Posts made by Shabina Shalsabillah

BK kls C 2023 -> FORUM DISKUSI -> Topik Diskusi -> Re: Topik Diskusi

by Shabina Shalsabillah -
1. Perspektif Biologis – Temperamen
Perspektif biologis mengenai temperamen menekankan dasar biologis yang kuat dari ciri-ciri temperamen individu. Genetika, sistem saraf, aspek fisiologis, dan faktor lingkungan semuanya berkontribusi pada pembentukan temperamen seseorang. Ciri-ciri seperti tingkat kecemasan, ekstrovertisme, dan impulsivitas dapat diwarisi melalui faktor genetik, sementara aktivitas sistem saraf memengaruhi reaktifitas individu terhadap rangsangan lingkungan. Aspek fisiologis, seperti tingkat hormon, juga memainkan peran dalam respons emosional dan perilaku. Meskipun faktor-faktor biologis memberikan dasar, interaksi dengan lingkungan dan pengalaman selama masa perkembangan anak juga membentuk dan mengubah temperamen seseorang. Oleh karena itu, pemahaman temperamen harus mencakup perspektif yang menggabungkan faktor biologis dan lingkungan untuk memberikan pemahaman yang lebih lengkap tentang karakteristik individu.

2. Perspektif Psikoanalisis - Teori psikoseksual dari Freud - Teori psikososial dari Erikson
1. • Teori perkembangan psikoseksual Sigmund Freud
Sigmund Freud mengembangkan Teori Psikoseksual yang mengeksplorasi perkembangan individu melalui tahap-tahap psikoseksual.
Pendekatan Freud terhadap perkembangan psikoseksual menyoroti pentingnya pengalaman awal dalam membentuk kepribadian individu. Meskipun banyak aspek teorinya telah dikritik dan diperdebatkan, pendekatannya terhadap tahap-tahap perkembangan masih memengaruhi pemahaman psikologi perkembangan
* Teori perkembangan psikososial Erik Erikson
Erik Erikson mengembangkan Teori Psikososial yang berfokus pada perkembangan individu melalui serangkaian tahap psikososial.
Pendekatan psikososial Erikson menyoroti peran perkembangan psikososial sepanjang hidup dan bagaimana konflik yang dihadapi di setiap tahap dapat membentuk kepribadian dan identitas individu. Teorinya menekankan peran pengembangan identitas, hubungan interpersonal, dan perkembangan seluruh siklus kehidupan

3. Perspektif Pembelajaran Teori Skinner, Watson dan Bandura
- B.F. Skinner (Teori Behaviorisme)
Skinner memandang pembelajaran sebagai proses di mana individu merespons rangsangan dari lingkungan mereka. Menurutnya, perilaku dipelajari melalui asosiasi antara rangsangan dan respons.
- Albert Bandura (Teori Pembelajaran Sosial)
Bandura mengenalkan ide bahwa pembelajaran tidak hanya terjadi melalui respons terhadap rangsangan eksternal, tetapi juga melalui proses pengamatan dan pemodelan. Ia mengatakan bahwa individu belajar dari orang lain melalui interaksi sosial.
- John B. Watson (Behaviorisme Klasik)
Watson menekankan bahwa perilaku adalah hasil dari belajar melalui asosiasi antara rangsangan eksternal dan respons. Ia berpendapat bahwa individu lahir tanpa perilaku yang sudah terbentuk dan bahwa semua perilaku dapat dipelajari melalui pengalaman.
4. Perspektif Kognitif - Teori Piaget and Vigotsky
Perspektif kognitif dalam psikologi perkembangan melibatkan dua teori utama yang dikeluarkan oleh Jean Piaget dan Lev Vygotsky. Kedua teori ini berfokus pada perkembangan kognitif anak, termasuk proses berpikir, pemahaman, dan perkembangan intelektual.
Teori Piaget: Jean Piaget mengembangkan Teori Perkembangan Kognitif yang mengidentifikasi empat tahap perkembangan kognitif yang berbeda pada anak. Tahap-tahap tersebut meliputi tahap sensorimotor (0-2 tahun), tahap praoperasional (2-7 tahun), tahap operasional konkret (7-11 tahun), dan tahap operasional formal (12 tahun dan seterusnya). Piaget percaya bahwa anak-anak mengalami tahap-tahap perkembangan ini secara berurutan. Teori Piaget menekankan peran penting konstruksi pengetahuan anak melalui eksplorasi aktif dan interaksi dengan lingkungan. Dia juga mengidentifikasi konsep "skema," yaitu struktur mental yang digunakan anak untuk memahami dunia, serta konsep asimilasi dan akomodasi, di mana anak mengintegrasikan pengetahuan baru ke dalam skema yang ada atau mengubah skema untuk mengakomodasi pengetahuan baru.
Teori Vygotsky: Lev Vygotsky mengembangkan Teori Pengembangan Kognitif Sosial yang menekankan peran lingkungan sosial dalam perkembangan kognitif anak. Vygotsky menganggap bahwa pembelajaran adalah hasil dari interaksi sosial, terutama dalam konteks hubungan anak dengan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu. Konsep sentral dalam teori Vygotsky adalah zona perkembangan nyata (Zone of Proximal Development, ZPD), yang merupakan rentang antara kemampuan saat ini seorang anak dan potensi maksimalnya. Vygotsky berpendapat bahwa pendidik dan orang dewasa harus membantu anak dalam mencapai potensi maksimal mereka melalui bimbingan dan kerja sama.
Perbedaan utama antara kedua teori ini adalah pendekatan dalam memahami perkembangan kognitif anak. Piaget lebih fokus pada perkembangan individual dan tahap-tahap perkembangan yang berlangsung pada setiap anak. Di sisi lain, Vygotsky menekankan interaksi sosial dan pengaruh lingkungan sosial dalam perkembangan anak. Meskipun ada perbedaan pendekatan, kedua teori ini memiliki kontribusi penting dalam pemahaman perkembangan kognitif anak dan telah digunakan dalam pendidikan dan praktik psikologi perkembangan.
5. Perspektif Kontekstual - Teori ekologi Bronfrenbrenner
Urie Bronfenbrenner adalah seorang psikolog yang mengembangkan Teori Ekologi dalam pembelajaran dan perkembangan manusia. Teori ini menekankan peran penting lingkungan dalam memahami perkembangan individu.
Teori Ekologi Bronfenbrenner menggambarkan kompleksitas pengaruh lingkungan pada perkembangan individu, dan menekankan pentingnya memahami konteks sosial dan budaya dalam pemahaman tentang pembelajaran dan perkembangan manusia.

5. Perspektif Kontekstual - Teori ekologi Bronfrenbrenner
Urie Bronfenbrenner adalah seorang psikolog yang mengembangkan Teori Ekologi dalam pembelajaran dan perkembangan manusia. Teori ini menekankan peran penting lingkungan dalam memahami perkembangan individu.
Teori Ekologi Bronfenbrenner menggambarkan kompleksitas pengaruh lingkungan pada perkembangan individu, dan menekankan pentingnya memahami konteks sosial dan budaya dalam pemahaman tentang pembelajaran dan perkembangan manusia.
6.Teori attachment dari Bowlby dan Ainsworth merupakan salah satu perspektif evolusioner atau sosio-biologis dalam psikologi perkembangan Teori ini menekankan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk membentuk hubungan emosional yang aman dan stabil dengan orang lain. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai teori attachment dari Bowlby dan Ainsworth:
- Teori Attachment Bowlby. Bowlby mengidentifikasi lima perilaku attachment pada bayi, yaitu mengisap, menggenggam, mengikuti, menangis, dan tersenyum. Bowlby percaya bahwa perilaku attachment ini berkembang pada manusia melalui proses evolusi dan membantu bayi untuk bertahan hidup. Bowlby juga mengidentifikasi tiga tahap attachment, yaitu tahap pre-attachment, tahap attachment yang jelas, dan tahap pemisahan diri. Bowlby juga mengidentifikasi konsep internal working model, yaitu gambaran mental tentang diri dan orang lain yang membentuk pola perilaku attachment seseorang.
- Teori Attachment Ainsworth: Ainsworth mengembangkan konsep Strange Situation, yaitu suatu eksperimen yang digunakan untuk mengukur perilaku attachment pada bayi. Ainsworth mengidentifikasi tiga jenis perilaku attachment pada bayi, yaitu attachment aman, attachment tidak aman-terhindar, dan attachment tidak aman-cemas Attachment aman terjadi ketika bayi merasa nyaman dan aman dengan kehadiran orang tua atau pengasuhnya Attachment tidak aman-terhindar terjadi ketika bayi tidak terlalu memperhatikan kehadiran orang tua atau pengasuhnya Attachment tidak aman-cemas terjadi ketika bayi merasa tidak aman dan khawatir dengan kehadiran orang tua atau pengasuhnya
Dalam kesimpulannya, teori attachment dari Bowlby dan Ainsworth merupakan salah satu perspektif evolusioner atau sosio-biologis dalam psikologi perkembangan yang menekankan pentingnya hubungan emosional yang aman dan stabil dengan orang lain. Teori ini mengidentifikasi perilaku attachment pada bayi dan mengembangkan konsep internal working model dan Strange Situation untuk mengukur perilaku attachment pada bayi.

7. Perspektif Moral – Teori Kohlberg
Perspektif moral dalam psikologi perkembangan, khususnya dalam kaitannya dengan teori perkembangan moral, mencakup pemahaman tentang bagaimana individu mengembangkan pemahaman mereka tentang moralitas dan etika. Salah satu teori perkembangan moral yang terkenal adalah Teori Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg. Teori ini berfokus pada perkembangan pemikiran moral individu sepanjang masa.
Teori Kohlberg tentang Perkembangan Moral:
Lawrence Kohlberg mengembangkan teori perkembangan moral yang terdiri dari tiga tingkat dan enam tahap. Teorinya menguraikan bagaimana individu mengembangkan pemahaman mereka tentang moralitas dan bagaimana mereka mengambil keputusan moral.
Tingkat 1: Moralitas Pra-konvensional (Preconventional Morality)
Pada tingkat ini, individu berfokus pada konsep penghargaan dan hukuman. Mereka membuat keputusan moral berdasarkan konsekuensi tindakan bagi diri mereka sendiri.
Tahap 1: Hukuman dan Kepatuhan - Individu menghindari hukuman.
Tahap 2: HanyauntukManfaatSendiri - Individu mengambil tindakan yang memberikan keuntungan langsung bagi diri mereka sendiri.
Tingkat 2: Moralitas Konvensional (Conventional Morality)
Pada tingkat ini, individu mulai mempertimbangkan norma sosial dan harapan masyarakat dalam pengambilan keputusan moral.
Tahap 3: HanyauntukPersetujuanOrangLain - Individu mempertimbangkan pandangan orang lain dan mencoba memenuhi harapan sosial.
Tahap 4: Kepatuhanterhadap Otoritasdan SistemSosial - Individu menghormati otoritas dan aturan sosial yang ada.
Tingkat 3: Moralitas Pasca-konvensional (Postconventional Morality)
Pada tingkat ini, individu mempertimbangkan prinsip-prinsip moral yang lebih abstrak dan prinsip-prinsip etika yang mendalam.
Tahap 5: KontrakanSosialdan Hak Asasi Manusia - Individu mempertimbangkan kontrak sosial, hak asasi manusia, dan prinsip-prinsip keadilan dalam pengambilan keputusan moral.
Tahap 6: Prinsip Moral Universal - Individu mengikuti prinsip-prinsip moral universal yang melampaui norma sosial dan hukum.
Kohlberg memandang perkembangan moral sebagai proses yang berlangsung sepanjang hidup. Ia juga menyadari bahwa tidak semua individu mencapai tingkat tertinggi dalam teori ini, yaitu tahap 6, yang mengikuti prinsip-prinsip moral universal. Sebagian besar orang cenderung berhenti pada tingkat konvensional.
Teori Kohlberg memberikan wawasan yang mendalam tentang bagaimana individu mengembangkan pemahaman mereka tentang moralitas dan bagaimana faktor-faktor seperti pengaruh sosial, pendidikan, dan pengalaman memainkan peran penting dalam perkembangan moral. Teori ini telah menjadi dasar untuk banyak penelitian tentang moralitas dan etika dalam konteks perkembangan individu.

BK kls C 2023 -> FORUM DISKUSI -> Topik Diskusi -> Re: Topik Diskusi

by Shabina Shalsabillah -
1. Karakteristik Perkembangan AUD
karakteristik: 1) anak usia dini bersifat unik, 2) berada dalam masa potensial, 3) bersifat relatif spontan, 4) cenderung ceroboh dan kurang perhitungan, 5) bersifat aktif dan energik, 6) egosentris, 7) memiliki rasa ingin tahu yang kuat, 8) berjiwa petualang, 9) memiliki imajinasi dan fantasi yang luas
2. Ciri Perkembangan AUD
Ciri perkembangan adalah Terjadinya perubahan dalam aspek fisik ( perubahan berat badan dan organ-organ tubuh ) dan aspek psikis ( matangnya kemampuan berpikir, mengingat dan berkreasi ), terjadinya perubahan dalam proporsi ; aspek fisik ( proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembanganya ).
3. Prinsip dasar perkembangan adalah
1) perkembangan bergantung pada genetik dan lingkungan,
2) perkembangan merupakan proses yang teratur dan mengikut pola yang dapat diprediksi, serta
3) orang berkembang dengan kecepatan yang berbeda-beda.
4.Aspek-aspek Perkembangan AUD:
Aspek fisik mencakup pertumbuhan tubuh, motorik kasar, dan motorik halus.
Aspek kognitif mencakup perkembangan bahasa, pemahaman konsep, dan keterampilan kognitif.
Aspek emosional melibatkan pengembangan pengenalan emosi dan kemampuan mengelola perasaan.
Aspek sosial berfokus pada interaksi sosial, kemampuan berbagi, dan pembentukan hubungan.
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
Perkembangan anak usia dini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang melibatkan interaksi antara faktor internal dan eksternal. Berikut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan anak usia dini:
-Faktor Genetik dan Biologis: Warisan genetik dari orang tua berperan dalam menentukan potensi perkembangan fisik dan intelektual anak. Faktor biologis, seperti kesehatan fisik dan keseimbangan kimia otak, juga memainkan peran penting dalam perkembangan.
-Pengalaman dan Stimulasi: Interaksi dengan lingkungan dan pengalaman yang diberikan kepada anak memiliki dampak besar pada perkembangan. Stimulasi kognitif, seperti membaca, bermain, dan berbicara, berkontribusi pada perkembangan bahasa dan keterampilan kognitif mereka.
-Kesehatan dan Gizi: Gizi yang baik dan kesehatan yang optimal sangat penting dalam perkembangan anak. Kekurangan gizi dapat menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif.
-Lingkungan Keluarga: Lingkungan keluarga, termasuk hubungan orang tua, memiliki dampak signifikan pada perkembangan sosial dan emosional anak. Keamanan, kasih sayang, dan dukungan yang diberikan oleh keluarga memengaruhi kesejahteraan anak.
-Interaksi Sosial: Anak-anak belajar melalui interaksi dengan teman sebaya dan orang dewasa. Interaksi sosial yang positif memungkinkan mereka mengembangkan keterampilan sosial, empati, dan pemahaman tentang orang lain.
-Pendidikan dan Perawatan Awal: Pendidikan awal yang berkualitas, baik di rumah maupun di lembaga pendidikan, berperan dalam membentuk perkembangan kognitif anak-anak. Program perawatan anak yang mendukung dan peduli juga memengaruhi kesejahteraan mereka.
-Pengaruh Budaya dan Nilai: Budaya dan nilai-nilai keluarga serta masyarakat tempat anak tumbuh berpengaruh pada norma sosial, norma moral, dan pemahaman anak tentang dunia.
-Kondisi Ekonomi Keluarga: Kondisi ekonomi keluarga dapat memengaruhi akses anak ke sumber daya pendidikan dan kesehatan. Ketidakstabilan ekonomi dapat menyebabkan stres yang memengaruhi perkembangan anak.
-Akses ke Pelayanan Kesehatan: Akses yang memadai ke pelayanan kesehatan, termasuk perawatan kesehatan ibu selama kehamilan dan pemeriksaan perkembangan anak, penting untuk memastikan kesehatan fisik dan mental anak.

BK kls C 2023 -> FORUM DISKUSI -> Topik Diskusi -> Re: Topik Diskusi

by Shabina Shalsabillah -
1. Menurut Prayitno (2004), bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan bisa berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, sosial, belajar maupun karier melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdaarkan norma-norma yang berlaku.
Bimbingan dan konseling merupakan upaya proaktif dan sistematik dalam memfasilitasi individu mencapai tingkat perkembangan yang optimal, pengembangan perilaku yang efektif, pengembangan lingkungan, dan peningkatan fungsi atau manfaat individu dalam lingkungannya.
2. tujuan bimbingan dan konseling adalah Untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya (seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya), berbagai latar belakang yang ada (seperti latar belakang keluarga, pendidikan, status sosial ekonomi), serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya. Sedangkan tujuan khusus bimbingan dan konseling merupakan penjabaran tujuan umum tersebut yang dikaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dialami oleh individu yang bersangkutan, sesuai dengan kompleksitas permasalahannya itu.
3. Berdasarkan perbaikan dan tujuan yang ingin dicapai, layanan bimbingan dan konseling mengemban sejumlah fungsi, yaitu:
• Fungsi Pemahaman
• Fungsi Pencegahan
• Fungsi Perbaikan
• Fungsi Pemeliharaan dan pengembangan .
4. • Bimbingan merupakan bagian penting dari proses pendidikan.
• Bimbingan diberikan pada semua anak dan bukan hanya untuk anak yang menghadapi masalah.
• Bimbingan harus berpusat pada anak yang dibimbing
• Bimbingan merupakan proses yang menyatu dalam semua kegiatan pendidikan
• Kegiatan bimbingan mencakup seluruh kemampuan perkembangan anak yang meliputi kemampuan fisik,motoric,kecerdasan social maupun emosional.
• Bimbingan harus dimulai dengan mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan anak.
• Bimbingan harus fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan serta perkembangan anak.
5. • Bimbingan Pribadi
• Bimbingan Sosial
• Bimbingan Belajar
• Bimbingan karir

BK kls C 2023 -> FORUM DISKUSI -> TOPIK DISKUSI -> Re: TOPIK DISKUSI

by Shabina Shalsabillah -
1. Struktur Program Bimbingan Konseling
Berikut ini adalah penjabaran rencana operasional (action plan) yang diperlukan Action
plan yang akan disusun paling tidak memenuhi unsur 5W+1H (what, why, where, who,
when, and how). Dengan demikian, konselor dan petugas bimbingan perlu melakukan
hal-hal berikut ini:
* Identifikasikan dan rumuskan berbagai kegiatan yang harus/perlu dilakukan.
Kegiatan ini diturunkan dari perilaku/tugas perkembangan/kompetensi yang harus
dikuasai peserta didik
* Pertimbangkan porsi waktu yang diperlukan untuk melaksanakan setiap kegiatan
di atas. Apakah kegiatan itu dilakukan dalam waktu tertentu atau terus menerus.
Berapa banyak waktu yang diperlukan untuk melaksanakan pelayanan bimbingan
dan konseling dalam setiap komponen program perlu dirancang dengan cermat.
Perencanaan waktu ini didasarkan kepada isi program dan dukungan manajemen yang harus dilakukan oleh konselor.
* Inventarisasi kebutuhan yang diperoleh dari needs assessment ke dalam tabel
kebutuhan yang akan menjadi rencana kegiatan. Rencana kegiatan dimaksud
dituangkan ke dalam rancangan jadwal kegiatan untuk selama satu tahun.
Rancangan ini bisa dalam bentuk matrik; Program Tahunan dan Program
semester.
* Program bimbingan dan konseling Sekolah/Madrasah yang telah dituangkan ke
dalam rencana kegiatan perlu dijadwalkan ke dalam bentuk kalender kegiatan.
Kalender kegiatan mencakup kalender tahunan, bulanan, dan mingguan.
* Program bimbingan dan konseling perlu dilaksanakan dalam bentuk (a) kontak
langsung, dan (b) tanpa kontak langsung dengan peserta didik. Untuk kegiatan
kontak langsung yang dilakukan secara klasikal di kelas (pelayanan dasar) perlu
dialokasikan waktu terjadwal 2 (dua) jam pelajaran per-kelas per-minggu. Adapun
kegiatan bimbingan tanpa kontak langsung dengan peserta didik dapat
dilaksanakan melalui tulisan

2. EVALUASI BIMBINGAN PERKEMBANGAN
Evaluasi program adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk
melihat tingkat keberhasilan suatu program(Suharsimi Arikunto, 2004). Melakukan
evaluasi program adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk mengetahui seberapa tinggi
tingkat keberhasilan dari kegiatan yang direncanakan. Apabila kita membatasi
pengertian “program" sebagai kegiatan yang direncanakan, maka program tersebut
tidak lagi disebut demikian jika kegiatannya telah dilaksanakan. Namun, kalau kita amati
dari kehidupan sehari-hari ada pula kegiatan yang dilaksankan tanpa rencana. Evaluasi
program biasanya dilakukan untuk kepentingan pengambil kebijakaan untuk
menentukan kebijakan selanjutnya.
Winkel & Sri Hastuti (2004) menyarankan, evaluasi terhadap efektivitas pelayanan
bimbingan dan konseling lebih valid dan reliabel jika pelaksanaan evaluasinya
mendasarkan diri pada kriteria internal, antara lain yaitu :
* pelayanan bimbingan disusun dengan bersumber pada kebutuhan-kebutuhan peserta didik yang nyata dan
realistis berdasar pada needs assessment
* sifat-sifat bimbingan yang menonjol adalah preventif dan developmental
* seluruh kegiatan bimbingan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang telah dirumuskan bersama seluruh tenaga pendidik dan orang tua berdasarkan suatu studi yang mendalam
* terdapat keseimbangan yang wajar antara layanan-layanan bimbingan, dengan mengingat kebutuhan objektif peserta didik manakah yang sebaiknya dilayani melalui layanan bimbingan tertentu
* para konselor sekolah dan para peserta didik saling mengenal dan peserta didik menggunakan berbagai layanan bimbingan .
Hasil asesmen dan evaluasi program digunakan sebagai dokumen untuk mempelajari
kekurangannya sekaligus memperbaiki program secara berkelanjutan (Repley, dkk 2003).
Selanjutnya untuk menunjang program pendidikan yang komprehensif Gybert dan
Handerson, 2000) mencoba membaginya menjadi dua elemen kunci, yaitu evaluasi
program (proses dan evaluasi hasil (outcomes). Oleh karena proses asesmen
bersifat sistematis dan siklikal, maka evaluasi program dan proses asesmen hasil dapat
dimulai dari yang kecil hingga ke yang lebih luas. Metode ini menurut Erfond dkk (2006)
adalah metode yang efektif bagi program konselor sekolah yang dilakukan secara
berulang dengan mengikuti alur dan siklus yang sistematis secara terus menerus.

KP AUD kls C 2023 -> FORUM DISKUSI -> TOPIK DISKUSI -> Re: TOPIK DISKUSI

by Shabina Shalsabillah -
1. Komunikasi nonverbal adalah bentuk komunikasi yang dilakukan seseorang kepada orang lain tanpa menggunakan kata-kata. Komunikasi nonverbal memainkan peran penting dalam cara kita menyampaikan informasi dan makna di baliknya, serta cara kita menafsirkan tindakan atau pesan dari orang lain.
Berikut ini adalah beragam jenis komunikasi nonverbal:
* Ekspresi wajah
Ini adalah salah satu jenis komunikasi nonverbal yang memiliki peran besar. Saat berkomunikasi, ekspresi wajah seseorang adalah hal pertama yang akan terlihat, bahkan sebelum kita mendengar apa yang akan lawan bicara katakan. Dari ekspresi wajah, ada banyak sekali informasi yang bisa didapatkan. Ekspresi wajah juga disebut komunikasi nonverbal yang paling universal. Hal ini karena rata-rata orang akan menunjukkan ekspresi wajah yang sama untuk emosi tertentu. Misalnya, rata-rata orang akan cemberut ketika sedang sedih dan tersenyum berseri-seri saat sedang jatuh cinta.
* Postur tubuh
Postur tubuh juga merupakan salah satu jenis komunikasi nonverbal yang dapat menyampaikan banyak informasi. Bila dikombinasikan dengan gerak tubuh tertentu, postur tubuh bisa memberikan banyak informasi. Misalnya, berdiri tegak dengan meletakkan tangan di pinggul cenderung menunjukkan sikap yang tegas dan berkuasa.

2. Peran komunikasi nonverbal adalah menyampaikan makna dengan memperkuat, menggantikan, atau menentang komunikasi verbal. Komunikasi nonverbal juga digunakan untuk mempengaruhi orang lain dan mengatur alur percakapan. Mungkin yang lebih penting lagi adalah cara komunikasi nonverbal berfungsi sebagai bagian sentral dari komunikasi relasional dan ekspresi identitas.
* Komunikasi Nonverbal Menyampaikan Makna
Komunikasi nonverbal menyampaikan makna dengan memperkuat, menggantikan, atau bertentangan dengan komunikasi verbal. Seperti yang telah kita pelajari, komunikasi verbal dan nonverbal adalah dua bagian dari sistem yang sama yang sering kali bekerja berdampingan, membantu kita menghasilkan makna.
* Komunikasi Nonverbal Mempengaruhi Orang Lain
Komunikasi nonverbal dapat digunakan untuk mempengaruhi orang dengan berbagai cara, namun cara yang paling umum adalah melalui penipuan.
* Komunikasi Nonverbal Mengatur Alur Percakapan
Interaksi percakapan diibaratkan sebuah tarian, dimana setiap orang harus bergerak dan bergiliran tanpa menginjak kaki orang lain. Komunikasi nonverbal membantu kita mengatur percakapan sehingga kita tidak terus-menerus menyela satu sama lain atau menunggu dalam keheningan yang canggung di antara giliran pembicara
* Komunikasi Nonverbal Mempengaruhi Hubungan
Agar berhasil berhubungan dengan orang lain, kita harus memiliki keterampilan dalam menyandikan dan menguraikan komunikasi nonverbal. Pesan nonverbal yang kita kirim dan terima memengaruhi hubungan kita secara positif dan negatif dan dapat menyatukan atau memisahkan mereka.