas yang diberikan oleh dosen dengan mengerjakannya sebaik mungkin dan tepat waktu, bersikap saling tolong menolong dan bergotong royong terhadap teman yang sedang mengalami musibah misalnya teman yang mengalami kecelakaan.

D. Jelaskan yang dimaksud dengan hakikat Pancasila dalam pengaktualisasian nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai paradigma berpikir, bersikap dan berperilaku masyarakat?
Nilai-nilai Pancasila harus diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat agar Pancasila tetap selalu relevan dalam fungsinya memberikan pedoman bagi pengambilan kebijaksanaan dan pemecahan masalah dalam kehidupan berbagsa dan bernegara.
Felicia Key Josephine
2218011033
Analisis Jurnal - Pertemuan 10

Filsafat Pancasila Dalam Pendidikan di Indonesia Menuju Bangsa Berkarakter

Pancasila merupakan dasar pandangan hidup rakyat Indonesia yang di dalamnya memuat lima dasar yang isinya merupakan jati diri bangsa Indonesia. Sila-sila dalam Pancasila menggambarkan tentang pedoman hidup berbangsa dan bernegara bagi manusia Indonesia seluruhnya dan seutuhnya. Suatu masyarakat atau bangsa menjadikan filsafat sebagai suatu pandangan hidup yang melandasi semua aspek kehidupan, tanpa terkecuali aspek pendidikan. Filsafat yang dikembangkan harus berdasarkan filsafat yang dianut oleh suatu bangsa, sedangkan pendidikan merupakan suatu cara atau mekanisme dalam menanamkan dan mewariskan nilai-nilai filsafat tersebut. Pendidikan sebagai suatu lembaga yang berfungsi menanamkan dan mewariskan sistem norma tingkah laku perbuatan yang didasarkan kepada dasar-dasar filsafat yang dijunjung oleh lembaga pendidikan dan pendidik dalam suatu masyarakat.

Pancasila sebagai suatu sistem filsafat, memiliki dasar ontologis, dasar epistemologis dan dasar aksiologis tersendiri yang membedakannya dengan sistem filsafat lain. Secara ontologis, kajian Pancasila sebagai filsafat dimaksudkan sebagai upaya untuk mengetahui hakikat dasar dari sila-sila Pancasila. Kajian epistemologis filsafat Pancasila, dimaksudkan sebagai upaya untuk mencari hakikat Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan. Sila-sila Pancasila sebagai suatu sistem filsafat juga memiliki satu kesatuan dasar aksiologinya, yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila pada hakikatnya juga merupakan suatu kesatuan.

Prinsip-Prinsip Filsafat Pancasila
a. Kausa Materialis, Pancasila digali dari nilai-nilai sosial budaya yang ada dalam bangsa Indonesia sendiri.
b. Kausa Formalis, Pancasila yang ada dalam pembukaan UUD ’45 memenuhi syarat formal (kebenaran formal).
c. Kausa Efisiensi, maksudnya kegiatan BPUPKI dan PPKI dalam menyusun dan merumuskan Pancasila menjadi dasar negara Indonesia merdeka.
d. Kausa Finalis, tujuan diusulkannya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia merdeka.
Inti atau esensi sila-sila Pancasila meliputi:
a. ke-Tuhanan, yaitu sebagai kausa prima;
b. kemanusiaan, yaitu makhluk individu dan makhluk sosial;
c. kesatuan, yaitu kesatuan memiliki kepribadian sendiri;
d. kerakyatan, yaitu unsur mutlak negara, harus bekerja sama dan gotong royong; dan
e. keadilan, yaitu memberikan keadilan kepada diri sendiri dan orang lain yang menjadi haknya.

Filsafat pendidikan Indonesia berakar pada nilai-nilai budaya yang terkandung pada Pancasila. Nilai Pancasila tersebut harus ditanamkan pada peserta didik melalui penyelenggaraan pendidikan nasional dalam semua level dan jenis pendidikan. Filosofis pendidikan nasional memandang bahwa manusia Indonesia sebagai:
a. makhluk Tuhan Yang Maha Esa dengan segala fitrahnya;
b. makhluk individu dengan segala hak dan kewajibannya;
c. makhluk sosial dengan segala tanggung jawab hidup dalam masyarakat yang pluralistik, baik dari segi lingkungan sosial budaya, lingkungan hidup, dan segi kemajuan NKRI di tengah-tengah masyarakat global yang senantiasa berkembang dengan segala tantangannya.

Ciri-ciri kemanusiaan yang kelihatan dari Pancasila ialah integral, etis, dan religius (Poeposwardoyo, 1989). Filsafat pendidikan Pancasila mengimplikasikan ciri-ciri tersebut, yaitu sebagai berikut.
a. Integral Kemanusiaan yang diajarkan oleh Pancasila adalah kemanusiaan yang integral, yakni mengakui manusia seutuhnya.
b. Etis Pancasila merupakan kualifikasi etis. Pancasila mengakui keunikan subjektivitas manusia, ini berarti menjunjung tinggi kebebasan yang bertanggung jawab.
c. Religius Sila pertama pancasila menegaskan bahwa religius melekat pada hakikat manusia, maka pandangan kemanusiaan Pancasila adalah paham kemanusiaan religius.

Teori mengenai perkembangan manusia dan hasil pendidikan, yaitu sebagai berikut.
a. Empirisme, bahwa hasil pendidikan dan perkembangan itu bergantung pada pengalaman yang diperoleh anak didik selama hidupnya.
b. Nativisme, teori yang dianut oleh Schopenhauer yang berpendapat bahwa bayi lahir dengan pembawaan baik dan pembawaan yang buruk. Dalam hubungannya dengan pendidikan, ia berpendapat bahwa hasil akhir pendidikan dan perkembangan itu ditentukan oleh pembawaan yang sudah diperolehnya sejak lahir.
c. Naturalisme, dipelopori oleh J.J Rousseau, ia berpendapat bahwa semua anak yang baru lahir mempunyai pembawaan yang baik, tidak seorang anak pun lahir dengan pembawaan buruk.
d. Konvergensi, dipelopori oleh William Stern, yang berpendapat bahwa anak dilahirkan dengan pembawaan baik dan buruk. Hasil pendidikan itu bergantung dari pembawaan dan lingkungan. Pendidikan diartikan sebagai penolong yang diberikan kepada lingkungan anak didik untuk mengembangkan pembawaan yang baik dan mencegah berkembangnya pembawaan yang buruk.

Beberapa poin yang harus dilakukan oleh pendidik dalam melaksanakan nilai-nilai Pancasila:
a. Harus memahami nilai-nilai Pancasila tersebut.
b. Menjadikan Pancasila sebagai aturan hukum dalam kehidupan.
c. Memberikan contoh pelaksanaan nilai-nilai pendidikan kepada peserta didik dengan baik.
Felicia Key Josephine
2218011033

Materi 1
Judul: Spirit Moderasi Beragama
Pemateri: Dr. Mohammad Bahrudin, M.A.

Konferensi WCRP, Kyoto, 1970
Genesis and contents of the Global Ethic Project
- “No peace among the nations without peace among the religions.”
- “No peace among the religions without dialogue among the religions.”
- “No dialogue among the religions without a consensus on shared ethical values, a global ethic.”
- “No new world order without a global ethic.”
Di dalam pluralisme, harus ada kerukunan.

Moderasi beragama merupakan soul/ruh kerukunan umat beragama & kerukunan umat bergama merupakan pilar kerukunan nasional. Tiga pilar moderasi: pemikiran, gerakan, dan perbuatan.

Moderasi beragama dalam berbagai bidang:
- Moderasi dalam berkeyakinan.
- Terbukanya Pintu Rukhsah (Keringanan).
- Rutin menjalankan ajaran agama walaupun sedikit.
- Moderat dalam perilaku.
- Moderat dalam membelanjakan harta.
Hambatan dan solusi pada global ethic:
- Eksklusivisme: blind obedience, intolerance, racism.
- Inklusifisme.
Indikator moderat: acknowledge, celebrate, value, learn, respect, tolerate.



Materi 2
Judul: Penguatan Karakter Melalui Pendidikan Spiritual
Pemateri: Prof. Dr. Ainul Gani, S.Ag., SH., M.Ag.

- Data KPAI: 17 kasus kekerasan yang melibatkan peserta didik dan guru tahun 2021 yang tersebar di 11 Provinsi dan 20 Kabupaten/Kota.
- Data Polres Kota Bogor: peningkatan jumlah tawuran pelajar meski sedang pandemi Covid-19.
- Data Pusat Pengendalian Gangguan Sosial DKI Jakarta: pelajar SD, SMP, dan SMA yang terlibat tawuran mencapai 0,08% atau sekitar 1.318 siswa dari total 1.647.835 siswa DKI Jakarta, 26 siswa diantaranya meninggal dunia.
- Penelitian dari Australia National University (AN) dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI) di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi: dengan jumlah sampel 3006 responden usia 17-24, menunjukkan 20,9% remaja mengalami kehamilan dan kelahiran sebelum menikah, dan 38,7% remaja mengalami kehamilan sebelum menikah dan kelahiran setelah menikah.
- Pelaksana Tugas Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional di Jakarta menjelaskan, selain narkoba dan HIV/AIDS, seks bebas kini menjadi masalah utama remaja di Indonesia, yaitu sebesar 26,7% dari total penduduk.

Pendidikan spiritual sangat dibutuhkan agar tidak menjauh dari Allah. Mahasiswa sukses adalah mereka yang bisa mengelola waktu dengan baik dan bisa mengajak orang lain sukses. Orang yang paling cerdas adalah mereka yang selalu mengingat kematian dan mempersiapkannya. Orang yang paling bahagia adalah mereka yang bisa membuat orang lain bahagia.

Ada empat perkara yang akan ditanyakan di hari akhir, yaitu umur, ilmu, harta dan tubuh.



Materi 3
Judul: Membangun Karakter Kebangsaan
Pemateri: Dr. Sairul Basri, M.Pd.

Negarawan adalah seseorang yang ahli menjalankan pemeritahan atau negara yang mampu membawa negara yang berwibawa yang taat menyusun arah negara kedepan untuk kemajuan bangsa.
Tujuannya untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI dan keselamatan negara dari berbagai ancaman.
Ancaman negara: ekonomi, teknologi, pornografi, narkoba, radikalisme dan terorisme, politik, ideologi, dan bencana alam.

Kenakalan remaja dapat menghancurkan masa depan bangsa, seperti merokok, seks bebas, narkoba, dan melawan orang tua. Hal-hal tersebut dapat menghasilkan generasi lemah, ketergantungan, dan kehilangan masa depan.

Hal-hal yang harus dilakukan:
1. Mendekatkan diri pada Tuhan.
2. Berprestasi.
3. Tidak meniru budaya baru/asing.
4. Menghormati orang tua dan guru.
5. Berusaha menjadi orang baik dan benar.
6. Tidak mudah percaya pada hal-hal baru.
7. Melaporkan hal-hal yang mencurigakan kepada aparat.