Nama : Yohana Ria Ismono
NPM : 2213043044
Kelas : B
SENI PERTUNJUKAN SAIBATIN
Sejarah tari piring dua belas
Tari Piring Dua belas merupakan tari tradisional yang berkaitan dengan gawi adat masyarakat Lampung yang beradat Saibatin. Tari ini berasal dari Sekala Bekhak, kecamatan Belalau, Lampung Barat. Awalnya orang orang dari Sekala Bekhak ini hijrah ke wilayah Kota Agung (Teluk Semaka) untuk mencari tempat baru dan membentuk sebuah kerajaan yaitu Kerajaan Beniting. Disebut Kerajaan Beniting karena dulu di Sumatera terdapat banyak harimau, sedangkan raja di Kerajaan Beniting ini bisa berubah menjadi harimau.Agar rakyat tidak keliru maka sang raja memiliki sebuah tanda yang ada di bagian pinggangnya yang biasa disebut babiti, maka raja tersebut disebut raja beniting.Setelah mendapat pengaruh para pedagang, Kerajaan Beniting berubah menjadi Kerajaan Semaka.
Makna tari piring dua belas
tarian ini yaitu menggambarkan tata cara dan kewajiban serta hak yang harus dipenuhi masyarakat Lampung Pesisir, yaitu Sebambangan/Kawin Jujukh (yaitu bujang melarikan gadis untuk di persunting). Tarian ini menggambarkan betapa terampil dan cerianya putri-putri Lampung membawa, menyusun, dan membenahi piring.
Fungsi tari piring dua belas
Tarian ini berfungsi sebagai tari hiburan, dipertunjukkan pada acara-acara pesta adat, seperti : pesta perkawinan, pesta penetapan gelar, pesta penyambutan tamu agung, dan pesta hari-hari besar nasional.
SENI PERTUNJUKKAN ADAT PEPADUN
Sejarah tari cangget bakha
Cangget Bakha merupakan tradisi upacara adat yang dilaksanakan oleh masyarakat Lampung
beradat Pepadun pada saat bulan purnama selepas panen. Cangget Bakha dahulu
penyelenggaraannya terikat dalam rangkaian adat Begawi Cakak Pepadun dan yang menarikan
terbatas hanya dilakangan anak-anak Penyimbang, maka dalam konteks kekinian fungsi tersebut
. disesuaikan dengan perubahan zaman melalui proses revitalisasi. Revitalisasi Cangget Bara
Festival merupakan upaya pembaharuan penampilan sebuah tarian tradisi yang biasanya ditarikan
pada acara adat, menjadi tari yang dipentaskan dalam acara festival. Hasil penelitian menunjukan
bahwa revitalisasi dilakukan melalui tahapan; 1) Tahap Reformulasi yaitu pengembangan gagasan
awal pelaksanaan Cangget Bara Festival antara praktisi seni, tokoh adat, Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Kabupaten Lampung Utara, hingga Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan; 2)
Tahap Komunikasi bergabungnya CBF dalam Festifal Indonesiana; 3) Tahap Organisasi dengan
membagi tim kerja berdasarkan
tugas dan fungsi; 4) Tahap Adaptasi dan Tahap Transformasi yaitu
tahap koordinasi antara pemerintah, budayawan, tokoh adat, pemuda untuk saling bekerjasama
mensukseskan acara; 5) Tahap Rutinitas melalui kegiatan latihan rutin di Sanggar Cangget
Budayo. Cangget Bakha
dahulu
penyelenggaraannya terikat dalam
rangkaian adat Begawi Cakak Pepadun dan
yang menarikan terbatas hanya dilakangan
anak-anak Penyimbang, maka dalam
konteks kekinian fungsi itu perlu
disesuaikan dengan perubahan zaman.
Festival ini merupakan kegiatan pergelaran
seni budaya daerah yang pertama kali
dilaksanakan sejak tahun 2020 di Kabupaten
Lampung Utara, Provinsi Lampung. Dengan
mengusung tema “Cangget Bara dalam
Ragem Tunas Lampung” mempunyai
makna sebuah bentuk pelestarian tradisi
masyarakat di tengah keberagaman sebagai
modal pemajuan kebudayaan yang terjalin bersama dalam keramah-tamahan
masyarakat.
Fungsi tari cangget bakha
Tarian ini dibawakan oleh pemuda dan pemudi di Lampung untuk merayakan masa panen atau ketika muncul bulan purnama
Makna tari cangget bakha
Adalah sebagai wujud syukur sekaligus kebanggaan insan akademika terhadap masyarakat Lampung.